
Mata Nagi masih melihat ke arah TV, sebelum acara itu selesai dia tidak ingin mematikan siaran Tv itu. Tiba-tiba ada sebuah kerinduan yang menghantam dada saat menatap satu persatu orang-orang terdekatnya yang mulai disorot kamera para Wartawan terlihat langsung oleh matanya sendiri.
Papa Hasri dan Mama Hilsa terlihat semakin lengket berdiri berdampingan. Keluarga Rafa, yang merupakan Om dan Tantenya Nagi juga ada. Dan kerabat lainnya juga ada. Tidak lupa Hasya, Paman Kobar dan tante Zuli juga merupakan bagian dari orang-orng yang menghadiri peluncuran produk terbaru Naga Group. Ada salah satu yang masih Nagi cari dan sejak tadi belum terlihat di dalam acara Tv tersebut.
"Hilda, kemana dia? Apakah dia tidak menghadiri acara ini? Sayang, di manakah kamu, Kak Nagi ingin melihatmu, tampakkan lah dirimu, Dek," harap Nagi sembari mengawasi siaran Tv itu dengan teliti seraya berharap Hilda berada di sana.
"Itu dia, Hilda sepertinya mengasingkan diri," serunya bahagia saat melihat penampakan Hilda di layar Tv. Hilda berada jauh dari wawancara media dan acara gunting pita. Nasib baik salah satu kamera wartawan menyorot keberadaan Hilda dengan jelas, dia tampak cantik dengan gaun warna kuning keemasan selutut. Hilda sangat feminim dan anggun. Namun, Nagi melihat Hilda sangat murung, tidak ada sorot bahagia atau menikmati acara peluncuran yang digelar perusahaan kakaknya.
"Kenapa kamu sangat sedih dan murung begitu, Dek? Apa yang sedang kamu pikirkan? Tunggu Kak Nagi pulang nanti, Kak Nagi akan tunaikan janji Kak Nagi melamarmu. Kamu harus percaya Kak Nagi, Kak Nagi juga mencintai kamu," bisik Nagi sedih, dia ikut sedih melihat Hilda murung di layar Tv.
Nagi masih setia dengan tontonannya. Dan kamera wartawan itu masih meliput dan merekam suasana keseluruhan ruangan mall itu, sehingga semua orang yang hadir di acara itu kelihatan. Hilda yang masih jadi pusat perhatiannya, masih nampak di sana.
Tiba-tiba Nagi melihat Hilda dihampiri seseorang laki-laki cepak berbadan tegap. Hilda dan lelaki itu berbincang-bincang lama sampai kamera wartawan yang meliput menutup liputannya.
Ada rasa yang tiba-tiba datang menghantam dadanya ketika perbincangan Hilda dengan seorang laki-laki cepak berbadan tegap terekam lama oleh kamera wartawan yang meliput acara itu. Rasa sesak yang menghantam dada Nagi sehingga mampu mengeluarkan bulir bening di sudut matanya. Lelaki muda yang diperkirakan lebih muda dua tahun darinya itu, nampak sangat perhatian pada Hilda, dia menatap Hilda terus sampai kamera wartawan itu menutup liputannya.
"Siapa lelaki itu? Dia nampak perhatian. Apakah Hilda telah menemukan pengganti aku? Oh, tidak. Apa yang harus aku lakukan?" Nagi meremas rambutnya di nampak frustasi memikirkan Hilda yang tengah berbincang dengan seorang laki-laki muda berambut cepak dan berbadan tegap.
__ADS_1
"Apakah dia seorang aparat negara?" tebaknya dalam hati dengan rasa was-was. "Dek, jangan pernah coba mencari pengganti aku, aku akan buktikan bahwa aku bisa membuatmu bahagia. Tunggu aku, Dek. Aku harus sukses dulu di sini untuk membuktikan pada Papa dan Mama Hilsa bahwa aku pantas bersanding denganmu. Meskipun hubungan kita tidak direstui Papa dan Mama Hilsa karena kita saudara sepupu. Lihat saja nanti, aku akan membuat Papa dan Mama bangga." Nagi bertekad untuk membuktikan bahwa dia mampu membahagiakan Hilda suatu saat.
"Gi, apa yang kamu tonton, sejak tadi tidak selesai-selesai melihat liputan Tv?" Tiba-tiba Bu Harumi datang menghampiri Nagi yang hampir saja terlonjak dari duduknya.
"Ya, ampun, Sayang, kamu sampai kaget dan terlonjak begitu, memangnya apa yang kamu tonton?" Bu Harumi heran apa sebenarnya yang Nagi tonton. Nagi nampak bingung dan merasa takut Ibunya akan melihat acara Tv. Untungnya acara siaran langsung itu sudah berakhir.
"Tidak ada, Bu. Nagi hanya melihat acara Tv biasa," jawabnya nampak gugup.
"Kamu ini, nonton acara Tv saja macam melihat pacar digebet orang, terkejut begitu," sindir Bu Harumi seperti mampu menebak apa yang dirasakan Nagi.
"Kamu harus sukses dulu, Nak, sebelum ingin meminang anak orang. Buktikan sama Papamu bahwa kamu mampu menjadi sukses. Tanpa kasih sayangnya kamu harus buktikan bahwa kamu sukses dan bisa berdiri sendiri tanpa bantuannya," tegas Bu Harumi penuh ambisi dengan sorot mata yang tajam ke depan.
Melihat sorot mata yang tajam itu, Nagi menjadi semakin penasaran dengan yang terjadi antara Ibunya dan Papanya Harsya dahulu. Sampai kini Nagi tidak tahu masalah apa yang menjadi pemicu permusuhan keduanya.
"Sebetulnya apa sih Bu yang terjadi antara kalian sebelum kalian bercerai sehingga kalian bermusuhan tidak habis-habis sampai kini? Katakan, Nagi juga ingin kejelasan hubungan Nagi antara Papa Harsya yang sampai kini masih membenci Nagi dan sepertinya tidak mau menganggap Nagi anak?" tanya Nagi seolah menemukan jalan untuk bertanya.
"Ibu tidak mau membahasnya, sebaiknya kamu mandi dan makan sore dulu. Kamu belum makan, lho, sejak siang." Bu Harumi sepertinya sedang mengalihkan pembicaraan Nagi ke topik lain.
__ADS_1
"Ibu dan Papa sama saja, menyembunyikan masa lalu dari aku yang tidak tahu apa-apa sehingga aku dimusuhi Papa seumur hidup. Sebetulnya aku ini anak siapa sehingga Papa sama sekali tidak mau menganggap aku anak? Apakah Ibu dahulu pernah berselingkuh dari Papa sehingga Papa semarah itu padaku?"
"Nagiiii, plakkkkk." Pekikan dan tamparan keras di pipi Nagi tidak terelakkan lagi, Bu Harumi marah besar saat Nagi menudingnya berselingkuh.
"Jangan katakan atau tanyakan tudingan hina itu pada Ibu. Semua itu sama sekali tidak benar. Apakah kamu mau menjadi anak durhaka dengan mempertanyakan hal itu pada Ibu yang telah melahirkanmu?" Bu Harumi marah pada Nagi dengan mata yang melotot. Sementara Nagi masih meraba pipinya yang sakit dan panas bekas tamparan ibunya itu. Nafas Bu Harumi tersengal-sengal turun naik tidak beraturan saking menahan amarah.
Nagi menunduk tidak mau menatap tatapan marah sang Ibu. Sementara Bu Harumi menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan membuang amarahnya yang tadi tiba-tiba muncul pada Nagi. Penyesalan terbit dalam hati dan tatapan wajahnya, seharusnya dia tidak menampar atau marah pada Nagi yang dasarnya memang tidak tahu apa-apa.
"Sudahlah, jangan pikirkan hal tadi. Ibu minta maaf telah kasar padamu. Sekarang makanlah, besok kamu harus persiapkan diri menjadi pimpinan sebuah perusahaan. Walaupun kecil tapi suatu saat pabrik kapas milik kita ini akan menjadi besar. Ini berkat kerja kerasmu yang sangat gigih. Bukankah kamu termotivasi menjadi gigih karena Abangmu Naga, bukan? Makanya ikuti langkahnya, jadikan dia motivasi supaya maju dan sukses," nasihat Bu Harumi seraya berjingkat meninggalkan Nagi yang dilanda sedih.
Nagi menatap kepergian Ibunya dengan tatapan sedih dan kecewa, karena sampai usianya dewasa ini, Nagi tidak pernah mendapat jawaban kenapa Papanya selalu membencinya dan apa penyebab kedua orang tuanya bercerai?
Tiba-tiba Hp Nagi berbunyi dari seorang kliennya yang tentunya meminta dikirim barang ke tokonya.
"Halo, siap, Pak. Nanti pihak Distributor akan segera mengirimkan barangnya pada toko Anda," jawab Nagi bahagia. Sejauh ini perusahaannya yang masih berskala kecil mampu mendatangkan para pelanggan atau klien dari berbagai daerah di kota Medan memesan kapas pada perusahaannya. Kapassindo NagiMedani, perusahaan berskala kecil yang kini mampu memenuhi permintaan dari berbagai pihak baik per individu maupun perusahaan.
"Kemajuan dan kesuksesan di depan matamu Nagi, kamu akan sukses, Nak." Bu Harumi tersenyum bahagia dengan kesuksesan yang sebentar lagi akan diraih anak tercintanya.
__ADS_1