
Hanya satu hari Zila di rawat di RS, kini Zila pulang. Tanpa banyak protes Zila langsung dibawa ke rumah mertuanya, dengan alasan demi kebaikan sang jabang bayi. Menurut kebiasaan yang selalu diterapkan Bu Hilsa sejak dulu jika melahirkan anak, bayi yang baru dilahirkan harus ditemani banyak orang. Kadang di kampung-kampung, ada saudaranya yang menginap bergiliran menemani sang jabang bayi selama tujuh hari. Alasan logisnya hanyalah supaya si jabang bayi mengenal lingkungannya serta orang-orang di sekitarnya, supaya nanti tidak kaget lagi.
Zila memang luar biasa, dari melahirkan sampai dirawat tidak butuh waktu lama, sebab kondisi Zila cepat membaik. Naga merasa bangga dan bersyukur melihat keadaan Zila yang cepat pulih. Sudah melahirkan normal dengan mengalami rasa sakit yang luar biasa sebelum si jabang bayi keluar dari rahim, lalu kini dengan waktu yang cepat, Zila pulih dan kuat lagi, betapa itu perjuangan yang sungguh luar biasa bagi seorang perempuan, khususnya seorang ibu.
Naga nampak berkaca-kaca saat membayangkan betapa luar biasanya pengorbanan Zila. Untuk itu Naga sangat menyayangkan jika ada seorang suami yang sampai tega menyakiti istrinya, itu sungguh tidak masuk akal mengingat pengorbanan dan perjuangan seorang istri begitu berat dan menyakitkan.
Tidak terbayang jika Naga mengalami sakit seperti yang Zila rasakan saat kontraksi tadi, mungkin saja Naga tidak akan bisa menahannya. Maka, sungguh Zila dan semua wanita di dunia yang dikaruniai bisa mengandung sangat luar biasa.
"Ga, sekarang tahu betul, kan, bagaimana perjuangan seorang wanita bertaruh nyawa demi kita yang berusaha dilahirkannya? Sungguh semua itu pengorbanan yang tidak akan pernah terbayar oleh apapun. Maka dari itu, Papa harap kamu bisa menghargai dan menyayangi istrimu dan menjaga lahir dan batinnya. Kalau kamu mampu melakukan itu, maka itu adalah sebuah prestasi tertinggi dari seorang laki-laki yang sudah beristri," ujar Pak Hasri menghampiri saat melihat Naga sangat sedih dan berkaca-kaca.
"Iya, Pa, Naga paham. Naga juga merasakan betapa berat menjadi seorang perempuan." Naga menunduk. Baru pertama kali memiliki anak, pertama kali pula Naga merasakan betapa hebatnya seorang perempuan bergelar ibu yang rela bertaruh nyawa demi mengandung dan melahirkan anak.
"Masuklah, Ga. Lihat dan temani anak dan istri kamu, mereka kini sudah melengkapi hidupmu," ucap Pak Hasri menyuruh Naga menghampiri Zila di kamarnya. Naga berdiri menuju kamar yang kini ditempati Zila dan baby boy yang belum dikasih nama.
__ADS_1
"Ya ampun cucu oma tidurnya pulas banget, bangunlah sayang, oma ingin memangkumu," rayu Bu Hilsa seraya menatap lelap cucu laki-laki pertamanya.
"Zi, apakah sudah mendapatkan nama buat cucuku yang tampan ini?"
"Belum, Ma. Aku tunggu Kak Naga yang memberi nama bayi kita apa."
"Mama jangan khawatir, sebab cucu Mama si jagoan ini akan Naga kasih nama yanf sangat indah yang artinya juga bagus."
"Lalu apa nama yang memiliki arti yang bagus itu, Mama da istrimu juga ingin tahu?" Mama Hilsa sudah tidak sabar ingin segera mendenganr nama cucunya disebut supaya nanti Mama Hilsa bisa memanggilnya dengan sebutan namanya.
"Wahhhh, bagus banget nama cucu Oma, Syakala Regana. Kamu pintar banget mendapat ide nama yang bagus seperti itu (Ide Author Ma, wkwkwkwk). Zila ikut terharu mendengar arti nama yang diberikan Naga sebagai Papa baby Syakala.
"Lalu apa harapanmu, Ga, dengan memberikan nama baby Syakala nama yang bagus itu?" tanya Mama Hilsa penasaran.
__ADS_1
"Naga berharap, baby Syaka jika sudah dewasa nanti, di sebalik pesona dan kharismanya akan menjadi laki-laki yang setia pada pasangannya, penyayang, dan welas asih pada semua orang tidak pandang bulu," jelas Naga yang diaminkan Zila dan Mama Hilsa.
"Masya Allah, cucu Oma sangat keren, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Kamu juga Naga, jatuh tidak jauh dari Papa kamu, dia laki-laki tipe setia dan penyayang. Sampai saat ini Mama masih merasakan kasih sayangnya yang tulus, Papa selalu memperlakukan Mama dengan baik dan penyayang, itu makanya rumah tangga kami tidak pernah dikotori pertengkaran. Papa selalu mengalah sama Mama. Mama sangat bangga memiliki Papa," ujar Mama Hilsa tiba-tiba mencurahkan isi hatinya tentang Pak hasri suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mama jadi menangis gara-gara mengingat kebaikan dan kesetiaan Papa. Naga jadi terharu," timpal Naga mengusap bahu Mamanya dengan penuh kasih sayang.
"Mama terharu, Ga. Kamu pun demikian, Mama bangga kamu sebagai anak laki-laki selalu setia dengan pasanganmu. Namun sayang kesetiaanmu selalu terkhianati," imbuh Bu Hilsa menyesalkan.
"Tapi tidak dengan yang ini, Ma. Naga tidak akan terkhianati untuk yang ketiga kalinya, sebab Naga yakin Zila adalah jodoh yang dikirim Allah untuk menemani sepanjang hidup Naga sampai kelak menua, bahkan Naga meminta sama Yang Maha Kuasa Zila adalah jodoh Naga di dunia maupun di akhirat," tandas Naga seraya menatap mesra ke arah Zila. Zila tersenyum bahagia mendengar kata-kata Naga yang membuatnya melambung di udara.
"Bagaimana dulu dong Papanya, dari atasnya setia maka ke bawahnya juga setia, sesuai arti nama kita, seta pada pasangannya," timbrung Pak Hasri tiba-tiba yang muncul dengan wajah sangat ceria dan bahagia. Wajar, sebab semua orang hari ini benar-benar sedang bahagia karena menyambut kehadiran baby Syakala.
Naga, Mama Hilsa dan Zila menatap kedatangan Papa Hasri yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar baby Syakala yang sengaja didekor dengan sedemikian rupa, sehingga menjadi kamar baby boy yang nampak aura jagoannya keluar.
__ADS_1
Pak Hasri menepuk dadanya dengan bangga, lalu mendekati Mama Hilsa dan merangkulnya mesra, membuat Naga dan Zila menatap iri.
"Aku juga sama kayak Papa dan Kak Naga. Aku tetap setia sama Kak Nagi. Tapi, Kak Nagi yang aku cinta kini entah di mana. Apakah cintaku pada Kak Nagi akan direstui Yang Maha Kuasa?" Di balik pintu kamar, Hilda menatap haru ke arah Papa dan Mamanya juga Naga dan Zila yang sama-sama sudah mendapatkan pasangan setianya. Tidak terasa bulir bening itu jatuh membasahi pipinya yang sedang ditumbuhi jerawat.