
Naga kaget dengan seseorang yang tiba-tiba menyerobot masuk ke ruangannya, mukanya memerah penuh kemarahan. Zila yang baru saja duduk tenang dan menikmati camilan yang ada, ikut terkejut juga saat seseorang tiba-tiba masuk ruangan suaminya.
"Mohon maaf, saya terpaksa masuk atas perintah atasan saya yang harus menyampaikan hasil audit ini pada Anda langsung," ujarnya memberi alasan. Wanita cantik berusia sekitar 33 tahun itu berdiri kaku di depan Naga seraya memberikan alasan.
Naga geleng-geleng kepala dengan kejadian ini, dia benar-benar kecewa dan marah dengan sikap tamunya yang tidak tahu adab seperti ini. Padahal sudah jelas tadi Naga memerintahkan bahwa utusan dari Masagi Food menyampaikan hasil laporan audit perusahaannya pada pihak direksi.
"Desy, tolong seret orang ini keluar, di sana pintu keluarnya," tunjuk Naga pada pintu yang dimasuki Mila tadi. Mila terlihat gelisah dan sepertinya enggan keluar seperti apa yang diperintahkan Naga.
Tiba-tiba Hp Naga berbunyi, sebuah panggilan dari Bos Masagi Food memanggil, dengan malas Naga mengangkatnya. Dia tidak suka dengan sikap mitra kerja yang seenaknya mengutus orang lain tanpa konfirmasi,
Naga terlihat tidak suka saat berbicara dengan Bos Masagi Food itu. Namun, ketika Bos Masagi Food memberi alasan yang krusial dan pribadi serta menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi, Naga paham dan sedikit melemah, dan akhirnya mau tidak mau menerima Mila sebagai utusan dari Masagi Food.
"Ok, kali ini saya maklumi dan semoga Ibu Anda segera sembuh dari penyakitnya. Namun, untuk ke depannya jika Anda berhalangan hadir, saya berharap Anda mengutus orang yang kredibel dan tahu sopan santun ketika memasuki ruangan orang lain," peringat Naga terdengar tegas. Zila sejak tadi hanya bisa memperhatikan dari sofa interaksi antara Naga dan tamunya yang sempat dia lihat di lift.
"Apakah perempuan dewasa ini Mila yang disebutkan Kak Naga tadi? Cantik dan modis, tapi kenapa dulu dia berpisah dengan Kak Naga? Padahal Kak Naga tampan dan punya segalanya?" Zila bertanya-tanya di dalam hatinya tentang kenapa Naga berpisah dengan Mila.
"Ok, duduklah. Dan simpan di atas sini hasil audit perusahaanmu!" titah Naga dingin. Mila berjalan menuju kursi dan duduk. Wajahnya nampak berbinar. Naga meraih map yang diserahkan Mila lalu dilihatnya. Tanpa kata Naga fokus pada map.
"Ok. Saya sudah terima laporan hasil auditnya. Silahkan kembali. Mengenai hasilnya saya akan konfirmasi langsung pada Bos kamu. Terimakasih atas kedatangannya," ucap Naga datar sembari mengisyaratkan Mila untuk segera pergi.
"Desy, tolong antar Ibu Mila keluar!" titah Naga pada Desy yang sejak tadi masih berdiri di ruangan Naga.
"Baik, Pak. Silahkan Bu Mila ikut saya," ajak Desy sembari memberi isyarat dengan tangannya supaya Mila mengikutinya. Mila nampak ragu-ragu, dia berdiri tapi tubuhnya masih bertahan di sana.
"Pak Naga, tidak adakah pembicaraan lain selain ini?" tanyanya yang berhasil membuat Naga mengerutkan kening.
"Maksud Anda?" Pertanyaan Naga membuat Mila berubah kikuk.
__ADS_1
"Oh, iya. Lain kali jika Bos Anda sedang berhalangan hadir, saya minta perusahaan tempat Anda bekerja mengutus seorang utusan laki-laki supaya tidak kaku dalam berhadapan dengan saya," lanjut Naga memberi peringatan. Mila nampak semakin salah tingkah dibuatnya, lalu dia menoleh ke arah Naga sementara tubuhnya sudah mulai bergerak.
"Silahkan!" Naga menunjukkan pintu arah kemana Mila harus keluar. Mila mau tidak mau pamit dengan hanya menganggukkan kepala. Mukanya terlihat sangat malu dan salah tingkah. Tubuh Mila keluar dari balik pintu, Naga menatap sampai tubuh itu menghilang, begitu pun juga Zila menatap tubuh Mila sampai menghilang.
Beberapa saat setelah Mila keluar, Naga segera menghubungi Radit sang Bos Masagi Food. Pembicaraannya hanya perihal hasil audit yang diantarkan Mila tadi. Tiba-tiba Zila yang sejak tadi berada di sofa, sudah berada di belakang Naga, memeluk leher Naga dan mencium pipi Naga dengan berani. Naga mengakhiri sambungan telponnya dengan Radit.
"Kenapa, Sayang?" balasnya seraya menoleh dengan ujung mata dan membalas ciuman Zila dengan mencium balik pipi Zila sampai Zila berkedip geli. Kumis tipis yang habis dicukur kemarin membuat Zila kegelian sekaligus kesakitan karena terasa kasar.
"Bukankah perempuan tadi, tepatnya mantan istri pertama Kak Naga sangat cantik? Adakah terbersit dalam hati Kak Naga rasa sir saat kembali harus berhadapan sama dia sedekat tadi?" selidik Zila sedikit dilanda perasaan cemburu dan rasa ingin tahu di dalam dirinya.
"Sayang, dia masa lalu. Aku justru benar-benar tidak mau jika dipertemukan kembali dengan mantan-mantanku. Bagiku tidak ada mantan-mantanku yang ngangenin, yang ada hanya bikin luka hati ini menoreh kembali. Aku bukan tidak bisa move on dari mereka, tapi setidaknya ketika dia datang kembali rasa kecewa di masa lalu itu seakan muncul kembali," yakin Naga seraya membelai pipi Zila lembut.
"Bagaimana dengan rasa sir dalam hati Kak Naga?" tanyanya kembali penasaran masih dengan posisi kepala yang tenggelam di leher Naga.
"Permisi, Pak Naga .... " saat Naga dan Zila sedang berciuman, tiba-tiba Mila masuk dengan tidak tahu sopan santun. Namun seketika terhenyak menyaksikan keadaan yang membuatnya shock. Naga dan seorang gadis muda sedang berciuman. Mila cukup kaget dan bertanya-tanya di dalam hatinya, siapakah gadis muda itu?
Naga dan Zila menyudahi aktifitasnya yang tiba-tiba harus terhenti akibat gangguan seseorang. Naga membenahi duduknya dan menatap tajam ke arah Mila. Naga heran ada apa dengan Mila? Sementara Zila berdiri dan kembali menuju sofa dan duduk di sana seraya mengawasi interaksi antara Naga dan Mila.
"Maaf Pak Naga, saya mengganggu Anda," ucapnya salah tingkah dan malu-malu.
"Anda bukan saja mengganggu kesenangan saya, tapi Anda sudah tidak sopan masuk ke ruangan saya tanpa ijin dan main serobot. Apakah Anda tidak punya attitude yang baik sehingga tidak bisa menggunakan adab dan sopan santun Anda memasuki kantor orang lain?" Pernyataan Naga barusan sangat menohok hati Mila. Tidak dia duga Naga yang dulu begitu mencintainya, kini berubah tegas dan dingin.
"Saya minta maaf, kalau begitu saya permisi telah mengganggu waktu Anda," ujar Mila seraya berbalik dan beranjak menuju pintu.
"Jangan lupa tutup kembali pintunya," teriak Naga sedikit kencang. Zila hanya tersenyum sepakat dengan tingkah Naga. Sementara itu ketika Mila keluar dari ruangan Naga, hatinya sedih dan kecewa berlipat-lipat melihat penampakan saat tadi dia melihat Naga berciuman dengan gadis muda yang jauh dibawah umurnya. Mila juga kecewa dengan sikap Naga yang ketus dan dingin, tadinya dia berharap saat dipertemukan kembali dengan Naga secara kebetulan ini bisa meraih kembali hati Naga.
__ADS_1
"*Apakah perempuan muda tadi adalah sugar babynya Naga? Kenapa Naga bisa mencari sugar baby, apakah Naga kini telah berubah menjadi Naga sang penjahat kelamin*?" duganya dalam hati penuh tanya. Untuk mencoba meyakinkan dugaannya, dia akan bertanya pada pegawai di kantor Naga mencari tahu.
Mila terus berjalan menyusuri koridor yang sisi kanannya terdapat kubikel para staff kantor Naga seraya mencari orang yang tepat untuk ditanyainya.
"Maaf Mas saya mau bertanya?" sapa Mila pada seorang laki-laki seumurannya, dia harap orang yang ditanyanya merupakan orang yang tepat dan tahu tentang Naga.
"Iya, ada apa, ya, Mbak?" jawabnya penasaran.
"Anda tahu CEO di perusahaan ini?"
"Jelas, dong, Mbak. Memangnya kenapa?"
"Apakah dia sudah memiliki istri?" Si pria yang ditanya Mila sejenak mengerutkan keningnya.
"Saya kurang tahu, tapi seingat saya Pak Naga belum menikah kembali setelah perceraiannya dua tahun yang lalu. Maaf Mbak, saya tidak bisa lama-lama di sini, masih ada pekerjaan yang menunggu saya," pamitnya mengakhiri obrolannya dengan Mila. Mila sedikit kecewa dengan keterangan pegawai tadi, sebab dia belum mendapatkan informasi yang jelas dari orang tersebut.
Mila bergegas menuju lobi kantor Naga untuk menghampiri Ridwan teman satu kantornya yang sama diutus bersama Mila untuk menemani Mila. "Ayo, Wan, kita kembali," ajaknya seraya menuju parkiran mobil.
***
"Apakah Kak Naga tidak merasa kasihan telah bersikap ketus seperti tadi pada mantan istri Kakak?" tanya Zila ingin tahu.
"Tidak, dong, Sayang. Aku tadi hanya memberi teguran yang pantas atas ketidaksopanan dia. Siapapun itu orangnya pasti aku tegur seperti itu, bukan karena dia adalah mantan aku yang telah menorehkan luka," tukas Naga memberi alasan. Zila tersenyum penuh rasa bahagia atas jawaban Naga yang dianggapnya sudah benar.
"Apakah kamu cemburu, Sayang?" Naga tiba-tiba bertanya dan dia berharap jawaban Zila adalah iya.
"Siapa yang tidak cemburu ketika suaminya dikerubungi masa lalunya? Dan aku sebagai istri merasa tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Mereka cantik dan tentunya mantan istri kedua Kak Naga juga cantik dan berpendidikan tinggi serta wanita karir. Sedangkan aku hanya seorang gadis kampung yang dipungut Kak Naga untuk menyelamatkan aku dari dugaan warga kemudian dinikahi," ujarnya berkecil hati.
Naga senang mendengar Zila punya perasaan cemburu padanya. Namun kemudian dia ikut sedih dengan kalimat Zila yang terakhir. Naga menghampiri Zila kemudian merangkulnya dan menatap wajah Zila, dalam.
"Percuma cantik dan berkarir serta berpendidikan tinggi kalau hanya bisa menyakiti dan berselingkuh di belakang suami yang jelas-jelas mencintai dan memujanya. Jadi, semua itu bukan tolok ukur seseorang menjadi lebih setia dan berbakti pada suami. Aku hanya inginkan masa depanku bisa lebih baik. Harapanku adalah kamu menjadi pasanganku yang setia sampai akhir hayat," urai Naga sembari menyandarkan kepala Zila di dadanya kemudian mengusapnya lembut. Naga tidak ingin membahas lagi masa lalu, baginya Zila merupakan masa depan yang ingin dia habiskan masa tua sampai memiliki anak dan cucu bersamanya.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu ruangan Naga diketuk. Naga dan Zila terkejut dan saling lempar pandang. Siapakah orang yang mengetuk pintu ruangan Naga itu?