Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Musim 3 Nagi dan Hilda #Hasil Tes DNA


__ADS_3

     "Positif, 99 persen Nagi adalah anak dari lelaki itu," ucap Pak Hasri seraya menatap lesu ke arah istrinya. Bu Hilsa nampak terkejut, wajahnya mendongak melihat ke arah suaminya dengan tatapan lesu juga.


     "Mama tadinya berharap hasil tes DNA ini 100 persen anak dari Harsya, supaya Harsya menyesal telah bersikap tidak adil pada Nagi. Tapi ternyata hasilnya tidak sesuai harapan Mama," balas Bu Hilsa lemah.


     "Kasihan Nagi, anak itu tidak salah apa-apa. Kita sebagai orang tua yang sudah menyayanginya tidak sepantasnya membenci hanya gara-gara hasil tes DNA ini. Kasih sayang Papa terhadap Nagi tidak akan berubah. Papa tetap sayang sama Nagi, dia anak yang baik dan selalu nurut sama kita," ujar Pak Hasri lagi dengan mata yang berkaca-kaca.


     "Mama juga sama, Pah. Mama tidak akan berubah menyayangi Nagi seperti Mama menyayangi Hilda dan Naga. Dia anak yang baik dan selalu membanggakan, sama membanggakannya seperti Naga." Bu Hilsa mengungkapkan semua perasaannya tentang seperti apa Nagi.


     "Setela semua ini terungkap dan kita tahu Nagi sebetulnya darah daging siapa, apakah Mama akan tetap merestui Nagi meminang anak kita?" tanya Pak Hasri meminta pendapat istrinya.


     "Mama menyerahkan semua keputusan pada Hilda, Pah. Meskipun Nagi bukan darah daging Harsya kalau Nagi memang mencintai Hilda dan Hilda juga menerima Nagi apa adanya, Mama tidak bisa menghalangi mereka. Justru jika dihalangi, Mama takutnya terjadi hal lain yang lebih menyakitkan baik Hilda maupun Nagi. Biarkan saja mereka memilih apa yang diinginkannya asal semuanya baik untuk mereka," putus Bu Hilsa bijak.


     "Papa juga setuju dengan Mama. Biarkan mereka memilih apa yang mereka inginkan asal baik buat mereka," ujar Pak Hasri sepakat dengan apa yang diputuskan istrinya.


     "Gubrak." Pak Hasri dan Bu Hilsa tiba-tiba tersentak saat mendengar bunyi sebuah benda jatuh, seperti sebuah pot bunga di samping ruangan kerja milik Pak Hasri. Pot bunga dari ukiran tanah yang sengaja diletak di sana dan ditanami bunga Sanseviera.


     Pak Hasri dan Bu Hilsa saling tatap heran, lalu dengan cepat Pak Hasri menyimpan hasil tes DNA milik Nagi ke dalam laci meja kerjanya.


     "Jangan-jangan?" duga Bu Hilsa setelah melihat keluar ruangan yang didapatinya ternyata pot bunga dari tanah liat itu sudah pecah dan tanahnya berserakan tumpah.


     Pak Hasri terkejut, hatinya risau jika yang mendengar percakapan dengan istrinya tadi adalah Nagi. Tapi beberapa saat kemudian Pak hasri bisa mengendalikan kegelisahan dan ketakutannya, sebab lama kelamaan hal itu akan diketahui juga oleh nagi.


     "Tidak apa-apa, Ma. Lama-kelamaan Nagi juga akan tahu. Dan itu semua tidak akan merubah keputusan Papa untuk tetap menyayangi Nagi seperti Papa menyayangi Hilda dan Naga." Bu Hilsa setuju dengan apa yang diucapkan suaminya yang sangat bijak itu.


     Bu Hilsa menghampiri suaminya lalu memeluk erat lelaki yang sangat bijak dan penuh kasih sayang itu. Rasa cintanya pada Pak Hasri semakin melimpah sebab Pak Hasri selalu memupuk cintanya dengan sebuah ketulusan dan kejujuran.

__ADS_1


     "Mama semakin cinta dengan Papa. Mama jadi kangen masa-masa muda kita," ungkap Bu Hilsa seraya mencium pipi suaminya dengan lembut. Pak Hasri membalas Bu Hilsa dengan usapan kasih sayang yang tidak pernah pupus untuk sang istri.


**


     "Kak Nagi, dari mana saja Kakak? Sejak tadi aku mencari. Ini saatnya makan, ayo makan!" ujar Hilda saat menemukan Nagi tengah berjalan tergesa menuju kamarnya. Hilda menenteng sebuah baki yang isinya nasi tim dan sayur sop bola daging dengan minumannya jus jambu merah kesukaan Nagi. Semua makanan itu biasanya menggiurkan Nagi.


     "Ayo, duduklah," titah Hilda sembari meletakkan baki itu di atas meja makan yang berada di lantai atas. Hilda mendekatkan kursinya dengan Nagi, lalu meraih mangkuk yang berisi nasi tim dan sayur sop bola daging ke arahnya.


     "Ayo, Kak Nagi harus makan dulu," suh Hilda seraya mendekatkan sendok yang kini sudah berisi suapan nasi tim. Namun Nagi menghindar. Hilda geleng-geleng kepala dengan sikap Nagi yang ogah-ogahan makan.


     "Kak Nagi, kalau Kakak tidak makan, Kakak akan lapar. Atau mungkin Kakak mau makan di luar dan bukan mau makan ini, biar aku antar kemana Kak Nagi akan makan," bujuk Hilda berharap Nagi mau makan setelah dirayunya.


     Nagi tidak menjawab, dia diam seribu bahasa. Pembicaraan Mama Hilsa dan Papa Hasri di ruangan kerjanya tadi masih terngiang-ngiang, ternyata benar dirinya bukan anak kandung atau darah daging dari Papa Harsya. Meskipun dengan jelas Nagi mendengar hal yang sangat menyentuh hatinya tentang kasih sayang kedua orang tua tu yang memang sejak dulu tidak diragukan memang begitu tulus menyayanginya.


     "Nagi tahu kalian sayang sama Nagi tulus, Nagi sangat terharu dan berterimakasih sama Mama dan Papa. Mama dan Papa memang orng tua yang sangat bijak dan baik. Nagi bangga memiliki kalian," ucap batin Nagi haru, mata Nagi kini mulai berkaca-kaca.


     "Kenapa Kak Nagi sepertinya sedih, Kak nagi memikirkan apa? Ayo katakan! Kak Nagi jangan banyak pikiran yang tidak-tidak dulu, bukankah sebentar lagi kita akan menikah, aku sudah tidak sabar ingin segera dimiliki Kak Nagi." Mendengar itu Nagi mendadak berubah berang, matanya menjadi terlihat galak. Nagi berjingkat dan berlari menuju kamarnya. Hilda heran lalu menyusul Nagi ke sana.


     "Kak Nagi, kita belum selesai makan. Ayo, makan dulu."


     Nagi tidak perduli dengan apa yang dikatakan Hilda, tiba-tiba dia terlihat sibuk dengan memasukkan barang-barangnya ke koper.


     "Kak Nagi apa-apaan? Kak Nagi mau kemana?" heran Hilda yang melihat Nagi membereskan barang-barang miliknya ke dalam sebuah koper.


     "Kak Nagi, jangan masukkan lagi. Apakah Kak Nagi mau pergi? Kak Nagi belum sembuh benar, Kak Nagi tidak boleh pergi," halang Hilda sembari meraih koper yang Nagi masukkan barang-barang miliknya.

__ADS_1


     Nagi tiba-tiba berdiri dan meraih Hilda lalu menghempas tubuh Hilda ke ranjang. Hilda tersentak dan terhempas di atas ranjang, dia kaget dengan perubahan Nagi yang menjadi beringas.


     Hilda segera bangkit dan berdiri melihat Nagi heran. "Ada apa dengan Kak Nagi, apa yang Kak Nagi rasakan, kenapa Kak Nagi hempaskan aku begitu kasar?" Hilda bertanya dengan penuh penasaran.


     "Katakan, ada apa dengan Kak Nagi? Kenapa Kak Nagi seperti ingin pergi?"


     "Aku memang harus pergi, tempatku memang bukan di sini," tegasnya.


     "Ada apa dengan Kak Nagi, Kak Nagi tidak boleh pergi, Kak Nagi belum sembuh betul."


     "Aku tidak sakit dan aku tidak gila," tangkis Nagi berang.


     "Kak Nagi memang tidak gila, tapi Kak Nagi belum boleh pergi, luka Kak Nagi bekas benturan kemarin masih menyisakan sakit." Hilda berusaha menghalangi Nagi dengan memeluk Nagi secepat kilat.


     "Aku mencintai Kak Nagi. Jadi Kak Nagi jangan pergi begitu saja. Aku tidak mau berpisah lagi dengan Kaka Nagi, jika Kakak pergi maka statusnya harus sudah berubah yaitu menjadi suami aku," tegas Hilda tidak melepaskan pelukannya.


     "Tidak, itu tidak mungkin," sangkal Nagi seraya menepis tubuh Hilda.


     "Kenapa tidak mungkin? Aku mencintai Kakak," tegas Hilda.


     "Sebab, aku hanyalah anak dari laki-laki bajingan itu. Aku bukan anak Papa Harsya yang aku duga selama ini," jawab Nagi telak membuat Hilda tersentak dengan sebuah pengakuan yang baru saja didengarnya.


     Sejenak Hilda menatap kaget, dari mana Nagi mendapat kabar bahwa dirinya bukan darah daging Papa Harsya melainkan darah daging lelaki lain yang disebut sebagai laki-laki bajingan itu?


     "Tidak. Walaupun Kak Nagi darah daging siapapun aku tidak peduli, aku tetap mencintai Kak Nagi. Aku tidak peduli. Ayo, kita segera menikah, kita halalkan hubungan kita. Aku tidak mau Kak nagi pergi lagi. Dan aku tidak akan membuat Kak Nagi terpuruk dan sendiri memikul beban yang Kak Nagi derita," tegas Hilda berapi-api. Semua perdebatan Hilda dan Nagi di kamar itu dilihat jelas oleh Papa dan Mama Hilsa, Naga serta Zila yang kebetulan sudah berada di rumah kedua orang tuanya Naga.

__ADS_1


     "Jadi, Nagi sudah tahu siapa dirinya sebenarnya?" kejut Naga tidak percaya.


__ADS_2