
Hilda berpamitan dari apartemen Naga. Bersamaan dengan itu suara Hpnya berbunyi. Panggilan WA masuk dari seseorang membuyarkan fokusnya. Hilda segera melihat siapa yang menghubunginya. "Kak Hadi?"
{Assalamualaikum, kamu sedang di mana, Hil?"}
{"Kenapa kamu menghubungi?"}
{"Apakah kamu lupa janji kita, bukankah kamu mau mengerjakan tugas dari Dosen kamu tentang laporan sebuah instansi?"}
{"Ya ampun, aku lupa, Kak. Bukankah bahan wawancaranya masih di Kak Hadi, bukan?"}
{"Memangnya kamu tadi tidak menerimanya dari pembantu kamu, mapnya sudah aku titip dan aku suruh kasih ke kamu?"}
{"Owhhhh, sepertinya aku tadi lupa ambil di meja di dalam kamar aku. Lalu bagaiman sekarang, Kak? Apakah masih bisa?"}
{"Kapanpun bisa kalau kamu maunya kapan, tapi saat ini mungpung aku siap menemani kamu untuk wawancara, sebab aku sedang banyak waktu luang saat ini."}
{"Ok, aku pulang dulu ke rumah ambil mapnya dan nanti balik lagi di tempat biasa, ya, Kak. Terimakasih Kak bantuannya."}
Sambungan telpon itu berakhir, ada senyuman terukir di wajah lelaki tampan, berambut cepak dengan tubuh tegap itu. Dia senang bisa membantu Hilda gadis muda yang saat itu sempat kena tilang karena dia berhasil menerobos jalan yang forbidden. Perkenalanpun berlanjut sampai sekarang, seringkali ***Hadi*** yang berprofesi sebagai Polisi menawarkan bantuannya pada Hilda. Dan kebetulan saat ini Hilda mendapat tugas kampus dari Dosennya untuk membuat sebuah laporan dari sebuah instansi. Kebetulan Hadi bekerja di sebuah instansi kepolisian, jadi menurutnya buat apa Hilda jauh-jauh mencari tugas ke instansi lain kalau dirinya juga bekerja di salah satu instansi?
Setelah dibujuk, akhirnya Hilda mau menerima tawaran Hadi yang bersedia membantunya dalam wawancara di instansinya bekerja, terlebih Hadi memang menyukai Hilda, jadi dia bersedia membantu Hilda berharap apa yang dilakukannya mendapat simpatik dari Hilda.
Hilda melajukan kembali motornya menuju rumah, dengan tergesa Hilda masuk rumah dan langsung menuju kamar. Map itu teronggok di atas meja rias, lalu setelah map itu ketemu, dia segera turun dan kembali pergi meninggalkan rumah.
Hilda melajukan motornya ke sebuah tempat yang dijanjikan Hadi dan dirinya. Di depan kafe bernuansa warna coklat Hilda menghentikan motornya. Dia menuruni motor, lalu masuk ke dalam kafe itu.
__ADS_1
Di dalam kafe Hilda sudah disambut oleh senyuman seorang pria tampan berambut cepak, dialah Hadi. "Sudah lama, Kak?" Hilda menyapa lalu duduk berhadapan dengan lelaki tampan itu.
"Bagaimana, apakah kamu mau aku antar sekarang saja ke kantor? Lagipula di jam istirahat ini enak, tidak terlalu banyak orang, dan melakukan wawancara pun bakalan santai tidak buru-buru," usul Hadi dengan senyuman yang terus terukir di wajahnya. Tanpa pikir panjang Hilda menerima usulan Hadi. Mereka berdua menuruni kafe menuju parkiran motor.
Sejak saat itu Hilda dan Hadi sering terlibat kebersamaan. Dan sepertinya Hadi menyukai Hilda. Untuk itu Hadi yang memang menaruh hati pada Hilda, senang sekali jika dia membantu Hilda, berharap Hilda bersimpatik kepadanya.
"Makasih, ya, Kak sudah membantu aku. Ini entah yang ke berapa kali Kak Hadi bantu aku dalam setiap tugas luar kampus," ujarnya berterimakasih. Hadi tersenyum gembira menyambut ucapan terima kasih Hilda.
"Ayo,kita masuk dulu." Hadi mengajak Hilda masuk kafe untuk membeli sebuah minuman. Tadinya Hilda ingin menolak, tapi berhubung tidak enak untuk menolak karena Hadi sudah banyak menolongnya, akhirnya Hilda mau masuk kafe.
"Hil, sudah kurang lebih dua tahun kita bersama, aku merasa sangat bahagia bisa mengenal kamu. Dan sejak kamu hadir dalam hidupku, aku merasa hidupku lengkap. Tingkah dan semua gerak-gerikmu selalu memenuhi isi pikiranku," ungkapnya seolah sedang mengungkapkan isi hatinya. Hilda tidak tahu apa yang dilakukan Hadi adalah ungkapan isi hatinya sebagai pernyataan rasa suka padanya.
Hilda yang tidak fokus, terlihat membuka Hpnya dan melihat WA dari kiriman Zila yang mengundangnya dalam acara ulang tahun Syakala Regana keponakan kesayangannya. Walaupun Hilda terlihat cuek-cuek saja tapi dia sangat menyayangi Syakala.
"Ok, nanti Onty datang, ya, bawa kado spesial buat adik Syaka." Hilda mengirimkan balasan pesan WAnya pada Zila.
"Siapa, sepertinya kamu sedang fokus baca WA?" Hadi menegur dengan wajah yang kecewa, sebab sejak tadi dia berbicara banyak, tapi tidak mendapat respon apa-apa dari Hilda.
__ADS_1
"Ini, Kakak ipar aku mengundang aku dalam acara ulang tahun anaknya nanti malam," ujar Hilda seraya menyimpan kembali Hpnya di dalam tas.
"Jangan khawatir, nanti aku yang antar kamu memilihkan kado untuk keponakan kamu, aku tahu toko mainan yang lengkap untuk dipakai sebuah kado," ujar Hadi bersemangat. Hilda tersenyum, padahal dia tidak meminta bantuan, tapi Hadi selalu menawarkan bantuan.
"Terimakasih, Kak, tapi kayaknya malam ini aku tidak perlu diantar siapapun untuk membeli kado, sebab aku mau memilih kado sesuai selera aku," tolak Hilda halus, lagipula untuk kali ini Hilda tidak mau diantar siapapun untuk membeli kado. Dia hilang mood saat ini selalu dibersamai lelaki tampan di depannya, entah kenapa.
"Ok, deh Kak, sebaiknya aku pulang, ya. Ini hampir mau sore." Hilda buru-buru meminum jus jambu yang dipesankan Hadi untuknya tadi. "Aku balik, ya, Kak. Makasih untuk hari ini," ucapnya sekali lagi sembari menuruni kafe menuju parkiran.
Hilda menaiki motor dan melajukan motornya menuju rumah. Saat ini hatinya tiba-tiba dilanda rindu kepada Nagi. Saat berama Hadi dan ketawa bersama, setiap itulah wajah Nagi selalu melayang-layang dalam ingatannya.
Tiba di depan rumah, Hilda sudah dicegat oleh Bi Rana sembari memberikan sebuah kotak paket yang entah dari siapa pengirimnya. "Jangan-jangan paket teror, Bi. Aku takut kena paket teror seperti yang terjadi pada Zila dua tahun yang lalu," ucap Hilda merinding.
"Ini sepertinya bukan, Non. Coba saja buka di sini sama-sama Bibi." Hilda termenung memikirkan usul Bi Rana. Tapi dengan cepat dia menggeleng, bagaimanapun dia akan membuka kado itu sendiri di dalam kamar, karena Hilda bukanlah seorang penakut.
"Tidaklah, Bi, biar aku buka saja nanti di kamar." Hilda segera masuk kamar dan tidak sabar membuka kado misterius itu segera. Setelah di dalam kamar, Hilda menutup pintu dengan cepat lalu menguncinya. Hilda mulai mencari gunting untuk membuka bungkus kado yang indah itu.
Helaian demi helaian bungkus kado itu dia buka sampai Hilda merasa lelah, sebab isi dari kado itu dalamnya hanya bungkus kado dibungkus kotak kado lagi membuat dia kesal. Hilda berhenti sejenak, lalu melanjutkan kembali membuka bungkus kado itu. Dengan hati yang dipaksa sabar, Hilda masih sabar membuka kembali kotak kado itu, sehingga bungkusan terakhir Hilda sangat terkejut, ternyata di dalamnya ada sebuah kotak perhiasan kecil. Hilda penasaran apakah isi dari kotak kecil perhiasan itu. Jantungnya semakin berpacu saat dia mencoba membuka kotak itu.
__ADS_1
Dan isinya sangat mengejutkan ....dari siapakah kado perhiasan kecil itu? Dan apa sebenarnya isi dari kotak perhiasan itu?