
Setelah **Naga** memberikan pernyataannya di depan semua orang yang hadir di rumah **Kobar**, perlahan tetangga Kobar yang tadi sempat ikut berdebat dan menuding **Zila** dan Naga akan berbuat mesum, bubar dari rumah Kobar menyisakan **Kobar, Zila, Naga, Hasya, Nagi**, dan tentu saja **Zuli** si pemilik warung kopi sekaligus tetangga baik Kobar yang sempat membela Zila tadi.
"Anak muda, apakah benar yang Anda ucapkan tadi?" Kobar bertanya dengan rasa tidak percaya.
Zila yang sejak tadi diam, menatap ke arah lelaki tampan yang tadi menyatakan akan meminang dan menikahinya, mencari sebuah kesungguhan. Ini jelas diluar dugaannya, dengan keadaan dia yang sedang sakit dan lemah, tiba-tiba datang seseorang ingin meminangnya. Rasa tidak percaya terus memenuhi otaknya, sejak tadi Zila tidak hentinya berpikir. Takdir apa sebenarnya yang sedang mempermainkannya?
"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Kalian siapkan saja diri kalian. Dalam waktu seminggu aku akan datang dan menikahi keponakanmu," tegas Naga sembari beranjak dari rumah Kobar diikuti Nagi dan Hasya.
N"Dia sedang demam, obati dia sampai sembuh," imbuh Naga sebelum benar-benar meninggalkan rumah Kobar.
Kobar masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Zila sang keponakan juga sama. Zuli wanita pemilik warung juga sama saja. Namun beberapa detik kemudian terbit sebuah senyum di wajah janda cantik itu.
"Wahhh, Kang Kobar tidak diduga sebentar lagi bakal punya menantu. Sepertinya mereka bertiga datang dari kota, dan kalau dilihat dari penampilannya mereka pasti orang kaya. Ini kesempatan Kang, bukankah selama ini Kang Kobar sedang mencari *mangsa*," ujar Zuli sembari tersenyum penuh makna. Kobar dan Zila paham betul dengan maksud mangsa yang disebutkan Zuli barusan, yakni lelaki kaya yang akan dijeratnya ke dalam pernikahan, kemudian diporoti uangnya untuk membayar hutang pada Juragan **Desta**.
"Sepertinya kalian tidak perlu susah payah mencari mangsa, sebab mangsanya datang sendiri tanpa diberi umpan. Persiapkan segalanya dari sekarang Kang," tukas Zuli si janda yang masih menarik sembari melangkah menuju pintu.
"Jangan lupa Kang, Neng Zila berikan obat supaya lekas sembuh. Benar kata pemuda tampan tadi, obati sakit Neng Zila sebab satu minggu lagi mereka akan datang meminang," tambah Zuli menghentikan sejenak langkahnya di muka pintu.
"Zi, apakah semua ini benar? Lantas siapa pemuda asing yang bertiga tadi? Dan siapa pemuda yang akan meminangmu? Mangsa ternyata sudah di depan mata dan datang dengan sendirinya," cecar Kobar sembari menerbitkan senyuman gembira.
"Aku tidak tahu Paman. Yang jelas jika lelaki tadi benar-benar serius meminang Zila, maka aku berharap dia adalah orang kaya yang datang untuk keberuntungan kita," ujarnya disertai ringisan.
__ADS_1
"Lantas, siapa nama pemuda tadi? Bagaimana kita bisa tahu namanya, sementara dia tidak memberi tahu?" Kobar jadi bingung memikirkan siapa nama pemuda tadi? Sedangkan jika dia mau mengajukan surat keterangan nikah pada RT dan RW harus menyertakan nama calon mempelai laki-laki. Kobar melihat ke arah Zila mempertanyakan siapa nama pemuda tadi, sayangnya Zila juga menggeleng dengan lemah. Gelengan lemah karena sedang sakit dan gelengan karena benar-benar tidak tahu siapa nama lelaki tadi.
Kobar baru menyadari bahwa keponakannya sedang sakit dan butuh obat untuk kesembuhannya.
"Zi, kamu masih demam. Ayo, kamu masuk kamar dan beristirahat, Paman akan ambil obat demam supaya kamu lekas sembuh," ujar Kobar penuh perhatian dan membawa Zila ke dalam kamarnya.
Sementara di tempat lain, mobil mewah yang dikemudikan Hasya, kini sudah tiba di sebuah villa milik keluarga Naga, di kampung yang sama dengan tempat tinggal Zila. Naga, Nagi dan Hasya untuk sementara tinggal di villa ini untuk melancarkan misinya yaitu mengincar sebuah tanah di kampung itu yang sekarang lagi gencar ditawarkan oleh si pemilik tanah.
Sebelum dimiliki oleh pembeli lain, Naga dengan langkah cepat segera menghubungi pemilik tanah untuk melakukan survey tempat. Kebetulan di atas tanah tersebut berdiri sebuah bangunan yang lumayan luas dan tanahnya ditanami satu hektar tanaman cengkeh yang memang menjadi incaran perusahaan keluarga Naga, yakni perusahaan penghasil rempah-rempah terbesar di Indonesia.
Villa dengan view perkebunan rempah-rempah dan juga tanaman palawija ini, menambah suasana menjadi sejuk dan asri. Terlebih memang kampung ini udaranya masih terbilang sejuk dan masih minim pencemaran udara.
"Kak Naga, benarkah apa yang Kakak katakan di rumah gadis bernama Zila itu bahwa Kakak akan meminangnya, dan dalam waktu satu minggu Kakak akan menikahinya?" Nagi bertanya penuh penasaran, menatap Kakak sepupunya yang baginya tidak sekedar Kakak sepupu, melainkan bak Kakak kandung.
Naga menatap Nagi dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun binar matanya menyiratkan suatu kebahagiaan. Perlahan sudut bibirnya terangkat menyunggingkan sebuah senyuman.
"Aku akan mendapatkannya Gi, dan aku serius. Sepertinya gadis muda itu baik dan tidak akan mengkhianatiku jika nanti dia aku miliki," ujar Naga yakin.
"Kenapa Kakak bisa seyakin itu, padahal Kakak belum mengenalnya? Kakak jangan terlalu cepat ambil keputusan, salah-salah nanti seperti yang sudah-sudah," peringat Nagi was-was. Dia tidak mau Kakak sepupunya masuk ke dalam perangkap musang yang nantinya malah akan dijadikan ladang ATM semata.
__ADS_1
"Aku yakin dari sorot matanya. Dia gadis baik-baik dan firasatku mengatakan dia adalah jodoh terakhirku," ujar Naga penuh keyakinan.
"Tapi Bos sebelum terlanjur mengambil sikap, alangkah baiknya diselidiki dulu siapa dia sebenarnya. Jika Bos setuju, saya bersama yang lain bersedia menyelidikinya. Saya hanya tidak ingin Bos terjatuh kembali ke jurang yang sama. Saya hanya berharap, jodoh terakhir pilihan Bos adalah benar-benar perempuan baik-baik yang setia dan tidak gila harta," tegas Hasya mengutarakan pendapatnya.
Pendapat Hasya diamini Nagi sang adik sepupu. "Betul Kak, aku setuju pendapat Kak Hasya. Kakak jangan gegabah. Mentang-mentang Kakak jatuh cinta pada pandangan pertama lantas Kakak dibutakan karena cinta," timpal Nagi menyampaikan unek-uneknya.
"Lantas bagaimana langkah Kakak ke depan, bukankah maksud kita datang ke kampung ini sedang melaksanakan sebuah misi?"
"Misi itu tetap kita laksanakan, Gi. Dan misi yang ini tetap aku jalankan. Kalian tinggal memantau saja dari belakang," tukasnya sembari tersenyum, seperti benar-benar telah jatuh cinta.
"Bagaimana dengan pendapat **Mama Hilsa** dan **Papa Hasr**i jika mereka mengetahui rencana Kakak ini?"
"Tentang jodohku yang sekarang, mereka sama sekali tidak boleh ikut campur. Aku yang tentukan. Cukup dua kali saja mereka menjodohkan, tidak untuk yang ketiga kali," tegas Naga sembari mengalihkan pandangannya tajam ke depan.
"Terserah Kakak jika sudah tekadnya begini, aku hanya akan mendukung Kakak dari belakang. Aku berharap jodoh Kakak yang kali ini bisa lebih baik dari jodoh Kakak yang sebelumnya," harap Nagi memberikan doa terbaik buat kebaikan jodoh Kakak sepupunya itu.
Waktu semakin bergulir, setelah Naga memberi kepastian pada Kobar tentang niatnya yang serius akan menikahi Zila yang hanya tinggal dua hari lagi. Namun, siapa sangka niat Naga ini sama sekali tidak disetujui oleh kedua orang tuanya. Terlebih kedua orang tuanya Naga sebenarnya sedang mempersiapkan perjodohan kembali untuk Naga.
Diam-diam kedua orang tua Naga mengutus orang kepercayaannya untuk menyelidiki siapa sebenarnya gadis pilihan Naga? Setelah beberapa hari melakukan penyelidikan, orang kepercayaan keluarga orang tua Naga justru menemukan fakta yang mencengangkan tentang Zila.
__ADS_1
Sebenarnya fakta yang mencengangkan apa yang mereka temukan? Yuk cari tahu di bab selanjutnya. Pantengin ya!