Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 122 Musim 2 Kado Buat Naga


__ADS_3

     Naga sejenak menatap kedatangan Bi Lala yang menenteng semangkok rujak buah yang dilumuri kecap dengan taburan cabe bubuk. "Sayan, apakah kamu masih mual?" tanya Nag heran.


     "Den Naga, maaf, Den." Bi Lala tidak enak melihat Naga sudah berada di dalam kamar, tadi saat di dapur Bi Lala tidak mendengar Naga pulang.


     "Tidak apa-apa, Bi, masuk saja."


     "Di sini saja , ya, Non, rujaknya." Bi Lala meletakan rujak itu di atas meja rias di kamar itu. Zila mengangguk lalu membetulkan duduknya di ranjang dan mulai meraih mangkok berisi rujak buatan Bi Lala tadi. Bi Lala pun kembali ke dapur meninggalkan Zila dan Naga yang kini sudah di kamar.


     "Sayang, kamu masih mual? Kenapa kamu makan rujak, apakah mual kamu karena perut kamu sedang hamil? Aku jadi penasaran dan ingin tahu kamu mualnya karena apa?" ungkap Naga seraya mengusap perut Zila lembut.


     "Aku masuk angin sepertinya, Kak. Rujak bukan hanya untuk orang hamil saja, kan?" jawab Zila sembari menyuapkan potong demi potong rujak buah.


     "Iya, sih. Tapi sebaiknya kamu periksakan mual kamu itu karena apa, aku hanya takut saja penyakit kamu kenapa supaya jelas dan memberi obatnya jelas," tukas Naga sembari mencium pipi Zila yang sedang menyuap. Akhirnya rujak yang baru saja mau sampai mulut harus terjatuh karena ciuman Naga di pipi Zila.


     "Kak Naga, buahnya jatuh," protes Zila sedikit merengut. Naga hanya terkekeh dan mencegah Zila meraih potongan buah yang ada.


     "Aku jujur saja sudah tidak sabar menantikan kehadiran anak dalam kandungan kamu ini, sebab semalam aku bermimpi akan memiliki anak. Tadi pagi aku ingin bilang, tapi karena melihat kamu sakit dan masih terbaring, aku tidak jadi memberitahukan mimpiku itu yang seakan nyata," ujar Naga penuh harap.


     Zila tersentak dan berpikir sepertinya kehamilannya telah diberitahukan lebih dulu ke dalam mimpi Naga. Dan siang ini Zila mengetahui dirinya hamil dari tespek yang tadi dibeli Bi Lala dan sudah dicobanya. Namun Zila belum yakin betul, maka dirinya belum mau memberitahukan Naga takutnya tespek itu tidak akurat.


     "Aku tidak mau diperiksa, ini hanya masuk angin biasa. Besok juga sembuh," tolaknya halus.


     "Kamu ini selalu menolak jika aku ajak untuk kebaikanmu. Kali ini jangan keras kepala," tekannya lagi.

__ADS_1


     "Aku bukan menolak kebaikan, tapi aku benar-benar tidak apa-apa. Aku hanya mual biasa dan nanti juga akan sembuh dengan sendirinya," bujuk Zila lagi berharap Naga tidak memaksanya lagi, sebab jika Naga memaksa, maka kehamilannya bukan surprise lagi jika harus diketahui Naga dari Dokter.


     "Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika ada apa-apa dengan kamu karena kamu tidak mau menurut perintahku," ancam Naga sembari berjingkat dan meninggalkan Zila yang tersentak karena tidak menyangka akan sikap Naga.


     Zila jadi bingung, dia hanya ingin memberikan kejutan sama Naga bukan bermaksud menolak kebaikan untuk dirinya. Dan sepertinya kali ini Naga akan marah jika dia menolak diajak ke klinik, seperti marah saat Zila dilarang ke Lembang kemudian naik pohon mangga dan saat mau turun terjungkal sehingga dia harus kehilangan janin yang dia kandung.


     Akhirnya dengan terpaksa Zila mengikuti kemauan Naga yang ingin mengajaknya ke klinik. Zila menunggu Naga masuk kamar kemudian dia akan mengajaknya ke klinik. Namun setelah ditunggu setengah jam, Naga ternyata tidak muncul-muncul. Zila merasa heran, kemudian dengan penasaran Zila keluar kamar dengan perlahan karena kepalanya terasa sedikit sakit untuk mencari Naga.


     "Kak Naga," panggilnya. Zila mencari-cari di mana Naga. Ke dapur, ke kamar sebelah, dan ke ruang keluarga, tapi Naga tidak ada. Ditanyakan pada Bi Lala katanya tidak melihat sebab sejak tadi Bi Lala tidak melihat Naga ke dapur.


    "Kemana perginya Kak Naga? Jangan-jangan di ruang tamu, sepertinya Kak Naga di ruang tamu," tebaknya seraya berjalan ke ruang tamu. Dan tebakan Zila tepat, rupanya Zila memang berada di ruang tamu terbaring dengan tidur yang lelap.


     "Kasihan sekali Kak Naga, saking ngantuknya sehingga tertidur di sini," ujarnya sembari mendekati Naga yang tertidur nyenyak di sofa, lalu Zila ikut terbaring di samping Naga dan memeluknya.


     "Bilang saja Kakak ini ngantuk dan lelah, pakai ngajak ke klinik segala untuk mengajak aku diperiksa," dumel Zila seraya memeluk Naga dan ikut tertidur juga.


     "Kak Naga, bangun Kak. Katanya akan mengajak aku ke klinik?" ucap Zila menyinggung klinik yang tadi Naga sebut. Naga membuka matanya perlahan, lalu mulai bergerak. Di sana nampak jelas Naga masih sangat ngantuk. Zila merasa sangat bersalah, tapi kalau tidak dibangunkan pamali maghrib-maghrib tidur.


     "Kak Naga bangunlah dulu ini sudah Maghrib, kita sebaiknya membersihkan diri dan sholat Maghrib," ujar Zila mengingatkan.


     Naga belum merespon apa-apa, sepertinya dia tengah mengumpulkan dulu kesadarannya sepenuhnya pada jiwanya yang tadi sempat tertidur pulas. Naga perlahan bangkit dan duduk di sofa dengan benar.


     "Jam berapa ini?"

__ADS_1


     "Ini sudah Maghrib, Kak. Ayo kita ke kamar mandi, membersihkan diri dan sholat Magrib," ajak Zila seraya menarik tangan Naga, kemudian membawanya ke kamar mandi.


     "Kak Naga, apakah Kakak jadi akan mengajak aku ke klinik?" tanya Zila saat mereka sedang menikmati makan malam.


     "Ini sudah malam, aku malas pergi malam-malam begini. Lagi pula kamu sekarang sudah kelihatan sehat tidak mual atau demam lagi," sahut Naga dibenarkan Zila. Zila diam karena niat dari awal tidak ingin diajak ke klinik sebab dia ingin memberi kejutan pada Naga tentang hasil tespek yang tadi ditesnya.


     Zila akhirnya manut, tapi kali ini Zila harus kecewa sebab sikap Naga kini berubah mendiamkannya. Naga lebih sibuk dengan Hpnya saat dia mencoba merayunya. Zila sadar, mungkin ini akibat sikap dia yang menolak diajak ke klinik tadi sore. Salahnya sendiri menolak ajakan Naga sehingga Naga merajuk dan mendiamkannya. Zila baru menyadarinya, Naga sebetulnya tidak mau dibantah. Sekali dibantah, pasti dia akan merajuk dan mendiamkannya.


     "Kak Naga marah dan kini dia mendiamkan aku gara-gara aku tadi tidak mau diajak ke klinik. Kok malah jadi Kak Naga yang sensitif, bukan aku?"


     Subuh menjelang, kokok ayam jago bersahutan, suara azan pun berkumandang. Zila terbangun dan segera bangkit, dilihatnya sejenak Naga di sampingnya yang masih terlelap. Andai saja Naga tidak sedang mendiamkannya, Zila pasti sudah membangunkannya.


      Zila segera bergegas, tidak lupa dia mengambil tespek yang tadi siang dibeli Bi Lala. Zila mengetes air seninya dengan tespek dan mendiamkannya selama beberapa detik. Dalam hati Zila berdoa semoga hasilnya masih garis dua yang artinya dia sedang hamil.


     Lima menit kemudian Zila perlahan melihat hasil tespek itu yang dia harapkan garisnya dua seperti apa yang dia lihat tadi siang. zila masih berdoa dalam hati dan perlahan mengangkat hasil tespek itu ke atas lalu dilihatnya. Dan hasilnya mencengangkan.


     "Garis dua, alhamdulillah. Terimakasih ya Allah," ucapnya sembari bersyukur dengan mata yang berkaca-kaca dan akhirnya butiran bening itu tidak lagi tertahan. Zila menangis bahagia dia terharu karena bisa memberikan hadiah terindah buat suami dan juga kedua mertuanya yang selama ini mereka nanti-nantikan.


     Zila keluar dari kamar mandi dengan sudah mengantongi hasil tespek tadi. Kini dia benar-benar bisa yakin memberikan surprise pada Naga dengan hasil tespek itu.


     Setelah menjalankan sholat Subuh yang diakhiri dengan munajat atas diberi kepercayaan pada dirinya dari yang Maha Pemberi Hidup, Zila segera bangkit dan keluar kamar. Zila berencana akan membungkus tespek itu dengan kado kecil lalu nanti saat Naga akan pergi kantor, Zila akan memberikan kado itu pada Naga sebagai bentuk surprise untuk Naga.


     Setelah membungkus tespek itu dengan kotak kecil dan bungkus kado, Zila menyembunyikan sejenak kado itu, nanti setelah sarapan pagi rencananya akan dia kasih ke Naga.

__ADS_1


     "Kak Naga, aku ada sesuatu untuk Kak Naga, tolong diterima," ujar Zila setelah menyudahi sarapan pagi mereka. Naga menatap sejenak ke arah Zila. Zila memberi kode supaya Naga menerimanya. Dan akhirnya Naga meraih kado itu, lalu dilihatnya dengan heran.


"Kakak masukin saja dulu ke dalam tas kerja Kak Naga. Lalu Kak Naga buka saat Kak Naga senggang," imbuh Zila seraya meletakkan kado itu di telapak tangan Naga. Mau tidak mau Naga menerimanya dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. Tidak lama dari itu Naga berpamitan meskipun sikapnya masih dingin.


__ADS_2