Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 100 Musim 2


__ADS_3

"Ah, sudahlah sebaiknya kita nikmati dulu camilan ini, mungpung teh nya masih hangat," ajak Pak Hasri mengalihkan keingintahuan Naga mengenai masalah yang kini dirasakan dirinya.


Merasa tidak berhasil mengorek informasi dari papanya, Naga mengikuti Papanya menikmati teh hangat dan camilan di sore hari.


Hari pun berganti, siang menjadi malam. Setelah makan malam ini, Pak Hasri dan Bu Hilsa langsung masuk kamar, Naga juga Zila pun demikian. Sedangkan Hilda sejak kepulangannya tadi dari rumah teman Mamanya, sampai tiba waktunya makan malam sampai sudah selesai pun, tidak mau keluar kamar. Meskipun sudah dibujuk oleh ibunya sendiri, Hilda tidak mau keluar kamar. Akhirnya Bu Hilsa menyuruh Bi rani mengambilkan makanan ke dalam kamarnya.


Pak Hasri segera membaringkan badannya di ranjang. Sejak penemuannya tadi di kamar Hilda tentang pesan WA yang dikirimkan oleh Nagi sang keponakan yang isinya bagi Pak Hasri sangat mencengangkan.


Pak Hasri sebetulnya masih belum yakin degan pesan WA itu, dia ingin menyangkalnya. Namun pesan itu memang benar-benar dari Nagi untuk Hilda, yang mengisyaratkan bahwa diantara mereka berdua telah terjalin hubungan khusus selain rasa sayang pada saudara sepupu yang sudah terjalin akrab sejak kecil.


Pak Hasri sebetulnya sudah menduga keinginan Naga yang tadi mengajaknya ke balkon ruang kerjanya. Naga sengaja ingin mengorek info dari dirinya. Namun Pak Hasri belum mau bercerita pada siapapun tetang penemuannya tadi, kecuali pada bu Hilsa istrinya.


Tidak berapa lama, Bu Hilsa mulai menaiki kasur menyusul suaminya. Bu Hilsa melihat ke arah suaminya yang terlihat masih murung dan gelisah.


"Pah, kalau boleh tahu apa yang membebani pikiran Papa saat ini, sepertinya sejak Papa dari kamarnya Hilda, Papa berubah murung dan gelisah. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?" Bu Hilsa mencoba mengorek informasi dari suaminya.


Pak Hasri akhirnya mau bercerita masalah penemuannya tadi di kamar Hilda. "Papa tadi membuka pesan WA dari Nagi untuk Hilda sebab Hildanya tidur. Karena penasaran Papa terpaksa membuka pesan itu yang ternyata dari Nagi." Pak Hasri diam sejenak sebelum melanjutkan lagi ucapannya.


"Ternyata Nagi dan Hilda anak kita sudah menjalin hubungan pacaran, terlihat dari pesam WA yang dikirimkan Nagi anak kita yang menyebut sayang dengan mesra, lalu diakhir kalimat Nagi rupanya berencana menikahi Hilda empat tahun kemudian di mana anak kita sudah lulus kuliah," terang Pak Hasri dengan tatapan yang hampa.


Bu Hilsa yang mendengar berita yang cukup mengejutkan ini, terkejut dan rasanya tidak menduga anaknya menjalin hubungan dengan sepupunya sendiri.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Pah? Apakah Papa setuju Nagi bersama putri kita? Kenapa juga Hilda harus memilih Nagi, bukankah mereka sudah saling kasih sayang sejak kecil, tapi kenapa sekarang mereka menjalin kasih?" Bu Hilsa merasa heran dengan anaknya dan Nagi yang menjalin kasih di belakang mereka.


"Papa belum tahu tindakan apa yang harus kita ambil. Yang penting untuk saat ini lebih baik kita pura-pura saj tidak tahu. Seiring waktu Papa rasa hubungan mereka tidak akan lama. Dan sepertinya alasan inilah Hilda menolak kita jodohkan," pungkas Pak Hasri menutup pembicaraannya dengan sang istri yang semakin gelisah mendengar berita bahwa putri tercintanya menjalin kasih dengan saudara sepupunya.


"Ternyata Nagi dan Hilda anak kita sudah menjalin hubungan pacaran, terlihat dari pesam WA yang dikirimkan Nagi anak kita yang menyebut sayang dengan mesra, lalu diakhir kalimat Nagi rupanya berencana menikahi Hilda empat tahun kemudian di mana anak kita sudah lulus kuliah," terang Pak Hasri dengan tatapan yang hampa.


Bu Hilsa yang mendengar berita yang cukup mengejutkan ini, terkejut dan rasanya tidak menduga anaknya menjalin hubungan dengan sepupunya sendiri.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Pah? Apakah Papa setuju Nagi bersama putri kita? Kenapa juga Hilda harus memilih Nagi, bukankah mereka sudah saling kasih sayang sejak kecil, tapi kenapa sekarang mereka menjalin kasih?" Bu Hilsa merasa heran dengan anaknya dan Nagi yang menjalin kasih di belakang mereka.

__ADS_1


"Papa belum tahu tindakan apa yang harus kita ambil. Yang penting untuk saat ini lebih baik kita pura-pura saj tidak tahu. Seiring waktu Papa rasa hubungan mereka tidak akan lama. Dan sepertinya alasan inilah Hilda menolak kita jodohkan," pungkas Pak Hasri menutup pembicaraannya dengan sang istri yang semakin gelisah mendengar berita bahwa putri tercintanya menjalin kasih dengan saudara sepupunya.


Seminggu ke depan Marisa mendapat cuti tahunan dari perusahaan tempatnya bekerja yang baru diambilnya tahun ini. Marisa tidak mempunyai rencana liburan kemana-mana. Namun, karena desakan sang adik, yaitu Marqisa yang mengajaknya liburan, akhirnya Marisa mengisi waktu cutinya dengan liburan ke sebuah pantai di Jawa Barat, yaitu Pantai Pangandaran.


Marisa dan Marqisa memutuskan berangkat dengan menaiki jasa travel yang bisa mengantarnya sampai tujuan. Dengan ijin dari kedua orang tuanya, Marisa dan Marqisa akhirnya berangkat.


"Kami pergi liburan dulu, ya, Bu, Pak. Assalamualaikum," pamit keduanya kompak.


"Wa'alaikumsalam, kalian hati-hati di sana, semoga selamat dalam perjalanannya," sahut Bu Mariam seraya melambaikan tangannya di iringi Pak Maryana yang juga melambaikan tangan untuk kedua putrinya.


Perjalanan menuju pantai Pangandaran lumayan lama, sekitar kurang lebih 7,5 jam. Semua itu dilalui travel dengan berbagai rintangan, yakni macet dan antri saat di tol.


"Akhirnnya sampai juga, setelah melewat perjalanan yang cukup jauh," guman Marqisa seraya membanting tubuhnya di atas kasur hotel kelas menengah. Wajahnya tengadah ke langit-langit hotel menikmati sejuknya ruangan berAC.


"Ayo, kita nikmati dulu minuman sambutan selamat datang dari pihak hotel, kakak sudah haus nih," ajak Marisa saat beberapa menit yang lalu salah satu pelayan hotel mengantar dua buah minuman ke kamar yang ditempati Marisa dan Marqisa.


"Wah, segarnya," tukas Marqisa sambil menunggingkan gelas bercawan itu ke atas mulutnya. Marina geleng-geleng kepala dengan tingkah konyol sang adik yang menghabiskan minumnya sampai tandas sehingga ditunggingkan di mulutnya.


"Ayo, sebelum kita jalan-jalan di pantai, lebih baik kita mandi dulu. Lalu setelah itu kita makan sore," ujar Marisa mengajak adiknya mandi sebelum jalan-jalan.


"Ihhh, apa-apaan sih Qis, kamu mau nyari duda di sini? Kita ini lagi senang-senang bukan mau cari duda. Memang kamu demen duda, ya?" sergah Marisa kepada Marqisa yang dianggapnya bicara sembarangan.


"Dudanya bukan untuk aku, Kak. Tapi untuk Kakak si janda lima tahun, ehehehehe," ledeknya sambil berhambur ke kamar mandi hotel karena takut ditimpuk bantal oleh sang Kakak.


"Huhhhh, Marqisa nyebelin, mentang-mentang aku janda lima tahun, seenaknya meledek. Awas, ya, tahu rasa nanti," dumelnya kesal yang melihat sang adik berlari menuju kamar mandi.


Setelah keduanya mandi dan berdandan ala gadis kota yang sederhana, mereka berdua segera keluar dari kamar hotel dan mengunci kembali pintu hotel dengan sebuah kartu.


Mereka berjalan beriringan, Marisa berada di depan sambil menerima sebuah panggilan telpon dari sang ibu. Sedangkan Marqisa berada di belakangnya sembari matanya jelalatan menikmati suasana lorong hotel. Sejenak Marqisa tertegun saat matanya menuju kamar hotel nomer 109. Dari pintu itu keluar seorang pria dewasa yang dikenalnya bersama seorang anak kecil sekitar lima tahun.


"Mas Raka, sepertinya itu Mas Raka. Ah, benar itu Mas Raka." Marqisa menebak seraya mengamati pria dewasa yang baru keluar dari kamar hotel tempat wisata itu. Marqisa yakin anak kecil yang bersamanya merupakan anak dari pria yang disebutnya Mas Raka itu, yakni mantan kakak iparnya lima tahun yang lalu.

__ADS_1


"Pasti Mas Raka sengaja liburan juga ke pantai ini bersama istrinya. Wah, gawat kalau Kak Marisa tahu dan bertemu dengan Mas Raka. Alamat perang dingin akan dimulai lagi."


"Qisa, cepat dong, lelet amat!" Marisa mengingatkan adiknya yang masih tertegun mengamati pria dewasa yang dilihatnya tadi. Marqisa berlari kecil menghampiri Kakaknya yang sudah lebih dulu.


Tiba di pantai mereka berdua sangat menikmatinya. Berkejar-kejaran layaknya ABG dan bermain pasir. Kadang ombak pantai yang memasang ombaknya dikejar Marqisa dengan tawa centilnya yang khas.


"Kak Risa, foto aku, ya, kalau ombaknya sudah pasang. Nanti ambil fotonya saat aku jumping, ya." Marqisa memberi arahan pada Kakaknya layaknya sang Fotografer. Marisa hanya mengangguk pelan, terpaksa dia harus mengikuti adiknya itu.


"Ayo, Kak, kita foto bersama minta tolong Ibu tukang jualan kopi itu," tunjuknya pada seorang ibu-ibu penjual kopi di pantai itu. Marisa setuju dan berusaha minta tolong pada Ibu penjual kopi.


"Jepret, jepret." Mereka berhasil diambil beberapa foto oleh Ibu penjual kopi pantai itu.


"Terimakasih, ya, Bu," ucap Marisa seraya melihat hasil jepretan si ibu penjual kopi tadi. Marisa nampak tersenyum saat melihat hasil foto si ibu tadi, dia kagum dengan hasil yang bagus foto tersebut.


"Wah, bagus banget, Kak. Ternyata ibu penjual kopi tadi pandai ambil gambar yang pas, ya? Hasilnya juga cantik." Marqisa memuji hasil jepretan ibu tukang kopi tadi. Marisa juga sangat puas dengan hasil jepretan ibu tadi.


"Ayo, Kak kita masuk kamar hotel saja, aku pengen boker nih." Tiba-tiba Marqisa mengeluh pengen buang hajat.


"Di sini saja, nanti malah kebelet kalau harus ke hotel dulu. Ayolah, cepat. Itu di depan ada penunjuk arah toilet, kamu di sana saja bokernya," suruh Marisa menunjuk sebuah plang petunjuk. Marisa tidak membantah, dia segera bergegas menuju toilet.


Marisa yang merasa bosan harus menunggu lama sang adik boker, iseng dia berjalan-jalan ke taman sekitar hotel tempat mereka nginap. Taman di hotel ini didominasi hampir 90% tanaman berbunga, selain wangi dan indah Marisa memang sangat suka dengan bunganya. Ada bunga Dahlia dan Zinitia dan lain-lain.


Ketika Marisa akan melangkah menuju bunga dahlia, tiba-tiba seorang anak kecil menyebrangi got yang memisahkan antara taman dan jalan, tepat empat meter di depan Marisa. Malangnya, kaki anak itu tidak sampai menapaki permukaan tanah, karena kakinya yang pendek, lalu kakinya berpijak pada tempat yang salah yakni selokan atau got, sehingga marabahaya itu tidak terelakkan. Dan suara jeritan anak itu dan jeritan Marisa bersamaan terdengar.


"Awwww," jerit anak itu.


"Awasss," teriak Marisa kaget seraya berlari ke arah anak yang terlanjur jatuh ke dalam got sedalam satu meter.


Anak kecil itu terbujur sambil menangis, Marisa memanggilnya seraya mengulurkan tangan. Namun sepertinya kaki anak itu terkilir sehingga tidak bisa berdiri. Dengan rasa belas kasihan yang tinggi, akhirnya Marisa turun ke dalam got untuk membantu anak kecil itu naik.


"Adik kecil, ayo kakak bantu. Kakak gendong saja, ya, karena sepertinya kaki kamu sakit," tukas Marisa mengulurkan tangannya. Anak kecil itu hanya bisa mengangguk seraya meringis.

__ADS_1


Marisa menggendong anak kecil itu, lalu bersiap menaiki got yang tingginya satu meter. Karena tidak ada pegangan yang bisa menolongnya berpegangan, akhirnya Marisa memutuskan meletakkan anak kecil itu duluan di permukaan taman.


"Ayo, kamu duduk dulu di sini, Kakak harus naik mengangkat kaki untuk di permukaan tanah ini," ujarnya. Saat Marisa akan naik, tiba-tiba sebuah tangan mengulurkan bantuannya.


__ADS_2