
"Nagi pamit, Bu. Assalamualaikum," pamitnya seraya mencium lengan Bu Harumi takzim. Sebelum Nagi pergi, Nagi menyempatkan diri memeluk Hilda sembari mengucapkan kata-kata sebagai motivasi buat Hilda.
"Jangan takut, kamu harus tetap semangat. Kamu akan baik-baik bersama Ibu. Jika kamu ingin ke kantor, pergi saja bersama Ibu. Aku akan memantau lewat ini," ucap Nagi seraya memakaikan sebuah cincin yang di dalamnya sudah terpasang indikator pengintai yang sudah terkoneksi langsung dengan Hp Nagi.
Hilda terbelalak, cincin yang disematkan Nagi saat ini mengingatkan dia pada cincin berlian yang dia tinggalkan di lemari kamarnya.
"Cincin ini, apakah sama dengan cincin ...." Ucapan Hilda terpotong oleh ucapan Nagi.
"Itu sama, Sayang. Aku yang mengirimkannya untukmu. Cincin itu berlian asli, di dalamnya ada indikator kamera pengintai yang terpasang serapi mungkin. Semua terkoneksi langsung dengan Hpku, sehingga semua aktivitasmu selalu bisa aku pantau."
"Apa?" Hilda terbelalak tidak percaya.
"Termasuk ketika aku pernah memakainya saat ...."
"Betul sekali. Termasuk saat kamu mandi dua kali. Itu hanya dua kali tidak lebih."
"Kak Nagi jahat," pekik Hilda seraya memukul dada Nagi.
"Pergilah Nagi, Ibu hanya mampu mendoakan keselamatan dan kelancaran buat kamu di manapun kamu berada. Mengenai Hilda, kamu jangan khawatir, dia tidak akan kekurangan suatu apapun," yakin Bu Harumi membuat Nagi lega.
Nagi melangkah meninggalkan rumah Ibunya dengan hati yang penuh sebuah harapan baru. Keberadaan Hilda di rumah Ibunya kini tidak membuat Nagi khawatir setelah tadi mendengar ucapan Bu Harumi yang membuatnya tenang bahwa Ibunya bukan orang tua yang kejam.
***
Nagi tiba dengan selamat di Bandung. Sebelum dia menemui Papa dan Mama Hilsa di kediamannya, Nagi ke apartemennya terlebih dahulu untuk beristirahat sejenak. Nagi menghempas tubuhnya di ranjang, mengistirahatkan semua lelah di badannya yang mendera akibat perjalanan tadi.
Sambil berbaring Nagi mencoba menghubungi Hilda, baru beberapa jam saja berpisah, Nagi sudah merasa gelisah dan rindu. Panggilan itu langsung diterima dengan baik. Hilda sangat bahagia saat panggilan itu dialihkan dengan VC.
"Kak Nagi, apakah Mama dan Papa sudah tahu Kak Nagi pulang?" Nagi menggeleng.
"Lalu, apakah semuanya akan baik-baik saja?" Hilda seperti merasa bimbang.
"Semua akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Nanti Kak Nagi sampaikan alasan yang tepat kepada Mama dan Papa Hasri. Hilda sedikit lega setelah mendengar penuturan Nagi yang seolah-olah menguatkannya.
**
Hari berganti. Siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Hari ini Nagi merencanakan akan menuju ke kediaman Papa dan Mama Hilsa. Menyampaikan keberadaan Hilda yang ingin tinggal di Medan untuk sementara dan bekerja di perusahaanya.
Saat Nagi baru memarkirkan mobilnya, Pak Hasri sudah muncul di depan mulut pintu sembari menyambut kedatangan Nagi penuh suka cita.
__ADS_1
"Papa." Nagi menghampiri lalu menyalami Papa Hasri dengan sumringah. Keduanya berangkulan seraya menepuk bahu Nagi. Pak Hasri segera membawa Nagi ke dalam.
"Papa, Nagi minta maaf Hilda tidak pulang bersama Nagi. Hilda menginginkan bekerja dulu di sana. Ibu dan Hilda juga sangat cocok dan klop," ucap Nagi memberitahukan kabar Hilda. Pak Hasri tersenyum, wajahnya tidak memperlihatkan gurat resah.
"Ibumu sudah menghubungi Mama Hilsa, dia betah di sana dan ingin bekerja sejenak di perusahaanmu. Papa tidak masalah selama Hilda aman-aman saja di sana dan betah."
"Betul Pa. Dan, rencana lamaran itu, Nagi rasa akan Nagi realisasikan sesegera mungkin, setelah Nagi mendapatkan restu dari Papa Harsya. Tapi, kalau boleh Nagi tahu dari Papa, sebetulnya apa penyebab Ibu dan Papa Harsya berpisah? Kenapa Ibu sempat bilang ayah biologis terhadap Papa Harsya. Nagi benar-benar tidak paham. Bisakah Papa sedikit menjelaskan kepada Nagi tentang perkataan Ibu itu?"
Pak Hasri diam sejenak mencerna apa yang diungkapkan Nagi barusan.
"Jika kamu memang ingin mencari jawaban itu, kamu harus datang langsung pada Papa Harsya dan temukan jawabannya di sana. Papa rasa dia tidak akan segampang itu bercerita, sebab ...." Pak Hasri diam dan tidak melanjutkan kata-katanya, membuat Nagi semakin dilanda curiga.
"Sebab apa, Pa? Papa pasti tahu duduk permasalahannya, tapi Papa memang tidak mau menceritakannya padaku. Kenapa harus jauh-jauh menyusul Papa Harsya ke Makassar demi sebuah alasan atau seluk beluk perceraian mereka? Apa yang disembunyikan kedua orang tuaku?" desak Nagi berharap Pak Hasri menceritakan seluk beluk perceraian kedua orang tuanya.
"Jika kamu mau mendapatkan Hilda, maka Papa minta bukti perjuangan dan usahamu. Anggap saja kepergianmu nanti menuju Papa Harsya adalah sebagai bukti memperjuangkan Hilda. Tapi dengan syarat, Papa Harsya harus memberikan restunya buat kamu. Kalau tidak, maka Papa tidak akan menikahkan kamu bersama Hilda," tegas Pak Hasri membuat Nagi dilanda kecewa.
"Baiklah, Pa. Nagi akan berusaha mendapatkan restu itu dari Papa Harsya. Nagi akan buat Papa Harsya berkata jujur tentang perceraian mereka 27 tahun yang lalu," tekadnya tidak kalah bergema dangan suara lolongan anjing hutan.
***
Pagi ini Nagi sudah mempersiapkan diri untuk keberangkatannya ke kota Makassar. Semua barang yang akan dia bawa sudah semua ada di dalam koper yang sudah rapi.
Singkat cerita, Nagi kini sudah sampai di kota Makassar. Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, Nagi langsung menuju perumahan milik Papa Harsya. Dia tidak berpikir untuk menginap di tempat lain. Tekadnya sudah bulat, ditolak atau tidak itu menjadi urusan Nagi belakangan, yang jelas kini dia akan berusaha mati-matian meminta Papa Harsya menceritakan semua.
Nagi kini sudah berada di depan sebuah rumah yang lumayan besar. Bel pun dia tekan beberapa detik. Tidak lama dari itu seorang lelaki paruh baya membukakan pintu rumah lebar-lebar. Nagi tidak tahu siapa laki-laki paruh baya tersebut, apakah pegawai Papanya atau asisten pribadi.
"Apakah Papanya ada, Pak?" tanya Nagi ramah. Lelaki paruh baya itu menyahut dan menatap ke arah Nagi dengan tatapan penuh tanda tanya. Nagi paham apa yang dilihat lelaki di depannya ini.
"Tuan, masih di ruang kerjanya. Beliau sedang sibuk, biasanya jika jam sibuk seperti ini tuan dipastikan tidak akan pernah mau menjumpai tamunya termasuk Nagi, jika pekerjaan itu belum kelar," tegas lelaki paruh baya itu yang ternyata asisten di rumah milik Papa Harsya.
"Baiklah, akan saya tunggu sampai Papa Harsya turun dan berbicara terhadap saya," kukuh Nagi tidak goyah pendirian.
"Baiklah, saya permisi dulu." Lelaki paruh baya itu meninggalkan Nagi di ruang tamu. Tidak terasa karena saking ngantuk dan lelahnya, Nagi tiba-tiba ambruk dan ngantuk. Nagi tertidur di sofa ruang tamu dengan keadaan yang benar-benar sangat lelah.
Harsya yang kini masih berada di dalam ruangan kerjanya, bisa melihat aktivitas siapapun dari kamera pengawas yang langsung di monitornya. Harsya memijit-mijit batang hidungnya yang kini seakan mendadak sakit.
"Kamu tidak menyerah anak muda. Masih mencariku untuk sebuah misi itu," gumannya seraya masih anteng melihat kamera pengawas dari layar monitor.
Beberapa menit kemudian Pak Harsya menyuruh asisten rumahnya untuk membiarkan Nagi menuju ruang kerjanya. Tempat itu dipilih Papa Harsya sebagai tempat yang aman dan kedap suara.
__ADS_1
Nagi yang diperintahkan seperti itu, manut dan mengikuti aya yang dititahkan tuan rumah. Tiba di depan pintu ruang kerjanya sejenak Nagi terpaku, dia terkenang kembali sikap ketus dan perlakuan dingin Papanya itu.
"Masuk." Sebuah suara bariton menggema terdengar mempersilahkan Nagi masuk. Nagi sejenak berdiri mematung di depan pintu sebelum ia memasuki ruang itu. Ada ragu yang tiba-tiba mendera.
Dengan diiringi doa, Nagi perlahan masuk. "Assalamualaikum," ucapnya tenang, sebab dia sudah mengatur sedemikian rupa untuk tenang mendekati orang yang selalu diseganinya itu.
"Pa," serunya seraya bermaksud mencium tangannya Harsya. Nagi lagi-lagi mendapatkan penolakan dari Harsya untuk ke beberapa kali.
"Pa, aku datang kemari hanya ingin tahu apa penyebab kalian berpisah. Sekarang aku sudah hampir kepala tiga, dan sampai usiaku mencapai tiga puluh tahun, apakah kalian masih tega menyembunyikan semua? Sudah cukup, Pa. Aku sudah sangat dewasa dan harus tahu hal yang sebenarnya. Sebenarnya aku ini anak siapa, katakan apakah aku anak Papa atau anak orang lain? Dan aku mohon Papa ceritakan kronologisnya," mohon Nagi dengan dengan tatapan mengiba.
"Apakah kamu tidak akan menyesal jika aku menjelaskan semuanya?"
"Aku tidak akan menyesal jika itu kebenaran," yakin Nagi.
"Baiklah. Bahwa kamu bukanlah anakku. Buktinya ada di sini," ucapnya singkat dan padat serta langsung menusuk ulu hati Nagi yang tadi berusaha kuat. Nagi mendadak lemas sebelum dia bisa melihat bukti vidio rekaman yang menjadi bukti bahwa dia bukan darah daging Harsya.
Bukti sebuah perlakuan yang menjijikan telah diperlihatkan di depan mata Nagi. Wanita yang masih berbalut busana pengantin itu melucuti pakaian pengantinnya sendiri dibantu seorang lelaki yang sepertinya amat mencintai si wanita.
"Dan dia bukan aku, melainkan Kakak tingkat Ibumu yang tega memperkosa istriku."
"Apa?" Nagi mendongak menatap laki-laki yang selama ini dia anggap Papa. Tiba-tiba Nagi memukul membabi buta Harya, dia tidak terima atas perlakuan buruk yang menimpa perempuan yang disebutnya Ibu didalam vidio itu.
"Lalu Anda kemana pada saat malam pertama? Apakah Anda menjual Ibuku pada orang lain? Anda berhati kejam dan tidak berperikemanusiaan. Akan ku bunuh Anda. Anda bukan manusia, Anda binatang," umpat Nagi dengan amarah yang sudah tidak bisa dia tahan.
"Luapkan saja emosimu di sini, aku tidak apa-apa. Silahkan, kamu luapkan. Itu bukan kesalahanku, tapi kesalahan si bajingan yang serakah itu. Dia menipuku saat malam pengantinku. Saat di mana harusnya aku memetik madu pertama atas istriku. Tapi aku hanya bekas, sebab di malam itu juga kami melakukan ritual malam pertama. Namun, istriku ternyata sudah tidak suci lagi," ungkap Harsya sembari menerawang jauh ke masa 29 tahun yang lalu.
Nagi menjadi bingung dengan bukti rekaman vidio dengan pengakuan Harsya yang mengatakan bahwa dia juga telah melewati malam pertama. Namum dalam keadaan Ibunya sudah tidak suci lagi.
"Apa maksud Anda, aku tidak paham dengan semua ini? Jadi siapa yang merenggut malam pertama Ibuku dan siapa yang menipu dan tertipu itu, jelaskan?" desis Nagi masih belum paham.
"Guntur adalah Kakak tingkat Ibumu di bangku perkuliahan, dia sudah sejak lama mencintai Ibumu. Tapi Ibumu tidak mencintai Guntur, lalu memilih aku. Pada saat acara lekasan pengantin antara aku dan Ibumu entah kenapa tiba-tiba berpisah. Malam lekasan acara resepsi itu tiba-tiba lampu mati. Tapi tidak lama hanya 10 menit. Aku mencari Ibumu kalang kabut. Namun sebuah kabar aku terima bahwa Ibumu sedang kesakitan dan terjatuh di dalam sebuah toilet yang sedikit jauh dari kamar pengantin kami. Aku menyusulnya dan mencari satu persatu toilet, tapi Ibumu tidak ada. Namun 10 menit puas aku mencari Ibumu, tiba-tiba kabar Ibumu aku dengar sudah menunggu di kamar pengantin."
Harsya mendadak diam, perlahan dia seperti mengusap ujung matanya. Ada bulir bening di sana.
"Lalu aku benar menemui Harumi di dalam kamar pengantin dengan baju pengantin masih terpasang akan tetapi sebagian kancing baju pengaitnya sudah ada yang rusak ketika dengan tidak sabarnya aku ingin segera menyelami indahnya madu dan surganya dunia. Namun, aku mendapat kekecewaan ternyata Harumi sudah tidak suci lagi. Dan bukti rekaman itu aku terima setelah seseorang mengirimkan ke rumah setelah dua hari dari kejadian nahas itu."
"Dari yang aku rasakan dan aku lihat, ternyata istriku saat itu ada dalam pengaruh obat bius lokal. Aku ditipu Guntur yang berhasil mengecoh aku dengan mengatakan bahwa Harumi sedang kesakitan terjatuh di toilet. Pada saat aku mencari Harumi itulah, bajingan itu beraksi," tuturnya seraya menggebrak meja.
Nagi ternganga tidak percaya dengan semua pengakuan Harsya yang nampak sangat terpukul.
__ADS_1
Masih bersambung cerita tragedi di malam pengantinnya guys....