Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 113 musim 2 Nagi Pamit


__ADS_3

     "Aku datang kesini sengaja melihat Papa dan ingin pamit," sahut Nagi. Tentunya lasan ini dibuatnya setelah kemarin dia ditugaskan oleh Papa Hasri ke kota Makassar ini. Sepanjang jalan Nagi berpikir keras akan sikapnya. Apa yang harus dia putuskan? Mengemban tugas dari Papa Hasri sebagai Manager di kota ini yang jauh dari siapapun atau mencari jalan sendiri dan berdiri sendiri di atas kakinya untuk meraih mimpi dan obsesinya tanpa diembel-embeli bantuan Papa Hasri?


     "Pamit?" heran Handi menaikkan alis kanannya ke atas.


     "Iya, Pa. Aku pamit dan sebagai baktiku sama Papa yang terakhir, aku ingin mengucapkan salam perpisahan sama Papa," ucap Nagi terdengar sendu. Dia selalu seperti ini jika berbicara di hadapan Handi, menunduk dan sendu. Ada sebongkah besar di dalam dadanya, tentang sebuah harapan, yaitu kasih sayang dari seorang Papa yang selama ini dia harapkan dan nantikan. Namun nihil, semua tidak pernah terwujud sampai diusia Nagi 26 tahun sekarang.


     "Kenapa harus melihat aku dan berpamitan sama aku, aku bukan siapa-siapa? Jika ingin pergi, silahkan pergi saja. Jangan pernah libatkan aku, aku bukan Papamu," tegasnya seraya berdiri dan membelakangi Nagi, entah apa yang dilakukan Handi saat membelakangi Nagi.


     "Setidaknya Papa katakan apa salahku dan apa salah Ibuku sehingga Papa melakukan semua ini padaku? Aku selama ini tidak pernah Papa anggap anak. Setiap aku datang dan ingin meraih hatimu, setiap itu juga Papa memperlihatkan permusuhan denganku. Lalu apa salahku, Pa, katakan?" mohon Nagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


     Nagi melihat punggung Handi dan rasanya ingin dia memeluknya erat dari belakang menumpahkan rasa rindu yang selama ini dipendamnya. Tidak pernah sekali pun dia merasakan sentuhan atau pelukan lembut dari Handi sebagai Papa yang selama ini dia dambakan.


     "Pergilah, embanlah tugasmu. Dan ingat, hubungan aku dan kamu sekedar atasan dan bawahan," tegas Handi masih kukuh dengan pendiriannya, tidak sedikit pun dia membalikkan badannya kembali.


     "Aku datang ke sini bukan untuk mengemban tugas apapun. Aku hanya ingin pengakuan dari Papa," ucap Nagi berharap. Namun tubuh itu tidak juga membalik sehingga Nagi menyerah. "Jika begitu aku pamit, aku minta maaf karena telah mengganggu waktu Papa. Aku harap Papa selalu sehat dan bahagia," ujar Nagi berdiri lalu segera membalikkan badan dan beranjak dari ruangan Direktur Utama Handi Prayogi.


     Beberapa saat setelah Nagi pergi, Handi membalikkan tubuhnya. Matanya merah dan sembab, Handi seperti habis menangis. Dadanya seakan sesak setiap dia berhadapan dengan anak muda yang selalu menganggapnya Papa itu.


     "Maafkan, Papa, Gi. Andaikan kamu tahu betapa berat Papa menahan sesak di dada ketika harus berhadapan denganmu. Papa menyayangi kamu, Gi," ungkapnya menangis. Sementara Nagi yang ternyata masih berada di sana yang sengaja mengintip dari balik pintu, melihat bayang-bayang Handi yang menangis, tubuhnya berguncang.


     "Kenapa Papa egois, apa alasan Papa?" tanyanya lalu pergi dari depan ruangan Handi dengan kekecewaan yang dalam.


     Nagi menuruni tangga di perusahaan Hasri Group kota Makassar, batinnya kecewa dan lagi-lagi Papanya selalu bersikap demikian jika ia datang dan mengharapkan kasih sayangnya. Papa Handi menolaknya kembali.

__ADS_1


     "Pak Nagi, Pak Nagi,, tunggu sebentar?" tahan seseorang berteriak memanggil Nagi. Nagi yang sudah berada di pintu keluar menolehkan tubuhnya ke belakang. HRD Roni nampak menghampirinya dengan senyum sumringah.


     "Pak Nagi selamat datang di perusahaan Hasri Group Makassar, mari saya antar ke ruangan Anda," ujar Roni seraya mempersilahkan. Namun Nagi tidak beranjak sama sekali sehingga Roni heran.


     "Pak Nagi apa yang sedang Anda pikirkan? Ahhhh, saya tahu perjalanan udara Anda kemarin yang sangat melelahkan itu pasti membuat pagi Anda kurang nyaman," duga Roni dengan ramahnya. Namun Nagi menggeleng.


     "Perjalanan saya sangat menyenangkan." Nagi menjeda sejenak ucapannya. Sementara Roni sang HRD selalu saja menyambut baik kedatangan Nagi, dia sangat mengharapkan anak muda yang berada di hadapannya ini bisa bergabung di perusahaan cabang Makassar, dan kebetulan perusahaan pusat dengan tiba-tiba mengoper alih tugas Nagi ke perusahaan yang berada di Makassar.


      "Pak Roni, jangan tunggu saya menempati jabatan itu. Berikan pada orang lain. Saya permisi dulu." Naga segera membalikan badan dan mulai beranjak. Namun Roni menahannya.


     "Pak Nagi, tunggu," tahannya tidak paham.


     "Saya pamit. Saya hanya ingin pesan pada Anda, jaga Papa saya," ucap Nagi segera berbalik lalu bejalan dengan cepat menuju gerbang perusahaan. Di sana Nagi segera mencegat taksi untuk kembali ke perumahan untuk menyiapkan segalanya.


     "Pak Nagi." Percuma teriakan Roni, sebab Nagi sudah menjauh dan tidak mau mendengar dirinya memanggil.


     "Selamat tinggal, Pa," batinnya pilu.


     "Kemana, Mas?" tanya Supir taksi dengan logat khas setempat. Nagi tersadar dari lamunannya lalu mendongak dan sejenak menoleh ke arah Supir taksi.


      "Bandara Sultan Hasanuddin, Pak," jawabnya. Supir taksi itu segera melajukan taksi nya menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Cuma butuh waktu dua puluh menit, taksi sampai di Bandara Sultan Hasanuddin.


Nagi segera memesan tiket menuju Bandara Kualanamu, Medan. Dia memantapkan hatinya tinggal di sana untuk sementara waktu sampai hatinya menginginkan kembali ke kota Bandung atau Jakarta yang selama ini menjadi naungannya.

__ADS_1



Nagi sejenak meraih Hpnya yang kini sudah dia ganti dengan nomer yang baru. Semua media sosial dari FB, IG, WA, dan lain sebagainya sudah dia non aktifkan sejak kepergiannya dari Bandara Soekarno Hatta. Sehingga siapa pun tidak bisa melihat aktifitasnya di manapun tanpa terkecuali. Nagi sengaja menutup aksesnya dari siapapun, termasuk dari keluarga Papa Hasri dan Mama Hilsa.



"Hilda, apa kabarmu, De? Maafkan Kakak sudah menghindarimu. Ini semua atas keinginan Papa Hasri, Kakak terpaksa harus pergi menjauhimu. Jika suatu saat kita ada jodoh, kita pasti akan dipertemukan kembali. Tapi jika kita tidak jodoh, Kak Nagi harap kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Kakak. Pria lain yang jauh segalanya dari Kak Nagi," harap Nagi mengenang Hilda yang kini bagaikan di pelupuk matanya.



Nagi tidak kuasa menahan rasa sedihnya saat mengenang Hilda, dia menduga saat Hilda kelabakan mencarinya, dia pasti menangis pilu. Nagi sudah tahu Hilda seperti apa, dia akan menangis sejadi-jadinya karena kehilangannya.



Satu jam kemudian, panggilan dari seorang operator bandara memberitahukan bahwa pesawat yang akan ditumpangi Nagi sudah tiba, dan penumpang diharapkan segera bersiap menaiki pesawat.



Nagi mantap berjalan di koridor menuju pesawat yang akan mengantarkannya terbang ke kota Medan. Perjalanan selama kurang lebih tujuh jam dari Bandara Sultan Hasanuddin ke Bandara Kualanamu akhirnya sampai dengan selamat. Nagi bersyukur dan menuruni pesawat karena perjalanannya kini lancar tanpa hambatan apapun.



Dari Bandara Kualanamu, Nagi segera mencegat sebuah taksi menuju sebuah kota kecil di kota Medan. Empat puluh menit kemudian taksi berhenti di depan sebuah rumah yang cukup asri dan berukuran sedang. Saat Nagi turun, seorang wanita berumur sekitar 45 tahun mendongak dan melihat ke arah Nagi. Binar matanya tiba-tiba tersirat bahagia.

__ADS_1



"Nagiiiii," teriaknya bahagia.


__ADS_2