Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 142 Musim 2 Menantikan Kelahiran


__ADS_3

     Dua bulan kemudian, usia kandungan Zila kini sudah memasuki sembilan bulan. Zila dan Naga serta seluruh keluarga tengah harap-harap cemas menantikan kelahiran bayi yang dikandung Zila. Namun sampai usia kandungan Zila memasuki bulan ke 36, tanda-tanda melahirkan itu belum ada. Mereka sebagai keluarga terutama Bu Hilsa sangat cemas dan selalu menanyakan apakah sudah terasa, apakah sudah ada tanda-tanda?


     Namun, Zila yang mengalami hamil malah santai dan setiap Mama Hilsa menanyakan sudah ada tanda-tanda atau belum, Zila menjawab dengan santai. "Belum Ma, nanti juga kalau mau melahirkan akan terasa tanda-tandanya."


     "Kak Naga, ayo, katanya mau membeli perlengkapan bayi?" ajak Zila menarik tangan Naga yang sedang duduk santai.


     "Sayang, kata Mama untuk baju bayi dan segala macam sudah Mama siapkan, jadi kita tinggal duduk santai saja menerima kedatangan semua perlengkapan bai," jawab Naga.


     "Tapi perlengkapan itu sampai sekarang masih belum muncul di apartemen kita, bagaimana nanti kita mau makai baju buat bayi kita?"


     "Tidak usah khawatir, Mama sudah bilang semua perlengkapan itu sudah ada di rumah Mama, Mama pengennya Mama saja yang menyiapkan semua perlengkapan bayi sebagai rasa syukur dan sambutannya buat bayi kita yang pertama juga cucu pertama bagi Papa dan Mama," debat Naga lagi.


     Zila menyunggingkan senyum, benar juga apa yang dikatakan Naga, selama ini justru Mama Hilsa yang menyiapkan segalanya dari mulai baju bayi dan perlengkapan lainnya. Bedak, popok, alat mandi juga tempat tidur bernuansa baby boy sudah disiapkan di sana. Katanya biar di rumah mertuanya itu ada aura bayi yang muncul setiap saat, dengan tujuan jika cucunya itu tidak sedang menginap di rumahnya, maka aura bayi itu akan tetap mereka rasakan karena ini merupakan cucu pertama bagi mereka.


     "Lalu kita harus nyiapin apaan, Kak?"


     "Kita hanya menyiapkan kamar bayi saja di apartemen ini, sebentar lagi akan ada tukang datang dan mereka akan membuatkan kamar buat baby boy kita," ujar Naga.


     "Benarkah? Duhhh, rasanya seperti tidak sabar aku menyambut baby boy," ungkapnya seraya bersandar di pelukan Naga dengan manja.


     "Kapan jagoan Papa ini akan lahir ke dunia, rasanya Papa sudah tidak sabar ingin segera melihatmu."


   "Sayang, kata Dokter Rangga supaya kelahiran baby boy kita lancar dan cepat, aku harus sering-sering menengok anak kita. Kebetulan aku saat ini sedang ingin," ujar Naga merayu di siang bolong begini.


     "Kak Naga, jangan sekarang, nanti malam saja. Sekarang aku ingin mengajak Kakak ke mall, aku ingin makan tomyam di food court Ambas Mall. Rasanya ngiler banget, seperti sudah ingin menyantap saja."


     "Tidak, sebentar saja. Aku sedan ingin, sebelum pergi kita berperang dulu. Aku suka sakit kepala jika sedang ingin tapi tidak tersalurkan," rayunya Naga seraya mulai melancarkan aksinya.


     "Kak Naga, tapi sebentar lagi akan ada tukang yang akan membuat kamar baby boy kita. Nanti kalau kita sedang berperang, bagaimana jika mereka datang?"


     "Sudah, jangan takut. Kita kasih tahu Bi Lala saja supaya Bi Lala yang menyambut dan menunjukkan di mana para tukang itu harus membuat kamar untuk baby boy kita. Ayo." Naga sudah menggendong tubuh Zila ke dalam kamar dan merebahkannya di sana untuk menyalurkan hasratnya yang sudah tidak tertahankan.


     "Aduhhhhh, sakit, sakitnya seperti keram. Ini semua gara-gara Kak Naga, yang ingin menengok bayi ita melulu," rutuk Zila setelah menyudahi melayani semua tingkah manja Naga.


     "Sayang, itu tidak akan lama, sebentar saja kok. Ayo kita mandi dulu sebelum pergi, sebab aku sudah tidak sakit kepala lagi," ajak Naga meraih tangan Zila.

__ADS_1


     "Tidak, aku duluan saja mandinya," ujar Zila seraya berdiri dan masuk ke kamar mandi. Setelah beberapa menit membersihkan diri, Zila keluar dan kini giliran Naga. Sebelum masuk kamar mandi, iseng tangannya mencolek pinggang Zila.


     "Sayang, wangi banget ih, nanti malam satu ronde lagi, ya, supaya baby boy ini cepat lahir."


     "Kak Nagaaa, baru saja Kakak nengok dia, sudah membicarakan untuk nanti malam. Kakak ini jangan otak mesum terus, sana mandi," usirnya seraya menepis tangan Naga yang mulai menggerayang. Naga tersengeh lalu masuk kamar mandi dan membersihkan diri di dalam sana dengan hati yang gembira.


     "Ayo," ajaknya seraya menggandeng tangan Naga. Naga membalasnya dan segera ke luar.


     Tiba di Ambas Mall, Zila langsung menuju ke food court mall tersebut, dia sudah tidak sabar ingin segera menikmati tomyam yang super segar dan nikmat itu. Naga sangat risih dan takut melihat Zila dengan sangat lincah dan cepat melangkah menaiki tangga mall. Dengan tangan memegangi perut bawahnya, Zila tanpa rasa takut berjalan menaiki tangga. Setelah sampai di food court, Zila segera memesan apa yang ingin dia makan sejak tadi.


     "Tomyamnya Mbak dua porsi, sama jus marqisa satu dan jus melon satu," pesannya tanpa bertanya terlebih dahulu pada Naga. Tapi Naga tidak komplen, dia juga menyukai tomyam dan jus yang dipesan Zila.


     "Silahkan Kak," ujar seorang Pelayan yang hampir 30 menit sejak Zila memesan pesanannya, pesanannya baru datang. Walau sedikit tidak sabar, akhirnya Zila bisa menikmati makanan segar favoritnya itu.


     "Sayang, pelan-pelan makannya. Itu sampai tumpah-tumpah." Naga menyusut kuah yang mengenai sudut bibir Zila karena Zila makannya buru-buru.


     "So sweet banget sih," tegur seseorang sembari duduk di samping kursi Naga yang masih menikmati tomyam dengan nikmatnya. Naga dan Zila terkejut, tapi tidak lama saat melihat siapa yang sudah duduk di dekat Naga.


     "Hilda, kamu? Ayo sekalian makan yuk, aku pesankan, ya."


     "Tidak, aku tidak mau makan, aku sudah kenyang tadi makan sama teman aku," ungkapnya menggeleng.


     "Kak Naga ini sangat kepo, itu tidak penting buat Kak Naga," tukasnya.


     "Pasti cowok cepak tampan tempo hari itu, kan?" tebak Zila sembari tersenyum.


     "Cowok cepak apaan, tempo hari apaan? Kamu jangan sok tahu," sergahnya tidak suka.


     "Alah, jangan berusaha mengelak. Aku tahu cowok itu dari sebuah liputan wartawan yang tempo hari pernah meliput acara peluncuran produk baru perusahaan Kak Naga," tuding Zila lagi yakin.


     "Zi, kamu jangan sok tahu. Itu hanya teman," elaknya lagi seraya melotot.


     "Sudah, jangan ribut di sini. Kamu mau berteman dengan siapa pun itu tidak masalah, asal kuliah kamu benar," timpal Naga menyudahi makan tomyamnya yang memang super sedap dan segar.


     Sebuah alunan musik dari Hp Hilda tiba-tiba terdengar. Rupanya Hilda mendapatkan sebuah panggilan WA. Hilda menatap sekilas, seulas senyum terbit di sudut bibirnya membuat Naga dan Zila keheranan sekaligus bahagia karena baru kali ini mereka melihat senyum manis di bibir Hilda.

__ADS_1


     "Siapa?" tanya Naga kepo. Hilda tidak menjawab, dia hanya menjulurkan lidahnya tanda tidak suka ditanya-tanya.


     "Gebetan baru, cie, cie," goda Zila sambil terkekeh. Hilda melotot dia tidak suka dibilang punya gebetan.


     "Bukan gebetan, bukan pacar, lagipula yang ada dalam hati aku tidak akan pernah terganti meskipun aku kini sedang berusaha melupakannya," ungkap Hilda mengalir begitu saja seolah tanpa disadari sebab raut wajah dan matanya nampak jauh menerawang entah kemana.


     "Maksud kamu, kamu sedang melupakan siapa sih, Hil?" selidik Zila.


     "Apa, melupakan? Siapa yang melupakan? Aku tidak sedang melupakan siapa-siapa. Sudah ah, aku pulang dulu. Kalian kalau mau nginap di mall ini silahkan. Atau kamu masih ngidam apa saja di mall ini, ubek saja sekalian isi mall ini sampai bayi kamu puas dan lahiran di sini."


     "Husss, kamu itu sembarangan bicara, Dek. Masa iya, Kakak membiarkan istri Kakak melahirkan di sini. Kamu seperti tidak gembira dan menyambut keponakan pertamamu ini." Naga meradang atas ucapan gegabah Hilda barusan. Hilda terlihat menunduk seraya malu-malu mengangkat panggilan itu dan menjauh.


     "Maaf, aku pamit deh kalau begitu," tukasnya sembari berlalu dan mengangkat panggilan itu. Naga dan Zila menatap kepergian Hilda dengan gelengan kepala.


     Sejenak Zila berpikir dengan ucapan Hilda tadi, yang mengatakan sedang berusaha melupakan seseorang yang masih di hatinya yang tidak terganti, Zila menebak orang yang dimaksud Hilda adalah Nagi. Artinya kini Hilda akan melupakan Nagi.


     "Jika pengganti Kak Nagi lebih baik segalanya dari Kak Nagi, aku pasti dukung kamu, Hil. Tapi sepertinya kamu memang tidak pernah bisa melupakan Kak Nagi, sikap kamu yang ingin melupakan Kak Nagi hanya karena Kak Nagi sudah tidak ada menghubungi aku lagi dan menyampaikan salam untuk kamu," simpul Zila di dalam hati.


     Naga dan Zila menyudahi makan di food court, mereka kembali ke apartemen, sebab di apartemen sedang ada tukang yang mengerjakan pembuatan kamar sang jabang bayi.


     Saat sedang berjalan menuju parkiran mall, tidak disangka mereka bertemu Sila yang bergandengan dengan lelaki tua sekitar usia 55 tahun. Sekilas Sila nampak ragu untuk melanjutkan langkahnya ke arah mall, sebab dia melihat Naga dan Zila berjalan ke arah parkiran. Namun lelaki tua di sampingnya terus menggenggam tangan Sila dan terus membawanya berjalan.


     "Om Harry, senang sekali berjumpa Om di sini. Apakah Om mau ke mall ini juga?" tanya Naga kaget, sebab tiba-tiba bertemu dengan sahabat lama Papanya yang lumayan dekat. Naga dan Zila juga tidak kalah terkejutnya melihat perempuan yang digandeng oleh Om Harry. Sila sepertinya sedang berusaha menyembunyikan wajahnya ke belakang, pura-pura tidak ngeuh.


     "Naga. Ya ampun, tidak sangka kita bertemu di parkiran mall ini. Kebetulan nih Om baru mau masuk ke mall ini, mau melihat usaha baru calon istri Om ini," ucap Om Harry seraya menunjuk ke samping Sila.


     "Sila, benarkah Sila calon istri Om Harry? Syukurlah, setelah menduda cukup lama, akhirnya Om mendapat pengganti almarhumah Tante Halisa," ujar Naga ikut gembira. Sebab Om Harry sahabat Papanya yang betah di luar kota ini karena punya usaha restoran ini, sudah kurang lebih lima tahun menjadi duda karena ditinggal istri selamanya.


     "Iya, Ga. Akhirnya Om mendapatkan jodoh lagi. Insya Allah bulan depan Om menikah lagi dengan gadis di samping Om ini," ujar Om Harry bahagia. Naga ikut tersenyum dia juga ikut senang melihat Om Harry senang dan akan menikah lagi.


     "Selamat ya, Om. Selamat juga Sila, sebentar lagi kamu menikah." Ucapan Naga barusan sedikit membuat Om Harry heran, sebab Naga seolah sudah mengenal Sila calon istrinya. Sementara Sila mukanya memerah, dia seakan ingin menyembunyikan wajahnya serapi mungkin di balik Om Harry.


     "Sebentar, melihat ekspresi wajah kamu, sepertinya kamu mengenal calon istri Om. Apakah kalian memang saling mengenal?" tanya Om Harry penasaran. Naga tersenyum dan mengangguk.


     "Benar Om, kami saling kenal, sebab Sila merupakan anak dari sahabat Mama," jawab Naga jujur, kecuali tidak menyebutkan akan dijodohkan dengan Sila. Om Harry mengangguk-angguk percaya dan terkekeh senang. Sedangkan Sila, jantungnya mulai berdetak kencang saat Naga mengatakan mengenalnya pada laki-laki tua di sampingnya, dia ketakutan masalah perjodohan itu diungkap Naga.

__ADS_1


     "Kalian pasti di undang, tunggu undangannya, ya. Ok deh Naga, Om ke mall dulu, ya. Oh iya, sepertinya ini istri baru kamu itu? Cantik sekali, sepertinya yang kali ini dia bakal setia tidak seperti yang sudah-sudah, hanya gila harta dan berkhianat. Maafin Om, sejak tadi lupa mau menyapa istrimu."


"Tidak apa-apa Om. Benar ini istri Naga. Minta doa sebentar lagi akan melahirkan," ucap Naga tersenyum. Akhirnya pertemuan mereka berakhir. Om Harry berpamitan pada Naga. Naga dan Zila pun berpamitan dan pulang memburu mobil yang sedang diparkirkan.


__ADS_2