
Zila menelungkupkan wajahnya di bawah bantal, dia tidak ingin Naga menghampirinya.
"Zi, bangunlah!" Naga meraba bahu Zila dan berusaha mengangkatnya. Kesedihan Zila memang beralasan. Siapapun pastinya akan sedih dan kecewa dituduh tidak benar.
"Atas nama Mama, aku minta maaf. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya pada Mama. Dan aku mengancam siapa saja yang menghina kamu dengan tudingan seperti itu lagi, maka aku tidak segan-segan akan menuntutnya sebagai pencemaran nama baik," tegas Naga berapi-api. Walaupun Naga terkesan membelanya, Zila masih belum mau memperlihatkan wajahnya karena ia sedang merasakan kesedihan yang dalam.
Dengan bujuk rayu, Naga berhasil membawa Zila pindah ke kamarnya. Bu Hilsa yang mengetahui ini nampak kecewa, tapi mau bagaimana lagi? Meskipun Naga sangat menghormatinya, dia bukan tipe anak yang suka diatur. Cukup sudah dulu Naga selalu mengikuti mau Mama dan Papanya. Sekarang Naga harus memutuskan keputusan sendiri tanpa mau campur tangan orang lain.
"Kak Naga, mana uang satu milyar yang aku minta itu. Aku hanya minta ganti rugi atas tudingan kalian yang tidak benar itu," ujar Zila mengungkit kembali uang satu milyar yang dituntutnya kala itu. Naga menghampiri Zila yang sedang menghadap cermin membersihkan mukanya dari sisa make up tipis dan kotoran.
Naga meraih bahu Zila dengan kasih sayang. Meskipun Zila termasuk perempuan yang bisa dikatakan matre, tapi entah kenapa terhadap Zila, Naga tidak merasakan sesuatu hal yang buruk. Kejujuran Zila yang menuntut uang satu milyar akibat direnggut kesuciannya oleh Naga, justru membuat Naga merasa lucu. Zila bisa dikatakan matre, tapi kenapa Zila dengan begitu polosnya mengatakan dengan jujur bahwa dia menuntut uang satu milyar akibat tudingan buruk yang pernah dilontarkan Naga juga keluarganya.
"Wanita seperti ini yang kamu cintai Naga, dia dengan terus terang menuntut uang satu milyar dengan alasan kesuciannya direnggut olehmu?" Tiba-tiba suara lantang milik Bu Hilsa terdengar memenuhi kamar Naga. Sepertinya Bu Hilsa tadi menguping pembicaraan Zila pada Naga sehingga dengan tidak segannya Bu Hilsa memberikan interupsi dan masuk kamar Naga.
Naga dan Zila terkejut, melihat secara berbarengan ke arah Bu Hilsa. Bu Hilsa menatap sinis pada Zila. Dia merasa sudah menemukan keburukan Zila, bahkan suatu saat keburukannya ini bisa dengan mudah menyingkirkan Zila dari rumah ini, termasuk dari sisi Naga.
"Sudahlah, Mama tidak perlu ikut campur masalah Zila yang menuntut Naga satu milyar atau apapun itu. Naga bahkan bisa memberikan lebih dari itu jika Naga mau, sebab dia istri Naga."
"Jangan terlalu membela perempuan penuh sandiwara ini, Naga. Dia ini penuh muslihat, jangan-jangan dia ingin menguras harta kita, dan pergi setelah berhasil mengurasnya," tudingnya tidak henti-henti.
__ADS_1
"Lanjutkan saja Ibu menghina aku, tapi aku tidak berhenti mencatat penghinaan Ibu ini sebagai bukti pencemaran nama baik terhadapku. Wajar saja aku menuntut satu milyar sama Kak Naga, sebab dia dan juga keluarga Ibu telah menghina aku dengan tudingan yang tidak-tidak. Masih mending aku menuntut satu milyar daripada menguras harta kalian." Zila berdiri dan melakukan pembelaan tanpa rasa takut.
Bu Hilsa terbelalak melihat Zila masih saja berani melawannya. "Uang dari mana kamu bisa melawan aku? Tuntutan satu milyar saja bagi Naga adalah sebuah lelucon. Mana ada seorang istri yang sudah dijamah oleh suaminya menuntut satu milyar, bisa jadi kamu hanya menginginkan hartanya, bukan raganya," tukasnya yang bagi Zila menyakitkan sekaligus menggelikan.
"Aku memang tidak punya uang dan kekuasaan Bu untuk menuntut Ibu atau keluarga ini, aku tahu semua orang yang memiliki uang pasti bisa melakukan segalanya termasuk membeli hukum dengan uang. Sehingga orang-orang seperti kami tidak akan mampu melawan, sebab kami kalah dari segi uang," tandas Zila sembari duduk kembali di depan meja rias.
"Lantas buat apa uang satu milyar yang kamu tuntut itu, apakah kamu punya hutang atau punya rencana lain dengan uang itu?" cecar Bu Hilsa penasaran.
"Ibu tidak perlu tahu mau kuapakan uang satu milyar yang belum aku pegang itu. Yang jelas aku punya tujuan."
"Huhhh, dasar tidak punya adab. Bisanya cuma melawan orang tua saja," tukas Bu Hilsa merasa kalah bicara dari Zila lalu pergi dan keluar kamar Naga.
Naga segera menghampiri Zila dan merangkulnya, dia tahu Zila sangat sedih. Zila berontak dan kesal dengan Naga yang tidak serius membelanya.
Hilda yang akan pergi kuliah pagi secara tidak sengaja melihat Zila. Tiba-tiba muncul ide untuk mengerjai Zila.
"Zilaaa, kemari dong! Istrika baju kuliah gue, gue lambat nih," teriaknya. Zila sontak menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah adik ipar yang tidak bersahabat ini.
"Aku tidak bisa membantu, sebab perut aku tiba-tiba keram. Mungkin bawaan calon keponakan kamu ini yang lagi manja. Maaf ya Hilda," ujarnya sembari berlalu.
__ADS_1
"Zilaaaa, huhhhh dasar perempuan kampung!" teriak Hilda kesal merasa tidak dipedulikan Zila. Zila tidak peduli dia tetap berjalan menuju kamarnya.
Tiba di kamar, Zila tidak mendapati Naga di sana, padahal Naga belum pergi bekerja. Tiba-tiba Zila dikejutkan dengan bunyi panggilan HPnya. Zila segera mengangkat Hpnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Tumben Tante Zuli menghubungi, ada apa?" herannya.
"Assalamu'alaikum, Zila cepat datang ke Rumah Sakit Citra Kasih bagian IGG, Pamanmu mengalami musibah. Dia dikeroyok orang sampai babak belur. Untung saja masih bernyawa, jika terlambat ditemukan orang yang lewat, maka Pamanmu akan lewat."
Zila hanya bisa ternganga mendengar kabar buruk tentang Pamannya dari Tante Zuli, tidak terasa air matanya menetes membayangkan sang Paman kesakitan saat dikeroyok orang-orang. Entah orang-orang mana yang mengeroyoknya, setahu Zila Pamannya selalu diikuti dua penjaga kafe yang setia, yaitu Darga dan Dargi. Biasanya pengawal kembar itu selalu jadi tameng Kobar kemanapun, tapi kali ini kenapa Pamannya sampai terdengar babak belur karena dikeroyok?
Zila segera menuruni tangga dengan tergesa. Dia tidak peduli gelagatnya diawasi Ibu dan adik iparnya. Naga yang baru keluar dari ruangan kerjanya merasa heran melihat Zila tergesa dan buru-buru menuju pintu keluar.
"Zi, ada apa?" heran Naga.
"Kak Naga aku harus segera ke Lembang, Paman Kobar mengalami musibah dikeroyok orang. Sekarang Paman sudah dibawa ke RS Citra Kasih oleh Tante Zuli. Aku harus pergi Kak," ucap Zila memberitahukan dengan wajah panik. Naga kaget bukan main. Terpaksa Naga kali ini harus menunda rapat yang dijadwalkan pagi sekitar jam sembilan dengan jajaran Direksi, demi mengantar Zila.
Naga menghubungi orang kepercayaannya untuk menghandle dulu urusan di kantor, sementara dia akan mengantar Zila ke Lembang demi menengok Pamannya yang kena musibah.
Naga keluar dan menarik lengan Zila supaya segera menaiki mobil. Bu Hilsa dan Hilda yang sejak tadi memperhatikan Zila, kini dilanda heran. Sebab Zila yang katanya sedang hamil muda bisa berlari tergesa.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang mencurigakan, apakah Mama juga mencurigai kejanggalan yang ditunjukkan perempuan kampung itu?" ujar Hilda berbisik pada Bu Hilsa. Kedua orang beda generasi ini memang mencuriga jika Zila hanya pura-pura hamil.
"Kita buktikan saja nanti bahwa dia sebenarnya tidak hamil," ujar Bu Hilsa sambil menyeringai.