Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 92 Musim 2 Siasat Zila


__ADS_3

"Duduklah Non. Non Zila mau pesan apa?" tanya Hasya menawarkan sesuatu yang ingin dimakan Zila. Zila sejenak berpikir. Dia bingung dengan menu yang ada di Hp Hasya yang berjejer lengkap dengan dengan harganya.



"Aku pengen es campur saja Kak," jawab Zila memilih menu sederhana tanpa makan berat.


"Nona pasti belum sarapan, saya pesankan makanan, ya?" Zila menggeleng, tatapannya masih terlihat hampa.


"Baiklah, tapi kalau Nona lapar, nanti pesan, ya." Zila mengangguk.


Sepuluh menit kemudian pesanan mereka datang. Zila menyimpan gelas besar berisi es campur yang menggugah selera dengan toping es krim di atasnya di samping kanan tangannya.


"Minumlah Non es campurnya, sepetinya itu sangar segar," ujar Hasya seraya mulai menyuap makanannya.


"Kita bisa memulai obrolan sambil makan jika Nona mau, Nona berceritalah, saya siap mendengarkan." Hasya mempersilahkan Zila untuk berbicara. Untuk beberapa saat Zila hanya terdiam sambil menyuapkan es krim di atasnya. Tanpa Zila sadari Hasya merekam semua kegiatan Zila kemudian dikirimkan pada Naga sesuai permintaan Naga.


"Kenapa Nona belum cerita? Kalau tidak bercerita saya tidak akan tahu masalah Nona yang sebenarnya. Saya hanya berharap siapa tahu saya bisa bantu," desak Hasya.


"Aku hanya sedih sejak aku keguguran, semua keluarga Kak Naga terutama Kak Naga tidak lagi bersikap hangat padaku, bahkan Kak Naga selalu saja menyudutkan aku atas musibah ini. Mereka menyalahkan aku atas musibah ini. Aku hanya manusia biasa, yang kadang melakukan salah." Zila menyudahi bicaranya diiringi tangisan yang kembali pecah.


"Lalu apa maunya, Nona?" tanya Hasya penasaran.


"Tidak muluk-muluk Kak, aku hanya ingin disayangi mereka seperti mereka menyayangi oang lain,'' ungkapnya sembari menyeka wajahnya yang basah oleh air mata.


"Sejak aku keguguran, Kak Naga serta kedua mertuaku sikapnya berubah. Mereka menyalahkan aku atas musibah keguguran itu. Aku bukan tidak menyesal, aku juga merasa bersalah dengan musibah ini." ZIla melanjutkan kembali ceritanya dengan wajah kembali sendu.


"Andainya Nona tahu hal sebenarnya, apakah Nona mau memaafkannya?" Hasya balik bertanya pada Zila lalu menatapnya lelap. Zila diam dan belum mau menjawab pertanyaan Hasya.


"Aku tidak tahu Kak. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan."


"Saat ini Bos Naga sedang mengalami masalah besar, yakni dua perusahaan yang berpengaruh di Indonesia mendadak membatalkan kerjasama dengan perusahaan Naga Group. Padahal sebelumnya perusahaan taraf internasional itu selalu memilih perusahaan Bos Naga tempat yang tepat untuk mereka menjalin kerjasama."

__ADS_1


"Lalu kerugian apa yang perusahaan Kak Naga dapatkan setelah dua perusahaan itu membatalkan kerjasama dengan perusahan Kak Naga?"


"Kepercayaan perusahan lain terhadap perusahaan Bos Naga akan berkurang, mereka meragukan kredibilitas perusahaan Bos Naga," jawab Hasya serius.


"Lalu kalau sudah begitu, akan bagaimana?" Zila sepertinya belum paham dengan apa yang Hasya jelaskan maklum Zila tidak paham dalam dunia perkantoran seperti ini.


"Kalau perusahaan sudah tidak dipercaya lagi pihak lain, maka perusahaan siap-siap gulung tikar. Lalu para karyawan akan kena imbasnya dan kena PHK atau paling tidak di rumahkan sejenak untuk melihat ke depannya apakah perusahaan masih bisa bertahan dan bangkit atau justru kolap," terang Hasya membuat Zila merasa prihatin dan miris.


"Benarkah?"


"Benar, Non. Dan sepertinya kegagalan dua perusahaan untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan Bos Naga penyebab salah satunya adalah karena pengaruh buruk seseorang," duga Hasya.


"Benarkah? Dari mana Kak Hasya tahu bahwa dua perusahaan yang gagal kerjasama dengan perusahaan Naga Group adalah akibat dari pengaruh buruk seseorang? Dan kenapa Kak Hasya bisa menyimpulkan demikian?" selidik Zila mendadak tertarik membahas masalah perusahaan Naga.


"Tim kita itu banyak Non, mereka secara tidak nampak sudah kesana kemari mencari siapa sebenarnya orang yang terlibat ikut campur urusan internal perusahaan."


"Tapi Nona tenang saja, Naga Group tidak sedang dalam keadaan kolaps sehingga harus memPHK karyawannya," lanjut Hasya membuat Zila sedikit tenang.


"Syukurlah, aku ikut senang dengarnya."


"Caranya bagaimana, Kak?"



"Nona pasti sudah tahu caranya, pepet terus Bos Naga dengan ...." Hasya melanjutkan ucapannya di dekat daun telinga Zila sehingga berhasil membuat Zila kegelian dan bergidik ngeri. Ide Hasya ternyata ada-ada saja.



"Masa Nona harus malu beraksi liar di depan Bos Naga, suami Nona sendiri. Ingat, Non, calon pelakor dari masa lalu Bos Naga dua orang sedang merapat, belum lagi yang *fresh graduate* . Jika tidak ada tindakan aktif dari Non Zila, maka saya khawatirkan Bos Naga akan lengah dan mudah terpengaruh, walaupun sebenarnya Bos Naga bukan tipe seperti itu.


__ADS_1


"Tapi ...." Zila masih bingung harus memutuskan apa, sebab dia masih sakit hati dengan sikap Naga dan kedua orang tuanya Naga yang selalu bersikap dingin padanya. Dari pada bingung Zila lebih baik menghabiskan dulu es campurnya yang ternyata sangat enak itu, sampai- sampai Zila pesan lagi.



"Kak, aku pesan lagi es campurnya sama nasi rawonnya, dong. Aku sangat lapar setelah Kakak bisikkan kata-kata goib di telinga aku tadi," pinta Zila tanpa ragu. Hasya tersenyum seraya melihat Hpnya dan mengklik daftar menu di kafe yang mereka datangi ini yang sudah di klik kode QRnya oleh Hasya.



Dua pesanan Zila datang, Zila tersenyum senang dan menyambutnya dengan sumringah.



"Makanlah Non supaya Non Zila semakin sehat dan bisa menjalankan misi dengan sempurna," ujar Hasya sembari tersenyum menggoda. Zila tidak mempedulikan godaan Hasya lagi, yang jelas saat ini dia sedang menikmati sarapannya yang tertunda tadi di rumah akibat dia merajuk. Perutnya yang lapar perlahan-lahan mulai terisi kembali.



"Bagaimana, Non? Apakah makanannya enak?"



"Lumayanlah Kak kalau lagi lapar," sahutnya netral.



"Lantas setelah ini apa yang akan Nona lakukan?" tanya Hasya penasaran dan menunggu jawaban yang menggembirakan dari Zila. Zila masih belum menjawab dia juga kini dilanda bingung.



"Sepertinya aku akan kembali ke Bandung, tapi sebelum pulang aku mau mampir dulu ke ...." ujar Zilla seraya melanjutkan ucapannya di telinga Hasya persis apa yang dilakukan tadi di telinga Zila oleh Hasya.


__ADS_1


Mereka berdua seakan sedang melakukan siasat satu sama lain, sehingga saling mengatakan sesuatu itu di telinga Zila oleh Hasya dan di telinga Hasya oleh Zila. Setelah bersepakat dengan apa yang dikatakan Hasya barusan, Hasya segera berdiri dan mengajak Zila pergi dari kafe itu setalah membayar bill.


*****


__ADS_2