Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 3 Musim 3 Nagi dan Hilda #Panggilan Private Number


__ADS_3

     Nagi bingung apa yang harus dia lakukan? Menghubungi Zila kembali dan menyampaikan pesan untuk Hilda melalui Zila kembali? Tapi, saat ini Nagi sedang fokus dengan usahanya, dia tidak ingin fokusnya terbagi sementara perusahaanya saat ini sedang mengalami kemajuan yang sangat pesat.


Bandung


     Hilda masih mengurung diri di kamar, sejak rencana perjodohan itu, Hilda mogok makan. Hal ini membuat Papa dan Mama Hilsa khawatir. Mama Hilsa sampai perlu mendatangkan Zila ke rumah. Namun belum sampai Bu Hilsa menghubungi Zila, Hilda sudah keluar kamar dengan berdandan seperti biasa.


     Bu Hilsa menyambut dari bawah tangga merasa senang melihat putri semata wayangnya sudah mau keluar rumah.


     "Sayang, akhirnya kamu keluar kamar. Kita makan dulu, Mama sudah memasak banyak untuk kamu," ucap bu Hilsa mencegat Hilda di bawah tangga. Hilda tidak peduli dia terus berjalan menuju pintu keluar. "Sayang, mau kemana?" Bahkan pertanyaan Bu Hilsa pun tidak dihiraukannya.


     Hilda keluar rumah menuju motornya yang terparkir di sana. Sebetulnya Hilda sudah diberi fasilitas mobil oleh Pak Hasri untuk kepentingan kuliah. Namun , Hilda menolak dengan alasan lebih simple dan bisa selap selip jika macet.


     "Sayanggg," seru Bu Hilsa memanggil Hilda yang kini sudah menaiki motornya dan berlalu keluar dari halaman rumah. Bu Hilsa menatap sedih dengan perubahan sikap Hilda yang tidak peduli padanya. Kemarahannya akibat perjodohan kemarin masih berlanjut sehingga berimbas mogok makan dan mogok bicara.


     Motor yang dijalankan Hilda memasuki pintu masuk apartemen. Motor itu terparkir dengan baik. Hilda segera menuju lift untuk menuju ke lantai empat apartemen milik Naga.


     Sementara itu, Zila yang baru saja menidurkan baby Syaka, merasa heran dengan pintu apartemen yang dibunyikan belnya oleh seseorang. Bi Lala yang sejak tadi lagi duduk santai, segera berdiri memburu pintu yang kini masih menyala belnya.

__ADS_1


      "Ehhh Non Hilda, masuk Non." Bi Lala mempersilahkan Hilda masuk dengan ramah.


     "Zila mana, Bi?" tanyanya langsung.


     "Biasa, Non. Non Zila sedang memberi ASI buat Baby Syaka. Sebentar, Bi Lala panggilkan sebentar, ya. Saya takutnya Non Zila ketiduran. Bi Lala meninggalkan Hilda di sofa ruang tamu untuk memanggil Zila. Namun belum sampai Bi Lala mengetuk pintu, Zila sudah keluar kamar menuju ruang tamu, dia sudah tahu ada Hilda di sana seperti apa yang didengarnya tadi.


     "Hilda, tumben kamu kesini. Huhhh, tapi aku yakin datang kesini bukan karena baby Syaka, kan?"


     "Kalau kamu sudah tahu, kenapa masih nanya? Aku sedang sedih, apakah kamu tidak bisa melihat aku sedang sedih?" dengus Hilda nampak kesal.


     "Ya, ampun, galak amat, sih. Katanya sedang sedih, tapi galak," cibir Zila.


     "Terimakasih, Bi."


     "Aku serius, Zi. Aku saat ini sedang sedih. Bisa tidak kamu menganggap aku ini lagi serius?" protes Hilda seraya meraih minuman yang tadi disuguhkan Bi Lala, melanjutkan pembicaraan yang tadi terpotong saat Bi Lala datang menyuguhkan minuman.


     "Lalu apa yang membuatmu sedih?" Zila menanggapi serius kali ini.

__ADS_1


     "Aku mau dijodohkan lagi sama Mama dan Papa, sedangkan kamu tahu kalau aku tidak mau dijodohkan. Aku tidak mau dijodohkan sama laki-laki manapun. Kalau Mama sama Papa masih mau menjodohkan aku, lebih baik aku pergi dan memilih hidup jauh dari Mama dan Papa," tukas Hilda sedih.


     Zila tersentak mendengar ucapan terakhir Hilda yang terbilang nekat.


     "Ihhhh, apa-apaan sih? Kamu jangan sampai nekad mau pergi segala. Kamu harus yakinkan kalau kamu tidak mau dijodohkan dan mampu mencari jodoh sendiri dengan mendapatkan jodoh yang baik," sergah Zila tidak setuju dengan ucapan Hilda.


     "Habisnya aku kesal, umur masih muda saja sudah main jodohkan. Kalau begini terus, lama-lama aku bisa nekad."


     "Shutttt, jangan berani-berani nekad. Kamu masih muda, jalan kamu masih panjang. Memangnya kamu tidak kasihan sama Mama dan Papa yang sayang sama kamu," tukas Zila tidak senang.


     Tiba-tiba saat perbincangan Zila dan Hilda semakin memanas, Hp Zila berbunyi. Zila segera melihat siapa yang menghubungi.


     "Private number," serunya, sampai membuat Hilda tersentak. Mendengar dua kata itu dia menduga itu adalah panggilan dari Nagi.


     "Kak Nagi, ini pasti Kak Nagi," serunya seraya merebut HP Zila dan mengangkatnya.


     "Kak Nagiiii," teriak Hilda.

__ADS_1


Benarkah yang menghubungi adalah Nagi?


__ADS_2