Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Musim 3 Nagi dan Hilda #Ketegangan Hilda


__ADS_3

     Nagi bangkit dan menggunakan kembali bajunya, dia nampak frustasi dengan kegagalannya tadi saat ingin menyatukan jiwa. Tapi karena Hilda sangat kesakitan, Nagi terpaksa menyudahi semua. Dia tidak ingin menyakiti Hilda. Sejenak Nagi berpikir, benarkah jika awalan semenyakitkan itu, sampai Hilda menjerit dan menangis? Padahal ketika mereka sedang dimabuk asmara, rasa itu selalu menggebu-gebu. Namun ketika prakteknya, tidak jos seperti yang dibayangkan.


     "Arrrghhh," teriak Nagi frustasi sambil memukul pagar pembatas. Untuk melepas rasa frustasinya Nagi menyalakan sebatang rokok lalu menyesapnya hingga asapnya mengepul bulat-bulat ke angkasa. Satu batang rokok telah habis, Nagi mengeluarkan lagi sebatang rokok lalu disesapnya kembali. Dua batang rokok rupanya tidak membuat sakit kepala Nagi hilang denyutnya.


     "Kalau tidak jebol juga, pasti saat setiap akan memulai rasanya sama dan sakit. Lalu kapan aku bisa memasukinya?" dumel Nagi kesal seraya memukul pagar pembatas. Deburan ombak yang tenang dan hamparan pasir yang indah tidak cukup membuat frustasi Nagi hilang, dia tidak tahu harus berbuat apa jika sakit kepala ini masih berdenyut.


     Hilda bangkit dari ranjangnya, rasa sakit yang tadi sempat dirasakannya saat Nagi akan memasukinya, masih terbayang. Dia tidak tahu bahwa untuk memasuki area sensitifnya akan sesakit itu, tidak seindah yang dibayangkan selama ini. Bayangannya selalu enak dan melayang-layang.


     "Bagaimana bisa aku menginginkan dinikahi Kak Nagi sejak usia 15 tahun? Sedangkan ini saja sangat sakit," batin Hilda seraya melihat Nagi yang sedang berada di balkon kamar hotel.


     "Apakah Kak Nagi tidak kedinginan dengan angin malam pantai ini? Sepertinya Kak Nagi sangat kesal, dia terus menyesap rokok dengan tangan kanan memukul-mukul pagar pembatas. Apakah gara-gara kegagalan tadi membuat Kak Nagi kesal? Lalu aku harus apa? Setelah tadi merasa sakit, aku jadi enggan melakukannya. Duhhh, ya ampun. Padahal dulu bayangan itu sudah sejak lama aku impi-impikan, tapi kenapa sekarang aku ketakutan?" Hilda berbisik-bisik terus dengan perasaan yang sangat bingung/.


     "Zila, benar sekali, Kakak iparku itu pasti punya pengalaman yang sama sepertiku. Aku harus bertanya padanya tentang tips di malam pertama. Apa yang harus aku lakukan saat menghadapi Kak Nagi?" Akhirnya Hilda menemukan ide yang menurutnya cemerlang dan bisa sedikit ada gambaran untuk kemajuan malam pertamanya, yaitu menghubungi Zila sang Kakak ipar.


     "Kak Naga saja sampai kesengsem dan tidak mau lepas dari Zila, pasti Zila sangat bagus servisnya pada Kak Naga. Ok, aku akan mencoba bertanya pada Zila. Ditelpon atau pesan WA, ya? Pesan WA saja deh supaya suara aku tidak kedengaran oleh Kak Nagi," guman Hilda merencanakan sesuatu untuk menghubungi Zila saja lewat pesan WA menanyakan bagaimana tips malam pertama yang benar-benar masih bau.


"Zi, ini aku Hilda. Kasih tips malam pertama supaya tidak sakit, sebab malam pertama kami tadi gagal karena aku kesakitan. Apakah kamu saat bersama Kak Naga, kesakitan juga? Kamu masih ori, kan saat bersama Kak Naga?" Pesan itu terkirim dan masih centang abu.


     "Ayo dong, Zi, cepat balas. Aku malam ini ingin membuat Kak Nagi bahagia merasakan malam pertama," bisiknya tidak sabar.


     Sementara saat ini di Bandung, Zila yang baru selesai menidurkan Syakala, dikejutkan bunyi pesan WA entah dari siapa. Zila segera melihat Hpnya dan ternyata pesan WA dari Hilda.

__ADS_1


     "Hilda? Ada apa pengantin baru ini larut malam begini kirim pesan WA? Pasti ada maunya."


     Zila membuka pesan WA dari Hilda. "Ya ampun, Hilda menanyakan tips malam pertama. Ha, ha, ha, pasti dia sangat terkejut dan kesakitan. Tahu rasa lu, dulu dengan menggebu-gebu menginginkan tubuhnya disentuh Kak Nagi sampai dia rela merendahkan harga dirinya. Sekarang baru tahu, kan, baru akan terenggut saja sakitnya luar biasa," dumel Zila sedikit kesal saat membayangkan masa lalu Hilda yang hampir nakal dan jadi budak cinta Nagi. Dengan buru-buru Zila membalas pesan WA Hilda karena waktu juga sudah menunjukkan jam 22.30 malam. Belum lagi Naga yang sudah menunggunya di kamar karena malam ini mereka janji akan membuat adik untuk Syakala. Zila segera mengetikkan balasan pesan WA untuk Hilda sepengetahuannya.


"Ya ampun Hilda, kirim WA itu basa-basi dulu, ucap salam kek atau apa kek. Aku tidak punya tips untuk malam pertama pengantin baru yang masih original. Aku juga sama saat bersama Kak Naga merasakan sakit yang luar biasa, karena aku ori saat memberikan diriku pada Kak Naga." Balasan pertama terkirim.


"Harusnya kamu rileks saja saat Kak Nagi beraksi. Tapi aku tahu semua perempuan yang masih baru pasti akan tegang dan itu memicu rasa sakit. Maka dari itu yang aku lakukan saat Kak Naga turun naik, aku tahan dadanya dengan maksud ingin melepaskan sesuatu yang menghantam itu. Tapi semakin kamu dorong dada suamimu, maka semakin garang suamimu menerkammu turun naik. Rasakan dan cobalah Hilda. Jangan lupa pakai lingerie seksi dan transparan." Pesan WA kedua terkirim.


"Rasa sakitnya berapa lama, Zi?" tanya Hilda.


"Aku sampai tiga bulan masih merasakan sakit, tapi tidak sesakit malam pertama. Ya sudah, kamu segera coba dengan Kak Nagi. Jangan lupa berdoa. Lagi pula aku juga malam ini ditunggu Kak Naga untuk janjian bikin adik untuk Syakala. Jadi, pesan WA kamu ini sesungguhnya sudah mengganggu waktu kami," balas Zila sedikit kesal.


     Zila segera menuruni ranjang Syakala. Karena anak pertamanya itu sudah lelap, Zila segera mengendap keluar kamar Syakala, lalu kini menuju kamarnya di mana Naga menunggu.


     Naga menarik lengan Zila, lalu dengan cepat direbahkan di atas ranjang. Kali ini mereka merencanakan memiliki anak lagi dan memberi adik untuk Syakala.


**


     Kembali ke Maldives. Suasana malam yang semakin menusuk dan risau yang dirasakan Hilda kini semakin menjadi, setelah Hilda menerima balasan WA dari Zila sang Kakak ipar yang mengatakan bahwa sakitnya bisa sampai tiga bulan lamanya. "Ya ampun, benarkah?" Hilda uring-uringan tidak percaya. Lalu dia harus apa dalam kebingungan ini.


     "Rileks! Ya, aku harus serileks mungkin. Lalu saat Kak Nagi turun naik, kalau aku merasakan sakit, maka dadanya saja aku dorong. Aku harus menghadapinya. Kalau tidak, lalu kapan lagi? Karena kalau hari ini gagal maka besok atau lusa pasti Kak Nagi akan tetap menerkam aku."

__ADS_1


     "Aku harus gunakan lingerie yang baru supaya Kak Nagi tidak kesal lagi. Ok sebaiknya aku siap-siap dan mencoba merayu Kak Nagi yang sedang kesal." Hilda bergegas menuju lemari di dalam kamar hotel, lalu dia meraih salah satu lingerie paling seksi diantara yang lain.


     Hilda masih melihat suaminya merokok dengan asap yang dibulat-bulat ke atas langit-langit lautan. Dia bertekad malam ini dia yang harus menggodanya. Sekarang Hilda tidak akan takut dihindari lagi jika dia kembali agresif, justru sebaliknya Nagi pasti akan langsung menyerangnya.


     Lingerie seksi dan transparan itu, Hilda sembunyikan di balik handuk piyamanya. Perlahan Hilda membuka pintu menuju balkon lalu mengendap menghampiri Nagi. Tanpa basa-basi Hilda memeluk tubuh Nagi. Dia lingkarkan tangannya di leher Nagi dari arah samping. Secepat kilat tangan kanannya dia gunakan untuk membuka tali pengikat piyama yang hanya diikat simpul.


     "Kak Nagi," desahnya sembari ******* bibir Nagi yang terasa manis bekas batang rokok. Kini piyama itu terlepas talinya, tubuh Hilda melekat di pinggang Nagi sangat transparan dan seksi. Nagi belum menyadarinya sebab bibirnya dilumat ganas oleh bibir Hilda.


     "Sayang, kamu siap?" tanya Nagi seraya merasakan geli-geli kenyal dengan tubuh Hilda yang melekat erat di pinggangnya. Hilda mengangguk seraya tidak henti melancarkan serangannya.


     "Ayo Sayang, Kakak juga sudah tidak tahan," ujar Nagi seraya membawa tubuh Hilda ke dalam kamar hotel. Rasa dingin langsung menyapa saat pintu balkon terbuka lebar. Nagi meletakkan tubuh Hilda yang sangat menggiurkan, dengan cepat dia menutup pintu itu serapat mungkin. Ini saatnya menapaki surga dunia yang selama ini dia nanti-nantikan.


     "Apakah malam ini kamu siap, Sayang?" Nagi mencoba meyakinkan Hilda yang terlihat tegang. Berusaha santai pun ketegangan sudah terlihat. Nagi berusaha santai, memperlakukan Hilda dengan selembut mungkin.


     "Kak Nagi, kalau aku sakit, jangan dipaksa, ya." Hilda memberi peringatan sebelum dirinya pasrah di hadapan Nagi.


      "Tenang, Sayang. Aku akan setenang mungkin. Kamu usahakan santai jangan tegang," ujar Nagi sembari memberikan sentuhan pertama dengan memberikan ciuman selembut mungkin, karena Nagi tahu Hilda sangat tegang. Dan pastinya rasa sakit itu akan sangat menyakitkan saat pusakanya menghujam lembah perawan.


     "Terimakasih, Hilda Sayang. Ternyata kesucianmu jauh-jauh hari hanya dipersembahkan untukku. Aku sangat mencintaimu," ungkap Nagi memberi kata sanjungan dan rasa terimakasih yang dalam pada Hilda, padahal dia belum mencoba menerobosnya. Ini merupakan bagian dari pemanasan supaya ketegangan Hilda berkurang.


     Mereka kembali berciuman dan menyatukan nafas yang sama dan rasa yang sama. Hilda masih merasakan harum daun mint dan rasa manis dari bibir Nagi yang dia suka.

__ADS_1


__ADS_2