
Suara bel sudah berhenti, mungkin saja Bi Rana atau Bi Rani sudah membukakan pintu untuk tamu. Itu pikir Zila. Karena penasaran, Zila ingin tahu siapa tamunya, sebab setelah didengarkan sepertinya tidak ada suara yang terdengar dari ruang tamu maupun ruang keluarga. Biasanya sedikit suara riuh atau suara orang ngobrol terdengar sampai atas kebisingannya. Namun kali ini sama sekali tidak terdengar.
"Jangan-jangan benar Kak Naga, tapi kenapa suaranya belum terdengar? Kalau benar Kak Naga, aku sebaiknya tidak keluar kamar, aku sangat marah gara-gara vidio kiriman seseorang itu," bisik Zila kesal.
Perlahan Zila menuruni tangga, niatnya yang tadi mau melihat siapa tamunya sekarang malah berubah. Sebab Zila yakin itu bukan tamu, melainkan Naga. Zila segera menuju dapur menemui Bi Rani atau Bi Rana mengambil asinan pesanannya.
Namun sebelum menuju dapur, Zila seperti mendengar dua orang berbicara menuju pintu depan. Setelah dengan jelas itu suara siapa yang ternyata Nagi, Zila mempercepat langkahnya menuju dapur.
"Zi," panggil Nagi menghentikan langkah Zila. Zila menoleh sekilas. "Tolong buatkan minuman dua buat aku dan tamu. Bilang Bi Rana, ya," titahnya yang diangguki Zila. Zila segera ke dapur, tapi Bi Rana dan Bi Rani tidak ada. Zila celingukan mencari dua ART kembar itu. Namun keduanya belum juga ketemu.
Ternyata Bi Rani ada di halaman belakang, suaranya terdengar menjerit nyaring. Zila penasaran, lalu dengan tergesa menuju halaman belakang.
"Ya, ampun! Kalian kenapa?" Zila terkejut melihat Bi Rani, dan Bi Rana serta Mang Ujang bermandikan air torn. Pantas saja dua Asisten kembar itu tidak ada di tempatnya, rupanya mereka ada di sini.
"Non, maaf Non. Non Zila jangan kesini nanti kena cipratan air torn. Bi Rani minta maaf, tadi setelah Non Zila menghubungi Bibi, tiba-tiba Rana menjerit karena air torn tiba-tiba bocor, dan ternyata ada paralon yang pecah. Jadi terpaksa pesanan Non Zila belum bibi siapkan. Saya minta maaf, ya, Non. Jika Non Zila tidak keberatan ambil di kulkas asinannya. Tidak apa-apa, kan, Non?" ujar Bi Rani meminta maaf, sebab dia belum sempat menyiapkan asinan pesanan Zila, karena keburu dikejutkan oleh air torn yang pecah paralon.
"Tidak apa-apa, kok, Bi. Santai saja, biar saya ambil sendiri." Zila membalikkan badan dan menutup pintu belakang, lalu menuju dapur dan membuka kulkas. Asinan yang dia cari langsung terlihat dan Zila dengan bahagia mengambil secukupnya.
Sebelum dinikmati, Zila tiba-tiba ingat pesanan Nagi yang meminta Bi Rani membuatkan minuman dua untuknya dan juga tamu. Tanpa pikir panjang Zila segera membuat minuman. Dua cangkir teh panas dengan gula yang sedang sudah siap, tinggal dia antarkan menuju ruang tamu. Tidak lupa asinan miliknya dia tumpang di atas baki.
Tap, tap, tap, langkah kaki Zila mendekati ruang tamu. "Zi, kenapa kamu yang antar, bukannya ada Bi Rani atau Bi Rana, kemana mereka?" heran Nagi seraya meraih baki yang akan Zila sajikan.
"Biar aku saja, Kak." Zila menolak dan segera meletakkan dua cangkir teh panas di hadapan Nagi dan tamunya. "Silahkan diminum tehnya selagi hangat," ucap Zila. Saat Zila menatap sekilas tamunya Nagi, sontak dia sangat terkejut. Ternyata tamunya itu adalah Rafa yang masih sepupunya Naga dan Nagi.
"Rafa, rupanya kamu?! Silahkan di minum teh panasnya," ujar Zila mempersilahkan. Nagi menatap ke arah Zila dan Rafa bergantian, merasa heran dengan mereka yang sepertinya sudah saling kenal.
"Kalian sudah saling kenal?" Nagi bertanya penasaran.
"Iya, kami teman sekolah dulu," jawab Zila mendahului.
__ADS_1
"Bukan saja teman sekolah, kami pernah menjalin cinta dan pacaran saat sekolah," tekan Rafa.
"Cuma cinta monyet," ralat Zila. Rafa tersenyum menunduk mendengar ucapan Zila barusan, dia mengakui memang dia dan Zila hanya cinta monyet dan tidak sampai berpikir ke jenjang yang serius. Tapi setelah melihat kenyataan bahwa Zila merupakan istri dari kakak sepupunya, Naga. Rafa sedikit kecewa. Ada penyesalan yang tergambar di sana.
Rafa menghela nafas berat. Untuk menyembunyikan semua perasaan kecewanya Rafa meraih teh hangat buatan Zila sembari berharap teh ini benar-benar buatan Zila. Biar saja Zilanya tidak dapat dimilikinya. Minimal dia sudah pernah menikmati teh hangat racikannya.
"Ahh, mantap tehnya," ujarnya memuji. "Manisnya juga sedang pas, tidak kemanisan. Pasti ini buatan Bi Rani," pujinya lagi menikmati teh hangat manis buatan Zila. Padahal Rafa sudah menduga bahwa teh hangat itu pastinya buatan Zila, sebab tadi mendengar dari Zila bahwa Bi Rana dan Bi Rani sedang berada di halaman belakang karena paralon torn pecah, hanya saja dia sengaja memancing pengakuan Zila.
Zila hanya tersenyum sambil sesekali memasukkan asinan ke dalam mulutnya.
"Wah, sepertinya yang kamu makan adalah asinan. Aku tidak ingat jika kamu sedang hamil," ujar Rafa.
"Den Rafa, den Nagi, aduhhh maafkan bibi. Tadi habis dari halaman belakang, paralon torn tiba-tiba pecah, airnya muncrat kemana-mana. Sekarang masih diperbaiki nyuruh orang," lapor Bi Rani sembari meminta maaf.
"Tidak apa, Bi. Teh hangatnya sudah dibikinkan Zila. Hangat dan manisnya sedang, enak sekali," puji Nagi membuat Zila tersipu malu dan kembang kempis.
"Tidak apa-apa kok, Bi. Kan sudah saya buatkan."
"Den Rafa, sebentar, bibi ambilkan asinan, ya. Den Rafa, kan, suka asinan buatan Bi Rana, kebetulan Bi Rana beberapa hari yang lalu membuat banyak dan disimpan di kulkas. Rasanya juga masih enak kok," tukas Bi Rani menyadari Rafa yang memang suka asinan, terlihat dari kerongkongannya yang turun naik saat melihat Zila makan asinan.
"Maaf Raf, aku tidak menawari, soalnya aku tidak tahu kalau kamu duyan asinan." Zilla meminta maaf pada Rafa yang tidak menawari asinan, karena Rafa doyan makan asinan. Rafa tersenyum menanggapi Zila dia hanya mampu curi pandang terhadap Zila. Pemandangan ini disaksikan Nagi yang menyadari bahwa Rafa masih menyimpan hati pada istri kakak sepupunya itu.
"Ngomong-ngomong kemana kedua Uwaku, apakah mereka sedang keluar?"
"Wa Hilsa sama Wa Hasri sedang keluar. Maklum kedua orang tua itu sibuk quality time," jawab Nagi sembari tersenyum.
"Bang Naga tidak kelihatan, Hilda juga," lanjutnya.
__ADS_1
"Ini aku di sini Kak Rafa. Kak Rafa kangen sama aku?'' Tiba-tiba Hilda menghampiri dan duduk di samping Rafa yang merupakan saudara sepupunya juga.
"Iya, dong. Aku kangen juga sama kamu, Hil. Kamu makin gede makin cantik saja. Jangan-jangan sudah punya pacar, ya? Awas hati-hati baru masuk kuliah jangan pacaran dulu, aku saja sampai sekarang masih jomblo!" tukas Rafa memperingatkan Hilda yang kini sama sekali tidak bertegur sapa dengan Nagi.
"Alah omong kosong, Kak Rafa bukan kangen sama aku, tapi kangen sama bininya orang, kan?" Sontak semua yang ada di ruang tamu terkejut mendengar celetukan Hilda yang dinilai Rafa tidak tepat.
"Aku datang ke sini karena ada Bang Nagi. Kamu itu jangan bicara sembarangan. Dasar bocah ingusan," ledek Rafa sebal karena Hilda berhasil menyindirnya. Padahal benar dugaan Hilda, selain ingin menemui Nagi yang kebetulan sedang cuti, Rafa juga ingin sejenak melihat Zila yang mendadak sangat dia rindukan sejak Zila menikah dengan Naga.
"Enak saja ingusan, aku ini bersih tahu. Asal aja kalau ngomong." Hilda marah dibilang ingusan oleh Rafa yang sejak tadi disadari Hilda memang curi-curi perhatian pada Zila.
"Perasaan tadi aku bertanya, ngomong-ngomong kemana Bang Naga, apakah jam segini masih sibuk kerja? Perusahaan milik sendiri juga masih sibuk, dasar workaholic!" ungkit Rafa mengulang pertanyaannya yang tadi.
"Kak Naga sedang ke Surabaya, dia ada pertemuan penting dengan para CEO untuk menjalin kerjasama. Coba Kak Rafa tanyakan langsung sama Nyonya Naga kebetulan dia ada di depan mata." Hilda menunjuk ke arah Zila yang sejak Hilda datang dia cuma diam saja.
"Apa yang dikatakan Hilda benar, Kak Naga sedang berada di Surabaya." Zila membenarkan sembari berpamitan untuk kembali ke kamarnya.
"Ok, kalau begitu, aku permisi, ya. Kalian lanjut ngobrolnya." Zila berpamitan.
"Hey, kakak ipar, apakah kamu tidak akan ngobrol lebih lama lagi bersama mantan cinta monyet mu?"
"Hilda!" tegur Nagi bersamaan dengan Zila yang ikut melirik Hilda tanda tidak suka.
"Ih, apaan sih. Memang benar, bukan?" ceplosnya makin disengaja. Hilda tidak peduli dengan teguran Nagi atau balasan kesal Zila, yang jelas dia sangat senang melihat Zila kesal dan jiga Nagi dongkol. Bukan tanpa alasan, Hilda merasa sakit hati karena Nagi menghindarinya.
Nagi yang sadar akan perubahan sikap Hilda sesungguhnya merasa tidak enak. Bukan maksud menjauhi Hilda, tapi apa yang dikatakan Zila ada benarnya. Ini demi kebaikan Hilda supaya Hilda tidak kebablasan dalam mengungkapkan cinta padanya. Nagi pun sadar, jika Hilda masih ekspresif seperti itu, bukan tidak mungkin pandangan orang akan jelek padanya.
Ada juga yang lebih bikin Nagi terkejut terkait fakta antara Zila dan Rafa ternyata mereka pernah menjalin kasih saat sekolah. Pantas saja sejak tadi Rafa berusaha curi-curi pandang pada Zila.
__ADS_1
Pada saat Zila sudah meninggalkan ruang tamu, tiba-tiba seseorang yang sempat dibicarakan datang dan mengucap salam. Siapakah dia?