Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 93 Musim 2 Surprise


__ADS_3

Hasya mengantar Zila ke sebuah mall kecil di daerah Lembang. "Non Zila, silahkan nikmati dulu *me timenya*. Jika Non Zila sudah selesai, nanti hubungi saya. Saya akan menjemput Anda dan mengantar Anda sampai tujuan."



"Baiklah Kak Hasya tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja."



"Lalu, apakah Nona membawa uang untuk membayar?" Hasya penasaran dan takut jika Zila tidak membawa uang sepeserpun.



"Tenang saja, aku masih punya ini dari Kak Naga. Aku jarang memakainya. Ini baru aku pakai sekali saat mentraktir sembako dua manusia yang paling baik padaku, yakni paman Kobar dan tante Zuli," jawab Zila sembari mengacungkan sebuah benda warna hitam persegi panjang mirip ukuran KTP elektronik. Hasya tersenyum lega.



"Ok, Nona, saya pamit dulu. Saya ada pertemuan dengan orang yang berkaitan dengan pembangunan pabrik," ujar Hasya seraya pergi dan kembali menuju mobilnya.



Zila memasuki mall kecil di daerah Lembang demi melancarkan misi utamanya, Zila segera memasuki sebuah salon kecantikan. Di sana Zila meminta layanan premium. Dari mulai pedicure dan medicure serta yang lainnya.



Sempurna, Zila kini menjelma bagaikan sosok wanita yang terlihat sangat kuat dan menggoda. Ini semua adalah demi sebuah misi yang nyeleneh atas saran Hasya.



Zila keluar dari mall kecil itu. Dengan dress selutut yang dia beli langsung pakai di toko baju tadi, kini penampilannya bak model papan atas yang siap go internasional.



Sebuah mobil mewah milik Hasya tiba di depan mall. Hasya terkejut dibuatnya setelah melihat penampilan yang paripurna yang diperlihatkan Zila hari ini. Zila benar-benar mengikuti sarannya. Hasya berkali-kali berdecak kagum dibuatnya melihat Zila.



"Awas Kak, jangan sampai mata Kak Hasya lepas dari cangkangnya!" peringat Zila menyadarkan Hasya dari rasa terkejutnya sebab ia tidak menduga Zila sangat cantik melebihi artis internasional.



"Nona mau diantar langsung ke pabrik atau ke rumah?" tanya Hasya bingung.



"Ya ampun, kenapa Kak Hasya bingung? Antarkan aku ke kantor Kak Naga, aku akan menjelma jadi **pelari** buat suamiku," tukasnya membuat Hasya terheran dengan kata aneh yang barusan Zila ucapkan.



"Pelari, apa itu, Non?" Hasya benar-benar bingung dengan istilah yang dikatakan Zila tadi.


__ADS_1


"Ya ampun, masa gitu saja tidak tahu. Pelari artinya perebut laki sendiri," tukas Zila diiringi senyum kemenangan karena telah membuat Hasya tidak bisa menjawab pertanyaannya.



Hampir 45 menit, akhirnya mobil Hasya tiba di depan perusahaan Naga yang sangat besar. Zila baru dua kali ini menginjakkan kaki di perusahaan ini.



"Nona, apakah Nona tidak akan tersesat? Perlu saya antarkan ke ruangan Bos Naga?" Hasya nampak khawatir jika Zila akan bingung menuju ruangan Naga.



"Kenapa aku harus bingung, aku bisa tanyakan pada banyak karyawan di sini jika aku sampai tersesat," kelit Zila. Hasya nampak lega, itu tandanya dia sudah sukses mengantarkan Zila dengan selamat.



"Masuklah, Non!" titah Hasya seraya melihat Zila sampai masuk ke dalam lobby perusahaan. Sepertinya ini akan menjadi sebuah surprise buat Naga. Zila jadi takut surprise ini tidak akan mampu mengejutkan Naga.



Zila mulai masuk ke dalam lobby, seorang perempuan muda yang hampir seumuran dengannya menegur Zila dengan ramah. Sepertinya dia Resepsionis yang dulu pernah menyapa Zila saat pertama kali masuk kantor di perusahaan Naga ini.



"Selamat siang Mbak," tegurnya ramah.



"Siang. Saya mau ketemu CEO perusahaan ini, apakah beliau ada?" tanya Zila sambil tersenyum.




"Saya sudah ada janji dengan Pak Naga, jadi Mbak tidak perlu khawatir," ujar Zila meyakinkan. Akhirya Resepsionis yang bernama Dian itu mempersilahkan Zila masuk dengan ramah.



Zila memasuki lift dan menekan tombol angka empat di samping tembok. Lift pun mulai bergerak, tepat di lantai empat sepertinya lift berhenti.



Zila keluar lift dan kini mulai menuju ruangan Naga yang sudah tidak asing lagi baginya. Tiba didekat ruangan Sekretaris, Zila sengaja berhenti di depan ruangan Sekretaris dan bertanya pada Desy Sekretaris.



"Siang MBak Desy. Saya sudah ada janji dengan Pak Naga, ijinkan saya masuk ke ruangan Pak Naga" ujar Zila berharap



"Silahkan kalau Anda sudah ada janji dengan Pak Naga," responnya mempersilahkan. Dengan senyum mengembang, Zila segera melenggangkan kaki menuju ruangan CEO.

__ADS_1



Baru saja memasuki ruangannya, wangi harum dari ruangan Naga langsung menyuruk hidungnya. Zila sungguh terkesan dengan ruangan milik Naga



Zila menuju sofa lalu melabuhkan pantatnya di sana. Sejenak rasa lelah setelah berjalan dari mulut pintu lift sampai ruangan Naga, dia hempaskan di sofa yang empuk plus nyaman itu.



Tidak berapa lama pintu ruangan Naga sudah terdengar tanda-tanda orang masuk. Naga masuk lalu menyimpan map di atas mejanya. Sebelum menduduki kursi kebesarannya, Naga memesan kopi latte favoritnya pada OB.



"Randi, ambilkan saya secangkir kopi latte" pesannya. Lalu tubuh Naga berputar dan berjalan menuju kursi kebesarannya. Lalu di manakah Zila? Rupanya Zila berhasil mengendap dan berpindah tubuhnya menuju balik meja Naga saat Naga mulai menuju kursi kebesarannya. Rencana ingin memberinya kejutan belum juga kesampaian sebab OB yang membuat kopi latte belum tiba.



Namun tidak berapa lama Randi sang OB masuk dan mengetuk pintu. Pintu terbuka otomatis. Randi meletakkan kopi latte di atas meja dengan hati-hati.



"Terimakasih."



"Sama-sama, Pak."



"Randi, apakah sudah kamu pastikan kopi ini hanya diseduh oleh tanganmu dan dituangkan olehmu serta tidak ada orang lain yang berada di sekitarmu?" tanya Naga meyakinkan. Zila mengerutkan keningnya saat Naga bertanya seperti itu pada OBnya.



"Aman, Pak. Itu murni saya yang buat tanpa campur tangan orang lain," jawab Randi.



"Kalau begitu, saya permisi, Pak." ucap Randi sembari menuju pintu dan keluar. Naga membalas dengan anggukan seraya meraih cangkir itu dan mulai menikmati satu sruputan kopi latte yang nikmat.



Kini Zila mulai bersiap menuju ke belakang kursi kebesaran Naga untuk memberikan surprise. Zila jalan jongkok untuk sampai di belakang. Perlahan Zila berdiri sangat hati-hati, rencana dia harus berhasil, memeluk Naga dari belakang, menenggelamkan kepala di lehernya lalu memegang erat kedua lengannya supaya Naga tidak lepas saat kaget nanti. Dan adegan selanjutnya jelas ciuman yang romantis yang sudah Zila bayang-bayangkan jauh-jauh hari.



Zila mulai beraksi dan, satu, dua, tiga.


"Grep, cupppp," pelukan erat di lengan Naga dari belakang kursinya serta kecupan di pipi kirinya sungguh sangat mengejutkan Naga. Naga berontak seraya menepis saking terkejut. Zila terlepas cengkraman tangannya seraya menjerit, karena dia juga kaget, hampir saja tubuh Zila kena tembok.


Naga dengan cepat memutar tubuhnya, dilihatnya seorang perempuan muda dengan dandanan yang sangat cantik berdiri tapi kurang sempurna menatap ke arah Naga kaget. Saat Naga berhasil mengenalinya, tiba-tiba sebuah senyuman tersungging.

__ADS_1



"Sayanggg," desisnya kaget lalu sebuah pelukan hangat yang rindu berlabuh di tubuh lelah Zila.


__ADS_2