Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 25 Perjuangan Paman Kobar


__ADS_3

Sementara itu di kediaman Kobar di Kaki Gunung Putri. Kobar belum berhenti memikirkan sertifikat milik Haga adik iparnya. Meskipun sudah 20 tahun berlalu, tapi Kobar masih menyimpan dan ingat akan amanat adik iparnya itu. Namun Kobar sampai kini tidak bisa memperjuangkan hak milik Haga, dan Zila sebagai pewaris tunggalnya. Alangkah sedihnya Kobar dengan ketidakberdayaan dirinya. Kobar tidak punya kekuasaan ataupun harta untuk memperjuangkan hak keponakannya itu.



"Paman minta maaf, Zi. Tidak bisa memperjuangkan hakmu dan tidak bisa melaksanakan amanah kedua orang tuamu, **Haga** dan **Karlina**," bisik Kobar. Tidak terasa air mata Kobar menetes. Sebagai seorang laki-laki yang dinilai sangar, Kobar punya kelembutan dan kasih sayang yang besar pada Zila keponakannya yang hidup terlunta-lunta dalam kekurangan.



"Paman minta maaf, Paman tidak berguna." Tangisan Kobar diketahui Zuli tetangga sebelah yang berjualan kopi dan makanan matang di depan rumahnya.



"Assalamu'alaikum! Kang, Kang Kobar, ada apa, kenapa menangis?" Zuli menghampiri dan meletakkan kopi pesanan Kobar tadi sebelum kedapatan menangis.



"Kang, ada apa? Coba cerita sama Zuli," pinta Zuli tulus seraya meraih pundak Kobar dan mengusap-usapnya memberi kekuatan.



"Zul, aku sedang ingat Zila. Betapa menyedihkannya hidup dia selama tinggal bersamaku. Bahkan karena hutangku yang tidak seberapa lalu dibengkakkan sama rentenir, Zila ikut-ikutan kena imbasnya. Dan dia ikut menanggung hutangku dengan bekerja keras di kafe." Kobar berhenti sejenak berbicara, dia seakan tidak kuat menceritakan nasib Zila yang malang.



"Aku tidak berguna Zul, aku sangat tidak berguna menjadi seorang Paman." Kobar menyumpahi dirinya sendiri atas ketidakmampuannya membahagiakan Zila.



"Kang, jangan pernah disesali apa yang telah terjadi. Jika kita tidak mengalami hal pahit dan penderitaan, maka kita tidak akan pernah bisa memetik hikmah di balik hal pahit yang kita alami. Yang harus kita lakukan adalah sekarang berdoa dan bertawakal sama Allah. Ingat Kang, kejahatan itu akan dibalas lagi dengan kejahatan baik di dunia ataupun diakhirat. Mungkin di dunia kejahatannya tidak dibalas. Namun di akhirat kejahatannya akan dibalas dengan balasan yang sangat pedih," tutur Zuli panjang lebar membuat Kobar sedikit terhibur.



"Sudah, minumlah dulu kopinya biar Kang Kobar tenang," bujuk Zuli sangat perhatian,



"Akang masih ingin memperjuangkan haknya Zila, tapi apa daya? Namun untuk membuang rasa penasaran, Akang akan mendatangi Haidar dan meminta haknya Zila. Anggap saja ini perjuangan Akang yang terakhir. Akang merasa tidak bisa melaksanakan amanah dari kedua orang tua Zila, tapi Akang akan berusaha mendatangi Haidar. Siapa tahu dia berubah pikiran dan mau memberikan haknya Zila. Tanah milik Haga itu luasnya satu hektar dan sekarang telah dijual Haidar pada orang kota." Kobar berhenti untuk menghela nafasnya sejenak.

__ADS_1



"Tapi, Kang. Saya rasa kalau Akang mendatangi Haidar, akan sangat berbahaya. Dia punya anak buah dan koneksi dia luas dengan orang-orang yang berkuasa di daerah sini. Ini akan membahayakan nyawa Akang," cegah Zuli khawatir.



"Dengan cara apalagi Akang harus berjuang?" tanya Kobar seakan putus asa.



"Saya tidak bisa bantu Kang, hanya doa yang bisa saya berikan semoga Kang Kobar ada jalan keluar dalam masalah ini. Allah Maha Adil, Kang. Dia pasti memberi solusi bagi hambanya yang teraniaya dan membutuhkan." Zuli tidak hentinya memberi Kobar motivasi.



Kobar akan memperjuangkan hak Zila. Caranya dia akan berusaha mendatangi Haidar dan berbicara baik-baik pada Haidar. Kobar berharap Haidar dibukakan hatinya untuk sekedar berbesar hati memberikan sebagian hak Zila keponakannya sendiri.



"Akang punya rencana apa?" Tiba-tiba Zuli mengagetkan dengan sebuah pertanyaan. Kobar tidak mau menjawab sebab dia tidak ingin membuat Zuli khawatir. Kobar menggeleng.




"Nah, betul banget Kang. Cobalah minta bantuan Nak Naga. Siapa tahu dia bisa membantu dan memberi jalan keluar." Kobar merasa tergugu dengan dorongan Zuli. Namun sebelum menghubungi Naga, Kobar merencanakan rencana awal yaitu menemui Haidar terlebih dahulu, setelah itu menemui pemilik baru tanah Haga.



"Tapi Kang kalau mafia tanah ini masih belum bisa dibasmi, meskipun Akang menemui pemilik baru ataupun minta bantuan Nak Naga, akan percuma. Sebab mafianya sudah menjalar dari bawah sampai atas." Semakin pesimis saja Kobar mendengar Zuli berkata seperti itu.



Obrolan tiada hasil bersama Zuli akhirnya berakhir. Zuli berpamitan karena masih melanjutkan jualannya. Sementara Kobar masih memikirkan rencananya untuk menemui Haidar nanti sore.


**


Sore menjelang, Kobar berpamitan pada Zuli. Zuli berpikir Kobar akan ke kafe. "Hati-hati Kang Kobar, semoga tamunya melimpah." Lambaian tangan Zuli mengiringi kepergian Kobar bersama motornya. Suara motor Kobar hilang setelah beberapa ratus meter melaju.

__ADS_1



Kobar kini sudah berada di depan pintu gerbang rumah Haidar yang besar dan mewah. Kobar memarkirkan motornya di pinggir jalan supaya aman. Ada ragu yang tiba-tiba menyerang Kobar.



Pintu gerbang tiba-tiba terbuka, mengurungkan niat Kobar yang akan menekan bel. Mobil mewah keluar dari rumah Haidar dan berhenti tepat di samping Kobar. Salah satu orang yang merupakan Haidar. Haidar menatap tajam dan ketus pada Kobar.



"Haidar, kebetulan aku mau berbicara denganmu. Turunlah!" titah Kobar sedikit menekan.



"Ada apa? Aku yakin manusia sepertimu hanya akan mengemis kasih sayang dan belas kasihan. Minggirlah, aku mau lewat," ketus Haidar seraya memerintahkan sopirnya menyalakan mesin mobil.



"Dengarkan aku Haidar, jangan kamu menghindar. Kamu masih memiliki keponakan kandung yang kini tinggal bersamaku dan sekarang dia sudah menikah," ungkap Kobar.



"Apa peduliku? Menyingkirlah! Aku tidak ada waktu melayani orang miskin sepertimu," geramnya mengusir.



"Jangan terlalu sombong Haidar! Ingat, diatas langit masih ada langit. Dan apakah kamu lupa jika pewaris tanah yang berhasil kamu jual masih hidup," peringat Kobar sedikit emosi.



"Aku pemilik sebenarnya. Kamu jangan mengada-ada. Aku memiliki sertifikat asli dan terdaftar secara legal. Jadi, jangan menuduh sembarangan," sangkalnya seraya menyalakan mesin mobil.



"Kamu akan menyesal Haidar, karena telah makan uang haram. Dan kamu telah merampas hak milik anak yatim piatu. Dan ingat, harta yang kau bawa itu tidak akan berkah. Sekarang kau bisa memilikinya dengan sepuasnya, tapi di akhirat kelak kamu akan merasakan azab," tegas Kobar penuh amarah.


__ADS_1


"Alahhhhh, sekali lagi kau bicara mampus kau Kobar. Muka sok suci," hardiknya sembari berlalu. Beberapa saat kemudian, Kobar yang masih berada di depan pintu gerbang rumah Haidar, tiba-tiba dikeroyok sekelompok orang dan dipukulinya hingga babak belur. Kobar ditinggal terkapar tidak berdaya dengan darah mengalir dari mana-mana.


__ADS_2