
Setelah makan, Zila merencanakan akan membicarakan sesuatu pada dua orang dewasa di depannya ini. Tidak berapa lama, mereka bertiga menyudahi makannya. Semua kekenyangan dan sangat bahagia. Satu sajian terakhir dipesankan oleh Zila tanpa persetujuan Kobar maupun Zuli. Zila tahu, baik Kobar maupun Tante Zuli pasti sangat favorit sekali dengan es campur.
Tiga cawan berkaki dengan isinya es campur dihidangkan di depan Zila, Zuli, dan Kobar, oleh salah satu pelayan foodcourt. Kobar dan Zuli menatap heran, mau protes tapi pelayan itu keburu pergi.
"Ini es campur sebagai penutup kita sebelum pulang dari mall ini. Aku sengaja pesankan, soalnya aku ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan kalian. Sambil ngobrol, alangkah menyenangkan sambil minum es campur, betul tidak, Paman?" Kobar yang masih bengong, gelagapan saat Zila mengarahkan obrolan padanya.
"Kenapa, Zi?" tanyanya.
"Paman ini sedang melamun rupanya. Kalian berdua dengarkan aku, ya. Aku mau ngomong serius sama kalian." Kobar dan Zuli menatap heran pada Zila, setelah itu mereka berdua saling lempar pandang satu sama lain, bertanya-tanya dengan gerakan tangan.
"Baik Paman Kobar maupun Tante Zuli, apakah kalian masih ingin punya pasangan hidup, atau tidak?" Zila langsung pada sebuah pertanyaan yang membuat Kobar dan Zuli semakin heran.
"Paman?" Zila menodong Kobar yang tentunya harus Kobar jawab.
"Zi, kenapa harus pertanyakan ini sama Paman, bukankah alasan Paman tidak menikah lagi karena tidak ada perempuan yang mau sama Paman sepaket denganmu?" Kobar memberi pertanyaan balik pada Zila. Bahkan sejak Zila hadir dan diasuhnya, tidak ada yang mau menerima Kobar sepaket dengan Zila.
"Lalu, sekarang apakah Paman masih ingin membina rumah tangga atau tidak setelah aku menikah dan sebesar ini? Sekarang saatnya Paman menikmati hidup Paman yang kosong hanya demi merawat aku hingga sebesar ini. Paman harus bahagia di sisa umur Paman. Sekarang Paman bisa menikah lagi tanpa harus memikirkan, apakah perempuan itu mau menerima aku atau tidak?" jelas Zila.
"Tapi, Zi ...." ucapan Kobar menggantung setelah dipotong Zila.
__ADS_1
"Sekarang tidak ada tapi-tapian, Paman harus menikah lagi dengan perempuan yang Paman inginkan, meskipun dia tidak menyayangi aku, Paman harus menikah lagi. Aku pengen Paman bahagia," tekan Zila tidak ada bantahan lagi.
"Tapi, Zi, perempuan mana yang mau menikah dengan Paman yang hanya penjual minuman di kafe, yang mana kafe tempat jualan Paman mendapat stigma negatif dari masyarakat?" ungkap Kobar mengisyaratkan bahwa itulah alasan kenapa dia tidak mau menikah lagi.
"Jadi, Paman minder dengan kafe Paman yang selalu dikaitkan dengan kafe remang-remang?" tanya Zila yang diangguki Kobar dengan cepat.
"Itu mudah Paman, kita tinggal rubah saja konsep kafe Paman menjadi kedai minum ceria," usul Zila yang berhasil membuat kening Kobar mengkerut.
"Paman tidak perlu bingung, nanti biar aku pikirkan konsepnya. Sekarang Paman pikirkan saja bagaimana caranya melamar perempuan itu secepatnya. Dan, apakah Paman sekarang memiliki perempuan idaman?" Zila bak seorang Jurnalis mewawancarai Narasumbernya, tiada henti mencecar dengan berbagai pertanyaan.
"Zi, hentikan dulu pertanyaanmu, Paman ingin menikmati dulu es campur yang segar ini," sela Kobar sembari meraih cawan berkaki yang berisi es campur yang menggiurkan.
"Tante Zuli, seperti yang sudah aku ketahui bahwa sesungguhnya Tante Zuli ada hati pada Paman Kobar, apakah tidak sebaiknya Tante ajak nikah saja Paman Kobar? Dan, jika Paman Kobar belum siap ataupun menolak, alangkah lebih baiknya Tante Zuli mencari yang lain yan lebih siap dari Paman Kobar." Kobar dan Zuli saling lempar pandang secara bersamaan, ketika mereka berdua mendengar kalimat terakhir yang Zila katakan. Sepertinya mereka berdua tidak srek dengan kalimat Zila yang terakhir itu.
"Zi, Tante bukan tidak siap menikah lagi, tapi laki-laki yang tante harapkan tidak kunjung mengerti perasaan tante," ungkap Tante Zila membuka sedikit isi hatinya.
"Ok, baiklah kalau begitu, sekarang putuskan apa yang ingin kalian putuskan. Aku punya pendapat baik Tante maupun Paman Kobar saling berterus terang mengungkapkan isi hati. Di depan aku, di tempat ini kalian ungkapkan!" Zila seakan ingin mengultimatum Kobar dan Zuli untuk saling terbuka dan terus terang dengan perasaannya masing-masing.
"Paman Kobarlah duluan, aku akan menilai dan menimbang bagaimana ke depan bagusnya kalian."
__ADS_1
Kobar seakan ditekan. Sebetulnya dia memang punya rasa pada Zuli, janda cantik yang baik dan perhatian. Namun, karena minder masalah pekerjaannya, Kobar hanya bisa menahan diri untuk tidak mengungkapkan isi hatinya pada Zuli.
Zila masih menunggu Kobar untuk bicara terus terang di depannya maupun di depan Tante Zuli.
"Zuli, sebetulnya Akang sudah lama menaruh hati sama kamu. Namun, berhubung pekerjaan Akang hanya sekedar penjual minuman di kafe yang dicap negatif sama orang, Akang jadi tidak percaya diri menjadikan kamu pendamping Akang. Akang takut kamu malu," ungkap Kobar pada Zuli membuat Zuli merasa terharu.
"Hal ini yang selalu Zuli tunggu-tunggu, Kang. Zuli selalu menunggu kejujuran Akang. Padahal Zuli sudah berusaha memberikan kode, tapi Akang tidak pernah paham akan kode itu," ungkap Zuli merasa lega, akhirnya Kobar yang selama ini dia harapkan, mengungkapkan isi hatinya meskipun harus ditekan dulu oleh Zila dan diungkapkan di depan Zila.
"Akang sebetulnya ingin ungkapkan dari dulu, Zul. Tapi, karena Akang tidak percaya diri, jadi niat itu Akang tunda terus," alasan Kobar sambil menatap Zuli yang memang sejak lama sudah ia impikan akan menjadi pendamping hidupnya.
"Nah, sekarang kalian kapan akan merealisasikan niat baik kalian ke Penghulu? Aku harap kalian jangan menunda lama, nanti kalian berdua keburu jadi duda dan janda basi," timpal Zila sedikit memberi ejekan sembari tersenyum geli.
"Tunggu saja sebulan dari sekarang, Paman akan mempersiapkannya mulai hari ini," yakin Kobar pasti. Zila melihat kesungguhan di wajah Kobar. Dia yakin usahanya mempertemukan mereka dengan cara begini akan membuahkan hasil, yaitu terjalinnya ikatan resmi diantara Kobar dan Zuli. Walaupun pernikahannya itu cukup ijab qabul saja, yang penting sah di mata agama dan negara.
"Aku pegang janji Paman, jangan membuat Tante Zuli menunggu dan digantung! Ok, deh, kalau begitu karena sudah ada kepastian dari kalian berdua, maka kita lebih baik pulang saja. Dan jangan lupa Paman persiapkan dari sekarang," peringat Zila keras.
Akhirnya setelah kesepakatan didapat dan disetujui, Zila, Kobar, dan Zuli, memutuskan untuk pulang. Ketika Zila keluar dari foodcourt, sepasang mata tengah mengawasinya di ujung foodcourt.
"Orang hamil tapi dia bisa jalan sana jalan sini tanpa merasa risih. Bukankah kemarin dia mengeluh sakit perut karena keram? Jangan-jangan dia hamil palsu. Aku yakin istri Kak Naga pura-pura hamil. Awas saja, akan aku bongkar nanti di depan Mama dan Papa serta Kak Naga," tekadnya seraya meninggalkan foodcourt dan keluar dari mall itu.
__ADS_1