
"Jawab, Bu, jangan diam saja. Kalau Ibu tidak merestui hubungan aku dengan Hilda, lalu pa sebabnya? Jangan katakan karena kami saudara sepupu, karena itu bukan alasan utama bagi Ibu." Bu Harumi diam saat mendapatkan pertanyaan dari nagi seperti itu, dia pun sebetulnya tidak akan sanggup mengatakan semua ini, sebab ini semua menyangkut masa lalunya yang pahit yang otomatis harus diungkit kembali.
"Yang jelas, kamu jangan menikahi Hilda. Itu sudah cukup alasan yang Ibu berikan, biarkan kalian tetap berhubungan layaknya saudara sepupu," tegas Bu Harumi teguh.
"Tidak, bukan itu alasan Ibu melarang kita memiliki hubungan lebih dari sepupu. Tapi ada alasan lain yang masih Ibu sembunyikan dari aku. Katakan, Bu. Atau aku cari tahu sendiri alasan itu," debat Nagi ngotot.
Bu Harumi tidak membalas, dia sebetulnya sudah lelah jika harus membahas apa yang berkaitan dengan masa lalunya.
"Baiklah jika Ibu tidak mau menceritakan alasan sebenarnya, biar aku yang cari tahu sendiri sekarang juga." Nagi segera ke kamarnya meraih tangan Hilda dan memerintahkan Hilda segera mengemasi pakaiannya.
"Ayo, segera kemasi barang-barangmu. Sebaiknya kita segera pergi dari sini, kamu harus kembali ke Bandung. Aku juga harus menyelesaikan masalahku dengan Papaku di Makassar, menanyakan sesuatu yang selama ini tidak aku tahu." Nagi segera mengemasi semua barang-barangnya yang dia perlu juga barang Hilda.
Setelah semua siap, Nagi dan Hilda beriringan keluar dari kamar menuju ruang tengah. Di sana dia mendapati Bu Harumi tengah duduk termenung.
"Bu, aku dan Hilda akan pergi. Aku pamit, aku mau mencari alasan kenapa Ibu dan Papa bercerai dan kenapa Papa Harsya sampai saat ini tidak pernah menganggapku anak. Juga aku mau minta restu darinya, aku yakin aku akan dapatkan restu itu," ujar Nagi seraya hendak menyalami tangan Bu Harumi.
"Kamu tidak akan mendapat restu itu Nagi, justru kamu akan sangat menyesal jika tahu hal sebenarnya. Dan Hilda tidak akan mau lagi menerimamu dengan fakta yang ada," ujar Bu Harumi semakin menguak misteri yang masih tersembunyi di balik perceraian kedua orang tuanya.
"Dengan apa yang Ibu katakan barusan. Nagi semakin yakin bahwa di balik perceraian ini ada hal yang kalian sembunyikan bertahun-tahun dari Nagi. Nagi bisa menduga kenapa Papa Harsya tidak pernah menganggap Nagi anak. Jadi, tidak masalah jika Ibu tidak mau mengatakan alasan yang sebenarnya. Nagi sudah cukup selama ini diperlakukan tidak adil oleh keegoisan kalian berdua, jadi jangan harap Nagi patuh atas kemauan Ibu," ujar Nagi sembari berjingkat.
Sebelum Hilda mengikuti Nagi, dia berusaha menyalami tangan Bu Harumi lalu berpamitan. "Aku pamit, ya, Bu. Assalamualaikum," ujarnya sembari bergegas menyusul Nagi yang sudah keluar duluan.
"Nagi, Nagiiii, tunggu Nak, Ibu mohon. Jangan tinggalkan Ibu. Berhenti di situ, jangan langkahkan kaki lagi jika kamu masih menganggap Ibumu ini masih Ibumu," tahan Bu Harumi menahan langkah Nagi tegas. Nagi berhenti dan perlahan membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Cukup Bu, sudah cukup Ibu dan Papa Harsya membuat hidup Nagi bagai dalam kebimbangan dan merasa bersalah. Setiap bertemu Papa Harsya, Nagi selalu dimusuhi seolah Nagi ini sebuah kesalahan. Nagi merasa tidak punya dosa tapi Nagi sendiri seperti orang yang berdosa di hadapannya."
"Tidak, sudah, kembalilah, Gi. Masuklah, Ibu mau bicara pada kalian berdua, kasih Ibu kesempatan sekali saja untuk bicara. Percayalah, Ibu tidak akan membicarakan masalah perjodohan itu lagi. Ibu tidak mau kehilangan kamu, jadi kemarilah kita bicara dengan baik-baik. Ibu tidak ingin kehilangan kamu, Ibu tidak ingin kehilangan laki-laki yang Ibu sayang dan cintai untuk kedua kalinya. Cukuplah Papamu yang pergi, kamu jangan tinggalkan Ibu dan musuhi Ibu seperti Papa Harsya memusuhi Ibu," ungkapnya sedikit mengurai benang kusut yang masih kusut.
Dari pernyataan yang diungkapkan Ibunya secara tidak langsung, Nagi bisa menarik kesimpulan, bahwa ada sebuah kesalahpahaman antara Ibu dan Papanya. Untuk itu Nagi bertekad akan mengorek langsung dari mulut Papa Harsya, apa sebenarnya yang terjadi sebelum mereka berpisah.
Nagi akhirnya mengalah dan mengikuti kemauan Ibunya untuk kembali ke dalam rumah.
"Duduklah, Ibu ingin berkata di hadapan kalian, sebelum kalian benar-benar melangkah ke jenjang yang lebih jauh yaitu pernikahan. Kalian harus sudah punya pondasi yang kuat, yaitu cinta yang saling percaya dan saling menjaga. Jika semua itu sudah terpenuhi di dalam diri kalian, maka Ibu yakin kalian bisa melewati berbagai cobaan cinta apapun itu, termasuk fitnah. Ibu tidak akan menghalangi cinta kalian jika kalian memang saling mencintai. Namun itu tadi, jika fakta sebenarnya tentang Nagi sudah Nak Hilda ketahui, maka Nak Hilda jangan sampai menyesalinya." Bu Harumi bicara panjang lebar seraya kini beralih fokusnya ke arah Hilda.
"Kenapa harus menunggu terbongkar faktanya dari Papa Harsya, bukankah Ibu sama saja bisa mengungkap fakta itu?" desak Nagi berharap Bu Harumi menceritakan seluk beluk terjadi perceraian 27 tahun yang lalu.
"Ibu tidak akan sanggup untuk mengungkap semua di hadapanmu. Biarlah kamu cari tahu dari orang yang selama ini kamu anggap Papa," tandas Bu Harumi akhirnya.
"Hari sudah mulai larut, sebaiknya Hilda segera ke kamar untuk beristirahat. Dan kamu, tidur di sofa ini," tunjuknya pada sofa yang diduduki Nagi. Nagi tersenyum melihat Bu Harumi bicara seperti itu, seakan ketakutan jika dia ikut tidur di kamar yang sama dengan Hilda.
"Sayang, bawa sekalian barangmu," peringat Nagi seraya memberikan koper Hilda yang tadi sempat didorong keluar. Bu Harumi mendengar Nagi memanggil sayang, berpikir betapa cinta diantara mereka sudah begitu kuat.
"Bu, aku antar Hilda dulu sebentar ke dalam." Nagi pamit pada Ibunya seraya mendorong kembali koper Hilda masuk ke dalam kamar. Bu Harumi manggut, lalu segera bergegas menuju kamarnya yang jaraknya hanya dihalangi sebuah ruangan santai.
"Kak Nagi, lalu kapan rencana Kak Nagi akan ke Makassar? Sepertinya aku memang harus ikut." Mendengar Hilda berbicara seperti itu, Nagi langsung menggeleng. Menurutnya, Hilda tidak perlu ikut. Sebab lama kelamaan Hilda juga akan tahu hal yang sebenarnya dari mulut ke mulut.
"Kamu tidak perlu ikut, biar aku yang cari tahu dan mengorek apa sebenarnya yang terjadi sebelum mereka bercerai," tolak Nagi. Sementara itu di luar kamar, Bu Harumi sengaja mengintip kebersamaan Nagi dana Hilda. Setelah dikiranya aman, Bu Harumi segera bergegas menuju kamarnya, lalu menutup pintu dan menaiki pembaringan.
__ADS_1
"Sepertinya Hilda anak baik, dia begitu mencintai anakku. Semoga cintanya tidak luntur atau berubah setelah tahu fakta yang sebenarnya dari Mas Harsya," bisiknya seraya membaringkan tubuhnya di pembaringan.
Sementara itu Nagi dan Hilda masih berada di dalam kamar Nagi. Mereka masih membahas rencana kepergian Nagi ke Makassar.
"Besok dan lusa kita masih di sini di kota Medan. Aku akan mengajak kamu ke Danau Toba atau Pulau Nias. Lalu setelah itu baru kita kembali ke Bandung, memulangkan kamu pada Mama dan Papa."
"Asikkkk, jalan-jalan keliling Medan," pekiknya sembari berdiri dan tersenyum gembira. Keinginannya selama ini yang ingin menjelajahi kota Medan akhirnya kesampaian juga. Nagi tersenyum gembira melihat Hilda yang kegirangan.
"Kak Nagi, mau keluar sekarang atau nanti sehabis aku mencuci muka?" tanya Hilda seraya duduk di depan meja rias untuk mencuci mukanya dari sisa-sisa make up tipisnya tadi.
Nagi memperhatikan Hilda terus menerus seakan tidak ada bosannya. Walaupun seluruh mukanya sudah polos tanpa riasan, tapi kecantikan wajah Hilda sungguh tidak pudar.
"Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Hilda." tanpa Hilda sadari Nagi tiba-tiba memeluknya dari belakang dan mengangkat tubuh Hilda lalu membawanya ke dinding, di sana Nagi menumpahkan kerinduannya yang selama ini terpendam.
"Kak Nagi, jangan. Nanti ada Ibu, malu." meskipun Hilda menolak, tapi kedua tangannya yang tadi meronta dan menahan dada Nagi kini sudah melingkar di pinggang Nagi karena Nagi mengarahkannya ke sana. Kini keduanya sudah saling menyatukan sebuah kerinduan yang bergelora lewat sebuah sentuhan bibir yang semakin dalam.
"Biarkan lebih lama seperti ini, aku sangat merindukanmu, Hilda," ungkapnya lagi seraya memagut kembali. Tubuh mereka semakin erat dan menghangatkan.
"Aku mencintaimu Kak," ucap Hilda melepas sejenak pagutannya, menatap dalam mata Nagi. Lalu kembali berpagut.
"Tidurlah cantik, kalau durasinya ditambah lagi lima menit, aku takut sesuatu yang tidak diharapkan akan terjadi." Nagi menyudahi pagutannya yang lumayan lama bersama Hilda. Nagi mengantar Hilda ke atas pembaringan dan menyelimuti tubuh Hilda.
"Good night, cuppp,'' ucapnya sebelum meninggalkan Hilda tidur sembari mengecup lagi bibir Hilda sekali. Hilda tersenyum gembira.
__ADS_1