
Hilda buru-buru melepaskan ciumannya bersama Nagi. Dia tersadar bahwa ini salah, dan ini sudah menyalahi rencana awal. Hilda menyesali sikapnya yang mudah luluh di depan Nagi, lalu dia kini harus apa? Menyusun lagi rencana dan berpura-pura masih marah pada Nagi dengan tujuan untuk membuktikan bahwa Nagi benar-benar mencintainya apa adanya, bukan karena kasihan.
Hilda segera menjauh, dia sudah salah telah terbuai oleh pesona Nagi yang memang sulit untuk dibantah. Hilda melepaskan kembali cincin yang tadi disematkan Nagi di jari manisnya. Dia akan membuat Nagi melamarnya di depan kedua orang tuanya dan membuktikan bahwa Nagi kini pantas bersanding dengannya.
Nagi tersentak saat Hilda melepaskan cincin emas yang tadi telah ia sematkan di jari Hilda. Nagi bingung dengan perubahan Hilda yang sangat cepat, tadi mereka bahkan sudah sangat dekat, saling berbagi nafas rindu. Tapi kini Hilda berubah lagi. Nagi tersenyum simpul, dia tahu Hilda sedang berpura-pura lagi, dia pasti sedang jual mahal padanya.
"Kenapa cincinnya dibuka, Sayang? Bukankah tadi kamu sudah menerima aku dan bersedia menikah denganku dan menjadi istriku?" herannya.
"Iya, tapi tidak semudah itu Kak. Aku ingin Kak Nagi berbicara di depan Mama dan Papa lalu meminta aku untuk menjadi istrinya. Tapi, kalau hanya di sini dan tidak ada orang lain yang menjadi saksinya, itu percuma dan aku yang nantinya rugi jika seandainya Kak Nagi justru kabur.
Nagi tertawa, ini benar-benar diluar logika. Untuk apa dia datang jauh-jauh dari Medan ke Bandung kalau untuk membohongi Hilda, lebih baik dari sejak awal saja dia tidak usah datang ke Bandung dan merencanakan niatnya untuk melamar.
"Sayang, kamu ini benar-benar sedang melucu. Buat apa aku datang dari jauh kalau hanya untuk mempermainkanmu? Alangkah lebih baiknya aku dari awal tidak datang ke Bandung. Kamu jangan gimick lagi, aku tahu kamu sedang gimick. Dan aku tidak percaya itu."
Dugaan Nagi tepat sekali, Hilda merasa bingung harus berbuat apa untuk meyakinkan pada Nagi bahwa dia tidak melakukan gimick atau berpura-pura.
"Terserah Kak Nagi mau menganggap aku apa saja, yang jelas aku bukan Hilda yang dulu Kak Nagi kenal. Sekarang aku hanya perlu bukti dari Kak Nagi, bukan omong belaka. Sekarang biarkan aku pulang, Kak Nagi jangan menghalangi aku," ujar Hilda seraya menuju pintu apartemen bermaksud pulang.
"Tenang dulu, nanti kamu aku antar pulang." Nagi menahan tangan Hilda. "Tunggulah, aku bersiap-siap dulu." Nagi meraih kunci mobil dan kaca mata hitamnya. Saat kaca mata itu dikenakannya, jelas terlihat kharisma yang terpancar dari wajah Nagi. Hilda terpesona, dalam hati berdecak kagum. Dia bersyukur Naginya kini menjelma menjadi Nagi yang sukses tanpa embel-embel bantuan dari Papanya.
"Jika Kak Nagi sukses seperti ini, aku akan sangat bangga memamerkan Kak Nagi di depan Papa dan Mama. Dan jika Papa dan Mama masih menolak Kak Nagi, maka aku orang pertama yang akan berpihak pada Kak Nagi, sebab aku sangat mencintainya." Hilda membatin.
Nagi meraih tangan Hilda dan membawanya keluar dari apartemen. Dia kini bertekad akan sangat gentleman menghadapi Papa dan Mama Hilsa yang pada awalnya tidak menyetujui hubungan Nagi dengan Hilda.
"Ayo ikut aku, aku akan mengantarmu pulang." tariknya lembut memasuki lift. Hilda mengibas-ngibas tangan Nagi melepaskannya. Namun Nagi tidak kalah tenaga dari Hilda. Dia terus menahan dan membawa Hilda menuju mobilnya yang terparkir di halaman apartemen.
"Masuklah," titahnya sembari mendorong pelan tubuh Hilda. Terpaksa Hilda menurut dan duduk dengan muka yang dibuat masam.
"*Haha, akan aku buat wajahku ditekuk semasam ini, biar tahu rasa Kak Nagi*," bisik hati Hilda masih melancarkan aksinya yang masih jual mahal.
__ADS_1
Mobil Nagi tiba tepat di depan rumah besar yang gerbangnya ditutup. Tiba-tiba salah seorang Satpam rumah menghampiri mobil Nagi. Nagi menyadarinya, lalu dia segera menyembunyikan wajahnya di balik kaca mata hitam.
"Pak Wawan," teriak Hilda kepada Satpam itu. Pak Wawan langsung menghampiri.
"Eh Nona, mobilnya mau masuk, Non?" tanya Pak Wawan saat melihat siapa di dalam mobil itu. Hilda tiba-tiba membuka pintu mobil dan segera keluar menuju pintu gerbang.
"Mobilnya mau masuk, Non?' ulang Pak Wawan penasaran.
"Ah, tidak. Dia hanya mengantar sampai depan," jawab Hilda segera masuk dan melarang Pak Wawan membuka pintu gerbang.
"Maaf Den, saya diperintahkan Non Hilda jangan buka gerbang. Kalau boleh tahu Aden siapanya Non Hilda?" tanya Pak Wawan kepo.
"*Huh Pak Wawan ini kerjaannya kepo. Lebih baik aku kerjain saja biar dia mikir*." Nagi merencanakan sesuatu dalam hati.
"Saya calon suaminya ***Hilda Putri Regana***. Sebentar lagi saya akan menikahi Nona muda rumah ini," jawab Nagi berteriak.
__ADS_1
'Lho, lho, sebentar Den," Pak Wawan bermaksud menghampiri lebih dekat karena seakan mengenal suara dari orang yang mengaku calon suaminya Nonanya. Namun, Nagi sudah menutup pintu mobil dengan rapat, suara Pak Wawan sudah tidak terdengar lagi apa bunyinya.
Terpaksa Nagi mengurungkan niatnya untuk ke rumah Papa dan Mama Hilsa, tapi Nagi akan kembali malam nanti sehabis Isya. Saat Nagi memutar balik mobilnya, Nagi berpapasan dengan sebuah mobil mewah milik Naga. Nagi terhenyak, ingin rasanya dia segera menghentikan mobil Naga dan bilang bahwa dia sekarang sedang berada dekat di depan pintu rumah Papa dan Mama Hilsa.
"Bang Naga bersama Zila dan bayinya," seru Nagi seraya masih menatap tajam ke arah mobil Naga sembari menjalankan mobilnya. "Aku sangat merindukan Bang Naga, lebih baik aku datang langsung ke apartemennya besok," putus Nagi menjauh dari depan rumah Papa dan Mama Hilsa.
Sementara itu, Hilda yang tadi memerintahkan Pak Wawan supaya tidak membukakan pintu gerbang, segera merogoh Hpnya dan mengetikkan sesuatu untuk dikirimkan ke Nagi supaya tidak salah paham.
"*Jika memang Kak Nagi punya niat tulus padaku, maka datanglah saat yang tepat, bukan saat ini*." Pesan WA itu terkirim pada Nagi.
Mobil Naga yang sudah berada di depan gerbang, dengan cepat dibuka oleh Pak Wawan. Naga masuk leluasa ke dalam halaman rumah kedua orang tuanya setelah pintu gerbang dibuka lebar-lebar oleh Pak Satpam.
"Pak Wawan, siapa mobil merah yang tadi di depan gerbang?" tanya Naga yang sempat melihat mobil Nagi tadi di depan gerbang.
"Oh itu, Den. Saya tidak tahu siapa dia, tapi dia bilang sama saya bahwa pria muda tadi adalah calon suaminya Non Hilda, bahkan sebentar lagi akan ada pernikahan katanya," jawab Pak Wawan yang sukses membuat Naga dan Zila terbelalak tidak percaya.
__ADS_1