Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 138 Musim 2 Hilda Kena Tilang


__ADS_3

     "Zi, apakah Kak Nagi ada menghubungi kamu lagi?" tanya Hilda yang saat ini sedang berada di apartemen Zila. Zila menatap sedih Hilda yang kini dilanda rindu. Sudah dua bulan sejak Nagi menghubungi itu, belum ada lagi telpon darinya. Hilda kini galau dia semakin terlihat murung dan tidak bersemangat.


     Zila bingung dengan apa dia mengembalikan mood baiknya kembali, sedangkan Zila sudah tidak mau ngarang bebas lagi tentang Nagi yang menghubunginya padahal tidak, sejak Nagi benar-benar menghubunginya. Zila juga takut akibat kebohongannya, berpengaruh pada kehamilannya.


     "Kenapa kamu harus galau sih, sudah jelas Kak Nagi memberikan kepastian dalam rekaman itu. Sekarang kamu yang dituntut untuk tetap semangat menjalani hidup menyambut kedatangan Kak Nagi. Kamu tidak tahu saja waktu empat tahun adalah waktu yang diberikan Kak Nagi untuk kamu supaya kamu bisa lebih baik dan berubah menjadi Hilda yang tidak ekspresif atau agresif lagi."


     "Dari mana kamu tahu?" tanya Hilda menatap tajam ke arah Zila.


     "Aku bukan tahu dari mana-mananya, aku hanya menyimpulkan. Aku yakin janji dalam rekaman Kak Nagi itu tidak main-main. Kalau kamu setiap saat hanya menantikan kabar Kak Nagi tanpa ada perubahan yang lebih baik dari kamu, percuma saja. Sampai saat ini aku tidak melihat perubahan yang lebih baik dari kamu. Sayang banget," ucap Zila berusaha memprovokasi Hilda supaya termotivasi untuk lebih bersemangat.


     Hilda berkaca-kaca mendengar ucapan Zila barusan, dia malah sedih dan semakin terpuruk.

__ADS_1


     "Aku kecewa, Zi, sama Kak Nagi. Kenapa Kak Nagi tidak menghubungi aku saja supaya aku tahu nomernya dan bisa menghubunginya? Kenapa dia hanya menghubungimu, ini tidak adil. Itu artinya Kak Nagi tidak percaya sama aku sebagai orang yang dia cintai. Aku kecewa sama Kak Nagi," tukasnya diiringi isak tangis yang pecah.


     Hilda menangis sejadi-jadinya dengan bantal tertangkup di wajahnya. Zila menatap haru, dia ikut sedih. Zila menghampiri, dia duduk di sambping Hilda lalu mengusap bahu Hilda.


     "Dengar aku, kamu sudah mendapat janji dari Kak Nagi. Tagih janji itu setelah waktunya tiba. Aku yakin jika Kak Nagi seorang laki-laki yang komitmen dengan omongannya, maka empat tahun kemudian aku yakin Kak Nagi akan datang melamarmu," tandas Zila dalam.


     Hilda masih menangis dengan bantal yang kini dibuka. "Apakah janji itu bisa dipegang setelah dua bulan ini tidak ada menghubungi? Aku jadi ragu, hu, hu, hu." Zila menggeleng dia tidak setuju dengan sikap Hilda yang justru tidak bersemangat.


     Untuk beberapa saat Zila membiarkan Hilda menangis sampai dia benar-benar reda dan tenang. Zila meninggalkan Hilda lalu ke dapur membuatkan coklat panas untuk adik iparnya itu.


     "Minumlah, coklat panas ini bisa membuatmu tenang." Zila menyodorkan satu gelas coklat panas pada Hilda. Hilda masih diam dengan tatapan yang jauh entah kemana.

__ADS_1


     Setelah Hilda terlihat tenang, Hilda meraih coklat yang dibuat Zila. Dia menyeruput dengan perlahan. Perasaannya saat ini sangat sedih dan tidak bersemangat meskipun berkali-kali Zila memberi kata-kata motivasi.


     "Aku balik, Zi." Hilda berdiri dari duduk dan menuju pintu yang diikuti Zila. Zila membukakan pintu untuk Hilda.


     "Hati-hati, Hil. Kamu langsung pulang dan jangan kemana-mana lagi. Dan ingat, kamu harus bersemangat, tunjukkan pada semua orang bahwa kamu akan suksess."


     Hilda menaiki motornya yang diparkir di parkiran apartemen. Kesedihan yang melanda karena tidak ada kabar tentang Nagi membuatnya putus asa. Motornya membelah jalanan kota Bandung yang crowded.


     "Pritttttt."


     "Kena tilang, ya ampun." Hilda mengeluh dan menepikan motornya setelah satu orang Polisi berpangkat brigadir dua menghentikan laju motornya setelah melanggar rambu lalu lintas.

__ADS_1


__ADS_2