
"Apa yang sedang Mama dan Papa bicarakan dengan Papa dan Mamanya Kak Hadi? Kenapa kalian tidak membicarakan lebih dulu sama aku sebelum menerima kedatangan mereka? Apa pendapatku tidak penting bagi kalian sehingga seenaknya kalian ingin menjodohkan aku dengan Kak Hadi?" ujar Hilda menatap marah pada Mama dan Papanya, setelah tadi berhasil menarik lengan Papa dan Mamanya ke ruang tengah.
Pak Hasri meraih tangan Hilda dengan lembut, mencoba memberi rasa tenang pada Hilda yang saat ini marah. "Nak, kami hanya mencoba mendekatkan kalian. Sebab kami melihat kalian sudah saling kenal dan sering jalan bareng," sela Pak Hasri.
"Sering jalan bareng bukan berarti kami sedang pacaran, Pa. Aku sama Kak Hadi sering jalan hanya karena kebetulan dia menawarkan bantuan sama aku, tapi bukan aku yang meminta. Kenapa kalian langsung berasumsi bahwa kami dekat dan pacaran? Aku tidak mau lagi dijodoh-jodohkan sampai kapanpun. Yang aku cinta hanya Kak Nagi yang sengaja Papa jauhkan dari aku. Jadi, aku menolak keras rencana kalian," tegasnya seraya berjingkat menuju tangga dan menaikinya untuk ke kamar.
Sambil menaiki tangga Hilda menangis, hatinya kesal. Tiba di depan pintu kamar ia segera masuk dan membenamkan diri di sana. Dia tidak peduli di bawah Papa dan Mamanya akan memberi alasan apa pada kedua orang tua Hadi. Yang jelas saat ini hatinya sedang sedih dan merasa tidak dihargai sebagai anak untuk ditanyai pendapatnya sebelum mendatangkan kedua orang tua Hadi.
Pak Hasri dan Bu Hilsa saling tatap bingung, mereka memikirkan bagaimana alasannya pada kedua orang tua Hadi atas penolakan Hilda dengan rencana perjodohan ini. Salahnya juga, tidak membicarakan dulu dengan Hilda rencana ini.
"Bagaimana ini, Ma? Alasan apa yang akan kita berikan pada Pak Heryawan dan Bu Hasna?"
"Kita bicara baik-baik saja, kita jelaskan yang sebenarnya pada mereka bahwa kita sebelumnya memang belum memberitahu dan meminta pendapat Hilda terkait rencana perjodohan ini," ujar Bu Hilsa menyuarakan pendapatnya. Sejenak Pak Hasri termenung memikirkan ucapan istrinya barusan. Pak Hasri lebih baik minta maaf dan bicara terus terang bahwa Hilda memang tidak diberitahu akan rencana perjodohan ini sehingga dia merasa kaget.
"Baiklah, Ma, tapi Mama bantu Papa nanti seumpama Heryanto marah atau kesal karena rencana perjodohan ini tidak terlaksana." Bu Hilsa mengangguk seraya tersenyum memberi kekuatan pada suaminya.
Pak Hasri dan Bu Hilsa berjalan beriringan menuju ruang keluarga, mereka akan berterus terang terkait penolakan Hilda akan rencana perjodohan ini. Tiba di ruang keluarga, Pak Heryawan mau pun Bu Hasna dan Hadi, terlihat gelisah. Melihat dari gelagatnya, sepertinya mereka sudah mengetahui hal yang sebenarnya.
__ADS_1
Pak Hasri dan Bu Hilsa duduk dengan tidak tenang di depan tamunya. Mereka berdua bingung harus memulai dari mana dulu untuk bicara. Bu Hilsa yang setia di samping Pak Hasri meraih tangan suaminya memberi kekuatan dan kode supaya usulan yang tadi itu disampaikan saja, yaitu berterus terang mengatakan bahwa Hilda memang tidak tahu akan rencana perjodohan ini.
"Kami berdua meminta maaf kepada Pak Heryawan, Bu Hasna dan Nak Hadi, sepertinya rencana kita untuk besanan kali ini belum berhasil. Anak saya Hilda, sepertinya kaget dengan rencana ini. Karena jujur, sebelumnya kami belum memberitahukan Hilda akan rencana kita ini. Sekali lagi kami mohon maaf. Bisa jadi rencana kita saat ini gagal. Tapi, jika Tuhan menghendaki bukan tidak mungkin mereka suatu hari akan berjodoh." Pak Hasri berbicara dengan mata yang terlihat berembun.
Bu Hasna kaget, wajahnya terlihat kecewa setelah mendengar ucapan Pak Hasri barusan, dia tidak menyangka rencananya akan gagal.
"Sekali lagi kami minta maaf, kami tidak bermaksud mempermainkan niat baik keluarga Pak Heryawan terutama Nak Hadi. Ini salah kami juga yang memang tidak memberitahukan rencana kami pada Hilda. Dia benar-benar kaget dengan rencana ini. Kami sebagai orang tua hanya melihat dari luar saja, kami pikir kedekatan mereka memang ada apa-apa sehingga kami tanpa bertanya, langsung menyetujui niat Pak Heryawan untuk besanan dengan kami." Bu Hilsa meminta maaf dengan suara yang sedikit tercekat penuh penyesalan.
"Sebetulnya kami kecewa dan sedih, tapi mau bagaimana lagi kalau keputusan Nak Hilda seperti ini." Pak Heryawan berkata dengan suara yang berat. Semua tahu Pak Heryawan sangat kecewa dengan rencana perjodohan yang gagal ini.
__ADS_1
"Nak Hadi, kami minta maaf. Mewakili Hilda, kami berdua minta maaf yang sebesar-besarnya. Kami harap atas kejadian ini, Nak Hadi maupun Pak Heryawan, dan Bu Hasna tidak memutuskan tali silaturahim di antara kita yang sudah terbina sebelum rencana ini ada," timpal Bu Hilsa menyesal.
"Saya tidak apa-apa, Bu. Saya juga minta maaf jika kedatangan kami sekeluarga telah membuat suasana hati anak Bapak dan Ibu tidak enak." Hadi dengan besar hati memahami dan meminta maaf juga jika kedatangan mereka mengganggu ketenangan hati Hilda. Hadi yang sejak awal merasa percaya diri bahwa rencana kedua orang tuanya ingin menjodohkannya akan berhasil, kini harus menerima pil pahit dan kecewa yang dalam atas penolakan Hilda.
Akhirnya mereka bertiga berpamitan dengan membawa rasa kecewa yang dalam. Pak Hasri dan Bu Hilsa menatap kepergian ketiga orang itu dengan tatapan yang merasa bersalah. Dari awal, Bu Hilsa memang sudah kurang srek dengan rencana perjodohan ini, mengingat dulu dua tahun yang lalu Hilda pernah menolak dijodohkan dengan anak dari sahabat Bu Hilsa. Dan kini drama penolakan itu terulang kembali.
"Sudah aku bilang, aku tidak pernah mau dijodohkan. Jika kalian masih tetap berkeras hati memaksakan kehendak kalian, silahkan. Tapi ingat, aku akan tetap menolak keinginan kalian. Daripada aku dijodohkan lebih baik aku tidak menikah atau jadi perawan tua sekalian," tegas Hilda seraya membanting tubuhnya di ranjang lalu menangis. Pak Hasri dan Bu Hilsa saling pandang, ini kesalahan mereka yang kedua kalinya yang ingin menjodohkan Hilda tanpa sepengetahuannya.
Hilda menangis meraung sembari berteriak meminta Papa dan Mamanya itu pergi dari kamarnya. Pak Hasri dan Bu Hilsa terpaksa keluar membiarkan putri kesayangannya menumpahkan segala kecewanya, berharap nanti Hilda kembali tenang. Dengan rasa bersalah yang besar, Pak Hasri dan Bu Hilsa keluar dari kamar Hilda, lalu menutup kembali pintu kamarnya dengan pelan.
"Apaaa, Hilda mau dijodohkan lagi?" Nagi terkejut mendengar pembicaraan yang tadi di dengarnya lewat cincin Hilda yang terkoneksi dengan Hpnya.
__ADS_1
"Papa dan Mama Hilsa memang tidak kapok dan menyerah untuk menjodohkan Hilda bersama anak temannya. Lalu, apakah kesempatan aku untuk mendapatkan Hilda akan sia-sia mengingat kedua orang tua itu tidak henti-hentinya ingin menjodohkan putri satu-satunya dengan anak sahabatnya?" Nagi terhenyak bingung mendapat kejadian yang baru saja Hilda lewati. Lalu apa yang akan dia lakukan setelah mengetahui Hilda akan dijodohkan?