Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 152 Musim 3 Nagi dan Hilda # Obrolan antara Hilda dan Hadi


__ADS_3

Di tempat lain


     "Hilda! Siapa, Kak Nagi?" Hilda terkejut saat dengan tiba-tiba Hadi sudah berada di dekatnya. Hadi duduk di depan Hilda menatap lekat ke arah Hilda. Hilda menyeruput air soda di dalam gelas yang masih tersisa banyak. Otomatis cincin di jari tengah Hilda terpampang nyata di depan Hadi. Hadi baru melihat cincin itu, sangat berkilau dan mahal, pikirnya.


     "Wajar saja Hilda menggunakan cincin mahal, lagipula bagi kedua orang tuanya itu sebuah harga yang sangat kecil." Hadi berbicara di dalam hatinya.


     "Kak Hadi kenapa menyusul aku, dan kenapa Kak Hadi ada di acara ini? Apakah Kak Hadi diundang oleh Kak Naga?" tanya Hilda heran dengan memberondong beberapa pertanyaan.


     Hadi seperti biasa selalu menyunggingkan senyum, sejenak dia kembali menatap cincin yang dipakai Hilda dengan penasaran. "Aku tidak diundang secara langsung, melainkan kedua orang tuaku yang diundang oleh kedua orang tuamu," jawab Hadi masih tersenyum.


     "Lalu kenapa kak Hadi menyusul aku ke sini, bukankah acaranya belum selesai?" tanya Hilda masih heran.


     "Aku justru yang harusnya bertanya padamu. Kenapa kamu berada di sini, sementara kedua orang tuamu juga saudara-saudaramu dan sahabat dari keluargamu masih menikmati hingar bingar suasana pesta ulang tahun baby Syaka? Bukankah baby Syaka merupakan keponakanmu?" Hadi memberi pertanyaan balik.


     Hilda diam, tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya. Wajahnya jelas nampak tidak ceria, dan Hadi bisa melihatnya.


     "Tadi pertanyaanku belum dijawab, kenapa Kak Hadi menyusul aku ke kafe?" Hilda mengulang kembali pertanyaannya tadi, berusaha mengalihkan fokus Hadi. Hadi hanya bisa tersenyum, paham akan maksud terselubung Hilda.


     "Jujur saja aku menyusul kamu, karena tadi melihat kamu tidak ada di dalam acara. Heran saja, kamu sebagai Tantenya baby Syaka justru tidak ada saat acara masih seru dan meriah," ucap Hadi penuh penekanan.

__ADS_1


     Hilda menunduk, dia tidak ingin berkata apa-apa tentang masalah pribadi yang kini sedang menimpanya, yaitu sebuah kerinduan besar terhadap Nagi.


     "Aku hanya kurang suka acara yang terdengar riuh dan banyak keramaiannya," alasan Hilda akhirnya. Hadi mengerutkan kening tidak percaya.


     "Lalu, kalau boleh tahu, tadi saat aku baru sampai di sini di dekatmu, kamu sempat menyebutkan sebuah nama, yaitu Kak Nagi. Siapa Kak Nagi?" tanya Hadi menyelidik. Hilda mendadak tidak suka mendengar Hadi mengungkit nama Nagi.


     "Nagi, kapan? Sepertinya Kak Hadi salah dengar. Aku tidak menyebut nama Nagi," sangkalnya.


     "Tadi, saat kamu sedang menatap cincin di jari kamu, kamu menyebut nama itu, apakah Kak Nagi ...."


     "Tidak, Kak Hadi pasti salah dengar. Sudahlah, tidak usah membahas masalah yang tidak aku lakukan. Lebih baik bahas yang lain. Sepertinya aku juga ada sebuah pertanyaan sama Kak Hadi," potong Hilda cepat.


     "Jadi, Om Heryawan merupakan sahabat Papa? Dan Kak Hadi merupakan anak dari Om Heryawan?" tanyanya terkejut seakan tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja dilihat maupun yang didengarnya.


      "Ya, betul aku merupakan anak dari Papa Heryawan, sahabat dari Papa kamu. Sahabat lama bahkan karibnya Papa," tegasnya menjelaskan.


     "Sahabat lama atau karib terserah, yang penting setelah ini tidak ada pembicaraan perjodohan," tampik Hilda di dalam hati.


     "Kak Hadi, kenapa lebih memilih menjadi Polisi ketimbang jadi pengusaha seperti Papanya Kak Hadi? Sedangkan seperti kita tahu bahwa pekerjaan Polisi itu banyak resikonya."

__ADS_1


     "Tidak hanya pekerjaan sebagi Polisi saja yang banyak resikonya, seorang Penguasa atau yang lainnya juga sama mengandung resiko, tapi Polisi memang lebih mengandung resiko, terlebih pandangan negatif yang sering ditimpakan padanya," jelasnya menekan. Hilda mengangguk paham dan tidak berkata lagi.


"Ayo, sebaiknya kita kembali ke tengah-tengah mereka, aku yakin mereka sedang mencarimu," ajak Hadi seraya hendak meraih tangan Hilda, tapi dengan cepat ditepis oleh Hilda. Hadi sedikit kaget melihat reaksi yang diperlihatkan Hilda padanya.



Dari jauh sana, ada seseorang yang kesal atas sikap Hadi barusan dan sebuah obrolan tadi di kafe hotel. Seseorang yang terkoneksi langsung dengan Hilda mengepalkan tangannya sangat marah melihat Hadi yang hendak meraih tangan Hilda tadi.



"Huhhh, sialan bocah cepak itu. Lihat saja, akan ku balas nanti jika aku kembali, kamu akan gigit jari," dengusnya sangat kesal.



Nagi kembali melihat aktivitas selanjutnya yang dilakukan Hilda, yang kini sudah memasuki ruangan di mana acara ulang tahun baby Syaka dilaksanakan.



"Aku rasa Hilda tidak terlalu respek dengan lelaki cepak itu, aku sedikit bisa bernafas lega. Tapi, mengingat obrolannya tadi bahwa lelaki cepak itu merupakan anak dari sahabat Papa Hasri, tidak menutup kemungkinan kedekatan mereka dimanfaatkan menjadi ajang perjodohan," renung Nagi sedih.

__ADS_1


__ADS_2