
Apartemen Naga
Zila langsung memasuki kamar mandi setelah pulang dar kantor Naga. Dia mandi dan membersihkan diri. Sejenak dia menatap perutnya yang kata Dokter baru berusia dua bulan, tapi Zila seakan tidak merasakan apa-apa, sebab rasa mual kini sudah jarang dirasakannya dan semua makanan mulai diterima lagi oleh perutnya.
Perut yang belum buncit di trimester pertama memang wajar, karena pertumbuhan janin masih sebesar biji kacang, itu yang pernah Zila dengar dari cerita Bi Rani saat masih di rumah kedua mertuanya.
Zila menyudahi mandinya, lalu melilit tubuhnya dengan handuk setengah badan. Rambutnya yang masih basah sengaja dia peras oleh tangannya. Lalu dia keluar dengan tubuh yang sudah segar. Saat sudah di kamar, rupanya Naga sudah berada di situ, Naga menatap tubuh Zila yang masih basah. Rasa ingin tiba-tiba menjalar merasuk dalam dadanya.
Sayang," serunya sembari menangkap tubuh Zila yang hanya menggunakan handuk. Zila tentu saja berontak, sebab dia baru saja selesai mandi.
"Kak Naga, lepasin! Aku baru mandi. Aku nggak mau mandi lagi," tepisnya menolak keinginan Naga yang sepertinya sudah menggebu. Naga tidak peduli dengan penolakan Zila, dia terus merangsek masuk dan menarik handuk yang melilit tubuh Zila. Terjadilah adegan tarik menarik. Rupanya tenaga Zila untuk mempertahankan handuknya saat ditarik Naga sangat kuat, Naga sampai kewalahan, dan akhirnya lomba tarik menarik handuk ini dimenangkan Naga.
Naga berhasil menariknya sehingga Zila menjerit dibuatnya dan langsung menghambur menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Naga tersenyum jail, Naga berpikir kenapa tiba-tiba istrinya itu seolah malu-malu memperlihatkan kemolekan tubuhnya yang sudah sering dia jamah?
"Kak Naga tolong menjauh, aku sedang tidak mood, apalagi Kak Naga masih tidak mau mengijinkan aku pergi ke rumah paman Kobar. Aku sudah sangat ingin bertemu mereka terutama berita pernikahan mereka."
Naga tidak peduli dengan penolakan Zila, yang jelas sore ini hasrat Naga harus bisa dituntaskan.
"Stop, aku bilang stop! Jika Kak Naga ingin bersenang-senang, maka ijinkan aku ke rumah paman Kobar, baru aku akan memberikan kesenangan untuk Kak Naga," ujarnya memberi penawaran yang sebenarnya enggan Naga setujui, sebab dia merasa khawatir dengan keadaan Zila yang sedang hamil muda.
"Bagaimana?" tanya Zila menunggu persetujuan Naga. "Kalau tidak mau, ya, sudah. Lebih baik aku berpakaian lagi," lanjutnya memberikan keputusan sepihak yang akhirnya harus disetujui Naga.
"Sayang, baiklah. Demi kesenangan yang kamu berikan, aka aku mengijinkan kamu ke rumah paman Kobar. Tapi, sebenarnya aku was-was dan khawatir melepas kepergianmu ke Lembang sendiri. Sebaiknya menunggu aku sedang tidak sibuk." ujar Naga memperlihatkan rasa was-wasnya.
"Kenapa Kak Naga harus khawatir? Bukankah Kak Naga punya anak buah yang banyak, yang bisa dijadikan pengawal aku ke Lembang misalnya?" Zila memberikan idenya pada Naga yang akhirnya mau tidak mau disetujui Naga.
"Ok, besok kamu boleh pergi ke Lembang dikawal pengawalku dan ditemani Supir." Akhirnya hal diharapkan Zila tercapai juga, dia sudah sangat rindu dengan pamannya juga kabar tentang pernikahannya yang dilaksanakan secara sederhana. Zila tersenyum gembira sembari meraih tangan Naga yang sudah ingin menggapai Zila sejak tadi. Semilir angin pun ikut bahagia dengan kebahagiaan yang mereka reguk bersama.
__ADS_1
Malam telah berlalu dan pagi kini menjelang. Naga dan Zila sudah bersiap dengan kegiatan dan tujuannya masing masing. Naga sudah tampan dan mempesona dengan jas warna biru navy yang sudah dipilihkan Zila. Sementara Zila cukup menggunakan kaos longgar dan celana bahan yang pas di tubuhnya.
"Ok, pergilah, sopir sudah menunggu. Kamu hati-hati, ya. Jaga anak kita jangan sampai kenapa-napa," pesan Naga sebelum mereka pergi dengan tujuannya masing-masing.
"Kak Naga juga hati-hati, terutama dari ancaman para pelakor. Kak Naga jangan mudah kena jebakan minuman yang dibubuhi obat tidur atau obat perangsang lagi," tukas Zila memberi pesan balik pada Naga.
"Kamu tenang saja, aku pasti hempaskan para pelakor ke tong sampah," balasnya sembari mengibas tangannya mengibaratkan sedang membuang debu kotoran di tangannya. Zila tersenyum, sejenak Zila mencium tangan Naga sebelum dia \]benar-benar pergi.
"Pak Wawan, hati-hati menjalankan mobilnya. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya," teriak Naga pada Pak Wawan yang bertugas menjadi supir Zila hari ini ke Lembang. Pak Wawan manggut dan patuh akan perintah Naga. Kemudian setelah Zila memasuki mobil dan duduk di jok belakang, mobil yang disupiri Pak Wawan pun meninggalkan area parkir apartemen.
Setelah Zila pergi, Naga juga bersiap dan segera menuruni apartemen menuju parkiran lalu masuk mobil dan segera menjalankan mobilnya menuju kantornya.
Tiba di kantor, Naga langsung disibukkan dengan berbagai rangkaian agenda. Kali ini Naga ada agenda mendatangi salah satu perusahaan yang sudah lama bekerja sama dengan perusahaannya. Setelah dari perusahaan itu, Naga kembali harus menemui salah satu mitra yang mengajak melaksanakan rapat terbuka di sebuah restoran. Maka dari itu Naga hari ini dan dua bulan ke depan dia benar-benar sangat disibukkan dengan berbagai agenda yang padat.
Akhirnya setelah Zila selesai mandi dan berganti pakaian, Zila dan Naga kembali terhubung dalam sambungan vidio call. Mereka membicarakan kegiatan mereka masing-masing selama seharian. Naga hanya menceritakan garis besarnya saja bahwa dia hari ini melakukan berbagai pertemuan dengan para mitra perusahaannya. Beda dengan Zila, dia menceritakan aktivitasnya seharian dengan sangat antusias sembari menikmati sepiring rujak buah arumanis yang masih mangkel tapi tidak terlalu asam.
"Kak Naga, datanglah ke rumah paman Kobar. Nanti di sini aku buatkan rujak mangga mangkel arumanis. Aku sendiri yang metik lho dan naik ke atas pohonnya" cerita Zila antusias dengan wajah yang sangat bahagia. Naga yang mendengar itu sontak kaget dan kelabakan. Dia mendadak was-was mendengar cerita Zila seperti itu.
"Zi, jangan ulangi lagi naik pohon mangganya, aku tidak mau sesuatu terjadi padamu dan janin yang kamu kandung. Kamu harus patuh sama aku suamimu," tegas Naga benar-benar was-was. Dia marah dan takut Zila manjat pohon mangga.
"Zi, kenapa tidak paman Kobar saja yang kamu suruh ambilkan mangga di pohonnya, kenapa harus kamu yang naik pohon? Apakah paman Kobar atau tante Zila tidak khawatir padamu yang sedang hamil?" cecar Naga lagi marah.
"Kak Naga tenang saja, buktinya aku tidak kenapa-napa. Aku masih sehat dan janin dalam kandunganku saja tidak berontak. Paman Kobar dan tante Zila bukan tidak melarang, tapi aku yang naik sendiri tanpa mereka tahu," jawab Zila tanpa rasa bersalah, padahal Naga yang berada di ujung telpon sana sangat risau, dan sepertinya malam ini dia ingin segera menyusul Zila ke Lembang.
__ADS_1
"Besok kamu harus pulang, biar Pak Wawan jemput kamu kembali ke Lembang, aku sangat khawatirkan kamu dan calon bayi kita," Putusnya. tanpa menunggu persetujuan Zila.
"Baiklah, Kak. Besok sore jemput aku oleh Pak Wawan. Jangan pagi-pagi, sebab paginya aku ingin melihat pembangunan pabrik di tanahku itu sudah sampai tahap apa." Zila menyanggupi besok dia harus kembali ke Bandung karena Naga sudah menyuruhnya kembali.
"Ok, kamu jaga diri, ya. Sampai ketemu besok di apartemen," ucap Naga mengakhiri pembicaraan di telpon bersama Zila sang istri yang sangat dirindukannya.
***
Besoknya di rumah Kobar yang kini tidak sepi lagi sebab bertambah satu anggota keluarga, yakni tante Zuli. Mereka sudah menikah sejak satu bulan yang lalu tanpa kehadiran Zila dan Naga sebab saat tu mereka sangat sibuk, sehingga tidak ada waktu. Ditambah sekarang kedatangan anak semata wayang tante Zuli yang mengambil cuti selama seminggu dari perusahaannya.
Zila senang dengan kehadiran Diara anak semata wayang tante Zuli. Mereka sudah sangat akrab karena sejak kecil merupakan teman sepermainan dan besar bersama. Zila dibesarkan pamannya, sementara Diara hanya dibesarkan oleh tangan terampil dan baiknya tante Zuli. Mereka hampir memiiki nasib yang sama, hanya beda siapa yang merawat dan membesarkan mereka. Usia Zila dan Diara juga hampir sama, hanya berbeda satu tahun lebih tua Diara dibanding Zila.
"Aku, nanti sore harus kembali pulang ke Bandung, Paman. Sebab Kak Naga sudah menyuruh aku pulang." Zila memberitahu. Kobar yang mendengarnya tentu saja sangat sedih, baru saja sehari kedatangan keponakannya ke rumah, sekarang harus berpisah lagi.
"Iya, Zi. Kami masih rindu kamu. Kamu tahan dulu untuk tidak pulang nanti sore, Diara juga masih kangen sama kamu. Baru saja bertemu , sudah akan berpisah lagi.
"Tapi, Kak Naga sudah mewanti-wanti supaya sore ini aku pulang," ujar Zila lagi. Sebenarnya Zila juga masih rindu akan paman dan keluarga baru pamannya ini.
"Ok, deh kalau begitu pagi ini paman harus segera pergi ke proyek." Kobar pamit karena dia kini sudah dipercaya di proyek pembangunan pabrik di atas tanah milik Zila sebagai Pengawas. Kobar pamit ke proyek sementara tante Zuli masih sibuk jualan di depan rumah Kobar yang kini rumahnya sudah diperluas menjadi toko.
Kini tinggal Zila dan Diara yang sejak kemarin merencanakan akan merujak mangga arumanis lagi. Zila dan Diara bergegas ke halaman belakang rumah Kobar yang tumbuh mangga dan rambutan di sana. Mangga arumanisnya sangat besar-besar, tapi sayang yang sudah setengah matang susah dijangkau oleh kayu galah, sehingga Zila terpaksa naik lagi ke pohon mangga karena dia sejak dulu memang jago naik pohon.
Diara sangat khawatir melihat Zila menaiki pohon mangga, terlebih Zila kini sedang hamil muda. "Zi, jangan! Biar mangga yang di bawah ini saja, ini enak juga kalau dirujak," saran Diara yang sama sekali tidak digubris Zila.
"Awwww."
"Zilaaaaa."
__ADS_1
"Apa, apa yang terjadi?' Naga meletakkan Hpnya dengan kasar, wajahnya berubah merah dan marah. Dia segera bergegas menuju parkiran di perusahaan Naga Group.