
Nagi tiba di Bandara Husen Sastranegara tepat pukul 9.00 pagi. Perjalanan udaranya sebentar lagi akan segera tiba. Sementara ini Nagi sedang menunggu di ruang tunggu keberangkatan. Hatinya dilema, jika ia meninggalkan kota Bandung maka ada hati yang harus dia tinggalkan dulu untuk sementara. Namun jika dia tidak segera pulang ke Medan, maka Nagi khawatir terjadi apa-apa dengan Ibu Harumi, sebab tidak seperti biasanya Ibunya menghubunginya tiba-tiba tanpa menjelaskan ada masalah apa. Nagi berharap tidak ada hal yang mengkhawatirkan tentang Ibunya.
"Ada apa sih, Bu, tiba-tiba menghubungi Nagi, padahal baru saja beberapa hari Nagi ke Bandung? Memantau tempat untuk mendirikan pabrik kapas di Bandung saja belum sempat." Nagi bertanya-tanya di dalam hatinya tentang ada hal apa Ibunya tiba-tiba menghubunginya.
Suara operator bandara terdengar nyaring, memberitahukan bahwa pesawat tujuan Medan Kuala Namu akan segera berangkat, para penumpangnya dihimbau segera menuju pesawat. Nagi mendesah berat, kakinya seperti ingin ditahan di sana di ruang tunggu bandara berharap seseorang menghentikannya seperti di film-film. Namun sayangnya bayangan itu tidak mungkin terjadi, sebab hilda yang diharapkannya tidak mungkin muncul.
"Kalau ada jodoh, pasti hati Kak Nagi akan tergerak dan akan kembali ke kota kelahiran tercinta ini, kamu harus jadi milikku, De," tekadnya sedih. Hatinya mendadak sangat melow mengingat hari ini akan jauh kembali bersama Hilda.
Nagi menyeret koper bersama iringan langkah kakinya menuju mulut pintu pesawat, di depan mulut pintu pesawat dua orang Pramugari cantik menyambut ramah dan mempersilahkan penumpangnya segera memasuki tempat duduk sesuai tiket.
***
Hilda segera turun dari grab yang mengantarnya. Dia sedikit kesal sama supir grab yang lelet menjalankan mobilnya padahal jalanan masih lengang. Hilda membanting pintu grab sedikit keras saking kesalnya.
"Brakkkk."
Supir grab terkejut. "Heh, Pak, kalau tidak bisa nyetir di jalanan lengang, pensiun deh jadi supir grab, orang lagi buru-buru juga malah lelet kaya keong. Dasar nyebelin. Nah ongkosnya," dumel Hilda seraya menyerahkan ongkos sesuai tarif yang tertera di Hpnya. Sopir grab malah cengengesan, dia sebetulnya sengaja sebab baru kali ini menemukan penumpang yang cantik bak bidadari bermata indah.
"Kapan lagi gue dapat penumpang cantik kayak bidadari macam kamu Neng?" ujarnya sembari terkekeh lalu melanjutkan kembali perjalanan grabnya menuju arah Cimahi.
Hilda berlari memasuki bandara dan bertanya langsung pada salah satu pegawai bandara yang baru ditemuinya, dia menanyakan pesawat yang hari ini akan berangkat ke Medan.
"Pesawatnya sudah stand bye dan sebentar lagi berangkat. Saat ini pesawat masih memasukkan penumpangnya ke dalam pesawat," ucap petugas bandara sembari melihat jam di tangannya.
"Masih bisa beli tiket, kan, Pak? Saya masih bisa ngejar pesawat itu, kan?" tanya Hilda berharap masih bisa. Petugas itu tidak menjawab, dia mengarahkan Hilda menuju sebuah loket pembelian tiket pesawat, sebetulnya tiket bisa dibeli secara online. Namun, karena mendadak, Hilda tidak sampai kepikiran untuk membeli tiket lewat online.
__ADS_1
Petugas itu berdiri di depan loket pembelian tiket pesawat dan berbicara pada salah satu petugas loket. Sepertinya petugas itu sedang menanyakan apakah masih bisa penumpang membeli tiketnya di jam terbang yang saat ini akan terbang.
"Silahkan pesan Mbak, kebetulan masih bisa. Tapi waktu Anda tidak banyak, siapkan KTP Anda," beritahunya baik banget, Hilda merasa bersyukur masih bisa mengejar pesawat yang saat ini dikejarnya.
Dan beberapa menit kemudian tiket pesawat sudah Hilda dapatkan. Tanpa menunda dia segera bergegas ke dalam bandara untuk boarding pass dan lain-lain. Setelah itu Hilda masih harus berlari kecil menuju badan pesawat yang masih terparkir di sana menunggu penumpang masuk. Nasib baik, bukan hanya dia saja yang baru memasuki pesawat, ada beberapa orang lagi yang baru memasuki pesawat, Hilda pun sedikit lega. Tapi kali ini Hilda harus melewat pintu belakang, sebab pintu depan sepertinya akan dipersiapkan untuk ditutup.
Akhirnya Hilda sudah mendapatkan tempat duduknya sesuai tiket. Perjalanan udara Bandung-Medan segera dimulai, dan berharap di dalam pesawat yang sama Nagi merupakan salah satu penumpangnya juga.
"Kak Nagi, maafkan aku Kak. Karena salah ku juga akhirnya aku menyusul Kakak ke Medan. Aku tidak mau lagi kehilangan Kak Nagi." Batin Hilda berharap.
Dua jam tiga puluh menit kemudian pesawat Citilong yang Hilda tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Kuala Namu Medan. Hilda senang bukan main, baru kali ini dia melakukan perjalanan udara sendiri tanpa teman. Biasanya Bandung-Jakarta saja harus selalu bersama Mamanya. Kali ini dia memberanikan diri mengejar Nagi ke Medan.
Hilda segera menuruni tangga pesawat, lalu memasuki bandara untuk menuju keluar bandara. Matanya tidak lepas mengawasi setiap orang yang menjadi penumpang bersamanya tadi. Namun sosok Nagi masih belum dia temukan. Mau menghubungi Nagi, tapi Hilda lebih fokus mencari Nagi dengan matanya bukan sama Hpnya.
"Ya ampun, kemana Kak Nagi tidak kelihatan? Sebaiknya aku menunggu di pinggir jalan ini, siapa tahu Kak Nagi mencegat taksi di sini juga," harapnya sembari matanya awas.
"Duhhh, kemana Kak Nagi? Hpnya juga tidak aktif," keluhnya benar-benar pusing kepala.
"Lho, Kak Nagi, Kak Nagiii," teriaknya pada saat Hilda melihat Nagi memasuki sebuah taksi, dari jarak 20 meter. Tidak lama dari itu taksi segera meluncur. Sayangnya teriakan Hilda tidak terdengar. Lalu dengan segera Hilda mencari taksi di sana, kebetulan ada taksi yang lewat sehabis menurunkan penumpang. Hilda melambai segera mencegat taksi itu.
"Pak, kejar taksi yang itu," tunjuknya pada taksi yang tadi ditumpangi Nagi. Supir taksi tidak banyak basa-basi, dia fokus pada taksi yang ditunjukkan Hilda barusan.
Taksi masih berjalan mengikuti taksi yang di dalamnya ada Nagi, menuju sebuah kota kecil di kota Medan. Mungkin saja itu merupakan sebuah kota kecamatan seperti kota kecil yang berada di Bandung.
Tiga puluh menit kemudian, taksi yang ditumpangi Nagi berhenti tepat di sebuah rumah yang ukurannya sedang, tapi sangat asri dan menyenangkan. Taksi yang ditumpangi Hilda juga berhenti karena Hilda meminta turun di sana, lebih jauh dari taksi yang menurun Nagi.
__ADS_1
Hilda berjalan mengendap mendekati rumah yang asri itu. Keadaannya sangat menyenangkan dan banyak warna-warni bunga bermekaran.
Hilda melihat Nagi mulai berinteraksi dengan seseorang wanita paruh baya, dia yakin itu tidak lain adalah Ibu kandung Nagi. Nagi menyalaminya takzim. Hilda terhenyak dan merasa tertampar, sebab selama ini dirinya jarang sekali mencium tangan sang Mama dan Papa.
Kini Nagi dan wanita paruh baya itu masih terlibat perbincangan dan kini Hilda semakin dekat tepat berada di belakang Nagi, hanya terhalang sebuah pintu.
"Ada apa Ibu menyuruh Nagi cepat pulang? Padahal Nagi masih belum survey lahan untuk pembuatan pabrik di Bandung."
"Ibu ingin mengenalkan kamu pada seseorang, dia anak dari Bu Hamidah yang selama ini baik sama Ibu." Mendengar ucapan Ibunya Nagi seperti itu mendadak dunia Hilda seakan hitam, kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit dan Hilda ambruk tidak sadarkan diri.
Bu Harumi dan Nagi terkejut saat mendengar ada sesuatuu yang jatuh mengenai pintu. Nagi sigap menuju balik pintu, alangkah terkejutnya dia, sebab Nagi melihat ada tubuh yang terbujur. Lalu Nagi menghampirinya berusaha mengangkat dan melihat siapa sebenarnya perempuan muda yang jatuh di depan rumah Ibunya.
"Hilda, Sayang, ini kamu," kejut Nagi tidak percaya. Dengan segera Nagi membawa tubuh Hilda yang pingsan ke dalam kamarnya dan dibaringkan di sana. Bu Harumi sama terkejutnya dengan Nagi. Saat nagi menyebutkan sebuah nama yang tidak asing baginya yaitu Hilda.
Nama itu bagi Bu Harumi sudah tidak asing lagi di telinganya. Bu Harumi menyusul Nagi ke kamarnya dan melihat dengan jelas siapa perempuan muda yang ambruk didepan pintu rumahnya.
"Hilda, ini Hilda anak bungsu Papa Hasri, bukan?" tanyanya meyakinkan. Nagi mengangguk lalu memberi ruang buat Ibunya supaya bisa menyadarkan Hilda yang tidak sadarkan diri.
"Iya, Bu, ini Hilda. Dia anak bungsu Papa Hasri." Nagi meyakinkan.
"Kenapa dia tiba-tiba berada di depan pintu rumah kita, apakah kalian sebenarnya berangkat bersama?" tuduh Bu Harumi curiga.
"Tidak, Bu. Nagi bahkan tidak tahu bahwa Hilda mengikuti Nagi. Sudahlah, Bu, jangan dulu bahas hal lain. Sekarang bagaimana caranya supaya Hilda sadar dari pingsannya," urai Nagi.
"Baiklah, lebih baik kamu segera ke dapur buatkan teh hangat kasih gula sedikit. Minuman ini biasanya ampuh untuk menangani pusing kepala," ujar Bu Harumi seraya mengoleskan minyak kayu putih di dekat hidung Hilda. Tidak berapa lama tangan Hilda bergerak-gerak. Nagi bersyukur melihatnya.
__ADS_1
"Hilda, ada apa dia tiba-tiba ada di sini?"
Batin Bu Harumi bertanya penuh berbagai syak wasangka. Ada apa, kenapa dan lain sebagainya muncul sebagai beberapa sebuah pertanyaan.