Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Musim 3 Nagi dan Hilda # Hilda yang Kecewa


__ADS_3

"Kak Nagi, bicaralah aku tahu itu Kak Nagi. Kakkkk," teriak Hilda sayangnya Hp Zila tiba-tiba mati karena low batt. Hilda melihat layar Hp Zila, dia geram dengan Hp Zila yang mati.



"Uhhhhh, kenapa harus mati. Apa susahnya Hpmu tadi di cas sampai penuh?" dumel Hilda kesal sembari mencari charger untuk mengisi daya.



"Sini aku isi, aku tadi tidak sempat cas, sebab baby Syaka ingin digendong terus. Jadi, aku tidak sempat isi daya," raih Zila pada Hpnya lalu mengambil charger di kamarnya dengan langkah yang pelan sebab dia takut membangunkan baby Syaka yang baru saja tidur.



Zila kembali keluar kamar sembari menenteng alat charger, lalu mencolokkan charger itu ke dalam sebuah kabel terminal yang sudah nyantol di sana.



Hilda segera menghampiri Hp Zila yang baru dicolok ke dalam lubang terminal. Dengan tidak sabar, dia menghidupkan kembali Hp Zila yang baru saja dicas. Hilda berharap Nagi bisa kembali menghubungi Hp Zila.



Namun, setelah lima belas menit menunggu, nomer pribadi itu tidak kunjung lagi menghubungi, sehingga membuat Hilda kesal. "Hubungi lagi, dong, Kak," harapnya menatap Hp Zila dengan sedih. Zila menghampiri Hilda dengan penuh rasa prihatin.


__ADS_1


Muka Hilda berubah sangat galau dan sedih menunggu Nagi menghubunginya kembali. "Zi, ini bagaimana? Kenapa Kak Nagi tidak menghubungi lagi?" tanya Hilda tidak sabar.



"Sabar, tunggulah dulu beberapa menit lagi, siapa tahu Kak Nagi menghubungi lagi," ucap Zila memberi harapan. Namun sampai satu jam berlalu, Nagi yang dia tunggu tidak kunjung menghubunginya lagi, sampai Hilda ketiduran di sofa ruang tamu.



Zila menatap iba pada adik iparnya itu, saking cintanya pada Nagi dia rela menunggu Hp Zila berbunyi mengharapkan Nagi memanggil kembali.



Sampai waktu menunjukkan pukul dua belas siang dan Hilda terbangun dari tidurnya. Hilda segera meraih Hp Zila dan melihat sataus di HP itu. Ternyata statusnya masih seperti tadi, tidak ada atau belum ada panggilan lagi masuk terlebih dari Nagi.




"Aku minta maaf telah membuat Kak Nagi tidak menghubungi lagi," maafnya penuh sesal. Hilda tidak menjawab apa-apa, dia terlanjur kecewa dan tidak habis pikir kenapa Nagi tidak mau menghubunginya langsung? Hanya karena berpikir Hilda takut membocorkan keberadaan dirinya, Nagi merasa lebih aman menanyakan Hilda pada Zila.



Hilda merengut kesal, dia bangkit dan bergegas menuju pintu apartemen, lalu membukanya dan keluar tanpa pamit. Hilda pulang dengan hati kecewa terlihat dari sikapnya.

__ADS_1



Zila segera mengejar Hilda yang sudah beberapa langkah menjauh, tapi sayang, Hilda sudah memasuki lift dan menghilang di balik lift. Zila merasa bersalah dengan keadaan Hilda bersedih seperti itu, lantas dia mengirimkan pesan WA pada Hilda.



"Hilda, aku minta maaf. Tunggu saja nanti malam besok atau lusa, Kak Nagi pasti menghubungi." Pesan WA Zila masih abu-abu pertanda belum dibaca Hilda.



Hilda kini berada di bibir danau, dirinya menangisi nasibnya yang menyedihkan karena merindukan Nagi. Hilda kini duduk di salah satu bangku panjang di sekitar pinggir danau. Matanya menatap tajam hamparan danau yang terbentang dari utara ke selatan. Hilda terus menatap, lalu meraih batu kecil yang berada di bawah kakinya, lalu melemparkannya ke dalam danu itu sejauh mungkin, meluapkan rasa kecewa di dalam dadanya kepada Nagi.



"Kak Nagi, apakah kita tidak akan bersama? Mengapa susah banget untuk kita bertemu. Jika Kak Nagi memang cinta aku, datang dan buktikan, tidak perlu menunggu aku lulus kuliah," bisiknya seraya masih melemparkan batu ke danau.



Saat Hilda masih merasa kecewa karena Nagi, maka seseorang di belakang Hilda tengah mengamati Hilda ikut prihatin, perlahan dia menghampiri Hilda.



"Kalau kamu masih sedih, lemparlah yang banyak batu itu sampai kamu puas," ujarnya mengejutkan Hilda. Siapakah dia?

__ADS_1


__ADS_2