
"Kapan Papa melakukan tes DNA terhadap Nagi dan Om Harsya?" tanya Naga heran dengan Papanya yang sudah melakukan tes DNA terhadap Nagi dan Harsya.
"Sebelum pulang ke Bandung, Papa berhasil mengambil sampel rambutnya Om kamu. Dan Papa segera melakukan tes DNA melalui rambutnya Nagi dan Om kamu. Papa tunggu hasilnya dengan cemas. Dan hasilnya ternyata 99 persen negatif. Om kamu dan Nagi tidak ada ikatan darah. Papa yakin 99 persen itu milik Guntur," jelas Pak Hasri dengan raut muka yang sendu.
"Lalu setelah ini bagaimana? Papa akan ungkap hasilnya pada Om Harsya?"
"Tidak perlu, dia sejak awal sudah memiliki keyakinan bahwa Nagi bukanlah darah dagingnya. Kita hanya tinggal meyakinkan Nagi supaya dia tidak berpikiran tentang dirinya yang bersalah dalam masalah ini. Yang harusnya disalahkan adalah sikap Harsya selama ini yang melimpahkan kesalahan Guntur pada Nagi."
"Lalu hubungan Nagi dan Hilda bagaimana?" tanya Naga lagi ingin meyakinkan.
"Kalau melihat dari perdebatan Hilda yang kita lihat tadi, sepertinya Hilda tidak ada masalah. Yang masalahnya sekarang di Nagi. Nagi pasti merasa dirinya tidak pantas sebab dia merasa dirinya orang yang paling bersalah atas hancurnya hubungan Harsya dan Ibunya Harumi akibat kelakuan bejat Papa biologisnya," ucap Pak Hasri meyakinkan semua.
"Jadi kita semua mendukung Hilda?"
"Mau tidak mau harus mendukung untuk kebahagiannya," ujar Pak Hasri memutuskan.
**
"Kak Nagi, ayo bangun. Kita semua sudah ditunggu di meja makan. Bukankah setelah ini kita akan jalan-jalan ke daerah Lembang?" ajak Hilda seraya menarik selimut yang masih membungkus tubuh Nagi. Selimut itu sudah terbuka, tapi Nagi seakan malas untuk bangkit. Hilda berusaha menarik lengan Nagi, tapi alangkah beratnya sehingga tubuh Hilda ikut tertarik dan jatuh diatas tubuh Nagi.
Tatapan mata Hilda langsung menuju mata Nagi, mereka saling menatap. Kecupan itu melayang sangat cepat, keduanya terbuai dengan perasaan yang sama. Gelora cinta yang sama.
"Aku mencintai kamu, Kak. Ayolah, kita segera langsungkan pernikahan itu," ajak Hilda memaksa seraya memeluk tubuh Nagi erat.
"Sudahlah, kita bangkit. Kalau kita begini terus, maka akan ketahuan Papa dan Mama." Nagi bangkit dan mengembalikan posisi keduanya ke posisi yang semula. Nagi seperti menghindari pembahasan tentang pernikahan.
Mereka berdua berjalan beriringan menuruni tangga dan menuju meja makan. Di sana sudah ada semua termasuk Naga dan Zila serta baby Syakala yang sudah sangat pintar.
Kedatangan Nagi dan Hilda disambut dengan meriah celotehan Baby Syakala, sehingga suasana menjadi sangat riuh.
"Onty, ayo, duduknya dekat Caka." Syakal meraih lengan Ontynya duduk di dekat kursi makannya. Hilda patuh dengan ponakan kecil yang menggemaskan itu. Suasana sarapan di pagi itu seru dan penuh celotehan baby Syakala sehingga suasananya tidak tegang seperti yang sempat Pak Hasri dan Bu Hilda pikirkan sebelumnya, sebab Nagi sudah tahu siapa dirinya.
Setelah sarapan selesai, semuanya segera ke ruang keluarga, kebetulan Pak Hasri ada hal yang ingin disampaikan. Zila menitipkan baby Syaka ke Bi Rana dan Bi Rani, sementara dirinya ikut serta dalam obrolan keluarga ini atas ajakan Papa mertuanya.
__ADS_1
"Papa hanya akan menyampaikan pada semua, dan tidak ingin berbelit-belit lagi, terutama untuk kamu ,Gi. Untuk segera melakukan lamaran pada Hilda. Sebab kalian sudah sangat dekat dan sulit untuk dipisahkan. Biar kalian satu sama lain tenang, segeralah menikah," seru Pak Hasri yang langsung mendapat tentangan dari Nagi.
"Tidak, Pa. Kenapa disaat seperti ini kalian masih membicarakan pernikahan Nagi dan Hilda, sementara kalian semua sudah tahu bahwa Nagi hanyalah anak dari bajingan itu. Nagi tidak pantas mendapatkan Hilda. Nagi tidak pantas, Nagi anak seorang pecundang," tentang Nagi seraya berdiri.
"Gi, duduklah. Dengarkan Papa. Sekarang kamu tahu siapa sebenarnya ayah biologis kamu. Tapi semua itu tidak akan merubah segalanya, kamu tetap anak Papa dan Mama. Dan kami tidak menentang hubungan kalian. Kalian harus segera menikah, terlebih sekarang kondisi kamu sudah sangat pulih. Jadi alasan menolak apa yang akan kamu katakan lagi di sini?" sergah Pak Hasri membungkam Nagi yang ingin kembali protes.
"Nagi tahu Papa dan Mama sayang sama Nagi, tapi dengan status Nagi seperti ini apakah kalian tidak malu anaknya menikah dengan anak seorang pecundang?" tukas Nagi kembali menolak permintaan Pak Hasri. Hilda yang mendengar penolakan Nagi seperti itu, hatinya sungguh sedih.
"Kak Nagi, sudah aku katakan aku tidak peduli Kak Nagi anak dari siapa, yang jelas aku mencintai Kak Nagi," sergah Hilda cepat.
Nagi diam, sudah lelah dia mengatakan bahwa dirinya kini tidak pantas mendapatkan cinta Hilda setelah dia mengetahui anak siapa dirinya kini. Nagi kini berpikir keras bagaiman cara dirinya supaya bisa menghindari pernikahan ini. Alasannya hanya karena kehormatan keluarga ini lebih penting dari pada dia harus menikahi Hilda. Sebab semua orang pasti suatu hari nanti akan terus mengungkap dan mengorek latar belakang Nagi.
***
Dua hari kemudian setelah perbincangan mereka di ruang keluarga bersama Nagi. Seisi rumah dihebohkan dengan kepergian Nagi. Nagi sudah tidak ada di dalam kamarnya. Nagi pergi entah kemana. Papa Hasri dan Bu Hilsa yakin Nagi pulang ke Medan.
"Papaaa, aku tidak mau kehilangan Kak Nagi. Susulkan aku ke Medan, Pah," rengek Hilda menangis di pangkuan Papanya.
"Ya ampun, Nagi. Kenapa kamu harus pergi? Sekarang Hilda yang tersiksa. Hilang masalah satu kini timbul masalah baru. Hilda yang tersiksa."
"Papa, Mama, Hilda juga Bang Naga, aku minta maaf karena aku harus pergi, sebab aku ternyata sudah tidak pantas lagi menjadi bagian dalam kehidupan kalian. Aku hanyalah seorang anak dari pecundang yang hanya akan membuat kalian malu dikemudian hari jika orang-orang berhasil mengorek keadaan aku yang sebenarnya. Untuk itu daripada kalian mendapatkan rasa malu itu, lebih baik aku pergi."
Surat itu membuat Hilda teriris, Hilda menangis histeris sambil meneriakkan nama Nagi. "Kak Nagi kembali, jangan pergi. Jangan menutup hatimu untuk pura-pura tidak mencintai aku. Bukankah sudah aku katakan kalau aku tidak peduli anak siapa Kak Nagi." Hilda berteriak histeris dan menangis. Semua yang berada di sana prihatin dengan keadaan Hilda.
"Bagaimana ini Pah, kenapa Nagi harus pergi dan kenapa kalian kecolongan?" Naga mempertanyakan kepergian Nagi yang seolah pergi disaat semua orang lengah.
"Apakah perlu kita susul Nagi ke Medan?" tanya Naga.
"Jangan, biarkan dulu Nagi berpikir jernih. Dia juga butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya dulu. Setelah Nagi tahu yang sebenarnya, Papa paham Nagi butuh waktu untuk menyendiri dulu. Kalau kita paksakan dalam waktu dekat ini, maka Papa takut Nagi benar-benar akan stress dan frustasi. Biarkan dulu berikan dia ketenangan. Papa juga tahu Nagi juga sangat mencintai Hilda. Mereka akan bersama, Papa yakin," ujar Pak Hasri memberi ketenangan untuk Naga.
**
Kepergian Nagi membuat Hilda sangat terpuruk, dia menangis dan mengurung diri di kamar. Dia putus asa karena kehilangan kekasih yang selama ini dia cinta. Padahal Hilda tidak peduli Nagi darah daging siapa, dia tetap mencintai Nagi apa adanya.
__ADS_1
"Kak Nagiiiii, Kak Nagi jahatttt, Kak Nagi tega tinggalkan aku." Teriakan Hilda terdengar sampai keluar kamar sehingga Papa dan Mamanya iba. Hilda sekarang putus asa, dia ingin menyusul Nagi ke Medan tapi tidak diijinkan kedua orang tuanya. Papa dan Mamanya khawatir keselamatan Hilda. Dalam keadaan Hilda tergoncang mereka takut terjadi suatu hal yang tidak-tidak.
Hilda sangat lelah menangis dan meratapi Nagi yang tidak kunjung datang atau menghubunginya. Hilda termenung, dia benar-benar sedih kehilangan Nagi.
"Baiklah Kak Nagi jika itu yang Kakak inginkan, aku ada cara untuk memanggil Kakak kembali dan mau menikah denganku. Aku akan kembali menggunakan cincin berlian pemberian Kak Nagi itu dalam setiap kesempatan termasuk mandi. Aku terlanjur gila karenamu Kak. Karena Kak Nagi sudah membuatku semakin gila."
Hilda memutuskan menggunakan kembali cincin emas pemberian Nagi. Cincin yang dalamnya terdapat indikator kamera pengintai. Maka semua jenis kegiatannya bisa dilihat oleh Nagi lewat Hpnya yang terkoneksi langsung dengan HP Nagi.
"Jika Kak Nagi tidak datang juga, maka lihat saja apa yang akan aku lakukan. Kak Nagi tidak akan bisa melihatku lagi, karena mungkin aku sudah melukai diriku sendiri," ancam Hilda sengaja dia berkata seperti itu untuk memancing sikap dan rekasi Nagi yang berada jauh di sana.
**
Nagi terlena saat matanya kembali harus ternodai oleh kemolekan tubuh Hilda yang terpampang nyata menggoda imannya lewat sebuah vidio CCTV lewat HPnya. Nagi berdecak sebal, sebab setiap lekukan tubuh Hilda sangat menggodanya.
"Sayang, semakin ingin aku menghindarimu, maka semakin hari kamu semakin menggoda imanku. Aku tidak bisa jauh darimu Hilda. Tapi aku tidak mau kamu mendapatkan seorang suami dari keturunan bajingan. Tapi, aku bersumpah aku bukan seorang bajingan," guman Nagi seraya tidak berhenti melihat semua keindahan Hilda yang dia tonton lewat vidio di Hpnya.
Bahkan saat Hilda mengungkapkan ingin mengakhiri hidupnya jika Nagi tidak kunjung datang melamarnya, Nagi melihat jelas betapa putus asanya Hilda kehilangan dirinya.
"Sayang, kenapa harus putus asa seperti itu? Aku tidak mau kamu putus asa, kamu sangat cantik dan baik, tapi kenapa harus putus asa sehingga ingin mengakhiri hidupmu? Itu tidak baik, Sayang."
Nagi kini bingung dengan keadaan dirinya juga keadaan Hilda yang histeris dan menangis terus di sana. Nagi pun bukan bermaksud menyakiti Hilda dengan dia pergi, tapi Nagi merasa dia tidak pantas lagi untuk Hilda sebab dia hanyalah anak dari seorang bajingan.
Nagi hari ini juga masih melihat Hilda lewat monitor Hpnya. Hilda nampak sangat sedih dan semakin terpuruk. Nagi sudah tidak bisa lagi membiarkan Hilda tersiksa seperti ini. Dia kini ketakutan akan Hilda yang akan nekad.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan, Gi? Kamu akan melamar dan mendatangi lagi keluarga Mama dan Papamu di Bandung? Bagaimana perasaan mereka punya menantu seorang anak ba ...."
"Bajingan maksud ibu? Sekarang Ibu baru menyadari rasa malu yang akan terus Nagi bawa sepanjang hidup Nagi akibat ketidakjujuran kalian. Sekarang Ibu tidak usah pedulikan Nagi lagi, toh selama hidup Nagi, kalian pandai menutup rapat rahasia di balik perceraian kalian, tapi melimpahkan semua kesalahan pada Nagi yang tidak tahu apa-apa," potong Nagi membuat Bu Harumi kaget.
"Hari ini Nagi akan pergi, Nagi akan mengejar cinta Nagi yang hampir hilang. Jika Nagi sampai kehilangan Hilda, maka Nagi akan sangat merasa bersalah. Merestui atau tidak, Nagi tidak peduli. Ini pilihan hidup Nagi. Dan jika Ibu memang Ibu yang baik, maka Nagi hanya meminta doa terbaik saja dari Ibu berikan untuk Nagi," ucap Nagi panjang.
Bu Harumi hanya diam, dia tidak mampu lagi berbicara apa-apa lagi selain membiarkan Nagi melakukan apa yang isi hatinya katakan.
"Ibu mendoakan kamu, Nak. Jika Ibu tidak mendoakan kamu, maka Ibu hanyalah merupakan seorang Ibu yang berdosa, dulu menyia-nyiakanmu, lalu sekarang tidak memberi restu dan doa, maka Ibu wajar kamu benci dan tinggalkan," ucap Bu Harumi di dalam hati.
__ADS_1
Bandung
"Kak Nagi, benarkah Kak Nagi tidak akan kembali ke Bandung lagi melamar aku? Bukankah Kak Nagi sudah melihat apa yang ada dalam diriku? Masih belum cukupkah, atau justru melihat aku harus pergi dahulu baru Kak Nagi akan datang? Kenapa Kak Nagi tega membiarkan aku menunggu dan terpuruk?" Hilda sangat sedih dan putus asa karena berbagai cara sudah ia lakukan untuk memancing Nagi datang. Tapi masih belum ada hasil.