Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 135 Musim 2 Zizi, Kamu Bahagia?


__ADS_3

     Setelah Hilda pergi, kini Zila berdua ditemani Bi Lala yang baru datang. Bi Lala langsung menghampiri dengan membawa semangkok rujak. Bi Lala membeli saat dia mau ke sini


     "Non, Bibi bawa rujak, tadi Bibi beli di belokan depan. Coba rasain Non, sepertinya rujaknya enak, sebab banyak yang antri," lapor Bi Lala seraya menyodorkan mangkok rujak itu. Zila tersenyum bahagia, dirinya memang sedang menantikan makan rujak, padahal tadi dia mau ambil di kulkas rujak yang dibawa dari rumah mertuanya kemarin beserta asinan buah. Tapi berhubung Hilda datang, Zila lupa.


     "Wahhhh, rujak! Padahal tadi saya mau ambil di kulkas rujak buatan Mama Hilsa, tapi lupa." Zila meraih mangkok yang berisi rujak yang dibeli Bi Lala.


     "Kenapa Bibi membelikan saya rujak, Bibi tidak usah repot-repot?"


     "Tidak apa-apa, Non. Selagi Bibi nemu di jalan, Bibi pasti ingat dengan Non Zila yang sedang hamil. Bagaimana, sekarang Nona tidak mual muntah parah lagi?" tanya Bi Lala nampak khawatir.


     "Alhamdulillah tidak, Bi. Sekarang mualnya hanya sesekali saja saat mendapatkan makanan yang baunya menyengat atau yang anyir-anyir," sahut Zila sembari mulai menyantap rujak yang dibeli Bi Lala di jalan.


     "Enak banget, Bi. Seger." Zila menikmati rujak yang dibeli Bi Lala dengan rasa bahagia.


     "Alhamdulillah, Non jika Nona menikmati rujak ini. Bibi ke belakang dulu, ya." Bi Lala pamit ke belakang untuk melakukan tugasnya.


Sebulan kemudian


     "Zi , hari ini aku masuk pagi. Ada rapat sama Direksi dan pertemuan dengan para investor. Kemungkinan aku pulang sedikit lama. Kamu minta Bi Lala pulang setelah aku pulang, kamu kasih tahu Bi Lala nanti," berita Naga sambil mengenakan kemeja yang telah disiapkan Zila.


     "Tapi, keadaan ini tidak akan lama, kan, Kak?" tanya Zila risau, sebab Zila tidak mau jika Naga pulang malam-malam.


     "Tidak, Sayang. Ini hanya dua hari. Setelah itu aku bakalan santai lagi," ujar Naga mencoba menghibur Zila, sebab Naga tahu Zila tidak suka jika Naga pulang malam-malam, apalagi kondisi Zila sedang hamil begini.


     "Baiklah, Kak Naga baik-baik, ya," ujar Zila seraya mencium tangan tangan Naga. Naga menatap Zila lekat seraya tersenyum Naga mencolek hidung bangir Zila.


     "Kamu semakin gemas, Sayang. Jangan manyun dong, aku jadi tidak tega meninggalkanmu," ujar Naga seraya mencubit kembali hidung Zila.


     "Sudah, pergilah. Aku doakan Kakak sukses, pulang ke rumah lagi dengan selamat," usirnya mendorong tubuh Naga menuju pintu. Zila terlihat lesu di mata Naga, Naga tahu Zila memang sering hilang semangat jika mendengar Naga akan pulang agak malam.

__ADS_1


     Naga pun pamit dengan berat hati diantar tatapan sendu Zila. Namun demikian Zila tetap mendoakan yang terbaik buat Naga di manapun berada.


     Pagi semakin menanjak siang. Zila terbangun dengan suara Hp yang berbunyi nyaring, setelah tadi ketiduran sehabis makan sayur kangkung buatan Bi Lala. Entah kenapa tadi pagi Zila ingin banget makan sayur kangkung ditumis biasa. Bi Lala sigap ke pasar dan membeli kangkung, lalu segera dieksekusi. Setelah selesai dieksekusi, Zila mencicipinya sedikit demi sedikit, tapi ternyata dia keterusan dan makan banyak tumis kangkung hampir habis satu mangkok. Setelahnya, Zila sangat ngantuk dan ketiduran.


     Bunyi panggilan itu masih menyala dan nyaring, Zila yang masih ngantuk, lantas melihat sejenak nomer siapa yang memanggil. Namun nomer itu sangat asing dengan kode area negara luar, entah kode area negara mana Zila pun tidak tahu.


     Sejenak Zila berpikir bahwa panggilan ini sebuah penipuan. Namun, karena penasaran Zila akhirnya mengangkat panggilan tersebut. Zila mengangkatnya, tapi tidak bicara. Dia sengaja ingin tahu siapakah yang berbicara di telpon, dan bahasa apa yang dia ucapkan.


     "Halo, assalamualaikum, Zi, Zizi." Sontak Zila terhenyak dan tertegun. Dia heran dengan sebuah panggilan tidak asing dari seseorang yang mengingatkan Zila pada seseorang.


     Zila yakin orang yang hanya memanggil dengan sebutan itu adalah Rafa, mantan cinta monyetnya dulu masa SMA. Zila masih belum menyahut saking kagetnya. Jantungnya tiba-tiba berdebar, hatinya bertanya-tanya, ada apa Rafa tiba-tiba menghubunginya. Dan lagi dari siapa Rafa tahu nomernya.


     "Rafa, benarkah ini kamu?" Pertanyaan Zila mendapat senyuman hangat dari si penelpon di sebrang sana. Rupanya Zila mampu mengenali dirinya sekali sebut. Sebab hanya Rafa saja yang memanggil dirinya Zizi.


     "Tepat sekali, aku Rafa, Zi. Rupanya kamu masih ingat diriku. Apakah jangan-jangan kamu masih ingat kisah kita?" Mendengar pertanyaan Rafa seperti itu, Zila hanya diam dia bingung mau bicara apa. Lagipula kisah itu hanya cinta monyet yang tidak menjanjikan apa-apa.


     Mendengar Zila diam, Rafa paham, dia sudah salah dalam berbicara.


     "Tidak apa-apa Raf, kamu tidak salah. Aku tahu kita pernah menjalin hubungan di masa lalu, tepatnya saat SMA. Tapi hubungan itu tidak didasari komitmen bukan? Jika sampai saat ini kamu masih merasa ragu dan bertanya-tanya apakah aku bahagia? Jujur aku katakan, ya. Aku sangat bahagia menikah dengan Kak Naga. Jadi, kisah kita tidak mungkin lagi terulang dan terjalin sebab aku sudah ada yang memiliki. Kamu harus bahagia Raf, sebab sejujurnya kamu adalah mantan terbaikku. Aku yakin kamu bakal mendapatkan perempuan yang lebih baik segalanya dariku," pungkas Zila menggebu-gebu.


     "Kalau kamu bahagia, aku senang dengarnya, Zi. Kamu memang patut bahagia. Kamu salah satu perempuan baik dan tulus yang pernah aku kenal. Jika dulu aku tidak kuliah ke luar negeri, mungkin saja saat ini kita masih menjalin kisah itu. Namun sayang, kita bukan jodoh. Tapi sampai saat ini, aku masih merasa menyimpan rasa itu." Ucapan Rafa terdengar sendu.


     "Sudah, Raf, jangan ungkit lagi kisah kita. Aku tidak mau kamu sedih mengingatnya. Aku akan tetap mengenang kamu sebagai orang terbaik yang pernah dekat sama aku. Aku tidak akan lupa kebaikan kamu selama kita masih belajar di SMA dahulu. Aku tahu kamu sangat tulus, maka dari itu aku yakin suatu saat kamu akan menjadi orang yang terlanjur sukses. Aku doakan juga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dari aku."


     "Aku berharap jodohku sebaik dan setulus kamu ...."


     "Dan yang lebih penting usianya harus yang jauh dibawah kamu," potong Zila menekan.


     "Kenapa, Zi? Kok begitu?" heran Rafa.

__ADS_1


     "Jika pasangan kamu jauh lebih muda dari kamu maka kamu akan lebih mudah membimbingnya."


     "Aamiin."


     "Ok, deh Raf. Sepertinya aku harus menyudahi sambungan telpon kita, sebab Kak Naga biasanya sebentar lagi akan menghubungi di jam istirahat ini. Di Indonesia, kan, saat ini sudah hampir mau jam 12.00 siang. Sekarang di Amerika jam berapa, Raf hari ini?"


"***Di sini baru pukul 12 malam, perbedaan Indonesia dan Amerika, kan cukup banyak. Indonesia lebih dulu 11 sampai 12 jam kalau tidak salah***."



"*Ya, ampun, Rafa. Kamu bela-belain nelpon aku di jam segini, bukannya tidur. Padahal di Amerika hari ini baru menjelang dini hari*."



"***Hanya demi kamu aku bela-belain begini. Ya, syukurlah Zi, jika kamu memang bahagia, aku lega mendengarnya. Kamu jatuh pada orang yang tepat***." Ketika mendengar kalimat terakhir dari Rafa, Zila merasa terharu sekaligus sedih.



"*Aku tidak akan pernah melupakan semua kebaikanmu, Raf. Karena kamu merupakan mantan terbaikku*," pungkas Zila tidak kuasa harus mengenang lagi masa-masa SMA bersama Rafa.



Zila langsung menutup sambungan telpon itu, dia tidak kuasa jika harus mengenang kembali kisah masa lalunya bersama yang terjalin indah sebab Rafa merupakan sosok yang sangat baik dan suka membantu Zila dalam setiap pelajaran sekolah yang sulit.



Sementara Rafa, diujung telpon masih menggenggam Hpnya yang mulai panas, dia mengenang kembali masa lalu yang indah itu bersama Zila si gadis polos, sederhana, baik, dan tulus juga cantik itu. Rasanya masa-masa itu ingin terulang kembali. Namun sekarang sudah tidak mungkin. Rafa sudah cukup bahagia, jika sudah mendengar dan melihat Zila benar-benar bahagia. Terlebih orang yang di samping Zila merupakan ***Naga Regana sang CEO Naga Group*** yang mapan dan terkenal kesetiaannya terhadap wanita yang dia cinta.


__ADS_1


"Aku bahagia jika mendengar kamu bahagia Zi. Aku harap jodoh aku sama persis seperti kamu sifat maupun sikapnya," harap Rafa sambil meletakkan Hpnya di samping pembaringannya. Sepertinya Rafa sudah bisa tidur dengan lega.


__ADS_2