Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 98 Musim 2 Kejujuran dan Ketakutan Hilda


__ADS_3

Hilda diam dan berpikir di dalam hatinya, kenapa Kakaknya bisa memberikan pertanyaan seperti itu seakan mencurigai dirinya yang kini sedang mencintai dan menjalani hubungan backstreet dengan Nagi yang dia cinta?


"Tidak, aku sedang tidak mencintai seseorang." Hilda menjawab dengan tatapan mata yang tidak fokus, pandangannya menjelajah kemana-mana seakan sedang memikirkan sesuatu untuk kebohongan yang lainnya lagi.


"Kamu tidak bohong?" tanya Naga lagi menatap lekat mata Hilda yang langsung menunduk, Hilda tidak kuasa menatap Kakaknya dalam keadaan dia berbohong. Hilda menjadi panas dingin di depan Naga, jantungnya ikut berdebar karena merasakan hawa takut yang kini dirasakannya.


"Tidak, aku tidak bohong. Kenapa aku harus bohong, kalau aku tidak, ya, tidak," tekannya memaksa wajahnya menjadi serius supaya Naga bisa mempercayainya.


"Mau kamu buat serius pun wajahmu, Kakak tetap tidak percaya dengan sangkalanmu. Kamu bohong, dan jika kamu tidak sedang berbohong, maka kamu berani menatap Kakak, tapi sekarang kamu sama sekali tidak mau menatap Kakak lebih lama, dan itu artinya kamu sedang berbohong," tekan Naga seakan sedang mengintrogasi.


Hilda ciut, dia bingung harus berkata apa, tapi dia tidak mau mengungkapkan hubungan dengan Nagi sekarang pada Kakaknya. Hilda berniat mengatakan semua ini jika saatnya nanti dan bukan sekarang.


"Jangan menunduk begitu, dengan begitu kamu benar-benar sedang melakukan kebohongan terhadap Kakak. Katakan yang sejujurnya, siapa tahu Kakak bisa memberikan solusi untukmu. Kalau bukan Kakakmu yang akan peduli, lantas siapa lagi yang akan kamu harapkan bisa peduli?" tekan Naga lagi. Namun Hilda teguh dengan pendiriannya, dia belum mau mengatakan semua itu di depan Kakaknya sekarang.


"Aku tidak sedang mencintai siapapun, Kak. Aku tidak bohong. Kakak percaya sama aku, aku tidak sedang pacaran atau mencintai seseorang," tegasnya lagi.


"Baiklah jika itu memang keputusanmu, Kakak tidak mau lagi membantumu karena kamu tidak mau berkata jujur sama Kakak."


"Bukan begitu Kak, masalahnya aku memang tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun, aku tidak sedang pacaran dengan cowok manapun," yakinnya lagi.


"Aamiin," sela Zila mengaminkan apa yang diucapkan Hilda barusan. Hilda melotot dan tidak suka dengan selaan Zila, sehingga Hilda terlihat sangat bingung dan risau.


"Baiklah, Kakak percaya kamu bohong, sebab berdasarkan pengamatan Kakak, kamu tidak akan gelisah jika kamu tidak bohong." Hilda semakin tertekan dengan apa yang dikatakan Naga barusan.


Untuk beberapa saat Hilda diam. Diamnya kini makin meyakinkan bahwa Hilda memang menyembunyikan sesuatu tentang hubungan yang dikatakan Naga tadi, bahwa dia memang sedang mencintai seseorang. Seumpama seseorang yang dia cintainya bukan Nagi, maka sejak tadi pun Hilda akan berani mengungkapkan hal yang sejujurnya. Namun, berhubung yang dia cintai adalah Nagi yang notabene saudara sepupunya sendiri yang sudah dianggap anak oleh Papa dan Mamanya, Hilda seakan takut untuk mengatakannya.


Hilda yakin hubungan itu akan ditentang, walaupun dalam agamanya tidak dilarang, tapi karena sejak kecil Nagi sudah besar bersama di rumah Mama dan Papanya, Hilda berpikir jika dia mencintai Nagi dan berterus terang, Mama dan Papanya akan menganggap Nagi tidak tahu terimakasih telah dibesarkan bersama di rumah ini, tapi kini kenyataannya ingin menjadikan anaknya pasangan hidupnya. Itu yang ditakutkan Hilda.


Tapi ironis, Hilda yang takut Nagi dianggap tidak tahu terimakasih karena mencintainya sebagai seorang wanita, dan bukan lagi sebagai seorang saudara sepupu, kini malah dia yang menginginkan hubungan khusus itu terjalin, dan dia sendiri yang menginginkan lebih dari saudara sepupu.


"Salahkah aku mempunyai perasaan cinta pada Kak Nagi selain perasaan sayang pada saudara sepupu?" renungnya di dalam hati. Hilda sedih dan bingung jika dia berkata jujur, maka hubungan itu akan ditentang saat itu juga oleh keluarganya. Dan Hilda yakin akan hal itu.


"De, kamu sudah tidak mau sharing sama Kak Naga? Kak Naga yang selama ini jadi tempat curahan hatimu ketika kamu sepi dan sedih karena selalu ditinggal Papa dan Mama keluar kota?" Desakan Naga yang barusan begitu menyentuh hatinya, benar apa yang dikatakan Naga, bahwa selama ini teman cerita dan curahan hatinya adalah Naga seorang. Naga tempat bermanjanya jika dia meminta sesuatu. Naga juga yang selalu membelanya jika dia diganggu seseorang. Tapi kini, Naga baginya sebuah ketakutan jika dia harus bercerita tentang hubungannya dengan Nagi.


"Kak, tapi aku takut jika cerita sama Kakak. Aku tahu hubungan aku ini tidak wajar, dan kalian pasti akan menentangnya." Hilda tiba-tiba mengungkap dengan sendirinya tabir yang sejak tadi menakutinya, meskipun masih samar, Naga mampu menangkap maksud Hilda sebab dia sudah tahu bocoran dari Zila.


"Jujurlah, De. Aku ini Kakakmu. Ingat tidak saat kamu dalam kesulitan, Kakak selalu ada membantu kesulitanmu menjadi kemudahan. Dan jika kamu dalam masalah pelik apapun, Kakak selalu menjadi pelindungmu garda terdepan. Apakah kamu masih ragu untuk cerita sama Kakak?" bujuk Naga membuat Hilda sedikit luluh untuk menceritakan hal yang sejujurnya.


Sejenak Hilda menarik nafasnya dalam-dalam, mengatur irama dalam dadanya untuk memulai bicara. Hilda mendongak dan perlahan menatap wajah Naga, matanya yang selalu terang dan jutek kini berkaca-kaca, memperlihatkan betapa dia merasa takut dan ragu untuk bercerita.


"Aku akan jujur Kak, tapi Kak Naga janji jangan marah atau bilang dulu ke Mama dan Papa, sebab aku belum siap jika mereka tahu dan akhirnya marah," ujarnya pada akhirnya, meskipun mewanti-wanti terlebih dahulu meminta Naga untuk tidak marah.


"Kakak janji tidak akan marah, asal kamu jujur." Naga menatap Hilda, memberikan tatapan teduh agar hilda percaya dan mau terbuka padanya. Jika Naga mau dan ingin sekedar mempermalukan Hilda di depan Zila yang notebene orang lain, mungkin saja sejak tadi Naga sudah membuka rahasia Hilda yang sudah dia ketahui dari Zila. Tapi, Naga menunggu Hilda sampai mau jujur dan berbicara dari hatinya bukan karena dipermalukan.


"Jadi benar, kamu saat ini sedang mencintai seseorang?" tanya Naga mengulang pertanyaannya tadi.


Hilda sejenak menoleh ke arah Zila yang sejak tadi setia menguping perbincangan antara Naga dan Hilda yang terasa alot sebab Hilda masih tidak ingin bercerita.

__ADS_1


"Katakanlah, Zila juga tidak masalah tahu ini, kan?" Hilda mengangguk pelan.


"Iya, Kak. Aku sedang mencintai seseorang saat ini," jawabnya masih terlihat ragu untuk jujur.


"Siapakah dia yang kamu cintai?" selidik Naga lagi menanti kejujuran Hilda.


"A~ku, aku, mencintai Kak Nagi, Kak. Aku benar-benar mencintai Kak Nagi," jujurnya ragu seraya menabrak tubuh Naga dan menangis di sana. Naga menangkap tubuh Hilda yang spontan menjatuhkan diri ke tubuhnya. Naga sadar Hilda butuh sandaran, dia refleks merangkulnya dan mengusap bahu Hilda dengan penuh kasih dan sayang. Naga menunggu Hilda untuk jujur, untuk itu Naga berusaha menenangkan Hilda beberapa saat.


"Aku mencintai Kak Nagi, maka dari itu aku mohon Kakak jangan tentang hubungan ini, dalam agama kita juga tidak dilarang, bukan?" ujarnya seperti memaksa Naga untuk merestuinya dan tidak melarangnya sebab Hilda berdalih agama juga tidak melarang. Naga tidak mati kutu, dia tidak melarangnya, tapi setidaknya Naga harus memberi pengertian pada Hilda supaya membina hubungan yang sehat, bukan hubungan yang penuh nafsu seperti apa yang dilihatnya dari vidio yang diperlihatkan Zila.


"Jadi, Nagilah yang kamu cinta? Kenapa tidak lelaki lain saja, teman kamu misalnya? Nagi sudah sejak kecil bersama Mama dan Papa juga kita, Mama dan Papa juga sangat menyayangi Nagi seperti menyayangi kita."


"Kenapa Kakak berkata seperti itu, apakah Kakak menentang hubungan aku sama Kak Nagi? Bukankah dalam agama kita tidak dilarang?" debat Hilda sedikit keras, mulai sifat keras kepalanya muncul lagi setelah tadi murung dan menangis.


"Kakak tidak melarang atau menentang jika kamu memang mau menjalaninya. Tapi hubungan yang bagaimana dulu yang Kakak tidak tentang? Silahkan kamu cintai Nagi kalau dia memang mencintai kamu juga, tapi masalahnya yang mencintai di sini adalah kamu, dan Nagi tidak. Nagi hanya terpaksa mencintai kamu sebab kamu yang memaksa," papar Naga panjang lebar. Naga mulai bicara ke inti perkaranya daripada sejak tadi muter-muter tidak jelas.


"Dari mana Kak Naga tahu bahwa Kak Nagi tidak mencintai aku atau Kak Nagi terpaksa mencintai aku, katakan!" pinta Hilda menelisik.


"Lihatlah ini, apakah kamu belum jelas? Kamu merayunya dan memaksanya supaya Nagi menerima kamu menjadi pacarnya. Kemudian Nagi terpaksa menerimanya sebab kamu memaksanya. Lalu adegan mesum ini, kamu juga yang memaksa Nagi untuk menciumnya dan kamu sendiri yang menawarkannya. Apakah kamu tidak malu dianggap semurahan itu? Kamu tidak tahu jangan-jangan Nagi memiliki kekasih di luar sana. Karena demi obsesi liarmu, Nagi terpaksa menerimamu," ungkap Naga panjang lebar disertai bukti akurat tentang vidio yang memperlihatkan Hilda merayu dan memaksa Nagi untuk menjadi pacarnya dan menciumnya.


Sejenak Hilda diam dan terkejut dengan bukti vidio dirinya yang sedang merayu Nagi dan mencium Nagi. Hilda langsung menduga bahwa bukti itu didapat Naga tentunya dari Zila, siapa lagi?



"Pasti elu yang bilang sama Kakak, kan?" tuding Hilda menunjuk pada Zila yang tersenyum manis padanya.




"Stop, jangan menyalahkan orang lain. Tidak penting Kakak dapatnya dari mana atau dari siapa, yang jelas kamu itu salah, mengemis-ngemis cinta dan menawarkan tubuh kamu supaya dijamah lelaki hanya demi ingin memilikinya. Kamu masih labil dan baru saja masuk kuliah, jika kamu di umur segini sudah seliar ini, maka yang Kakak takutkan di luaran sana jika kamu tidak terpantau atau ketahuan, bisa saja kamu melakukan lebih dari ini," tandas Naga marah, dia tidak menduga hilda mampu berbuat seperti itu.



"Kenapa Kakak menentang hubungan aku sama Kak Nagi?" Hilda masih saja mempertanyakan kenapa Naga menentang hubungannya bersama Nagi.



"Dengar yang jelas sama telinga kamu, ya, De. Buka telinga kamu yang lebar. Kakak tidak melarang kamu mencintai Nagi, tapi yang Kakak tidak setuju kamu yang sengaja menawarkan diri kamu dan memaksa Nagi supaya mencintai kamu. Kamu menawarkan tubuh kamu untuk dicintai Nagi itu salah, dan Kakak tidak setuju. Jika kamu melakukan itu, betapa malunya Kakak punya adik yang Kakak anggap baik dan manis selama ini tapi ternyata liar dan jallang. Lihat saja jika kamu seperti itu lagi, maka Kakak akan mengirim Nagi ke negara yang jauh supaya kamu tidak bisa menemuinya sama sekali," tegas Naga serius.



"Jangannn, jangan lakukan itu Kak, aku tidak mau berpisah dari Kak Nagi. Aku mencintai Kak Nagi." Hilda memohon untuk tidak mengoper tugas Nagi ke negara yang jauh.



"Dengar Kakak untuk yang terakhir kalinya, jika kamu memang benar-benar mencintai Nagi dengan tulus, silahkan cintai dia dan pikat hatinya semampu kamu, tapi tidak kamu pikat dengan tubuh atau rayuan kamu dengan menawarkan bibir kamu untuk dicium, Kakak tidak suka dan menentang itu. Perlu kamu ingat, Nagi itu bukan tipe penyuka perempuan agresif, jadi rubahlah cara mencintai kamu dengan anggun jangan dengan cara liar," tandas Naga lagi benar-benar marah.

__ADS_1



"Kalau kamu mencintai Nagi dengan cara yang liar dan salah, bisa-bisa suatu saat ketika dia bosan dan meninggalkanmu, maka dia akan mencari perempuan yang lebih kalem dari kamu. Kamu paham dan kamu pasti tidak mau dicampakkan Nagi seperti sampah, bukan?" tegas Naga seraya berdiri dan berjingkat dari kamar Hilda.



'Kak, Kak Naga, jangan katakan ini pada Mama dan Papa. Aku belum siap Kak," teriak Hilda sambil terisak. Naga tidak menoleh dia terus berlalu dengan membawa rasa marah.



"Sudah, jangan menangis. Ini semua resiko mencintai dengan cara yang salah. Apa aku bilang, jangan mencintai Kak Nagi dengan cara yang salah, di luaran sana banyak perempuan yang kalem dan bersahaja, aku takutnya Kak Nagi justru tergoda dengan perempuan yang kalem daripada yang brutal kayak kamu," tegasnya sembari tersenyum.



"Kamu boleh brutal dan liar, tapi itu nanti setelah menikah, itu justru yang didambakan suami. Selamat berjuang adik ipar," lanjut Zila sembari berlalu dari kamar Hilda. Hilda mengepalkan tangannya sangat kesal dengan Zila yang sok tahu dan sok ngajari.



Sepeninggal Zila, Hilda menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Semua kata-kata Naga dan Zila masih terngiang-ngiang di kepalanya. Dia mencintai Nagi tapi caranya salah.



"*Kak Nagi, benarkah Kak Nagi akan bosan jika melihat cara aku mencintai yang seperti ini? Benarkah Kak Nagi suatu saat akan mencampakkan aku kalau bosan*?" Hilda berkata-kata di dalam hatinya seraya berurai air mata.



"Kak Nagi, aku tidak mau kehilangan Kakak. Jangan coba-coba tinggalkan aku, Kak. Sebab aku akan melakukan sesuatu yang nekad jika Kakak berani tinggalkan aku," bisiknya lirih dengan kalimat yang putus asa dan penuh ancaman.



Hilda masih tenggelam dalam pikirannya yang takut, semua kata-kata Kakaknya dan Zila tadi mampu mengganggu akal dan pikirannya. Hilda menangis sejadi-jadinya, dia tidak mau kehilangan Nagi seperti apa yang dikatakan Zila tadi.



Hilda tertidur pulas setelah tadi puas menangis. Sementara itu Hpnya yang berada di atas meja tiba-tiba berbunyi, sebuah panggilan dari Nagi orang yang dicintainya memanggil. Namun karena tidak ada yang mengangkatnya panggilan itu mati, lalu beberapa menit kemudian bunyi lagi dan lama.



Seseorang yang kebetulan tepat berada di depan pintu kamar Hilda, yang sejak tadi berniat masuk ke kamar Hilda, penasaran dengan suara Hp Hilda yang bunyi terus. Lalu dia masuk dengan perlahan. Hp itu masih berbunyi mengundang rasa penasaran, lalu dilihatnya siapa yang memanggil, tertera nama si pemanggil dengan nama "**Kak Nagi Yang Kucinta**".



Sejenak dia terhenyak melihat nama yang memanggil di Hp Hilda. Saat akan diangkat, panggilan itu tiba-tiba mati. Tidak berapa lama disusul dengan pesan WA masuk yang membuat dia ini penasaran lalu dengan berani dibacanya.



"Hilda sayang, kenapa telpon Kakak tidak diangkat? Kakak juga mencintai kamu, sabar ya. Empat tahun kemudian kakak akan lamar kamu,"

__ADS_1



"Apa? Nagi dan Hilda pacaran?" kagetnya tidak percaya. Siapakah orang yang sudah membuka pesan WA Hilda dari Nagi?


__ADS_2