
Hilda keluar dari salon tepat jam tujuh malam. Wajahnya yang mendapatkan perawatan tadi, kini terasa sangat ringan dan semakin bercahaya saja. Pikirannya kini sedikit plong setelah tadi seharian memanjakan diri.
Tiba di rumah, entah kenapa keadaan rumah gelap dan sepi. Mama dan Papa Hasri sepertinya memang tidak ada, terlihat dari mobil yang selalu dipakainya tidak ada di garasi. Hilda merasa heran, terlebih dua ART kembar, Bi Rana dan Bi Rani yang biasanya selalu menyambutnya, kini tidak ada. Entah kemana mereka.
Tidak terlalu menghiraukan rumah yang sepi dan gelap, Hilda berinisiatif menyalakan lampu utama rumah. Namun belum sampai kakinya di sana, tiba-tiba lampu menyala, membuat Hilda benar-benar terkejut.
"Surpriseeeee." Teriakan itu terdengar dari berbagai penjuru rumah. Hilda kini benar-benar terkejut. Dadanya sampai berdetak kencang, sampai dia pegangi.
Tiba-tiba orang rumah bermunculan satu persatu. Papa dan Mamanya, Naga, Zila dan baby Syakala. Menyusul Bi Rana dan Bi Rani sembari membawa beberapa kudapan untuk dihidangkan di ruang tamu.
Hilda heran ada apa gerangan? Tidak ada yang ulang tahun, tapi tiba-tiba orang di rumah ini seakan heboh mempersiapkan sebuah acara ulang tahun dan sejenisnya.
"Ada apa, nih, Ma, Pa?" tanyanya heran pada kedua orang tuanya yang serta merta menghampiri.
"Cantik sekali anak Mama, kamu pasti habis dari salon." Bu Hilsa bukan menjawab pertanyaan Hilda, dia malah memuji Hilda yang memang sangat cantik karena habis dari salon.
"Ma, Mama belum jawab pertanyaan aku. Ini ada apa, ada surprise apa?" tanya Hilda masih keheranan.
Sebelum Mama Hilsa menjawab, tiba-tiba kemunculan Nagi membuat Hilda terkesima, sebab dia tidak menyangka bahwa Nagi ada di sana. Hilda ternganga tidak percaya sembari menutup mulutnya, sebab Nagi mengungkapkan sesuatu yang selama ini ingin di dengarnya.
__ADS_1
"Hilda, Sayang, maukah kamu menjadi istri dari Kak Nagi, menerimaku baik dan burukku juga dengan segala kekuranganku?" Nagi bertekuk lutut di hadapan Hilda seraya menyerahkan sebuket uang dan sebuah cincin di tangannya. Hilda masih terkesima kaget. Rasa tidak percaya dan juga bahagia menyatu dalam dada.
"Benarkah Mama dan Papa merestui Kak Nagi?" tanya Hilda dalam hati. "Kalau begitu, bagus dong. Sekarang giliran aku yang pura-pura menolak Kak Nagi. Aku akan memberi kejutan balik buat Kak Nagi. Biar tahu rasa dia," pikirnya bersiasat.
Hilda tidak tersenyum atau berbicara apapun, dia hanya menatap dingin ke arah Nagi. Lalu menjauh dan duduk di sofa layaknya seorang Madam Perancis.
"Alasan kuat apa yang membuat Kak Nagi melamar aku?" tanya Hilda sembari tumpang kaki dengan jemari lentik meraih minuman yang sudah disajikan Bi Rana dan Bi Rani.
"Karena Kak Nagi mencintai kamu dan ingin membahagiakan kamu," jawab Nagi santai. Semua orang melihat heran ke arah Hilda. Ada yang heran ada juga yang senyum-senyum geli, sebab mereka tidak biasanya melihat sikap Hilda yang aneh seperti itu dengan gaya seorang wanita dewasa persis Madam-madam.
"Atas jaminan apa Kak Nagi berani melamar aku dan menjadikan aku istrimu?" tanya Hilda dengan gaya yang masih dibuat sesultan mungkin. Pak Hasri dan Bu Hilsa saling tatap aneh, harusnya pertanyaan itu mereka lontarkan pada Nagi tadi, tapi di sini mereka seperti dibuat sangat konyol dan lucu, masa iya Hilda yang dilamar, Hilda juga yang banyak melontarkan pertanyaan. Hilda mesem sinis, dia berniat akan membuat Nagi keder di sini.
"Hilda Sayang, sudahlah. Jangan kamu tanya lagi Kak Nagi. Sekarang kamu tinggal jawab ya atau tidak," sela Pak Hasri menatap Hilda.
"Tidak semudah itu, aku menolak lamaran Kak Nagi," ucap Hilda seraya berlari ke kamar menaiki tangga. Semua yang berada di sana terhenyak tidak percaya. Nagi termenung heran. Tapi kini dia harus percaya atau tidak dengan sikap penolakan Hilda barusan? Sedangkan setelah Hilda tidak menggunakan lagi cincin berlian pemberiannya yang di dalamnya terkandung sebua indikator kamera pengintai, Nagi tidak bisa lagi memantau atau mengetahui apa yang direncanakan Hilda.
Nagi hendak mengejar Hilda. Namun Naga menghalangi.
"Gi, duduklah. Tenangkan dulu pikiranmu," perintah Naga yang melihat Nagi seperti akan putus asa. Nagi patuh perintah Naga. Dia duduk merunduk. Buket uang itu diletak begitu saja di meja. Nagi nampak kecewa dan sedih mendapat penolakan Hilda.
__ADS_1
Papa Hasri dan Mama Hilsa kompak menghampiri, sementara Asisten kembar Bi Rani dan Rana saling tatap sedih melihat Nagi ditolak Hilda, mereka terbawa suasana sedih yang dirasakan Nagi.
"Gi, Papa minta maaf atas perlakuan Hilda. Semua keputusannya tidak ada intervensi dari kami, semua diluar perkiraan kami. Kamu yang sabar, ya. Papa rasa Hilda butuh waktu untuk berpikir. Mungkin saja, kedatanganmu bukan saat yang tepat. Papa menduga Hilda sedang bad mood," hibur Papa Hasri seraya mengusap lembut Nagi yang sudah seperti anak sendiri.
Nagi perlahan mendongak dan menatap wajah Papa Hasri, di sana nampak sebuah ketulusan yang dalam dan kejujuran. Meskipun sempat tidak menyetujui, tapi kini tatapan teduh itu memperlihatkan bahwa beliau menyangkan penolakan Hilda.
"Mungkin benar kata Papa, Nagi datang di waktu yang tidak tepat. Nagi merasa antusias sehingga tidak memikirkan perasaan Hilda. Maafkan Nagi, Pa, Ma, juga Bang Naga. Tapi Nagi tidak akan menyerah," sungutnya bertekad. Mendengar itu Pak Hasri merasa bahagia, Nagi memang sangat gigih dalam segala hal.
Tiba-tiba bunyi HP Nagi berdering, sebuah panggilan telpon dari sang Ibu kembali terdengar. Nagi mohon ijin pada Papa dan Mama Hilsa juga Naga dan Zila untuk mengangkat panggilan telpon.
"Baik, Bu. Besok lusa Nagi pulang," jawabnya memundurkan kepulangannya satu hari dari yang dia janjikan. Nagi sepertinya akan pulang dengan membawa kekecewaan akibat penolakan Hilda.
Nagi kembali ke sofa duduk diantara Papa Hasri dan Naga. Nagi nampak putus asa dan murung. Tapi tidak dengan Hilda. Hilda akan melihat sejauh mana Nagi memperjuangkannya.
"Gi," seru Pak Hasri meraih bahu Nagi.
"Nagi tidak akan berhenti, Pa. Nagi akan tetap melamar Hilda. Lihat saja nanti buktinya. Untuk hari ini mungkin Nagi datang tidak tepat, sehingga Hilda menolak Nagi," ucap Nagi menghibur diri.
"Berhubung waktu tidak memungkinkan, besok Nagi harus kembali ke Medan, sebab Ibu sudah menghubungi Nagi dan menyuruh Nagi untuk segera pulang. Sampaikan pada Hilda bahwa Nagi pasti akan kembali dan melamarnya. Nagi ada urusan yang urgent, sebab tidak biasanya Ibu menyuruh Nagi segera pulang," ucap Nagi memberi tahu.
__ADS_1