
Setelah Hilda kembali ceria dan tidak menangis lagi, Nagi menjalankan kembali mobilnya dan keluar dari rest area kaki Gunung Tangkuban Perahu. Tujuan utamanya sekarang pulang. Namun sebelum pulang, Nagi akan mengajak Hilda makan di sebuah rumah makan sederhana. Dan sepertinya Hilda memang sudah terlihat lapar.
**
Setelah pindah ke apartemen, Zila dan Naga kini benar-benar hidup berdua. Naga hanya mendatangkan ART di siang hari saja, yaitu Bi Lala. Kebetulan rumah Bi Lala dekat dan berada di belakang bangunan apartemen yang mewah itu.
"Aku pergi dulu, ya. Perusahaan sedang melakukan audit, dan para Auditor membutuhkan kehadiranku untuk laporan," pamitnya pada Zila yang baru saja mengakhiri sarapan paginya.
"Hati-hati, ya, Kak," ucapnya sembari mencium tangan Naga. Naga pun berbalik dan segera bergegas menuju pintu apartemen. Kepergian Naga tidak lepas dari pengawasan Zila.
Setelah Naga pergi, Zila segera menghabiskan makannya. Aneh, sudah beberapa hari sejak usia kandungannya menginjak dua bulan, rasa mual yang parah yang sering Zila rasakan, kini berangsur hilang. Tapi perasaan aneh juga kini menyelimuti pikiran Zila, dia merasakan akan kehilangan bayinya. Mungkinkah ini firasat buruk. Namun Zila segera beristighfar dan mengusap perutnya. Meskipun jiwa keibuan belum sepenuhnya muncul, tapi Zila sudah siap jika nanti jabang bayi ini lahir ke dunia.
Di kantor Naga, para Auditor sibuk mengaudit proses produksi untuk dilaporkan pada Naga sebagai CEO. Agenda Naga kali ini cukup padat dan melelahkan, setelah Hasya sibuk menangani perusahaan berskala kecil di Kampung Sukaseuri kota Lembang, Naga kini seakan kehilangan tangan kanan yang bisa diandalkan.
Naga belum butuh Asisten lagi untuk menggantikan Hasya, sebab Hasya merupakan orang yang sangat kredibel dan loyal pada perusahaan maupun secara pribadi. Hasya di Kampung Sukaseuri tidak akan permanen, dia akan kembali dibutuhkan di perusahaan inti Naga Group yang berada di kota Bandung.
__ADS_1
Siang menjelang, setelah para Auditor selesai melaporkan hasil auditnya, tiba-tiba Desy sang Sekretaris menelponnya dan memberitahu bahwa ada tamu untuknya. Naga bertanya siapakah tamu itu, tapi Desy hanya menyebutkan bahwa tamunya itu adalah calon Investor di perusahaanya. Naga cukup terkejut, sebab perusahaanya sedang tidak membutuhkan dana sehingga harus mendatangkan investor. Sejenak Naga berpikir keras, siapakah dia yang mengaku seorang Investor?
"Desy, persilahkan dia masuk!" Naga mempersilahkan tamunya untuk masuk. Saat pintu ruangannya dibuka dan sudah mulai terlihat bayangan sang tamu. Naga cukup tersentak dengan tamu itu. "Dila??" kejutnya tidak menduga.
"Desy, temani dia di dalam ruangan saya. Pekerjaanmu biarkan dulu," perintah Naga menahan Desy untuk tetap di dalam ruangan Naga. Desy nampak terkejut dan bingung. Tapi berdasarkan perintah atasannya, dia lebih memilih mematuhi atasannya.
"Baik, Pak," sahut Desy.
Tanpa disuruh, Dila duduk di depan meja Naga dengan sikap yang terlihat angkuh. Naga jelas sangat heran akan keberadaan Dila di perusahaannya yang tiba-tiba.
"Nagaaa, jangan pernah berani mengusir aku. Jangan sombong kamu, apakah kamu tidak percaya bahwa aku kini banyak uang untuk sekedar berinvestasi ?"
"Meskipun kamu banyak uang, aku tidak membutuhkan bantuanmu sepeserpun. Pergilah dan jangan pernah nampakkan dirimu di hadapanku. Sebab keberadaan kamu hanya membuat moodku manjadi rusak," tegas Naga.
__ADS_1
Dila terbelalak mendengar semua ucapan Naga yang terdengar seolah sedang mencemoohnya. "Nagaaa, jangan pernah berani mengusir aku, jika itu terjadi maka kamu akan menyesal," teriaknya tidak suka.
"Aku tidak akan pernah menyesal. Kecuali satu yaitu pernah hidup berumah tangga bersamamu. Dan kalau boleh meminta sama Yang Maha Kuasa, aku tidak pernah ingin bertemu kamu sampai kapanpun," tegas Naga lantang dan penuh tekad. Amarahnya benar-benar memuncak.
"Desy, tolong panggilkan Satpam, usir orang ini dari ruangan saya," perintah Naga tidak bisa dibantah. Desy segera beranjak dan menuju ruangannya untuk menghubungi Satpam.
Desy kembali. Tidak berapa lama dua orang Satpam datang dengan maksud mengusir Dila. Dila terlihat tidak suka dia menepis tubuhnya supaya tidak bersentuhan dengan Satpam.
"Seret dia keluar!?" perintah Naga lagi tidak ada ampun. Dia sungguh-sungguh marah.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan, karena kamu berani mengusirku," sungutnya kecewa dan marah.
Naga kembali pada posisi duduknya setelah Dila dipaksa angkat kaki dari ruangannya. Dia tidak habis pikir, Dila tiba-tiba berada di Bandung dan memaksa ingin kembali padanya. Dila tidak tahu saja bahwa Naga sudah menikah lagi.
__ADS_1
Setelah Dila keluar dari ruangannya, tiba-tiba Zila menghubungi dan bertanya, " bolehkah sekali-sekali aku pergi ke kantor menemui Kakak?" Sebuah pertanyaan yang sangat membahagiakan bagi Naga dari orang yang paling dikasihinya.