
Naga dan Zila masuk kamar, rasa lelah terasa mendera Zilla. Zila langsung berbaring di ranjang menjatuhkan diri, tidak merasa takut dengan kondisi perutnya. Sementara Naga yang melihatnya merasa ngeri dan ketakutan perut Zila kenapa-kenapa.
"Sayang, hati-hati perutnya!" peringatnya. Zila tidak menyahut, dia berbaring. Sejenak rentetan kejadian saat di Kampung Sukaseuri terbayang kembali. Saat begitu puasnya Zila menatap omnya digiring Polisi ke dalam mobil tahanan, serta Pak Hardi sang Kepala Desa yang digiring juga demi mempertanggungjawabkan perbuatannya yang ikut terlibat dalam kasus mafia tanah. Anaknya yang bernama Nauri yang merupakan teman sekelas Zila dulu saat masih sekolah, menatap penuh harap supaya sang ayah tidak dibawa Polisi. Namun apa dikata, kepolisian sudah mengantongi bukti kejahatan, mau tidak mau harus diringkus.
Kejahatan dibalas dengan hukuman yang setimpal, memang semestinya begitu supaya si pelaku ada efek jera. Sementara Nauri yang seringnya mencemooh Zila, menatap Zila dengan wajah yang malu. Zila merasa puas, terbayar sudah rasa sakit hatinya karena ulah Nauri dan pacarnya Ridu yang selama ini sering menghinanya bahkan mengganggunya jika setiap kali bertemu di jalan.
Zila tersenyum-senyum bahagia, dia bukan bermaksud jahat. Dia merasa itu sudah sangat wajar mengingat penderitaan yang selama ini dia alami. Dicemooh satu kampung karena menganggap dirinya wanita penjaja cinta, dikejar-kejar hutang sama rentenir, tidak diakui keluarga oleh keluarganya sendiri. Hanya Kobarlah yang tulus menyayanginya sampai rela menduda demi mengurus dirinya.
"Kak, coba Kakak ceritakan kronologisnya kenap Kakak sampai bisa membeli tanah dari yang katanya Om aku itu, Kakak orang berpendidikan tinggi dan dari kota, masa iya Kakak bisa kena tipu bahwa tanah itu sebenarnya bukan milik om aku?" Zila mempertanyakan perihal Naga membeli tanah pada om Haidar.
Naga membalikkan badan dan kini menghadap ke arah Zila yang tengah berbaring menghadap langit-langit rumah.
"Awalnya aku sempat ragu, sebab salah satu tetangga rumah Pak Haidar pernah menghembuskan isu bahwa tanah yang ditempati Pak Haidar adalah sengketa. Lalu aku mencari tahu melalui Hasya, Hasya menyelidiki sampai ke pihak desa. Pihak desa menguatkan bahwa tanah itu memang pemilik yang sebenarnya adalah Pak Haidar. Pak Haidar termasuk orang terpandang di kampung itu, sehingga terbentuk opini bahwa yang menghembuskan isu tanah sengketa, merupakan orang yang iri saja terhadap kesuksesan Pak Haidar dalam bidang pertanian cengkeh," papar Naga panjang lebar.
"Lantas, apa yang menguatkan bahwa tanah itu milik om aku sementara paman Kobar sangat yakin bahwa tanah itu milik almarhum bapak, dan paman sudah sejak lama menyimpan sertifikat almarhum bapak?"
"Itu semua terkait mafia tanah, banyak orang yang terlibat di sini. Om Haidar menyogok beberapa orang atau pihak terkait untuk memuluskan rencananya. Begitupun pihak desa yang beberapa orang terlibat termasuk Pak Lurahnya sendiri, mendapat asupan upeti khusus dari Pak Haidar sehingga dia ikut menutupi dan berpihak pada Pak Haidar. Itulah makanya tanah bapakmu bisa dirampas seseorang, karena tidak lepas dari pihak-pihak tertentu yang menjadi oknum dan rela berpihak pada kejahatan," jelas Naga lagi membuat Zila mengangguk paham.
__ADS_1
"Artinya, bukan Kak Naga yang bodoh atau dibodohi, kan?" cetus Zila sambil tertawa lepas. Naga menjadi terpancing hasratnya dikatain begitu, bukan emosi. Naga menangkap tubuh Zila lalu dipeluknya dan diciumnya.
"Sayang, aku sudah merindukanmu. Sejak kamu mual parah, aku rela menahan semua. Mungpung pagi ini situasi dan kondisinya memungkinkan, sebaiknya aku setor dulu. Aku sudah tidak kuat," mohonnya dirasuki kabut asmara.
Zila menghindar, dengan alasan dia lapar dan haus. Zila berdiri lalu menuju pintu dan keluar meninggalkan Naga yang dipenuhi kabut asmara.
Zila berjalan melewati kamar yang ditempati Nagi. Sejenak dia berhenti di samping pintu yang setengah terbuka. Terdengar celotehan Hilda dari dalam kamar bermanja dengan Nagi. Mereka terdengar akrab. Lalu Hilda terdengar merengek meminta tolong dibukakan cangkang es krim kepada Nagi. Dengan lembut Nagi membalas rengekan Hilda dan bersedia membukakan cangkang es krim.
"Sini, Kakak bukakan. Setelah makan es krim, kamu keluar sebab Kakak mau tidur siang."
Zila melanjutkan perjalanannya menuruni tangga lalu menuju dapur. Di dapur, dia sudah melihat Bi Rani sibuk menyiapkan bubur ketan hitam di mangkok. Zila duduk lalu memperhatikan Bi Rana yang sedang menyiapkan bubur ketan hitam.
"Bi, itu untuk siapa?" herannya. Bi Rana menghampiri lalu duduk di kursi sebelah Zila.
"Ini bubur ketan hitam untuk Non Zila, dan ini rujak bebek yang tadi dibawakan Pak Wawan dari mobil atas perintah Den Naga," terangnya. Zila mengangguk.
__ADS_1
"Non Zila jangan heran dari siapa Bibi tahu Non Zila ingin makan bubur ketan hitam? Tadi sebelum Non Zila tiba di sini, Den Naga menelpon menghubungi Bibi supaya menghangatkan bubur ketan hitam buatan Nyonya karena Non Zila mau makan katanya," terang Bi Rana. Zila mengangguk paham, rupanya Naga saat dirinya keluar kamar langsung menghubungi Pak Wawan maupun Bi Rana untuk menyiapkan apa yang Zila mau. Sejenak Zila berterimakasih pada Naga yang begitu perhatian padanya.
"Silahkan dimakan Non." Bi Rana mempersilahkan setelah makanan yang diinginkan Zila sudah siap. Zila makan bubur ketan hitam buatan mertuanya dengan begitu lahap, terlebih dirinya memang lapar. Akhirnya tanpa menunggu lama, dua mangkok bubur ketan hitam sama dua cup rujak bebek habis dilahap Zila sampai tandas.
"Alhamdulillah, kenyang banget," ucapnya penuh syukur. Terlebih Zila tidak enek saat makan bubur ketan hitam, sehingga dia mampu menghabiskan dua mangkuk sekali duduk.
"Wahh, habis dua mangkok, Non. Mau nambah lagi, tidak buburnya?" tawar Bi Rana. Zila menggeleng, karena dia benar-benar sudah kenyang.
"Bubur ketan hitam buatan ibu benar-benar lezat, Bi. Dan anehnya saat saya makan saya tidak merasakan enek. Ibu memang benar-benar luar biasa," puji Zila sungguh-sungguh.
"Non Zila benar, Nyonya besar memang ahli dalam bidang membuat perbuburan, buatan tangannya memang nomer wahid." Bi Rana ikut memuji majikannya yang baginya sangat baik.
Sementara Bu Hilsa yang dipuji oleh Zila dan Bi Rana, tersenyum bahagia mendengar menantu yang awal-awal tidak ia sukai, memuji bubur ketan hitam buatannya. Setelah mendengar perbincangan antara Zila dan Bi Rana di dapur, Bu Hilsa keluar rumah perlahan menemui Pak Hasri yang sudah menunggu di dalam mobil untuk pergi.
Setelah kenyang, Zila kembali ke kamar menaiki tangga, lalu melewati kamar yang akan ditempati Nagi adik sepupu Naga. Pintu kamar itu masih setengah terbuka, dari arah kiri menuju kamar Zila, ternyata aktifitas dari dalam terlihat jelas. Awalnya tidak mencurigakan. Hilda menyuapkan es krim untuknya kemudian untuk Nagi dengan es krim yang sama.
__ADS_1
Sesaat kemudian, entah bagaimana awalnya, tanpa bermaksud mengintip Zila membelalakan mata saat melihat adegan Hilda dan Nagi berpagutan bibir. Zila segera berjalan cepat menuju kamarnya. Ternyata Hilda dan Nagi tidak seperti dugaannya. Dekat dan akrab sebagai adik dan kakak sepupu. Namun dekat dan akrab sebagai sepasang kekasih. Zila segera memasuki kamar tanpa ingin mencampuri urusan mereka. Zila hanya aneh, sejak kapan mereka dekat sebagai pasangan kekasih.
Silahkan baca karya saya perbab, bagi yang rajin baca perbab, maka setiap dua minggu sekali bagi yang setia baca tanpa dilewati, akan ada hadiah pulsa sebesar 10k bagi dua orang beruntung. Terimakasih.....