
"Siapa yang menghubungimu?" Naga sepertinya masih penasaran siapa yang tadi menghubungi Zila. Sejenak Zila diam untuk menenangkan rasa terkejutnya tadi gara-gara Naga.
"Aku juga tidak tahu, Kak. Tadi aku sempat bertanya siapa dia, tapi dia tidak mengatakan siapa dia sebenarnya," jawab Zila bohong.
"Kenapa si peneror itu justru menghubungimu? Aku jadi khawatir dengan keselamatanmu." Naga merasa risau dan takut akan keselamatan Zila karena sudah dua kali Zila dihubungi orang yang nomernya disembunyikan.
"Ayo, kita masuk! Kita makan siang di luar," ajaknya seraya meraih tangan Zila. Keduanya masuk ke dalam pabrik. Karena letak taman berada di belakang pabrik, jadi untuk menuju ke parkiran harus melewati lobby dan office pabrik terlebih dahulu.
Sepanjang jalan menuju parkiran, pikiran Zila fokus pada Nagi yang tadi menghubunginya. Zila masih tidak percaya bahwa itu benar-benar Nagi yang menghubunginya. Padahal selama ini dia sengaja berpura-pura membohongi Hilda bahwa Nagi pernah menghubunginya untuk menyampaikan salam atau pesan Nagi untuknya. Padahal semua itu merupakan karangan bebasnya. Tujuannya supaya Hilda bangkit dan punya motivasi kembali ditengah kerapuhan dan rasa frustasi karena kehilangan Nagi yang dirasanya pergi secara mendadak.
Alih-alih, akhirnya kepergian Nagi diketahui karena campur tangan dan atas rencana Papa Hasri sendiri, sehingga Hilda mogok kuliah dan terpuruk sebagai bentuk protes pada Papa Hasri karena telah menjauhkan dirinya dengan Nagi.
Zila merasa iba dan kasihan terhadap Hilda maupun kedua mertuanya yang sudah berusaha membujuk Hilda supaya kembali kuliah tanpa memikirkan hal lain selain kuliah terlebih dahulu. Meskipun antara dirinya dan Hilda sering terjadi perang dingin maupun mulut, tapi jiwa muda dan pemahaman Zila pada Hilda yang notebene masih remaja yang tentu saja masih labil, mau tidak mau perlahan-lahan mendekati dan memposisikan diri sebagai teman yang memiliki empati.
Zila yakin Hilda bisa kembali fokus dan ceria hanya oleh satu orang yaitu Nagi, tapi ironisnya Nagi tidak ada didekatnya. Zila menguras otaknya untuk mencari cara, dan akhirnya cara itulah yang dia ambil, yaitu dengan berpura-pura dihubungi Nagi kemudian Nagi meminta menyampaikan pesan atau salamnya pada Hilda. Dan sejak Zila berpura-pura dihubungi Nagi, Hilda sedikit demi sedikit berubah dan ada kemajuan.
"Kamu harus bisa merubah sikap kamu lebih elegan dan tidak agresif seperti ini. Supaya saat nanti kalian bertemu, Kak Nagi terkejut dan terpesona dengan perubahan sikap kamu." Itu juga salah satu karangan Zila yang dia buat sendiri supaya Hilda benar-benar merubah sikap agresifnya menjadi lebih kalem.
Dan kini karangannya itu seakan direstui oleh sang pemilik hidup. Mungkin saja karena Dia tahu bahwa niat Zila demi kebaikan Hilda, maka Tuhan pun seolah merestui dan memberi jalan dengan mengirimkan Nagi benar-benar menghubunginya. Meskipun karangan dengan realitanya ada sedikit perbedaan, yakni Nagi yang tidak ingin dirinya diketahui keberadaannya oleh siapapun sampai waktu di mana dia siap menampakkan dirinya. Beda dengan karangan Zila, demi perubahan Hilda yang lebih baik dan tidak terpuruk, Zila mengarang bahwa Nagi menghubunginya untuk menyampaikan pesan dan salam untuk Hilda.
Namun demikian dua sisi yang berbeda itu antara karangan dan realita benar-benar sungguh luar biasa hikmahnya, kini Hilda benar-benar menunjukkan sikap yang lebih baik, meskipun kini menjadi sedikit pendiam dan banyak mengurung diri di kamar. Namun Zila tetap mensyukurinya.
"Brugghhhh."
"Awghhhhh," pekiknya saat tubuhnya menubruk Naga yang kini sudah berada di depannya menuju parkiran kantor. Saking fokusnya memikirkan Nagi yang tadi menghubunginya, Zila tidak memperhatikan jalan di depannya sehingga tersadar setelah tubuhnya menabrak Naga yang berada di depannya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa? Apakah kamu sedang melamun? Aku lihat sejak dari taman tadi, kamu melamun dan tidak fokus. Ada apa?" heran Naga sembari meraih tangan Zila dan menariknya menuju parkiran.
"Aku tidak melamun, aku hanya kurang fokus sejak seseorang menghubungiku tadi dengan private number." Zila memberi alasan yang masih bisa diterima oleh Naga.
"Naiklah," titah Naga setelah mereka sama-sama sudah berada di samping mobil Naga yang terparkir gagah di parkiran VVIP.
Mobil Naga sudah keluar dari parkiran perusahaan Naga Group Bandung, melaju di jalanan kota Bandung siang itu menuju sebuah restoran mewah di pusat kota.
***
Pulang dari makan siang di restoran mewah tadi, tiba-tiba perut Zila merasa mual. Ketika memasuki apartemen, Zila langsung lari terbirit menuju kamar mandi, dan selanjutnya apa yang terjadi di dalam kamar mandi? Yang jelas Zila terdengar seperti muntah-muntah.
"Zi, kamu tidak apa-apa?" Suara Naga terdengar khawatir. Zila segera mencuci mukanya yang sejak tadi hanya memuntahkan rasa mual di dalam perutnya. Zila segera keluar dengan raut muka terlihat sedikit pias. Naga heran dan segera meraih kening Zila.
"Sayang sepertinya badan kamu demam , apakah kamu butuh obat?" Naga cepat tanggap dengan menawarkan obat. Namun Zila menggeleng, sepertinya dia bukan butuh obat melainkan butuh istirahat.
"Aku hanya ingin istirahat, aku tidak mau obat. Aku rasa aku masuk angin dan kelelahan," tukasnya seraya menuju ranjang dan terbaring di sana. Naga merasa khawatir dengan perubahan Zila yang sangat cepat sejak di pabrik tadi.
__ADS_1
Suara deru nafas Zila kini mulai terdengar, dia benar-benar ngantuk dan lelah sehingga dengan waktu yang cepat Zila tertidur. Naga menatap wajah Zila yang lelah, lalu dibelainya wajah bening itu yang kini selalu dalam pikiran dan hatinya.
Naga tidak sampai di situ saja, dia sejak tadi di taman pabrik sudah mencurigai Zila. Naga mencari hp Zila yang berada di dalam tasnya. Misi Naga dengan Hp Zila melainkan ingin tahu siapakah orang melah menghubungi Zila akhir-akhir.
Naga mencari setiap menu di Hpnya Zila terutama WA. Namun di dalam WAnya tidak menemukan hal aneh yang mencurigakan.
Naga masih belum menyerah, dia masih penasaran dengan siapa yang tadi menghubungi Zila. Dan akhirnya Naga menemukan sebuah nomer yang diketahui menghubungi Zila tepat di taman perusahaan tadi.
"Hanya private number," desahnya kecewa. Naga menyimpan kembali Hp nya sedikit kecewa. Tidak lama dari itu tiba-tiba Hp Naga berbunyi, Naga segera mengangkatnya dan sedikit menaikkan alisnya ke atas.
"Ada apa? Serius? Amankan dan kita jebloskan ke dalam penjara." Naga menatap penuh rasa puas saat sang informan memberi kabar yang sedikit melegakan.
Jangan lupa berikan dukungannya ya. Like dan komen serta hadiahnya jangan lupa.....
__ADS_1