
Sore menjelang, Zila sudah bersiap dengan satu kopernya untuk pindah ke apartemen yang dijanjikan Naga. Naga juga demikian. Melihat Zila sudah sangat bersemangat, Naga tidak bisa lagi mencegahnya. Sepertinya kehamilannya memang mengidamkan menempati rumah baru. Sebab setiap membicarakan kepindahan, zila sangat antusias.
"Kak, punyaku ini saja," tunjuknya pada sebuah koper. Naga menoleh lalu tersenyum. Dengan cepat Naga menangkap tubuh Zila dan membawanya ke dalam dekapannya di pembaringan. Zila membalas pelukan tangan kekar Naga. Dia selalu suka jika Naga melingkarkan lengan kekarnya di depan dadanya.
"Sepertinya kamu senang banget pindah?" ujarnya seraya mencium rambut Zila yang wangi.
"Aku hanya ingin mandiri, Kak. Jika Kak Naga memang memiliki rumah tinggal sendiri, kenapa tidak segera kita tinggali rumahnya? Kan sayang rumah atau apartemen bagus-bagus kalau tidak ditempati," tukasnya yang kemudian diangguki Naga.
"Ok, sebentar lagi kita berangkat. Lagipula apartemennya sudah dibersihkan dua orang pegawai. Oh, iya, nanti pekerjaan rumah dan masak ada orang yang bekerja, jadi kamu tidak usah takut dengan pekerjaan rumah," berita Naga.
"Kak, mengenai tanah yang di **Kampung** **Sukaseuri**, apa rencana Kak Naga?" Zila mempertanyakan perihal tanahnya yang di Kampung Sukaseuri.
"Sayang, tanah itu milikmu. Tadinya aku merencanakan mendirikan pabrik skala kecil di sana. Berhubung tanah itu kini sudah jelas siapa pemilik sebenarnya, terpaksa aku hentikan pembangunan pabrik itu untuk sementara, sebab aku perlu minta persetujuan darimu sebelum melangkah lebih jauh," ungkap Naga.
"Kenapa dihentikan, lanjutkan saja Kak. Jika pabrik itu berdiri, kan bagus untuk warga sekitar, bisa menyerap tenaga kerja. Dan lagi jika pabrik itu sudah selesai pembangunannya, aku ingin Paman Kobar bekerja di sana. Sebagai pengawas pabrik juga tidak masalah," usul Zila antusias.
"Benarkah?"
"Aku percayakan tanah itu pengelolaannya pada tangan Kak Naga, aku hanya pemilik tanahnya. Sukur-sukur tanah itu bisa membawa manfaat pada warga setempat, aku senang," ujar Zila akhirnya memutuskan sembari tersenyum. Naga ikut senang. Dia berjanji akan mengelola tanah itu sebaik-baiknya demi kepercayaan yang telah diberikan Zila.
__ADS_1
Ketika Zila dan Nada mengakhiri obrolan perihal tanah milik Zila di Kampung Sukaseri, tidak lama dari itu HP Naga berdering, Naga melihat siapa gerangan yang menghubunginya. Rupanya orang kepercayaan Naga di perusahaannya yang berada di Surabaya menghubungi. Sejenak Naga mengerutkan kening, ada hal penting apa orang kepercayaannya yang di Surabaya menghubunginya?
Naga segera mengangkat panggilan itu dengan perasaan yang sedikit bimbang, sebab setahunya perusahaan yang berada di Surabaya selama ini baik-baik saja.
Naga bangkit dan mengangkat Hpnya. Dalam pembicaraannya itu sepertinya ada hal mendesak yang harus ditangani langsung oleh Naga sendiri di sana. Mau tidak mau akhirnya Naga terpaksa harus ke Surabaya hari ini juga.
"Sayang, aku mohon maaf, hari ini kita tidak bisa pindah ke apartemen. Aku harus ke Surabaya dalam waktu yang agak lama. Perusahaan di Surabaya sedang membutuhkan kehadiran aku. Pihak klien dari perusahaan lain tidak mau menandatangani kerjasama jika bukan aku yang menghadirinya langsung. Aku mohon maaf harus membatalkan rencana kita," ujar Naga memberitahu hal yang sebenarnya terjadi di Surabaya sehingga dia harus datang ke sana.
Sejenak Zila tertegun, dia nampak sedih akan ditinggal Naga ke Surabaya. Seandainya kondisinya tidak sedang hamil muda, maka Zila bisa saja minta ikut.
"Hanya lima hari. Aku terpaksa, Sayang. Kamu bersabar ya. Tinggal di sini di rumah Mama dan Papa dulu. Mereka akan menjagamu, aku yakin." Naga masih membujuk Zila supaya dia tidak sedih karena harus ditinggalkan ke Surabaya.
Walaupun sedih, Zila akhirnya mengangguk dan mengijinkan Naga untuk ke Surabaya. Sebelum Naga pergi Zila memeluk erat Naga seperti tidak ingin ditinggalkan. Namun, Naga memang harus pergi sebab ini semua demi keberlangsungan perusahaan yang di Surabaya.
"Jangan sedih, aku hanya sebentar," ujarnya seraya mengecup kening Zila sesaat sebelum Naga benar-benar pergi.
"Kak Naga, nanti sering hubungi aku, ya!" pinta Zila penuh harap. Naga mengangguk. Naga berpamitan pada kedua orang tuanya tidak lupa menitipkan Zila pada mereka. Setelah itu Naga pergi menaiki mobil yang disupiri Pak Wawan menuju Bandara Husen Sastranegara seraya melambaikan tangan.
__ADS_1
Setelah Naga pergi, Zila duduk sendirian di taman depan. Dia sepertinya belum mau beranjak ke dalam rumah setelah tadi menolak diajak Bu Hilsa masuk dengan alasan masih ingin menghirup udara segar di taman.
Namun sepertinya Zila terpaksa harus masuk ke dalam karena hari tiba-tiba mendung seperti mau hujan, padahal dia masih ingin menikmati indahnya taman. Sepertinya untuk menghilangkan rasa sedih karena ditinggal Naga pergi, Zila harus ke ruang keluarga. Ruang keluarga yang terhubung langsung dengan taman, dia bisa menikmati keindahan taman tanpa harus menahan dinginnya angin atau derasnya hujan.
Zila berjalan menuju ruang keluarga melewati ruang tamu dan ruang tengah yang sudah sepi. Bu Hilsa dan Pak Hasri sudah tidak ada di sana, dan suasana pun nampak sepi. Zila mempercepat langkahnya untuk mencapai ruang keluarga. Sedikit lagi menuju ruang keluarga Zila terhenyak sebab di sana ada dua insan yang sedang duduk sangat berdekatan. Tidak salah lagi mereka adalah Nagi dan Hilda.
Sebetulnya Zila ingin ke sana tanpa bermaksud mengganggu mereka. Namun saat kakinya mau melangkah, adegan duduk berdekatan tadi kini berubah menjadi adegan yang sangat intim. Mereka kembali kepergok berciuman. Kali ini sepertinya keduanya suka sama suka. Dilihatnya Hilda mengalungkan kedua tangannya di pinggang Nagi sementara Nagi menekan tengkuk Hilda saling berpagut.
"Mereka ini sangat kurang ajar, Kak Nagi juga mau-maunya merusak saudara sendiri. Aku harus mencegahnya sebelum hal lain terjadi pada mereka," tekadnya penuh emosi. Zila melangkahkan kakinya dan akan mengejutkan mereka berdua supaya tuntas adegan mesumnya.
Tanpa mereka sadari Zila semakin dekat dan kini berdiri di samping mereka yang kasmaran.
"Meskipun Kak Nagi tidak mencintai aku, aku akan memaksa untuk dicintai Kak Nagi," ucap Hilda seraya kembali mencium bibir Nagi yang sama-sama diliputi kabut asmara.
"Eh, eh, apa-apaan kalian ini. Hilda, hentikan! Jangan jadi murahan kamu. Kamu ini seorang cewek yang terhormat, kenapa menjadi budak sekk di hadapan lelaki yang seharusnya menjadi pelindung kamu sebagai saudara sepupunya," cegah Zila mengejutkan mereka berdua.
Hilda dan Nagi sangat terkejut, mereka membenarkan posisi duduknya seperti semula, lalu menatap Zila dengan cemas.
Bersambung....
__ADS_1