Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 23 Romansa di Villa


__ADS_3

**Zila** tidak membalas ajakan **Naga**, sebab dia sedang asik menjelajahi medsos. Sejak diajak Naga untuk mendampinginya dalam penyerahan kepemilikan tanah dari pemilik sebelumnya pada Naga yang merupakan pemilik baru, Zila merasa malas dan tidak bersemangat. Lagipula dia datang ke kampung **Sukaseuri** hanyalah untuk menjumpai Pamannya.



Saat Naga melihat ke arah Zila, ternyata Zila sedang menjelajahi aplikasi online bernama **Jerat** **Dia**. Di mana sebuah aplikasi yang khusus menjabarkan macam-macam cara menjerat tipe lelaki.



"Klik."


Zila sudah menjatuhkan kursornya pada bahasan tentang '**cara menjerat atau menaklukan** **cowok pelit**'. Zila kemudian membuka judul itu dan sebuah bahasan yang lumayan panjang tertulis di sana.



"Ayolah, hentikan main Hpnya. Nanti setelah mendampingi aku, kamu boleh sepuasnya mencari tahu cara menaklukan tipe cowok apapun di aplikasi itu," ujarnya tiba-tiba, merebut Hp yang sedang dimainkan Zila. Zila terkejut dan wajahnya menyeringai marah.



"Kembalikan, aku tidak mau mendampingimu dalam acara ini. Kak Naga turunlah sendiri, aku tidak mau tahu urusan Kak Naga," usir Zila kesal.



"Ok, kalau kamu menolak mendampingi aku, tidak masalah. Tapi, kamu harus menerima hukumannya nanti di villa," ancam Naga seraya membuka pintu mobil dan keluar. Naga mengunci Zila dari luar dan menyalakan mesin mobil supaya Zila tidak kepanasan di dalam.



"Kak Nagaaa, sialan! Rupanya kamu takut aku kabur, sampai pintu mobilnya dikunci segala. Huhhhh dasar pelit," umpat Zila seraya meraih HPnya yang tadi Naga lemparkan dari luar dan jatuh di atas jok. Terpaksa Zila duduk manis terkurung di dalam mobil Naga seraya sesekali menoleh keluar jendela.



Naga menerima sambutan orang-orang yang berkaitan dengan tanah yang dibelinya dengan ramah. Dia berjalan menghampiri beberapa orang yang sepertinya berpengaruh dalam hal jual beli tanah dan sebagainya. Hasya yang sudah ada di situ juga memberi sambutan pada Bosnya sembari mempersilahkan Naga untuk mendekat pada **Pak Haidar** dan Lurah setempat juga jajaran perangkat desa lainnya.



"Silahkan dimulai saja penyerahan hak kepemilikannya," ujar Pak Lurah yang memiliki *name tag* **Hardi**.



Acara penyerahan hak kepemilikan tanah pada pemilik baru diawali dengan sedikit kata sambutan dan basa-basi, baik dari pihak Pak Haidar sebagai penjual maupun dari Naga sebagai pembeli. Saat itu juga pengesahan kepemilikan tanah yang baru, sudah diserahkan kepada Naga beserta sertifikat balik nama yang disahkan oleh Notaris setempat.



Acarapun tidak mengalami hambatan apapun. Semua lancar dan kini Naga lega karena dia telah mengantongi bukti yang sah sebagai pemilik tanah yang baru. Terlebih lahan yang ditanami pohon cengkeh itu memang sasaran utama Naga, sebab cengkeh merupakan bagian dari sumber daya alam yang dibutuhkan perusahaannya.



"Selamat, Pak Naga. Anda sekarang sudah merupakan bagian dari masyarakat di desa kami, khususnya **Kampung Sukaseuri**," ujar **Pak Hardi** sang **Kepala Desa**.



"Terimakasih Pak Lurah atas sambutannya, saya sangat bergembira dan bahagia tentunya menjadi bagian dari masyarakat di Kampung ini," balas Naga sembari menyalami sebagian orang-orang penting di sana.


__ADS_1


Naga pamit dengan membawa sertifikat yang kemudian dia serahkan pada Hasya untuk disimpan dengan sebaik mungkin.



"Bos, rupanya bersama Non Zila." Hasya baru menyadari kalau Bosnya ternyata datang bersama Zila.



"Iya, Sya. Aku mau ke villa dulu sebelum kembali ke Bandung," ujarnya.


"Ok, Bos. Bos bisa ajak Non Zila bersenang-senang dulu di sana." Hasya memahami keinginan Naga sembari tersenyum penuh makna.


Naga kembali ke mobil dengan membawa sebuah perasaan yang bahagia. Sementara Zila, saat Naga memasuki mobil rupanya tengah menyenderkan tubuhnya di jok dan terlihat sangat ngantuk. Naga tidak mengusiknya, dia tidak membuang waktu lagi untuk segera membawa Zila ke villa. Sepertinya di villa bagus untuknya memulai semua.



Tiba di villa, Naga disambut hormat oleh penjaga villa maupun para pekerja di villa. Naga menoleh ke samping kirinya. Rupanya Zila masih tertidur. Naga berinisiatif untuk membawa Zila dengan digendongnya ala *bridal style* dan membawanya ke kamar utama yang sudah disiapkan sebaik mungkin oleh para pekerja villa tersebut.



Naga membaringkan tubuh Zila pelan. Naga geleng-geleng kepala dengan keadaan Zila yang tidur begitu pulas sampai dia tidak sadar sudah berpindah tempat. Naga tersenyum setelah muncul ide gilanya untuk mengerjai Zila.



Beberapa saat kemudian, Zila terbangun setelah tubuhnya terasa ada yang mengusik. Ketika bangun, Zila sudah mendapati Naga berada dekat di sampingnya, tentu saja dengan suasana yang berbeda.




"Hentikan, aku harus pergi dan kembali ke rumah Paman Kobar." Tapi percuma bagi Zila, jika bangkitpun tubuhnya sudah tanpa sehelai benangpun.



"Kak Naga curang," kesalnya seraya menahan tubuhnya dengan selimut.



"Ayolah kita lakukan, anggap saja ini sebuah bulan madu kita yang tertunda. Bukankah kamu ingin hamil anakku?" goda Naga sembari mendekati Zila yang tentunya sudah tidak bisa bergerak bebas kemana-mana dengan keadaan tubuh seperti itu.



"Kakak hentikan!" Teriakan itu terhenti saat Naga berhasil melabuhkan ciuman di bibir Zila sehingga Zila terdiam. Walaupun berontak, kini yang diterima Naga adalah berontak yang menginginkan sesuatu yang sama. Bahkan saat tangan Zila mencengkram, bukan sebuah cengkraman melainkan pelukan yang menginginkan hal itu segera dilakukan.



Meskipun jeritan kesakitan itu masih keluar dari mulut Zila. Namun, semuanya seperti *simponi* yang turut menyemarakkan hasratnya berdua semakin melambung di udara. Kini Zila seakan menikmati permainan Naga, diapun mulai membalas.



Sorepun menjelang, Naga terbangun dan tersadar dari buaian indah tadi siang bersama wanita menggemaskan di sampingnya. Naga tersenyum saat membayangkan betapa hebatnya dirinya bisa menaklukan Zila siang bolong tadi, sehingga dia tidak percaya saat Zila memberontak kecil sesungguhnya dia menikmati dan menginginkannya.


__ADS_1


Zilapun terbangun dan tersadar dirinya kini sudah dikuasai sepenuhnya oleh Naga. Naga menyambut bangunnya Zila dengan senyuman yang hangat. Zila menggeliat, sial tubuhnya masih dalam keadaan yang sama, yakni tanpa sehelai benangpun.



"Sayang, kamu terbangun?" Naga berbasa-basi seraya mencium gemas pipi Zila yang memerah. Zila tidak bisa menghindari lagi sentuhan Naga yang kini seakan mulai diinginkannya.



"Kakak menyingkirlah, aku mau mandi. Badanku terasa lengket," protesnya seraya menghindari Naga yang kini mulai memberikan sentuhan yang sensitif. Zila tidak berkutik dia lagi-lagi melakukan pemberontakan kecil yang menginginkan itu lagi.



"Sekali lagi kita lakukan sebelum mandi, ayolah, " rengek Naga.


"Tapi aku masih merasakan sakit Kak, saat kamu hentak tadi," protes Zila diiringi wajah yang meringis.


"Itu tandanya kamu memberikannya padaku barang ori yang tidak tersentuh oleh siapapun selain aku."



"Baiklah, kita akan lakukan sekali lagi, tapi ada syaratnya. Berikan cek satu milyar untukku sebagai bayaran untuk semua yang aku berikan. Lagipula aku bukan bekas siapa-siapa, ahhhhhh...." protes dari bibir Zila kini sudah tidak terdengar lagi. Dan mereka menikmati keindahan sore yang syahdu.



Naga sepertinya tidak ingin melepaskan. Ternyata villa di kawasan yang udaranya masih sejuk ini membawa kehangatan bagi hubungannya bersama Zila yang masih berjalan beberapa bulan.


**


"Ayo, masuklah kita kembali ke Bandung." Naga meraih tangan Zila dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.



"Sya, kembalilah dulu ke Jakarta. Urusan di sini sementara sudah klir. Kamu harus susul Nagi, sebab perusahaan yang di Jakarta memerlukan tenaga handal sepertimu," ujar Naga mengutus Hasya ke Jakarta menyusul Nagi adik sepupunya.



"Baiklah Bos, saya siap laksanakan tugas." Hasya menyanggupi dengan sikap sempurna memberikan penghormatan pada Bosnya yang akan kembali ke Bandung.



"Kak, kita mau ke mana?" Zila penasaran seraya memasuki mobilnya.



"Kita harus kembali ke kota Bandung. Karena pekerjaanku sudah menumpuk di Bandung." Zila membalas malas jawaban dari Naga, sebab jika harus kembali ke rumah itu maka dia pastinya akan bertemu tiap hari dengan Ibu mertuanya yang menurutnya jahat.



"Baiklah aku akan ikuti Kakak ke Bandung. Tapi, aku ingatkan sekali lagi. Hapuskan aturan Mamamu yang menyiksaku itu, dan jangan lupa satu lagi, jangan bocorkan rahasia kita kalau aku pura-pura hamil," ujar Zila memberi peringatan. Naga menyanggupi dengan memberi kode ok di tangannya.



"*Baiklah akan kuturuti kemauanmu Zi, sekarang kamu pura-pura hamil untuk menghindari aturan Mama. Dan calon bayi benaran itu akan segera on the way dalam rahimmu*," bisik Naga dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2