Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 109 Musim 2 Mood yang Kembali Buruk


__ADS_3

     Meskipun kunjungan Radit CEO dari perusahaan Masagi Food untuk menawarkan kerjasama di bidang bahan minuman tidak berbuah hasil yang positif, tapi Radit dan Naga terlihat sangat antusias dengan pertemuan mereka kali ini.


     Kerjasama mereka tidak berhenti di situ saja, sebab masih ada kerjasama yang lain yang selama ini sudah terjalin dan sedang berjalan.


     "Baiklah Pak Naga, kalau begitu saya pamit dulu. Jika Anda berminat, silahkan hubungi saya." Radit berpamitan pada Naga diikuti Mila dan Ridwan di belakangnya. Sementara itu Mila yang sejak keluar dari pintu ruangan Naga berpikir keras bagaimana caranya supaya Naga melebarkan kerjasamanya tidak hanya di bidang rempah-rempah saja melainkan yang lainnya seperti yang ditawarkan Radit tadi.


     Mila merencanakan sesuatu dan membujuk Radit untuk memberi kesempatan dia melobby Naga supaya Naga tertarik untuk kerjasama di bidang minuman yang ditawarkan Radit tadi.


     "Pak Radit, sebentar. Ijinkan saya kembali ke ruangan Pak Naga, saya punya rencana untuk membujuk Pak Naga supaya dia mau kerjasama di bidang minuman yang Anda tawarkan tadi. Siapa tahu dengan bujukan saya dia luluh dan Anda bisa melebarkan kerjasama dengan perusahaan besar ini yang progres ke depannya sangat baik. Bisa Anda lihat setiap kerjasama yang dijalin dengan perusahaan Naga Group, maka produknya melesat bak roket di pasaran. Apakah Pak Radit tidak tergiur dengan semua itu?" Rayu Mila pada Radit sang Bos.


     Radit bukan tidak ingin menjalin kerjasama di bidang lainnya selain produk rempah-rempah. Akan tetapi dia sudah kenal dengan sifat Naga, dia selalu konsisten dan tidak pernah berbelok dengan kerjasama di bidang dan bahan yang lainnya selain konsen di bidang pangan khususnya rempah-rempah. Bahkan sudah banyak perusahaan lain yang menawarkan kerjasama yang sama, tapi Naga tidak menerimanya, dia konsen di bidang rempah-rempah.


     Oleh karena itu Radit meragukan niat Mila yang ingin melobby Naga supaya Naga menerima tawaran kerjasamanya di bidang bahan minuman.


     "Tapi saya ragu, Mil. Saya kenal betul Naga, dia seorang CEO yang sangat konsisten dan konsen dengan bidang pangan khususnya rempah-rempah," ujar Radit meragukan.


     "Serahkan semua itu pada saya, Pak Radit tinggal tunggu saja kabar bagusnya dari saya. Bagaimana, apakah Pak Radit mengijinkan?" Mila menatap Radit berharap Radit mengijinkannya.


     "Baiklah, saya ijinkan. Tunggu saja bonusnya jika kamu berhasil melobby Naga sampai dia mau bekerjasama dengan kita di bidang bahan minuman." Akhirnya Radit memberi Mila ijin untuk mendatangi kembali ruangan Naga dan membiarkan Mila membujuk Naga untuk menjalin kerjasama di bidang minuman yang dia tawarkan tadi.


     "Baiklah Pak Radit, saya kembali lagi ke ruangan Pak Naga. Doakan saya supaya berhasil," ujarnya meminta doa dari Radit. Radit dan Ridwan tersenyum dan berharap usaha Mila berhasil.


     Mila tersenyum gembira karena berhasil membujuk Radit untuk kembali ke ruangan Naga. Mila berharap pendekatannya kali ini membuahkan hasil yaitu meraih hati Naga dan terjalin kerjasama dengan Naga di bidang bahan minuman. Mila tersenyum membayangkan jika kerjasama itu terjalin akibat usahanya, maka dua keuntungan akan dia dapatkan, yakni bonus dari Radit dan mendapatkan hati Naga. Sekali dayung dua pulau terlampaui.

__ADS_1


     Mila membalikkan badan dan kembali ke ruangan Naga. Sepanjang jalan koridor di dalam kantor itu, Mila tidak henti tersenyum bahagia membayangkan sambutan Naga. Dia bertekad kali ini harus menaklukan Naga. Dia harus bisa merebut kembali hati Naga yang pernah dia hancurkan dulu mungpung Naga saat ini masih single. Begitu pikir Mila dengan senangnya.


     Mila tiba di depan ruangan Naga tanpa mengetuk pintu lagi, dia berpikir sejenak sebelum masuk dan merapikan rok spannya yang selutut. Mila menarik pas pinggangnya lalu dilipat, jadilah roknya Mila lima senti di atas lutut. Lalu kemeja atas dua kancingnya dibuka, sengaja untuk menggoda Naga. Pikirannya sudah membayangkan yang indah-indah bersama Naga.


     Setelah merasa siap dan percaya diri, Mila mulai meraih handle pintu dan perlahan membukanya. Mila segera masuk menyelinap, sepelan dan serapi mungkin ke dalam ruangan Naga.


     Mila melihat Naga sedang fokus dengan map yang ada di atas mejanya, mungkin saja itu berkas penting sehingga Naga sangat fokus tanpa terganggu sedikit pun? Ini kesempatan emas untuk Mila yang tidak boleh disia-siakannya.


     Tap, tap, tap. Perlahan dan pasti langkah kaki gemulai sang penggoda mulai mendekati meja Naga. Senekad mungkin Mila akan memberikan pesonanya di depan Naga. Satu langkah lagi kaki Mila mendekati meja Naga, tapi bunyi Hp Naga membuyarkan fokus dan rencana Mila yang akan merayu tadinya. Naga masih belum sadar di depannya ada Mila. Lalu dengan perlahan Naga mengangkat mukanya dengan senyum bahagia di wajahnya.


     Langkah Mila terhenti saat itu itu juga dan menatap Naga yang mengangkat Hpnya.


     "Halo Sayang, ada apa menghubungi? Kamu kangen? Sabar, nanti sore aku pulang seperti biasa, aku masih ada klien sampai jam empat. Tunggu aku, ya. Aku cinta kamu." Naga mengakhiri sambungan telponnya. Sejenak Mila terheran dan penasaran degan siapa Naga berbicara di telpon dengan mesranya.


     "Kamuuu? Sejak kapan kamu masuk ke dalam ruangan saya, siapa yang memberimu ijin masuk ke dalam ruangan saya?" sentak Naga marah dengan mata yang melotot.


     Walau Mila masih terlihat cantik dan menarik, tapi rasanya dia sudah tidak tertarik lagi, terlebih Naga kini sudah memiliki istri yang lebih muda dan cantik dari Mila.


     "Naga, aku ke sini sengaja ingin berbicara serius dengan kamu tentang tawaran kerjasama tadi. Aku yakin kalau kamu menjalin kerjasama dengan Masagi Food, maka keuntungan kamu akan berkali lipat dibanding kerjasama sebelumnya," oceh Mila tanpa rasa canggung.


     "Desy, segera masuk ruangan saya!" perintah Naga pada Desy lewat panggilan telpon. Tidak berapa lama Desy masuk dan terkejut setelah melihat di dalam ruangan Naga ada orang lain.


     "Iya, Pak. Ada apa?" heran Desy seraya memindai seluruh ruangan Naga. Lantas Desy terkejut saat melihat Mila orang yang dia kenal sebagai salah satu utusan Masagi Food.

__ADS_1


"Kenapa kamu membiarkan orang lain masuk tanpa ijin saya?" tanyanya mendengus kesal seraya menatap Desy dengan tatapan yang kecewa.



"Saya minta maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau di dalam ruangan Bapak ada tamu. Dan ternyata Bu Mila masih ada di ruangan Bapak," sesal Desy merasa bersalah.



"Maaf, Bu Mila. Silahkan Anda keluar dari ruangan Pak Naga, sebab Pak Naga sudah tidak memperkenankan Anda di ruangannya. Saya mohon, Bu, silahkan," usir Desy lembut seraya menunjuk ke arah pintu.



"Naga, beri saya waktu sebentar," tahan Mila.



"Sekarang jam makan siang, Pak Naga sebentar lagi mau makan siang," tukas Desy sambil menggiring Mila keluar. Naga tersenyum puas melihat Desy begitu mahir mengusir Mila. Terpaksa Mila keluar dengan wajah yang dongkol, dia berjalan perlahan melewati koridor menuju kantin.



"Lebih baik aku ngisi perut dulu di kantin sebelum nanti beraksi lagi mencari celah untuk merayu Naga, lihat saja nanti aku akan membuatmu bertekuk lutut kembali di hadapan aku," tekadnya mendengus penuh ambisi.


__ADS_1


Ketika Mila sudah berada di lantai dasar, dengan jelas Mila melihat sosok gadis muda yang tempo hari pernah dia pergoki bercumbu dengan Naga di ruangan Naga.


__ADS_2