
Kurang lebih tiga jam, Nagi tiba di Bandara Husen Sastranegara, Bandung. Nagi langsung meluncur dijemput sebuah mobil Alpard menuju apartemen di kawasan Soekarno Hatta. Rasa lelah langsung menyergap tubuhnya. Saat sudah berada di dalam unitnya, Nagi menjatuhkan diri di ranjang melepas lelah. Sesekali rasa kantuk mulai menyerang. Namun semua itu tidak menyurutkan tujuannya datang ke Bandung kota kelahirannya.
Meski ngantuk dan lelah, Nagi segera menyusun rencana buat besok. Rencana yang ditujukan untuk Hilda. Sebelum dia menyusun sebuah rencana, Nagi menghubungi dulu sang Ibu, Harumi. Nagi memberitahu bahwa dia sudah sampai dengan selamat di kota Bandung.
"Hati-hati, ya, Nak. Jangan lupa sampaikan salam Ibu pada Mama dan Papamu," ujar Bu Harumi menyampaikan pesannya lewat Nagi. Nagi menutup panggilan itu diakhiri ucapan salam.
Nagi meraih Hpnya dan mencari nomer Hilda yang dia simpan. Lalu mengirimkan sebuah pesan.
"Besok jam 12 siang, temui aku di Cafe Syaidar." Pesan itu terkirim. Nagi tidak berharap dibalas, dia hanya memberi kode bahwa empat tahun setelah Hilda lulus kuliah, dia akan menepati janjinya. Salah satunya dengan memberi kode berupa ajakan ketemuan.
"Lihat saja, aku sekarang datang menepati janji padamu, Sayang. Empat tahun lamanya ku pendam rindu dan tidak menghubungimu, itu karena aku ingin tahu seteguh apa cintamu padaku. Dan semua bisa aku lihat dari sensor yang aku kirim lewat cincin berlian yang kamu pakai. Kamu memang setia dan teguh mencintai aku." Kata hati Nagi.
Setelah mengirimkan pesan itu pada Hilda, Nagi sedikit bisa bernafas lega, dia kembali membaringkan tubuhnya di ranjang dan mulai menikmati terpaan ngantuk yang melandanya. Deru nafas teratur kini mulai terdengar, Nagi tertidur dengan pulas tanpa gangguan apapun.
Jam tiga sore, Nagi terbangun. Dia bangkit dan menggeliatkan tubuh dengan enaknya. Wajahnya penuh senyum. Sore ini dia akan keluar apartemen dan mencari makan, juga sesuatu untuk Hilda besok.
Jam di tangan sudah menunjukkan pukul empat sore, Nagi kini sudah siap dengan pakaian santainya. Jaket hoodie dengan kuncung yang sengaja menutupi kepala serta kacamata hitam yang menutupi area mata, dipadu dengan celana jeans selutut. Nagi menjelma bak orang lain, dia sengaja menyembunyikan identitasnya dibalik hoodie dan kacamata hitamnya.
__ADS_1
Sejenak Nagi melihat dirinya di cermin, Nagi yakin penampilannya sekilas tidak akan bisa dikenali oleh orang lain yang sudah kenal dirinya. Nagi melangkahkan kakinya keluar apartemen dengan tujuan jalanan di kota Bandung, juga sebuah mall untuk membeli sesuatu buat Hilda besok.
Jalanan kota Bandung sore ini cukup ramai, tepat di kawasan Braga, Nagi menghentikan mobilnya yang sengaja dia pesan lewat dealer mobil milik sahabatnya, secara mendadak. Mobil mewah keluaran terbaru itu diparkirkan dengan gagah di sana. Lalu Nagi keluar dengan hoodie dan kacamata yang sudah terpasang dengan baik.
Nagi berjalan mengitari kawasan itu, mencari jajanan ringan khas kota Bandung. Namun di sepanjang jalanan kota Braga, Nagi memang tidak mendapati warung tenda yang berjualan. Dia terus berjalan sampai batas jalan Braga baru menemukan warung tenda yang berjualan, di sana berbagai jajanan ada termasuk baso tahu kegemarannya.
Nagi berhenti di warung tenda itu, lalu memesan satu porsi untuk dirinya yang sejak turun dari pesawat, belum menemukan makanan apapun pengganjal perut. Dan baso tahu inilah makanan pertama yang dia makan setelah menginjakkan kaki pertama kali di Bandung setelah empat tahun.
Nagi bangkit dan menyudahi makan baso tahunya, tidak lupa membayar. Lalu melanjutkan kembali tujuannya keliling kota Bandung di sore hari. Nagi kangen dengan suasana kota Bandung yang sering ia lalui baik bersama Naga maupun Hilda. Ingatannya kembali terbayang saat mengajak Hilda jalan-jalan ke alun-alun kota Bandung menikmati kuliner sepanjang jalan dan es krim kesukaan Hilda di salah satu toko di pinggir jalan ABC. Hilda menyukai es krim corong tiga rasa, vanila, stroberi dan coklat. Lain dengan Nagi, dia hanya menyukai es krim corong rasa coklat dan vanila.
Nagi sejenak memperlambat jalannya, tepat di depan dari jarak yang berlawanan arah, seperti ada seseorang yang dia kenal. Sayangnya orang itu tidak sendiri, dia bersama seorang laki-laki cepak yang sering ia lihat di layar Hpnya. Semua bisa dia lihat dari sensor yang dikirimkan cincin berlin yang dipakai Hilda yang terkoneksi langsung ke Hpnya.
Dia Hilda dan Hadi, berjalan semakin mendekat ke arahnya. Sementara Nagi sejenak bingung harus melakukan apa? Berbalik arah atau terus melakukan perjalanan serta pura-pura tidak mengenal Hilda.
Sekilas siapapun tidak akan mengenali Nagi karena jaket hoodie dan kacamata hitamnya mampu menyamarkan identitasnya. Semakin dekat dan kini Hilda juga Nagi sudah saling berdekatan. Nagi terus berjalan pelan sembari menikmati wangi parfum yang dipakai Hilda. Nagi mengisap sepuasnya, dia sangat kenal wangi parfum ini yang hampir tidak pernah ganti. "Hilda," bisiknya semakin jauh.
Saat bersamaan, Hilda menoleh ke arah Nagi yang terus berjalan pelan ke arah berlawanan. Hilda merasa kenal dengan parfum yang dikenakan laki-laki yang barusan berjalan tepat di sampingnya. Hilda seperti ingin menyapa laki-laki itu, tapi saat dia sadar bahwa wangi parfum itu tidak hanya dimiliki Nagi saja.
__ADS_1
"Memangnya cuma Kak Nagi saja yang memiliki parfum ini?" pikirnya dalam hati sembari melanjutkan langkahnya sebab lelaki di sebelahnya yaitu Hadi menyapa Hilda.
"Hilda." Hadi menyapa membuyarkan lamunan Hilda. Sementara itu Nagi yang kini semakin jauh dari Hilda dan laki-laki cepak itu, membalikkan badannya dan menatap kepergian Hilda yang semakin menjauh.
"Aku tahu kamu terpaksa jalan dengan lelaki itu karena dia selalu membantumu dalam setiap kesempatan. Tapi, aku tahu bantuannya tidak tulus, dia mengharapkan simpatik darimu," pikir Nagi dalam hati sembari mendengus kesal. Bayangan Hilda dan laki-laki cepak itu pun semakin samar dan menghilang.
Sore semakin menyembunyikan semburatnya, dia perlahan pergi menyambut malam. Nagi kini sudah berada di kawasan Braga setelah tadi dia puas menikmati suasana sore kota Bandung. Nagi memasuki mobilnya dan kini mobil itu dia tujukan ke sebuah mall besar di kota itu. Cibalubur Mall.
Akhirnya setelah Nagi mendapatkan apa yang dia cari, Nagi kembali ke mobil yang dia parkir di mall itu. Ketika Nagi berjalan menuju parkiran mall, sekilas Nagi melihat dua orang yang sangat dia kenal. Nagi cukup terhenyak dengan kenyataan di depan matanya. Dia menyaksikan Diara dan Hasya sedang bergandengan tangan memasuki Cibalubur Mall.
"Diara dan Hasya, mereka seperti sangat dekat. Apakah mereka pacaran? Lalu kapan Bang Hasya bertemu dengan Diara dan mengenal Diara? Dan kenapa Diara selalu aku temui d Bandung, apakah dia sudah resign dari kantor Papa Hasri yang berada di Jakarta?" Nagi berbicara di dalam hatinya, penasaran dengan kebersamaan Diara dan Hasya.
Sejenak Nagi seakan merasakan sakit hati, mengingat penolakan Diara kala itu yang beralasan ingin fokus dengan pekerjaan supaya bisa membahagiakan ibunya yang janda di kampung. Tapi setelah empat tahun berlalu dia kini mendapati Diara jalan dengan Hasya.
Namun, dengan cepat dia segera menepis bayang-bayang yang membuatnya sakit hati itu. Nagi bukan cemburu, tapi hanya sedikit kecewa dengan sikap Diara kala itu, yang menolak niatnya.
Nagi sudah melupakan Diara, dan kini dia bertekad mengejar cinta Hilda.
__ADS_1