
Beberapa jam kemudian, pesawat jurusan Kuala Namu- Bandung sudah mendarat dengan selamat. Nagi segera mencari taksi menuju sebuah danau yang kini sedang di jumpai Hilda. Hilda kesana, dan semua aktivitasnya masih terpantau lewat Hpnya.
"Tunggu aku, Sayang." Di dalam taksi, Nagi mencoba menghubungi Hilda. Namun Hilda tidak mengangkatnya. Malah Nagi melihat pemandangan yang membuatnya kesal, Hilda justru bersama seseorang.
"Sialan, apakah Hilda tadi janjian bersama laki-laki cepak itu?" dumel Nagi kecewa.
"Pak, jalankan taksinya dengan cepat, ini jalanan tidak macet bukan?" suruh Nagi sedikit kesal.
"Baik, Mas." Supir taksi itu segera mengebut mobilnya dengan cepat ke alamat yang Nagi sebutkan. Tidak lama dari itu taksi sampai di alamat yang dimaksud. Sebuah danau yang ramai dijumpai anak-anak muda berpasangan.
Nagi mencari Hilda ke bibir danau dan menyusurinya. Namun, apa yang dia cari belum ketemu. "Dimana Hilda ini, beraninya dia janjian dengan lelaki itu," kesalnya seraya masih tidak menyerah mencari Hilda.
"Ah, itu rupanya." Nagi menghampiri dua orang yang sedang duduk bersebelahan.
"Sedang apa Kak Hadi di sini?" Nagi sengaja mendengarkan apa yang dibicarakan Hilda dan lelaki cepak itu.
"Kami sedang patroli dan membantu polair mencari korba bunuh diri karena patah hati. Kemarin sore kejadiannya. Namun sampai saat ini korban belum ketemu jasadnya," ungkap Hadi menceritakan keberadaan dia di danau ini yang ternyata tidak sendiri.
Hilda terhenyak saat mendengar ucapan Hadi barusan. Kepergiannya ke danau ini diiringi niat yang sedikit nekad saking putus asa menunggu Nagi yang tidak kunjung datang.
"Hilda, kamu ke danau ini untuk apa, kamu sendirian? Jangan sampai kamu nekad dan melakukan hal diluar nalar, itu sangat berdosa. Kamu sedang janjian dengan seseorang, bukan?" tanya Hadi penasaran dan mulai curiga dengan Hilda yang terlihat murung sejak dia temui tidak sengaja tadi.
"Tidak, aku tidak sedang ...."
"Dia sedang menungguku di sini, dan aku baru datang. Ayo sayang, kita pergi dari sini, aku sudah datang," ajak Nagi tiba-tiba. Hilda terkejut begitupun Hadi. Hilda terus ditarik oleh Nagi menuju parkiran.
"Mana mobilmu?" tanya Nagi, Hilda tidak menyahut dia hanya menunjuk dengan tangannya. Nagi segera menuju mobil Hilda dan segera memasukkan Hilda ke dalam, lalu dia juga masuk kemudian melajukan mobilnya menuju kawasan Soekarno Hatta, dimana apartemennya berada.
Nagi menjalankan mobil Hilda menuju apartemennya. Hilda sudah tahu kemana arah jalan ini. Dia tidak bicara apapun, Hilda merasa kesal dengan Nagi yang baru muncul ketika hatinya sedang putus asa.
Satu jam kemudian, mobil Hilda sampai di apartemen Nagi. Nagi turun duluan, kemudian dia memutar dan membukakan pintu mobil untuk Hilda.
"Ayo turun," ajaknya menarik lengan Hilda. Hilda mengikuti kemana Nagi menariknya.
"Masuklah," suruh Nagi setelah pintu unitnya terbuka seiring bunyi klik terdengar. Hilda masuk, kakinya terhenti di muka pintu. Nagi tidak heran, dia tahu Hilda marah. Padahal sebetulnya dia yang marah.
"Ayo." Nagi mengangkat tubuh Hilda menuju kamarnya. Hilda terkejut lalu berteriak.
"Kak Nagi, apa-apaan?" kejut Hilda seraya memeluk salah satu tangan Nagi. Nagi melempar tubuh Hilda ke atas ranjang, Hilda terkejut, dia segera bangkit dan duduk di atas ranjang.
__ADS_1
"Kenapa kamu bangkit, bukankah kamu rindu aku?" Nagi memeluk tubuh Hilda lalu menciumnya gemas sehingga tubuh Hilda terjatuh ke atas ranjang.
"Kak Nagi, lepaskan! Kenapa setelah aku putus asa Kak Nagi baru datang?" dengus Hilda kesal sambil bergerak-gerak karena tubuhnya yang dihimpit Nagi. Nagi tersenyum dia senang melihat Hilda kesal, lalu dengan cepat Nagi memagut bibir Hilda supaya Hilda tidak lagi berkata-kata. Hilda sebentar berontak sembari memukul-mukul punggung Nagi. Namun karena tubuh Nagi yang berat, akhirnya Hilda membalas ciuman itu. Mereka terlena dan menumpahkan semua rindu yang ada.
"Kapan Kak Nagi mau melamar aku? Menyingkirlah dulu, tubuh Kakak berat. Lagi pula aku tidak mau melakukan itu dulu sebelum Kak Nagi melamar aku. Ayolah, kalau Kak Nagi sudah tidak kuat segera lamar aku," desak Hilda tidak sabar.
Beruntung setelah ciuman panas tadi, Hilda berusaha berontak, kalau tidak jebol sudah hari itu kesucian Hilda. "Kenapa kamu menolak?" ucapnya seraya memeluk tubuh Hilda dan menciumi rambutnya yang wangi.
"Aku tidak mau, Kak Nagi sama bajingannya dengan Papa biologis Kak Nagi. Aku tidak ingin Kak Nagi sama seperti itu. Aku hanya ingin Kak Nagi menikmatinya saat malam pertama kita setelah ijab qabul."
"Tapi, barusan kita hampir saja. Lagipula aku sudah melihat semua kemolekan tubuh kamu di kamera Hpku."
"Iya, kita sudah salah. Aku tidak ingin Kak Nagi tidak spesial lagi saat menikmatiku di malam pertama," sergahnya.
"Baiklah, aku mengalah. Ya sudah bangkitlah. Sebaiknya kita cari makan saja dan mengantar kamu pulang. Besok bersiaplah aku akan melamarmu. Dan sebulan kemudian kita akan benar-benar menikah," tegas Nagi seraya mencubit hidung Hilda.
Mereka berdua bangkit lalu segera bersiap keluar dari apartemen Nagi.
Besoknya sesuai yang diucapkan Nagi. Nagi datang ke rumah Papa dan Mama Hilsa untuk melamar Hilda. Semua seperti sudah diberi jalannya. Acara lamaran itu berjalan lancar.
"Maukah kamu jadi istriku, Hilda Putri Regana?" Nagi bersimpuh sembari mengulurkan sebuah cincin ke hadapan Hilda. Hilda terharu, matanya berkaca-kaca. Dia sangat terharu, sebab sudah sekian lama dia mencintai Nagi sejak usianya menginjak 15 tahun.
Semua yang berada di kediaman Papa dan Mama Hilsa ikut senang dan bersorak bahagia.
"Ok, setelah acara lamaran ini kalian tidak boleh bertemu. Dan Mama yang akan mengawasi Hilda, jika kalian melanggarnya maka Mama akan menghukum kalian. Sekarang kalian masing-masing persiapkan diri kalain, lengkapi persyaratan ke RT maupun ke RT," peringat Bu Hilsa tegas, dia tidak mau mendekati acara pernikahan Hilda bolong duluan oleh Nagi. Sebab mereka terlihat sudah sama-sama ngebet.
Hilda manyun dengan keputusan Mamanya, padahal jangan sampai dipingit, bukankah untuk fitting baju harus ketemuan dan dilaksanakan bersama-sama.
"Ma, lalu gimana kita mau fitting baju sama foto prewed?" protes Hilda geregetan.
"Aduh sayang, foto prewed itu tidak penting, kalau Mama membiarkan kalian prewed, sama saja Mama membiarkan kalian saling grapa *****, pegang sana pegang sini. Apalagi kalian ini sudah sangat pintar, Mama tidak ingin kalian kebablasan," cegah Bu Hilsa menolak keras.
"Tapi, Ma, kalau fitting baju kan harus berdua, masa kita tidak ada fitting baju? Nanti bagaimana jika baju pengantinnya kedodoran atau kekecilan?" protes Hilda lagi manyun.
"Sudah, jangan protes lagi. Fitting baju bisa datang sendiri-sendiri. Atau saat fitting baju kalian bisa datang asalkan Mama menyertai kamu," sela Mama Hilsa masih tetap punya solusi untuk tidak membiarkan Nagi dan Hilda bertemu secara berduaan.
Akhirnya keputusan yang terpaksa disepakati itu diambil. Walaupun Hilda protes, tapi tetap keputusan ada di tangan Mama Hilsa.
Akhirnya setelah seminggu berpisah dan hanya bertemu di vidio call, Hilda dan Nagi dipertemukan dalam sebuah fitting baju pengantin. Mereka mengambil gaun pengantin secara nasional tidak ambil secara gaun adat tertentu. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh keduanya untuk curi-curi pertemuan. Namun alangkah susahnya.
__ADS_1
Hilda dan Nagi hanya bisa tatap dari jarak dua meter, padahal mereka sudah sangat rindu dan ingin saling memegang tangan. "Boleh ya, Ma, pegangan tangan sebentar saja. Aku kangen sama Kak Nagi, sebentar saja, please," mohon Hilda menangkupkan kedua tangannya di dada.
Mama Hilsa tetap tidak membolehkan. Namun bukan Hilda dan Nagi namanya kalau tidak bisa cari akal.
"Om Damar, ajak Mama ke dalam dulu, tunjukin apa, kek. Aku sama calon suami aku mau bicara sebentar. Kami ada hal yang ingin disampaikan. Tolong, ya, Om," mohon Hilda pada Om Damar sang pemilik Butik Damarasyantik.
"Ok, nanti Om bujuk Mamanya Non Hilda," ucap Om Damar setuju, lalu dia segera melancarkan bujukannya pada Mama Hilsa.
"Nyonya sebetulnya ada gaun nasional lain yang lebih glamour, apakah Anda ingin melihatnya, siapa tahu ini jadi referensi untuk Anda?" bujuk Om Damar menawarkan gaun nasional lain yang lebih glamor dari yang dipilihkan pertama.
"Boleh, mari kita lihat," serunya setuju.
"Biarkan anak-anak mencoba dulu gaunnya apakah cocok atau tidak," ujar Om Damar seraya mempersilahkan Mama Hilsa ke dalam.
Hal ini disoraki Nagi dan Hilda, mereka segera ke ruangan fitting dengan arahan seorang Designer. "Ayo, Kak, kita masuk samaan saja ke ruangan fitting." Nagi dan Hilda masuk ke ruangan fitting dengan membawa gaunnya masing-masing.
"Ayo, Kak, bantu pakaikan gaunnya," ujar Hilda. Nagi dengan cepat memepet tubuh Hilda di dalam ruangan fitting sana. Dan mereka saling menumpahkan kerinduan di sana. Tangan Hilda melingkar di pinggang Nagi semakin merapatkan tubuhnya, sementara Nagi meraih tengkuk Hilda merapatkan ciumannya.
Keduanya lupa mencoba gaun pengantinnya, padahal diluar sana sang Designer sudah menunggu keduanya keluar.
"Sayang aku kangen banget, bagaimana kalau nanti malam kita makan malam sembunyi-sembunyi?" Nagi melepaskan sejenak pagutannya.
"Bagaimana caranya, Kak?" Hilda ingin, tapi tidak tahu caranya untuk bertemu dan makan malam bersama. Belum sampai mereka menemukan cara untuk bertemu nanti malam, suara Mama Hilsa sudah terdengar mendekat.
"Saya akan membandingkan gaun yang anak saya coba hari ini, kalau Hilda suka yang ini, maka gaunnya bisa diganti."
"Biarkan saja," Nagi tidak mempedulikan Mama Hilsa yang semakin mendekat, mereka semakin menggila dengan pagutan yang semakin liar dengan tangan kemana-mana.
"Sudah, nanti lagi. Yang ini buat malam pertama kita," cegahnya saat tangan Nagi mulai nakal.
"Aku masih kangen, sayang, cupppp." Ciuman itu masih Nagi labuhkan sampai bibir Hilda hilang lipstiknya.
"Hilda, ayo keluarlah. Mama ingin lihat bagaimana hasilnya," teriak Mama Hilsa mengagetkan Hilda dan Nagi, sementara Nagi an Hilda belum sama sekali menggunakan gaun itu. Mereka akhirnya kalang kabut.
"Ayo, Kak, bantu pakaikan," pinta Hilda.
"Iya, Maaa. Aku sedang pakai gaunnya," sahut Hilda dari dalam.
"
__ADS_1