
Nagi masih berusaha memberikan rangsangan supaya Hilda tidak mengalami rasa sakit yang teramat saat mengalami ketegangan saat ini.
"Santai, Sayang," bujuknya seraya perlahan satu persatu semua yang melekat di tubuh Hilda dan dirinya terjun bebas ke lantai.
"Persiapkan dirimu, Sayang." Kata-kata Nagi sudah tidak mampu lagi Hilda dengar seiring hasrat di dalam dadanya makin membara, bersamaan tubuhnya menggelinjang dan membusung pertanda dia siap menerima serangan.
Sebenarnya Nagi masih bingung sebab ketika senjatanya dia arahkan ke sana, selalu gagal lagi dan gagal lagi. Sepertinya respon lembah perawan masih belum pas, dia sudah melambung tinggi hasratnya. Namun terhalang kembali oleh sebuah ketegangan, terlebih ini merupakan pengalaman pertama bagi Nagi, sebab Nagi tidak pernah mencoba nakal saat masa bujangannya dia lalui.
Nagi hampir menyerah, Hilda juga lelah karena tegang. Bahkan beberapa kali mereka memutuskan istirahat sejenak.
"Sayang, bantu aku arahkan. Kamu pasti dapat merasakan di mana pintu lembah perawanmu." terpaksa Nagi meminta tolong untuk diarahkan oleh tangan Hilda senjata yang sudah menegang. Hilda patuh, walau tegang dan berusaha membantu Nagi melancarkan usahanya.
"Apakah benar di situ, Sayang?" tanya Nagi. Hilda hanya mengangguk, menurut firasatnya pintu rahasia menuju ke surga dunianya memang di sana. Hilda punya feeling memang di sana. Setelah yakin di sana, Nagi segera bersiap dan memberi aba-aba pada Hilda supaya bersiap untuk menahan rasa sakittttt.
"Bersiap, Sayang." Hilda sudah memejamkan matanya menerima hujaman yang pastinya bakal menyakitkan.
Satu, dua, tiga. Dan blessss, sekaligus Nagi menghentaknya, bersama dengan itu jeritan panjang dan dorongan keras menyentuh dada Nagi. Hilda meminta Nagi melepaskan kembali. Namun sayang, Nagi tidak rela sebab rasa yang benar-benar melayang kini telah dia rasakannya.
"Kak Nagiiiiiii, sakitttttttt," jeritnya seraya mendorong dada bidang Nagi yang tidak sabar naik turun.
Di bawahnya Hilda meraung, tapi Nagi tidak perduli, dia semakin melancarkan serangannya sesekali membungkam bibir Hilda yang pipinya basah air mata.
"Kak cepattttt, sakittt, lepaskan Kak," mohon Hilda lagi meringis dan menjerit dengan kepala ke kiri ke kanan menahan rasa sakit.
"Arghhhhhh." Nagi meraung panjang persis lolongan serigala yang lapar melepas semua rasa yang membuatnya melayang. Lepas dan denyut di kepalanya yang tadi sakit hilang sudah bersama dengan lepasnya perjaka untuk pertama kali.
Nagi mengecup bibir Hilda yang kini terisak, lalu menyeka air mata yang membasahi pipi Hilda. Untuk waktu yang agak lama, Nagi menatap dan membelai rambut Hilda, mencoba menghentikan rasa sakit itu dengan belaian kasih sayangnya.
"Aku minta maaf, Sayang," ujarnya seraya dikecupnya kembali bibir itu.
Malam semakin larut, sisa pertempuran tadi yang menyisakan rasa sakit untuk Hilda masih jelas bayangannya di pelupuk mata. Nagi dengan beribu kenikmatannya meredam rasa sakit Hilda dengan sebuah pelukan hangat.
Nagi bertekad besok selama di Maldives dia tidak akan melewatkan sehari pun untuknya bercinta.
__ADS_1
"Kita ulang besok malam," ujarnya tidak tahu diri, padahal baru saja Hilda meraung kesakitan.
"Itu akan hilang jika kita sering melakukannya. Ayolah, kita bersihkan diri dulu, setelah ini kita mengarungi mimpi indah," ajaknya seraya membawa tubuh Hilda yang lemas ke kamar mandi. Hilda masih merengut, rasa sakit itu masih terasa di bawah sana.
Dengan telaten dan sabar, Nagi memandikan Hilda yang tiba-tiba seperti orang sakit. Diam dan menggigil. "Jangan-jangan Hilda demam," pikir Nagi. "Ya ampun baru sekali saja sudah demam," risau hati Nagi bingung.
Setelah Hilda memakai baju, Nagi membaringkan tubuh Hilda di ranjang. "Sayang, kamu jangan sakit. Aku minta maaf sudah menyakitimu," mohon Nagi seperti menyesal.
Dalam hati Nagi menyesal kenapa baru diserang satu kali, Hilda sudah memperlihatkan fisik yang lemah, langsung demam. Nagi kecewa kalau Hilda besok masih demam, alamat dia tidak akan mengarungi surga dunia yang melayang-layang itu lagi di sini.
"Sayang aku mohon, kamu jangan sakit, ya. Kita di sini dalam rangka bulan madu dan liburan, masa iya kamu sakit. Kamu yang sehat, Sayang," rengek Nagi berharap seraya membelai wajah Hilda yang hanya diam. Nagi mencoba menyalurkan energi positifnya dengan memeluk tubuh Hilda. Malam itu pun menjadi malam yang syahdu bagi keduanya. Mereka terlelap dalam buaian mimpi indah setelah melepas masa perawan dan perjaka.
Maldives, pagi hari yang cerah, suara burung bersahutan di atas pohon nyiur. Nagi sudah sejak tadi terbangun, dia menyiapkan segelas coklat panas untuk Hilda.
Hilda sudah terlihat gerakannya, tubuhnya bergeliat ke kiri dan ke kanan. Rasa lelah tadi malam sudah tidak dirasakan lagi.
"Sayang, bangunlah," ajak Nagi seraya menangkap lengan Hilda. Hilda berdiri di papah Nagi menuju kursi malas di balkon kamar hotel. Di atas mejanya sudah tersedia coklat panas yang kepulan asapnya membumbung tinggi di udara.
"Pagi Sayang," ucapnya mengecup tangan Hilda. Wajah Nagi sumringah melihat Hilda tidak demam, semalam dia sangat takut Hilda akan demam dan sakit. Kalau ternyata sakit, otomatis Nagi dengan terpaksa harus membawa Hilda pulang ke Indonesia, sebab Nagi tidak tahu obat demam di negara ini yang cocok buat Hilda apa.
"Sayang, coklat panas ini bagus untuk merilekskan tubuh kita yang tegang. Segera minum, mungpung masih panas," bujuk Nagi lagi. Hilda meraih cangkir itu lalu mulai meneguknya perlahan.
"Kak Nagi apakah Kak Nagi semalam merasakan rasa yang sakit juga?" tiba-tiba Hilda bertanya sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Hilda menanyakan rasa sakit pada Nagi. Nagi tersenyum seraya mendekati Hilda lalu mendekapnya seraya melabuhkan ciuman di pipi Hilda.
"Sayang, rasa semalam adalah rasa yang baru saja sama-sama kita rasakan. Yang jelas kita sama-sama merasakan perasaan lega karena aku sudah melepas masa perjakaku untukmu, dan kamu melepaskan perawanmu untukku," ujar Nagi.
"Lalu apakah rasa sakit itu dirasakan Kak Nagi juga, soalnya semalam aku hanya merasakan rasa sakit yang teramat sangat?" ungkap Hilda sejujurnya.
"Kamu ingin tahu rasa yang aku rasakan?" Hilda mengangguk mendapatkan pertanyaan seperti itu, Hilda penasaran apa yang dirasakan lelaki saat kehilangan keperjakaannya.
Nagi mendekatkan bibirnya di telinga Hilda seraya berbisik menjelaskan gambaran sebuah rasa dengan bahasanya sendiri.
"Rasa lega itu bikin kita melayang-layang, Sayang. Nanti kalau kamu terus mencobanya, maka rasa sakit itu akan terganti dengan rasa nikmat yang melayang-layang," jelas Nagi disertai senyuman.
__ADS_1
"Aduhhh, aduhhh, sakit Sayang," teriak Nagi saat telinganya dijewer Hilda dengan kencang.
"Kak Nagi enak melayang-layang. Aku sakit tahu," ujarnya seraya melangkah ke dalam lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Mata Hilda seakan masih ngantuk, selagi sarapan pagi belum datang, dia masih ingin tidur gara-gara kelelahan semalam.
Hilda menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya, karena pagi ini terasa sangat dingin. Nagi yang dijewer telinganya oleh Hilda tidak takut mengikuti Hilda yang kini tengah berselimut kembali. Nagi duduk di samping Hilda, dia juga bermaksud membaringkan tubuhnya kembali. Namun urung, saat mata Nagi melihat ke samping kiri ranjang ada sesuatu yang membuatnya tersentak sekaligus terharu.
"Sayang, noda merah ini menandakan kesakitan semalam kamu sangat berarti," ujar Nagi membuat Hilda tersentak dan mengurai selimut yang tadi menutupi tubuhnya. Hilda bangkit, dan penasaran dengan apa yang dikatakan Nagi barusan.
"Apa yang Kak Nagi katakan?"
"Lihatlah noda merah di sprei ini, semalam kamu telah mempersembahkan sesuatu yang paling berharga padaku. Itu yang pertama kalinya kamu persembahkan pada lelaki, dan lelaki yang beruntung itu adalah aku. Aku sangat bahagia dan terharu sebab kamu dengan tulus dan ikhlas mempersembahkan kehormatanmu hanya padaku. Aku sangat bahagia, Sayang. Aku berjanji, tidak akan pernah menyia-nyiakan mu. Aku akan selalu setia sepanjang hayatku menua bersamamu menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia." Nagi terlihat berkaca-kaca. Dia bangga pada Hilda yang menjaga kesucian cintanya hanya untuk Nagi.
Hilda melongo menatap noda merah di atas sprei yang semalam mereka jadikan tumpuan bercinta. Hilda tersenyum bahagia sekaligus terharu. Hilda menangis sebab rasa sakit itu kini terbayang lagi.
Tidak lama dari itu, pelayan hotel terdengar mengetuk pintu dan meneriakkan, "breakfast," ujarnya seraya membunyikan bel.
Nagi bangkit dan berjalan menuju pintu, sementara Hilda duduk di tepi ranjang sambil menyeka air mata yang tadi sempat jatuh. Sarapan pagi untuk mereka berdua telah diantar ke dalam oleh seorang pelayan dengan meletakkan troli makanan itu di muka pintu.
"Thank you," ucap Nagi seraya menarik troli makanan itu ke dalam kamar. Pelayan itu membungkuk hormat seraya membalikkan tubuhnya kembali lalu pergi.
"Sayang mari kita sarapan. Sebelum kita menikmati keadaan alam di Maldives ini, kita isi perut dulu." Nagi menyiapkan sarapan untuknya juga untuk Hilda. Mereka berdua mulai menikmati sarapannya dengan suka cita.
**
Nagi dan Hilda mulai menuruni kamar hotelnya. Setelah sarapan pagi, mereka berdua akan menikmati pemandangan Maldives dari berbagai sisi.
"Wahhhhh, Kak Nagi lihatlah," tunjuk Hilda pada sebuah pemandangan alam seperti sebuah taman tapi di tengah-tengah laut.
"Sayang, kamu mau ke sana?" Hilda mengangguk antusias, pokoknya dia tidak ingin melewatkan satu tempat pun di Maldives ini. Beberapa perahu dayung sudah tersedia untuk menyebrangkan penumpangnya.
"Ayo naiki perahu ini." Mereka beserta pengunjung yang lain menaiki perahu dayung untuk menuju ke pulau atol untuk menikmati taman di sana.
Ternyata tempat itu adalah sebuah tempat rekreasi selain sebuah taman.
__ADS_1
"Ayo Sayang turunlah." Nagi meraih tangan Hilda. Mereka berjalan beriringan menuju taman atol yang sangat indah. Hamparan laut yang ombaknya diterpa angin ikut mewarnai kegembiraan para pengunjung .
"Kak Nagi, kita ke sana. Kita melihat orang-orang itu," ajak Hilda pada sebuah gerombolan orang-orang. Rupanya di sana ada sebuah pertunjukan seni yang sengaja dipertontonkan untuk para pengunjung. Tiba-tiba salah satu penari pria berwajah India menarik tangan Hilda untuk membawanya menari. Nagi terkejut sehingga dia menyusul Hilda ke tengah-tengah tarian itu..