Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 69 Musim 2 Bukti CCTV


__ADS_3

Naga mengendap dan membuka pintu kamar dengan perlahan. Suara TV menggema dari dalam kamarnya. Setelah berada di dalam kamar, Naga memperhatikan sekitarnya. Tidak ada Zila. Namun setelah melihat pintu menuju balkon yang sedikit terbuka, Naga yakin, Zila berada di balkon.


Naga kembali mengendap, ternyata Zila memang ada di sana, dia sedang menikmati secangkir kopi dan satu toples asinan. Naga sejenak tersentak, karena tidak biasanya Zila minum kopi.


Perlahan Naga mendekat dan merangkul tubuh Zila yang berdiri di batas pagar balkon.


"Greppp." Bersamaan dengan itu Naga melabuhkan ciuman di pipi Zila. Otomatis Zila tersentak mendapati seseorang yang sudah tidak asing baginya datang mengejutkannya. Padahal tadi dia berniat menghindari Naga saat suara bel berbunyi yang diduga Zila adalah Naga. Namun rupanya Rafa, cinta monyetnya di masa lalu.


Zila berontak dan berhasil membalikkan badan. Menyambut Naga dengan sikap yang dingin. "Kak Naga," ujarnya seraya menepis lengan Naga yang mencengkramnya. Naga merasa heran dengan sikap Zila yang tidak menyambutnya bahagia. Padahal Naga sudah membayangkan bahwa Zila akan tertawa bahagia dan memeluknya tidak ingin lepas.


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu tidak menyambut kedatangan aku? Aku sangat merindukanmu," ungkap Naga sembari mengikuti Zila masuk ke kamar.


"Kenapa aku harus menyambut Kakak dengan bahagia, sementara Kakak sudah mendapatkan kebahagiaan selama di sana?"


Naga mengerutkan keningnya bingung, kebahagian yang mana maksud Zila. Dia memang bahagia, kerjasama dengan para kliennya berhasil dijalin. Tapi di balik kebahagiaanya di sana, ada juga kekecewaan yang mendera Naga. Maka tidak ada kebahagiaan yang terpenting selain kebahagiaan bisa memeluk kembali Zila.


"Kebahagiaan aku selama ini hanya ingin memeluk kamu dan merenda cinta bersamamu. Tapi, apa kabar denganmu, Sayang, kenapa tidak merasa bahagia dengan kehadiran dan pelukanku?" Naga mempertanyakan sikap Zila yang menyambutnya dingin.



Zila tertawa sinis lalu menatap Naga dengan menyedihkan. "Aku rasa kepergian Kak Naga ke Surabaya memang suatu yang membahagiakan, buktinya Kak Naga sampai melupakan aku. Tapi, itu tidak masalah Kak, karena aku tahu posisi aku. Dan aku siap, jika suatu saat dibuang. Karena aku memang bukan orang yang sepadan dengan Kak Naga," ucap Zila seraya memalingkan muka menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.



"Zi, apa yang kamu katakan? Aku sungguh-sungguh merindukanmu. Kalau kemarahan kamu gara-gara aku tidak menghubungi kamu, aku mohon maaf. Aku sibuk sekali, Sayang. Bahkan sejak sampai, aku sama sekali tidak ada waktu untuk bersantai. Bahkan pulang dari perusahaan selalu larut malam. Dan di jam segitu aku tidak berani mengganggu istirahatmu. Aku mohon mengertilah," jelas Naga memohon pengertian Zila yang sepertinya memang tidak percaya jika Naga benar-benar sibuk di sana.



Naga membalikkan badan Zila dengan cepat dan meraih wajah Zila yang sudah berurai air mata. "Zi, tatap aku, kumohon percaya padaku. Aku benar-benar sibuk dan tidak ada waktu sama sekali bersantai di sana," yakinnya lagi memelas.



"Tapi untuk semua ini Kak Naga ada waktu, bukan?" tukas Zila sembari menyodorkan HPnya ke wajah Naga. Naga meraih Hp Zila dan melihat apa yang Zila sodorkan.

__ADS_1



Naga menatap layar Hp Zila yang sudah pada posisi aplikasi WA.


"Apa ini maksudnya?"


"Bukalah pesan WA dari nomer tidak dikenal itu, maka Kak Naga akan melihat kenyataan yang tidak mungkin bisa disangkal lagi," jelas Zila membuat Naga mengerutkan keningnya dalam masih tidak paham.



Naga mengikuti arahan Zila dan membuka pesan WA dari nomer asing yang Zila katakan tadi. Naga memperhatikan dengan matanya yang awas dan fokus, beberapa detik kemudian mulutnya mulai menganga saat menyudahi melihat vidio beberapa detik di Hp Zila.



"Jadi ini yang membuat kamu marah dan curiga? Karena vidio lima detik yang tidak jelas ini?" tanya Naga sembari mencoba menghubungi nomer asing yang mengirimkan vidio ke Hpnya Zila.



"Bagaimana, Kakak masih mau menyangkal?" Zila menatap Naga dengan wajah yang sudah tidak berurai air mata, sepertinya Zila akan berusaha tegar kali ini mendengar semua penjelasan Naga yang menyakitkan sekalipun.




"Aku, tidak akan menyangkalnya, Zi. Memang itu rencana awal jebakan Dila." Naga mengakuinya dengan setenang mungkin.



Zila membalikkan badan dan mendongak menatap Naga yang lebih tinggi darinya. "Sudah kuduga, kepergian Kakak ke Surabaya hanya bersenang-senang dengan perempuan. Dan tanpa rasa bersalah Kakak mengakui dengan santai di hadapanku. Aku benar-benar merasa sudah tidak berarti di mata kakak," marahnya sembari berlari menuju pintu. Namun Naga mencegahnya dan mengunci pintu dengan cepat serta menarik kuncinya lalu dia masukkan ke dalam saku celananya.



"Sialan orang ini sudah benar-benar merencanakan penjebakan untukku," guman Naga sembari merogoh Hpnya dan menghubungi Gordo dan Garda dua pengawal kembarnya di Surabaya.

__ADS_1



Zila kesal dengan Naga yang berdiri gelisah sibuk dengan hpnya. Sementara dia tidak bisa keluar, sebab kunci kamar berada dalam saku celana Naga.



"Kak Naga, tolong berikan kuncinya, jangan permainkan aku dengan sikap pura-pura Kakak," pinta Zila kecewa. Naga mengangkat tangannya ke udara, berusaha menghentikan Zila.



"Gordo, Garda, kirimkan bukti CCTV atau rekaman kamera pena kalian padaku sekarang juga, dari awal kejadian saat kalian memasuki kamarku di hotel Syailendra sampai selesai!" perintah Naga lewat sambungan vidio call bersama Gordo dan Garda.



"Tenang dulu sayang, aku tidak mempermainkanmu. Justru aku akan menunjukkan kejadian yang sebenarnya padamu. Sabarlah. Dua pengawalku Gordo dan Garda adalah saksi kunci dari kejadian itu." Tidak lama dari itu Hp Naga berbunyi tanda pesan WA masuk.



Naga segera membuka Hpnya dan membuka pesan WA itu di depan Zila yang menghindar terpaksa Naga peluk dan di bawanya ke atas ranjang lalu dibaringkan dengan paksa, kemudian kaki Zila dikunci dengan kaki Naga sehingga Zila tidak bisa kemana-mana.



"Lihatlah ini, maaf aku perlakukan ini padamu, sebab jika tidak begini aku yakin kamu berontak dan justru tidak mau mendengar ucapanku," terang Naga sembari memepet tubuh Zila selembut mungkin sebab Naga tahu di dalam perutnya ada jabang bayi.



"Kak Naga lepaskan. Bukti apa lagi yang mau Kakak perlihatkan padaku? Aku tidak akan percaya," tegasnya.



"Lihatlah ini dulu, baru kamu harus komplen," ujar Naga seraya mulai memperlihatkan rekaman CCTV baik melalui kamera pena Gordo maupun CCTV yang sengaja dipasang Garda setelah memasuki kamar hotel yang ditempati Naga.


__ADS_1


Zila mau tidak mau melihat rekaman CCTV yang diperlihatkan dari Hp Naga dengan mata yang awas.


__ADS_2