Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 124 Musim 2 Tangisan Zilla


__ADS_3

     Tangis Zila semakin pecah saat Naga memeluknya. Zila seakan menumpahkan segala kesal dan kecewa yang selama ini ada. Untuk sejenak Naga membiarkan Zila menangis, menumpahkan segala kesalnya.


     "Pergi, Kak Naga pergi," usirnya seraya menepis tangan Naga yang merangkulnya. Niat hati ingin meredakan kekesalan Zila, kini Zila malah mengusirnya. Zila hanya ingin tuntas menangis, dengan begitu dia akan merasa plong. Setelah tadi merasa disisihkan, Zila ingin menumpahkannya dengan tangisan.


     Karena Naga masih tidak beranjak dari sana, Zila kemudian bangkit dari ranjang dan bergegas keluar kamar, lalu menuju kamar sebelah dan mengunci pintunya dari dalam. Zila menangis di sana, memuaskan tangisan di sana untuk mendapatkan rasa lega dalam dada akibat rasa sesak yang sejak pagi dia rasakan karena menunggu Naga mengucapkan selamat atas kehamilannya.


     Naga kaget melihat gelagat Zila, sejenak dia terpaku lalu mengejar Zila yang sudah masuk kamar. Naga terlambat, dia menyesal kenapa tidak sejak pagi membuka kado itu, dengan begitu dia bisa lebih cepat tahu bahwa Zila tengah hamil.


     "Sayang, aku minta maaf karena tidak segera membuka kadomu, aku tadi sibuk dan tidak sempat membuka kadonya. Sekali lagi aku minta maaf. Aku mohon," pinta Naga memohon di depan pintu kamar yang Zila kunci.


     Zila yang kini menangis di balik pintu dengan badan yang merosot ke lantai, menumpahkan semua rasa sesak di dadanya dengan menangis sejadi-jadinya. Saat menangis ini, tiba-tiba Zila ingat akan kedua orang tuanya yang selama ini tidak dia kenal jelas bagaimana wajahnya. Namun kerinduan Zila tidak akan pernah surut terutama ketika dia sedang sedih, dia selalu ingat kedua orang tuanya yang sudah lama meninggalkannya.


     Beberapa kali Naga mencoba membujuk Zila supaya membuka pintunya, tapi gagal. Akhirnya Naga membiarkan Zila menangis sepuasnya untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya.


     Mungkin karena lelah atau ngantuk sehabis menangis, akhirnya Zila ketiduran. Nasib baik saat merasakan ngantuk dan lelah tadi, Zila sudah pindah ke atas ranjang. Dengkuran halus campur isak sisa tangisannya masih jelas terdengar.


     Naga mencoba mendekatkan telinganya di daun pintu kamar yang Zila tempati kini, tangisan Zila sudah tidak terdengar. Naga khawatir, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali berdoa dan berharap Zila ketiduran karena lelah menangis.


     "Sayang, maafkan aku, aku tadi lupa karena saking sibuknya dengan proposal dan map-map." Naga beranjak dari daun pintu, dia penasaran dan khawatir, meskipun Naga lebih condong menduga Zila sedang ketiduran. Naga tidak hilang akal, lalu dia menuju balkon kamarnya dan menuju balkon kamar yang kini ditempati Zila. Naga berharap gorden kamar itu tidak tertutup agar dia bisa melihat ke dalam kamar.


     Naga sudah berada di balkon kamar yang ditempati Zila. Matanya awas melihat ke arah dalam kaca jendela kamar itu yang kebetulan gordennya terbuka. Mungkin saja tadi Bi Lala yang sengaja membuka gordennya sehingga Naga bersyukur bisa melihat ke dalam.


     Alangkah bersyukurnya Naga, sebab Zila terlihat sedang tidur pulas di atas ranjang. Naga mengusap dadanya merasa bersyukur. Lalu kembali masuk ke kamarnya melewati jendela kamar. Meskipun Naga khawatir, tapi dia sedikit lega melihat Zila tertidur di sana.

__ADS_1


     Hari semakin gelap, semburat warna jingga menyelimuti langit di ufuk barat, pertanda waktu Maghrib sebentar lagi berkumandang. Zila terbangun tepat waktu azan berkumandang. Dia menggeliatkan tubuhnya yang sejak tadi meringkuk di atas ranjang dengan posisi yang sama.


      Rasa pegal di sekujur tubuhnya berusaha dia regang-regangkan sampai bunyi peletak terdengar di antara sendi-sendi tubuhnya. Zila merasa plong dan lega.


     Tangisan tadi yang tumpah ruah di kamar, kini meninggalkan isak yang sesekali ada. Namun Zila sudah merasa plong dan lega.


     Zila bangun dan bermaksud akan keluar dari kamar. Kunci kamar dibukanya lalu perlahan pintu kamar itu dibuka. Zila keluar dengan perasaan bertanya-tanya di manakah suaminya kini yang tadi datang tiba-tiba memeluknya? Tanpa berpikir panjang lagi Zila segera masuk kamar yang mereka berdua tempati. Saat Zila memasukinya, Naga tidak dia dapati di sana.


     Zila segera ke kamar mandi melaksanakan ritualnya, tidak lupa wudhu untuk melaksanakan kewajibannya. Saat keluar dari kamar mandi, Zila tidak juga mendapati Naga di dalam kamar.


     Setelah menyudahi melaksanakan sholat wajib, Zila segera keluar kamar dengan tubuh dibalut dress tidur selutut yang memperlihatkan lekuk tubuh yang menggoda. Saat Zila melangkahkan kaki menuju dapur, seketika wangi makanan menyuruk lubang hidung membuat Zila merasa sangat lapar.


     "Sayang, kamu sudah bangun?" Naga sedikit kaget saat melihat Zila yang sudah berada di dapur dengan balutan dress selutut yang menggoda iman. "Sayang, duduklah, kita makan malam. Kamu pasti sudah sangat lapar, bukan?" Naga dengan langkah cepat sudah berada di belakang Zila lalu menarik satu kursi untuk Zila duduki.


"Terimakasih," ucapnya lalu duduk di kursi makan yang sengaja Naga tarik dan siapkan untuknya.



"Sayang, makanlah." Naga menuangkan nasi beserta lauknya ke piring Zila. Zila hanya bisa menatap apa yang Naga lakukan dengan penuh rasa takjub sebab baru kali ini Naga melakukan itu.



"Sayang aku minta maaf atas kejadian tadi. Apakah kamu mau memaafkan?" Naga menatap wajah Zila yang sembari mengunyah makanan di dalam mulutnya.

__ADS_1



"Aku tidak apa-apa, aku hanya kecewa saja dengan Kakak yang aku harapkan dari sejak tiba di kantor sudah membuka kado dari aku, tapi saat aku menunggu-nunggu rupanya Kakak tidak datang juga, baik via Wa maupun menelpon." Zila seketika mendumel menumpahkan kembali rasa kesal yang tadi sore ada.



"Aku minta maaf, sekali lagi aku minta maaf. Tadi itu aku sungguh-sungguh sibuk sehingga kado kecil darimu sempat tersisih," ucap Naga jujur.



"Selamat, ya, Sayang. Kamu sudah memberikan hadiah tidak terkira untuk ku juga untuk keluarga kit." Naga menghampiri lalu memeluk Zila dari belakang dan mengecup pipi Zila. Sontak Zila menggelinjang sebab kumis Naga yang sempat dicukur malah membuat Zila kesakitan dan geli sehingga Zila sampai meringis.



Ketika Naga dan Zila menyudahi makan malam yang romantis ini, tiba-tiba tanpa diduga Zila merasakan mual yang tidak tertahan lagi, padahal Zila baru makan.



"Kak Naga, tunggu sebentar, rasanya aku ingin memuntahkan semua isi makanan yang aku makan tadi." Zila berlari ke kamar mandi dan memuntahkan kembali apa yang tadi sudah dia makan, Naga merasa prihatin dan sedih melihat keadaan seorang wanita hamil yang mual-mual dan muntah-muntah.



"Maafkan aku Sayang, karena dirikulah kamu mual dan muntah." Naga nampak sedih.

__ADS_1


__ADS_2