Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Musim 3 Nagi dan Hilda #Rencana Hilda


__ADS_3

   Nagi menghela nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Sebetulnya dia merasa tidak punya hak untuk menentukan restu pada siapa Ibunya akan menentukan pilihan. Ibunya sudah lebih banyak makan asam garamnya kehidupan dan yang lebih berhak menentukan pilihan dan sikap, tentu saja dia sendiri.


   Sejenak Nagi termenung dengan sikap dan keputusannya tadi. Bukan keputusan sih jelasnya, tapi dia memberi restu yang kalau dipikir-pikir atas intervensi Handi, orang yang selama ini Nagi anggap Papa.


   "Bu, maafkan Nagi sudah membuat keputusan dengan memberi restu. Nagi tidak maksud sudah kena intervensi oleh Papa Handi, tapi tadi Nagi hanya melihat kedalaman hatinya dari sorot matanya. Sejak awal Nagi memang sempat kepikiran Ibu dan Papa Handi masih saling cinta sehingga masing-masing dari kalian memutuskan untuk tetap hidup sendiri-sendiri selama ini. Maaf jika keputusan Nagi salah. Ibu masih bisa memikirkan panjang-panjang sebelum ambil keputusan, jadi keputusan mutlak ada di Ibu," tutur Nagi hati-hati memberikan penjelasannya.


   "Ibu paham, Gi. Kamu sudah memberikan pendapat atau keputusan yang terbaik. Kamu juga memberi sedikit pencerahan buat Ibu nanti jika mengambil keputusan. Tapi, di usia Ibu yang sudah setua ini, yang Ibu butuhkan hanyalah ketenangan. Urusan membina hubungan lagi sepertinya bukan prioritas utama lagi buat Ibu."


   "Nagi serahkan sepenuhnya pada Ibu. Ibu istikharah dulu sebelum ambil keputusan," ucapnya sembari mengusap bahu Ibunya. Bu Harumi tersenyum, dia merasa tenang setelah bicara dengan Nagi. Nagi memang benar-benar penyejuk baginya.


   "Ngomong-ngomong, di mana mantu Ibu? Kemana malam-malam begini?" Nagi baru sadar Hilda tidak ada di dekatnya atau di kamarnya setelah Ibunya bertanya.


   "Lho kemana istriku ini. Bu, Ibu tadi lihat kemana Hilda?" tanya Nagi risau. Bu Harumi menggeleng dan mengangkat tangannya.


   "Jangan-jangan dia mengikuti Omnya ke belakang, mereka tadi sempat berbicara bisik-bisik. Dan bukankah mereka sangat dekat, Handi sangat menyayangi Hilda?"


   Nagi seakan diingatkan, lalu dia beranjak akan mencari Hilda ke belakang rumah atau lebih tepatnya asrama di pabrik Kapassindo NagiMedani. Nagi berjalan perlahan, dia ingin memergoki Hilda sedang apa dengan Om yang katanya kesayangan itu.


   "Om, kenapa Om baru sekarang ingin kembali sama Ibunya Kak Nagi, bukan dari dulu saja setelah Om mengetahui bahwa Kak Nagi bukan anak biologis Om? Secara logika jika Om dari dulu mengejar kembali Bu Harumi, kesempatan Om punya anak dan hidup bahagia itu mungkin lho. Om Handi sih terlalu pendendam, jadinya begini," ujar Hilda mempersalahkan Handi atas kaitannya dengan masa lalu Omnya dengan niat Omnya yang kini ingin kembali pada Harumi.


   Handi menatap Hilda dalam sambil geleng-geleng kepala. Betapa sederhana dan polosnya pemikiran keponakannya itu. Masalah dirinya di masa lalu tidak sesimpel membalikkan telapak tangan.


   "Ya ampun, Hilda. Masalahnya tidak sesederhana itu. Ini masalah perasaan. Dan sebaiknya masalah masa lalu Om, kamu jangan ungkit lagi. Om sekarang sudah insyaf dan sadar. Om hanya ingin hidup bersama Ibunya suami kamu. Om hanya ingin membahagiakan Harumi di masa tuanya. Masalah punya anak atau tidak, itu urusan nanti. Om fokus untuk memperbaiki hubungan Om sama Ibu mertuamu," tukas Handi seraya menatap ke arah lain.


   "Ternyata kehidupan Om begitu rumit ya. Dan sekarang Om ingin kembali sama Bu Harumi, apakah Om benar-benar akan membahagiakannya?" telisik Hilda sembari menatap lekat wajah Omnya yang saat ditatap dalam-dalam ternyata wajahnya mirip Papa Hasri.


   "Om berjanji akan membahagiakan Harumi karena Om sangat menyesali perbuatan Om di masa lalu." Handi berkata dengan serius.


   "Om, kalau dipikir-pikir Om itu mirip Papa. Tapi ....emmmm, tapi masih tampanan Papa, wak wak wak wak," ujar Hilda memuji namun ujungnya mengejek.


   "Ya ampun, Sayang, kamu itu dari sejak dulu tidak pernah memuji Om dengan serius. Kamu selalu saja mengejek Om. Awas, ya. Kamu memang tidak pernah tulus sayang sama, Om." Handi merajuk dengan memalingkan mukanya ke arah lain.

__ADS_1


   "Habisnya Om itu sudah jahat sama Ibu Harumi maupun pada Kak Nagi, itulah makanya hidup Om sendirian sampai tua, punya anak juga nggak," ketus Hilda tidak takut. Handi semakin merajuk dan kesal dengan perkataan ponakan jahilnya itu.


   "Ya ampun Sayang, rupanya kamu di sini. Sudah kita kembali, Ibu mencarimu untuk makan malam. Kenapa malah ganggu Papa Handi," sergah Nagi menghampiri seraya meriah lengan Hilda.


   "Ini bukan Papa aku tapi Om aku," ralat Hilda.


   "Ya sudah, benar itu Om kamu. Tapi, Omnya jangan terus-terusan dibully, pamali lho. Itu dosa, kamu ngejek-ngejek Om kamu itu sama saja dengan mengejek orang tua," peringat Nagi memberitahu.


   Hilda manyun sesaat setelah diberi peringatan oleh Nagi.


   "Ayo, sebaiknya kita pergi makan. Ibu sudah menunggu," ajak Nagi.


   "Papa Handi, ayo kita makan malam bersama. Ibu sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Ibu masak banyak." Nagi membawa Hilda menuju rumah Harumi diikuti Handi di belakangnya.


   Mereka berempat makan malam bersama persis keluarga yang bahagia, kadang terdengar obrolan ringan diantara mereka membawa suasana menjadi tambah akrab dan hangat.


   Keesokan harinya, Nagi tiba-tiba bersiap akan ke kantor Kapassindo NagiMedani yang jaraknya hanya beberapa langkah dari kediaman sang Ibu.


   Para karyawan lama sudah tahu di mana Nagi dan Ibunya tinggal, sedangkan orang yang masih baru tidak tahu bahwa tempat tinggal pemilik perusahaan yang bergerak di bidang kapas ini adalah hanya tinggal melangkah saja dari perusahaan.


   "Sayang, kenapa kamu seperti orang yang gelisah, kenapa dan ada pa? Apakah kamu tadi baru saja mimpi yang menakutkan?" tanya Nagi sembari menepuk bahu Hilda.


   "Tidak, aku tidak mimpi buruk, aku hanya kaget melihat Kak Nagi yang sudah tampan dan akan ke kantor, sedangkan aku ingin ke kantor juga tapi kondisi masih aut-autan," sesal Hilda kecewa.


   "Kamu bisa mandi dulu, Sayang, kenapa harus gelisah? Kamu dandan yang cantik. Nanti kamu nyusul. Aku harus pergi lebih dulu, sebab di jam pertama, hari ini aku ada meeting dadakan dengan para staff Direksi," ujar Nagi.


   "Tapi, apakah aku tidak akan nyasar jika nanti masuk ruuangan Kak Nagi?"


   "Jelas tidak, dong Sayang. Sebab di atas plafon pabrik sudah tertera nama tempat sesuai dengan nama ruangannya. Jadi kamu tidak usah takut nyasar."


   "Baiklah kalau begitu aku bersiap dan mandi dulu, lalu nyusul Kak Nagi ke kantor." Hilda setuju dirinya menyusul ke kantor Nagi sebab dia belum mandi.

__ADS_1


   "Ok, Kak Nagi pergi dulu, ya. Assalamualaikum." Nagi berpamitan seraya mencium kening Hilda.


   Hilda segera ke kamar mandi membersihkan diri. Hari ini dia akan ke kantor suaminya untuk yang kedua kali. Yang pertama kali saat itu hari di mana dirinya bersama Nagi kepergok Ibu Harumi akan melakukan sesuatu di ruangan pribadi Nagi.


   "Aku pergi dulu, ya, Bu. Assalamualaikum," pamit Hilda seraya mencium tangan Bu Harumi.


   "Waalaikumsalam. Hati-hati, Nak." Bu Harumi menatap kepergian menantunya dengan takjub, sebab Hilda menantunya itu sangat cantik dan menggemaskan.


   "Ya ampun, beruntung sekali Nagi memiliki istri secantik dan sebaik Hilda. Walau tahu Nagi anak siapa, tapi Hilda tidak berhenti mencinta Nagi. Ibu salut padamu, Nak. Semoga kalian selalu bersama baik suka dan duka, serta bahagia sampai ke jannah-Nya," ujar Bu Harumi diiringi kalimat doa buat Hilda dan rumah tangga anak dan menantunya.


   Hilda berjalan lewat depan pabrik. Dia masuk lewat pintu otomatis. Ruangan pertama yang dia masuki tidak lain adalah lobby dan resepsionis.


   "Mbak, maaf. Mbak ada perlu ke siapa di kantor ini? Apakah Mbak seorang pekerja di sini?" tanya seorang perempuan sekitar 25 tahun bertanya heran pada Hilda.


   "Saya ada perlu dengan pemilik perusahaan ini. Dan saya sudah ada janji dengan beliau. Apakah beliau masih ada rapat dengan semua staff pimpinan Direksi?" tegas Hilda berwibawa.


   "Sebentar lagi rapatnya akan berakhir, silahkan Mbak mau menuggu di sini atau di ruangan lain kantor ini, silahkan semaunya Anda," ujar sang Resepsionis ramah.


   Hilda tidak menunggu aba-aba apa-apa lagi, dia segera menaiki tangga menuju ruangan Nagi. Tanpa basa-basi lagi Hilda masuk ke dalam ruangan Nagi dengan rasa takjub yang tidak berkurang saat pertama kali berjumpa.


   "Wawww, ruangan Kak Nagi ini sungguh luar biasa. Wangi dan sangat elegan," pujinya seraya memasuki ruangan pribadi Nagi. Di ruangan inilah saat itu dia dan Nagi kepergok tengah akan melakukan gencatan senjata oleh Ibunya Nagi.


   Tiba-tiba Hilda menyunggingkan senyum sambil mendapatkan sebuah ide yang cemerlang di otaknya.


   "Sepertinya jika di sini tidak buruk juga, tempatnya bersih dan wangi. Kak Nagi pasti setuju juga," ujar Hilda seraya tersenyum dengan ide gilanya.


   Hilda menaiki ranjang king size di ruangan pribadi Nagi itu, dia sepertinya terbuai dan tiba-tiba rasa kantuk datang menyerang, padahal ini masih terbilang pagi. Tiba-tiba Hilda sudah tertidur dengan nyenyaknya.


   Tidak berapa lama, Nagi masuk ke ruangannya. Hatinya berbunga-bunga sebab di dalam rapatnya kali ini dia mendapatkan kabar baik, bahwa perusahaannya mendapatkan predikat perusahaan baru yang sudah bisa meraih jangkauan konsumen dari berbagai daerah. Dan sekarang perusahaannya sudah akan merambah ke pulau Jawa.


   Nagi sangat bersyukur atas pencapaiannya ini, terlebih sejak dirinya menikah, keberuntungan dalam perusahaannya terus menerus datang silih berganti.

__ADS_1


   Nagi duduk di kursi kebesarannya seraya menunggu kehadiran Hilda yang sejak tadi belum muncul juga. Dia hari ini rencananya akan memperkenalkan Hilda pada seluruh karyawannya.


   "Sayang, kamu lama sekali. Bukankah tadi kamu sudah akan mau mandi?"


__ADS_2