
Naga kembali ke Bandung, sementara tugas menyelidiki sertifikat milik orang tua Zila, dia serahkan pada Hasya dan tim. Tadinya Naga memang ingin menyelidiki kasus pencurian kepemilikan tanah orang tuanya Zila. Namun perusahaannya di Bandung membutuhkan kehadirannya untuk menghadiri beberapa rapat penting dengan para pimpinan Direksi.
Sebetulnya Zila masih malas harus ikut ke Bandung, tapi mau bagaimana lagi. Zila sudah menghabiskan masa bersama Kobar di kota kecil kelahirannya. Dan kini keadaan Kobar sudah membaik. Kini Zila juga tidak perlu khawatir lagi masalah hutang pada Juragan Desta. Sebab setelah diperhatikan selama seminggu, anak buah Juragan Desta tidak datang lagi menagih atau berbuat onar pada Kobar maupun pada yang lain yang sama memiliki hutang pada Kobar.
"Juragan Desta tidak akan berani menagih hutang yang dia bungakan lagi pada Paman Kobar ataupun pada orang-orang yang dia hutangkan, kecuali jika yang belum membayar pokoknya. Aku sudah tekankan, jika anak buahnya maupun Juragan Desta menagih kembali uang yang sudah dia bungakan, maka aku tidak segan-segan melakukan tindakan kasar dan mengobrak-abrik usaha judinya biar hancur sekalian," tandas Naga sungguh-sungguh.
Zila terbelalak tidak percaya dengan apa yang Naga katakan barusan. Naga memang bergerak dengan nyata, dia tidak membiarkan orang yang menjadi korban ketamakan Juragan Desta membayar hutangnya yang berbunga secara terus menerus. Naga membuat Juragan Desta tidak berkutik dengan mengancamnya dan menghadirkan orang-orang pilihannya untuk bertindak tegas jika Juragan Desta membuat masalah dengan orang-orang kampung ini lagi.
"Benarkah? Apa yang Kak Naga lakukan sehingga Juragan rentenir itu takut dan tidak bisa berkutik?" tanya Zila penasaran dengan wajah menatap lekat ke arah Naga.
"Aku ancam, dan jika dia tidak mengikuti arahanku, maka orang-orangku akan bertindak dan melakukan kekerasan terhadap dia dan orang-orangnya," jawab Naga membuat Zila spontan mencium pipi Naga saat Naga sedang menyetir.
Naga terkejut dengan sikap Zila yang tidak diduganya. Hampir saja mobil yang dijalankannya menubruk mobil di depannya. "Sayang, apa-apaan? Hampir saja mobil ini menabrak mobil lain." Naga sedikit protes, karena Zila telah membuyarkan fokusnya dalam menyetir.
Zila tersenyum puas membayangkan Juragan Desta yang ketakutan karena ancaman Naga dan anak buahnya.
"Jadi, uang yang satu milyar itu apakah Kak Naga tidak jadi memberikannya padaku?" Zila kembali mengungkit uang satu milyar yang menjadi tuntutannya. Naga tersenyum lalu berkata, "aku tidak akan memberikan uang satu milyar itu." Mendengar jawaban yang tega seperti itu, membuat Zila menjauh dan merengut memalingkan mukanya ke arah jendela. Zila kesal dan marah, betapa pelitnya suami yang katanya kaya ini.
Naga yang melihat Zila marah dan memalingkan muka ke arah jendela, tersenyum penuh kemenangan. Tangan kanan yang masih memutar kemudi dan tangan kiri memegang sebuah kartu ATM berwarna hitam.
"Aku tidak akan pernah memberimu uang satu milyar itu, tapi ... aku akan memberikan ini," ujarnya seraya memperlihatkan kartu ATM berwarna hitam. Mata Zila mendadak benderang seketika saat Naga memperlihatkan sebuah kartu ATM berwarna hitam. Seperti yang dia sedikit ketahui, ATM jenis ini punya limit saldonya besar. Isinya juga tidak main-main, bahkan dalam hidupnya dia belum pernah memegang kartu yang batas limit transfer ke bank lainnya saja bisa 15 juta. Zila bisa menebak isi dari kartu ini berapa dijit.
Zila meraih kartu itu dengan tangan yang cepat. Nampak sekali Zila matre. Tapi Zila tidak menampik, memang dia matre dan butuh uang.
"Kamu bisa pakai kartu itu sesukamu. Belanja di mall atau healing," ucap Naga.
"Kalau mau traktir Paman Kobar dan Tante Zuli ke restoran, apakah boleh?" tanya Zila sembari tersenyum bahagia.
"Boleh, gunakan sesuai kebutuhanmu. Aku tahu kamu membutuhkan itu," ujar Naga serius. Zila menjadi bingung harus digunakan apa uang sebanyak ini. Namun akhirnya Zila tersenyum saat ide itu muncul. Dia akan belanja baju di pasar online yang sempat dia tandai kemarin itu. Senyum Zila pun mengembang.
__ADS_1
"Tapi, ada imbalannya. Ada uang ada barang," tukas Naga sembari tersenyum culas. Zila membalas senyum Naga dengan senyum yang percaya diri.
"Jangan khawatir Tuan Naga, saya akan persembahkan diri hamba melebihi ekspektasi Anda. Lihat saja buktinya nanti," balasnya tidak kalah menyeringai ibarat wanita liar yang ada di FTV Naga terbang.
Mobil Naga tiba di depan rumah mewahnya. Dari luar nampak sepi. Hilda pasti sedang kuliah, sedangkan Mamanya Naga kalau tidak arisan pasti ada acara ke panti asuhan memberi santunan setiap awal bulan.
"Assalamualaikum," ucap Zila seperti biasa.
"Wa'alaikumsalam." Salam Zila dijawab oleh Bi Rana dan Bi Rani serta penjaga yang lainnya.
"Non Zila, Den Naga, apa kabar? Bagaimana bulan madunya?" celetuk Bi Rani mempertanyakan bulan madu Naga dan Zila.
Zila hanya tersenyum sembari berjalan mengikuti Naga.
"Mama kemana, Bi?"
"Nyonya Besar pergi ke Jakarta menemui Tuan Besar, kemarin, Den. Sebab Tuan Besar meminta Nyonya untuk datang. Mungkin Tuan Besar sudah kangen dengan Nyonya," lapor Bi Rani sembari tersenyum.
"Non Hilda kuliah pagi, Den," ujar Bi Rani sambil permisi ke belakang melanjutkan kembali aktifitasnya.
"Permisi, Den, Non, saya mau melanjutkan kembali pekerjaan saya." Naga dan Zila tersenyum dan kembali berjalan menuju tangga untuk ke kamarnya.
Tiba di kamar, Naga tiba-tiba mengunci kamar dan menangkap pinggang Zila. Zila terkejut dan berontak sebab sangat kaget. "Kak Naga, kenapa?" Zila sudah tidak bersuara lagi karena Naga sudah melabuhkan satu ciuman maut di bibir Zila. Nampaknya Naga sudah sangat kangen berat pada Zila, setelah seminggu lamanya dia membiarkan Zila di rumah Pamannya. Kini giliran menagih janji Zila untuk membuatnya melambung melebihi ekspektasinya. Naga menyeringai melepaskan sejenak ciuman mautnya yang sudah ditahannya selama seminggu.
Zila menatap Naga yang buas, alamat hari ini dia tidak bisa leyeh-leyeh karena Naga akan selalu menggempurnya. Terlihat dari wajahnya yang sangat mendamba dan ingin memadu kasih melepaskan semua hasrat yang terpendam.
"Sayang, ayo kita lakukan menjelang siang ini, aku sudah sangat kangen," pintanya memohon diliputi gairah yang seakan tidak tertahan lagi. Zila paham, tapi dia harus meminum dulu pil KB untuk menunda dulu kehamilan. Tapi Zila baru ingat, ternyata saat di Lembang dia tidak minum pil KB karena ketinggalan. Namun, saat di Lembang dia dan Naga hanya melakukannya sekali karena Naga keburu sibuk dan Zila diungsikan sejenak ke rumah Pamannya. Jadi Zila berpikir hal itu tidak akan menjadi.
"Kemana?" heran Naga sembari menahan tangan Zila.
"Aku mau ambil sesuatu dulu dari laci, Kak Naga tunggu sebentar, ya," ujarnya merayu. Naga mengangguk seraya melepaskan tangan Zila. Zila membuka laci meja riasnya, lalu mengambil sesuatu dari sana yang sudah bisa ditebak oleh Naga. Itu pasti pil KB yang sudah Naga tukar tempo hari dengan vitamin yang bentuknya hampir mirip pil KB. Naga berharap Zila tidak teliti dan memeriksa bacaan yang tertera di sana.
__ADS_1
Zila nampak meneguk pil itu dengan air putih yang tersedia di kamar. Setelah itu dia kembali dengan senyum di wajahnya. Zila sebetulnya tegang, walau sudah beberapa kali pernah melakukan ini dengan Naga, tapi perasaan tegang dan sakitnya masih terasa.
"Ayolah," ajaknya tidak sabar. Zila menghampiri Naga yang sudah berkabut asmara. Dan perlahan kejadian yang membuat Naga bagaikan di surga itu kini terulang kembali. Lagi-lagi Zila membuatnya melayang di udara dan bahagia.
Setelahnya, Naga selalu lega dan menyunggingkan senyum penuh kemenangan, sebab ketika berada di puncaknya, Zila selalu mengungkapkan sebuah kalimat yang sangat bermakna dan dalam, yaitu 'Kak Naga aku mencintaimu' sembari memeluk erat leher Naga.
Naga menyesal, kenapa tidak dari dulu dia dipertemukan dengan perempuan cantik yang bertalenta ini. Talenta memanjakan suami dan membuat suami melambung di udara melebihi ekspektasi Naga.
"Cupppp." Sebuah kecupan panjang menyudahi kegiatan panas sekaligus menyenangkan di pagi menjelang siang ini bagi Zila dan Naga. Kemudian keduanya terkapar dalam rasa kantuk yang mendera. Di bawah selimut yang menaunginya, keduanya tertidur pulas karena saking lelah dan nikmatnya.
Siang menjelang, suara kumandang adzan sudah terdengar. Tapi baik Zila maupun Naga masih bergelung dengan selimut yang sama. Rasa kantuk itu mengalahkan segalanya.
Jam dua siang, Naga terbangun dari lelapnya. Zila yang di sampingnya ikut terbangun dan tersenyum malu-malu saat bersitatap dengan Naga, padahal baru saja mereka saling gempur dan begitu dekat, tapi rasa malu kadang menyergap Zila.
Seminggu berlalu, Bu Hilsa dan Pak Hasri tiba-tiba pulang dari Jakarta. Hal ini membuat Zila dilanda sedikit kecewa, sebab selama tidak ada Ibu mertuanya, Zila hanya duduk santai dan rebahan di atas kasur. Kadang dia hanya duduk bersantai di sofa setelah Naga pergi ke kantor.
Zila dan Naga menyambut kepulangan mereka. Senyum sumringah terpancar di wajah Bu Hilsa melihat Naga, anaknya. Namun berbeda ketika melihat Zila yang masih belum dia harapkan jadi bagian keluarga ini.
"Mama, Papa, bagaimana kabar kalian? Sepertinya bulan madu kalian yang kesekian kalinya sukses ya?" goda Naga seraya menyalami tangan keduanya. Zila yang kurang direspon, ikut menyalami dan tetap bersikap sopan meski sejatinya dia memiliki jiwa pemberontak.
"Naga, apakabar sayang, kamu ini melupakan Mama dan adik kamu selama di Lembang," ujar Bu Hilsa seraya memberikan kantong kresek besar kepada Bi Rani, sepertinya kantong kresek besar itu merupakan oleh-oleh yang dibawa oleh Bu Hilsa.
Sadar dicuekkan, Zila permisi dengan tangan di samping tubuhnya, begitu-begitu juga Zila masih tahu adab dan kesopanan. Karena selama diasuh oleh Kobar, Zila selalu diajarkan kesopanan.
"Zila, mau kemana? Bantuin Bi Rani membereskan ini di dapur, kamu tidak ada kerjaan, bukan?" Belum sampai kaki Zila menjauh, Bu Hilsa sudah berteriak dan memanggil Zila untuk melakukan sesuatu. Zila berbalik dan menghentikan langkahnya.
Kali ini tanpa membantah Zila mengikuti kemauan Bu Hilsa membantu Bi Rani di dapur membereskan bawaan mertuanya yang entah apa.
Di dapur, Bi Rani dan Zila membuka kantong kresek besar bawaan Bu Hilsa. Saat dibuka, rupanya berbagai manisan dan asinan berbagai macam berada di sana. Zila sampai ngiler dibuatnya, entah kenapa dia sangat ingin menyantap asinan itu.
__ADS_1