Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 49 Membujuk Zila


__ADS_3

"Non, boleh Bi Rana masuk?" Bi Rana membuka pintu kamar Zila sedikit, dengan kepala mendongak ke dalam. Zila yang sedang termenung mendadak terkejut dengan suara Bi Rana yang tiba-tiba.



"Ada apa, Bi? Masuklah!" ujar Yila membolehkan. Bi Rana masuk dengan membawa bubur ketan merah di nampan. Bi Rana meletakkan nampan di meja.



"Non Zila makanlah dulu bubur ketan merahnya. Bi Rani yang buatkan khusus buat Non Zila. Ayo makanlah," desak Bi Rana sedikit berbohong. Sebab bubur ketan merah itu buatan Bu Hilsa sendiri. Sebagai permintaan maaf, Bu Hilsa membuat sendiri bubur ketan merah. Sebab walaupun dalam gelimangan harta, Bu Hilsa pandai memasak, bahkan sering kali Pak Hasri meminta dibuatkan makanan oleh Bu Hilsa.



Namun, tadi sebelum selesai memasak bubur ketan merah, Bu Hilsa berpesan pada Bi Rani dan Bi Rana untuk merahasiakan bubur ini buatan siapa?



"Saya belum mau makan apa-apa, Bi. Saya sedang tidak nafsu. Saya hanya ingin istirahat dan tidur saja," jawab Zila seraya membenahi dirinya untuk tidur, lagipula dia memang tidak selera makan apa-apa. Padahal tadi Dokter Haura menyarankan untuk segera makan supaya dalam tubuh Zila ada asupan gizi dan energi.



"Non, Non tetap harus makan sesuap saja, supaya Nona kuat lagi dan kembali sehat," bujuk Bi Rana.



"Percuma, Bi. Toh di keluarga ini aku tidak diinginkan, jadi percuma aku makan juga," ujarnya seraya membalikkan badan membelakangi Bi Rana.



"Non, jangan bicara seperti itu. Ingat, Non Zila sedang hamil. Jadi, kalau Non Zila makan niatkan demi sang jabang bayi. Kalau Non Zila tidak makan, maka yang dikhawatirkan janin yang Non Zila kandung kenapa-kenapa," bujuk Bi Rana masih belum menyerah.



Zila diam tidak menyahut lagi yang terdengar kini hanya isak tangis. Bi Rana heran dan menghampiri Zila lalu merangkul pundaknya.



"Nona kenapa menangis?"


"Tidak ada yang menginginkan saya di sini, Bi. Sejak kecil saya sudah ditinggal pergi oleh kedua orang tua, saya hanya diasuh oleh paman saya hingga sampai saya menikah. Lalu, sekarang nasib buruk seolah tidak henti mengiringi saya. Dan tiba-tiba saya masuk dalam sebuah pernikahan yang mendadak, yang ternyata keluarganya tidak menyukai saya dan malah menganggap saya perempuan tidak benar. Saya pikir di kehidupan saya yang baru ini saya akan mendapatkan kasih sayang dari keluarga baru saya, tapi nyatanya tidak," cerita Zila panjang lebar diiringi isak yang masih terdengar.



"Non, Non Zila jangan pesimis. Bibi yakin kebahagian itu akan hadir seiring waktu, saya yakin Nyonya besar, Tuan besar maupun Non Hilda perlahan akan menyayangi nona. Bibi yakin itu," ucap Bi Rana masih berusaha membesarkan hati Zila.



"Bi, saya ingin sendiri, tinggalkan saya sendiri," ucap Zila meminta. Bi Rana mengusap bahu Zila dengan sayang sebelum dia kembali ke luar kamar. Di balik pintu kamar rupanya sudah ada Bu Hilsa yang mengintip dan mendapat gelengan kepala dari Bi Rana, sebagai isyarat bahwa Zila tidak bisa dibujuk.



Malam tiba, tapi Naga belum pulang juga. Pastinya acara launching product akan memakan waktu lama. Bu Hilsa sudah tidak sabar menantikan Naga pulang, sebab sejak Zila pulang dari RS, dia belum mau makan apa-apa. Zila hanya menangis teringat akan kedua orang tuanya. Di masa kehamilannya ini, ingin rasanya dia dimanja seorang Ibu yang selalu siap mendengar keluh kesah saat dia hamil.


__ADS_1


Bu Hilsa tiba-tiba masuk kamar. Sebelum benar-benar masuk, Bu Hilsa mengetuk pintu dulu. Walau tanpa dipersilahkan, dia masuk sebab dia sangat khawatir dengan Zila yang tidak mau makan.



"Maafkan, aku masuk," ucapnya sebelum duduk di ranjang. "Aku datang ke sini hanya ingin membujukmu untuk makan. Kamu harus makan, sebab ada yang lebih membutuhkan makanan daripada kamu, yaitu janin kamu. Kamu harus makan, ya. Aku mohon!" ucap Bu Hilsa memohon.



Zila seakan tidak mendengar, dia hanya diam. Tubuhnya kini benar-benar lemas. Selain kata bujukan yang keluar dari mulut mertuanya, Zila ingin mertuanya minta maaf atas perkataannya dulu yang pernah mengatakan dia perempuan tidak benar.



"Ibu pergilah, aku tidak apa-apa. Dan jangan hiraukan aku, bukankah Ibu tidak menyukai aku," usir Zila halus.



"Kenapa kamu sangat keras kepala, aku datang kemari hanya untuk cucu aku," ujar Bu Hilsa menekan.



"Kalau hanya untuk cucu Ibu, sepertinya Ibu tidak perlu datang membujukku. Aku tidak butuh bujukan palsu Ibu. Ibu dan semua orang yang ada di sini hanya mengkhawatirkan Kak Naga. Takut Kak Naga marah, dan bukan benar-benar peduli padaku," tukas Zila.



"Apa yang kamu katakan, kamu itu pandai bicara. Aku ini memang mengkhawatirkan kamu dan bayi kamu, apa kamu tidak mengerti juga?"



"Aku tidak akan mempercayai apa yang Ibu dan kalian katakan kecuali kalian minta maaf atas ucapan kalian dulu, yang mengatakan aku perempuan tidak benar dan gila harta. Kalau cuma harta keluarga Ibu, saya jujur saja tidak tertarik. Lebih baik aku bekerja di kafe pamanku dengan gaji bulanan dan uang tips dari tamu yang Ibu bilang laki-laki hidung belang itu. Aku sudah tidak peduli dengan omongan orang yang mengatakan aku perempuan tidak benar, padahal aku masih bisa menjaga harga diri. Daripada orang yang kelihatannya baik tapi di belakang menjual diri," cerocos Zila berapi-api. Dia masih belum terima dengan kata-kata Ibu mertuanya tempo hari.




"Jangan meminta maaf jika semua itu bukan keluar dari mulut Nyonya Besar yang benar-benar tulus. Dan ingat, ya, Ibu tidak ada hak atas anakku. Setelah aku melahirkan nanti, aku tidak akan pernah mendekatkan anakku dengan Ibu ataupun siapa saja yang berkaitan dengan keluarga ini," tegas Zila semakin menggebu-gebu. Zila tidak mau luluh sebelum Ibu mertuanya berkata dengan nada yang lembut dan minta maaf. Sebab selama ini sentuhan lembut dari seorang ibu belum pernah dia rasakan.



"Ya, ampun. Aku bisa stress menghadapi kamu. Padahal aku benar-benar ingin membujukmu supaya makan. Kalau ada apa-apa dengan janinmu, aku jangan kau salahkan," ujarnya seraya keluar kamar dan berharap Naga benar-benar segera pulang.



Bu Hilsa keluar kamar Zila, yang pada malam itu Zila tidak bisa dibujuk lagi oleh Bu Hilsa. Untungnya Naga keburu pulang. Bu Hilsa nampak senang dan menarik lengan Naga sebelum masuk kamar. Naga heran, ada apa dengan Ibunya ini?



"Ada apa, Ma?" tanya Naga heran.



"Zila, istrimu sejak kamu tinggalkan tadi, dia tidak mau makan sama sekali. Mama sudah berusaha membujuknya. Coba kamu bujuklah, dia begitu keras kepala, dia masih kesal sama Mama," lapor Bu Hilsa bercerita.


__ADS_1


"Mama, tenang saja, biarkan Naga membujuknya." Naga kembali ke kamar dan akan membujuk Zila supaya makan.



Saat di dalam kamar, Naga mendapati Zila tengah berbaring membelakanginya.



"Zi, ayolah bangun. Tadi aku belikan kamu asinan dan rujak, kamu pasti mau, kan?" bujuk Naga sembari memberikan dua bungkusan pada Bi Rana yang sudah berada di kamar.



Bi, tolong wadahi rujak dan asinan ini ke dalam mangkok. Biarkan istri saya makannya pakai mangkok," titah Naga. Mendengar asinan dan rujak sontak hati Zila berbunga.



"Baiklah, Den." Bi Rana menuangkan rujak dan asinan masing-masing ke dalam mangkok. Setelah dua-duanya berada dalam mangkok, Naga kembali membujuk Zila untuk makan rujak.



"Zi, makanlah dulu rujaknya, ini pasti sangat enak dan tentunya akan menyegarkan mu," bujuknya seraya mengangkat tubuh Zila dari posisi berbaring. Zila akhirnya bangun dan duduk di atas ranjang dengan kaki berselonjor.



"Makan, ya. Kata Mama kamu sejak aku pergi belum mau makan apa-apa. Sekarang aku bawakan rujak dan asinan spesial, kamu harus memakannya sampai habis." Naga masih belum menyerah, terlebih dia begitu menyesal atas sikapnya tadi saat pertengkaran siang tadi bersama Zila.



Naga perlahan mulai berinisiatif menyuapkan sepotong buah-buahan bumbu kecap yang pedasnya tidak terlalu pedas ke arah mulut Zila. Dengan tepaksa Zila menyuap potongan buah itu ke mulutnya.



Saat potongan buah itu merasuki mulut dan tenggorokannya, tiba-tiba rasa sakit di sisi kiri dan kanan paling ujung pangkal lidahnya terasa sakit, itu diakibatkan dari belum ada makanan apapun yang masuk ke dalam mulutnya sejak siang tadi.



Namun setelah beberapa potongan masuk lagi, mulut Zila sudah tidak sakit lagi. Naga mengamati Zila yang sepertinya semakin hari timbul sikap manja dan keras kepalanya. Akhirnya satu mangkok rujak habis tidak bersisa dimakan oleh Zila. Naga sangat bahagia, meskipun bukan makanan berat yang masuk perut, minimal ada yang masuk perut Zila.



"Asinannya juga bisa membuat kamu tidak mual. Makanlah!" bujuk Naga sembari mendekatkan asinan itu ke tangan Zila. Zila meraihnya sebab dia memang suka asinan. Zila memakannya dengan lahap, Naga senang melihatnya.



"Nanti setelah makan asinan, kamu harus coba makanan berat, ya. Supaya kamu bertenaga," bujuk Naga lagi dengan sangat lembut. Zila tidak menjawab atau merespon apapun. Dia asik dengan asinannya.



"Zi, aku sudah memutuskan besok kita pindah ke apartemen aku. Kali ini aku mohon jangan ada penolakan lagi. Walaupun kamu memaksa ingin tinggal bersama paman Kobar, aku tidak ijinkan. Sebab aku tidak mau anak dan istri aku menyusahkan orang lain."



"Paman Kobar bukan orang lain, Kak. Dia orang tua yang baik. Mana mungkin dia keberatan keponakan dan calon cucunya tinggal di rumahnya?" sergah Zila tidak suka.

__ADS_1



"Aku tahu, tapi apakah kamu tega merecoki paman Kobar yang sebentar lagi akan menikah dengan Tante Zuli? Mereka di saat-saat begini justru butuh ketenangan dan persiapan," tukas Naga meyakinkan Zila yang masih keukeuh ingin tinggal bersama sang paman.


__ADS_2