Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 32 Hampir Celaka


__ADS_3

"Hentikan!" sentaknya seraya mencengkram lengan Nauri sehingga botol yang dipegangnya lepas lalu pecah dan cairan serupa air keras tumpah meluber di aspal. Lelaki yang berhasil menghentikan aksi Nauri, terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.



"Air keras!" kejutnya seraya melotot tidak percaya. "Zi," serunya seraya melihat ke arah Zila yang kelihatan meringis kesakitan karena rahangnya dicengkram Nauri sangat kuat. Cengkraman Nauri lepas sebab tangan lelaki yang menghentikannya keburu di menangkap lengan Nauri.



Nauri yang berada dalam cengkraman Naga berusaha berontak melepaskan diri. Namun cengkraman Naga sangat kuat. Sementara Zila masih menunduk meraba dagunya yang sakit akibat cengkraman Nauri.


"Kak Naga!" seru Zila setelah bisa menguasai diri dari rasa sakit dan tegang saat akan disakiti Nauri tadi.


"Apa yang mau kamu lakukan terhadap wajah istriku? Kamu mau melukainya dengan air keras itu?" tanya Naga marah dengan wajah yang penuh kemurkaan.



"Istri?" guman Nauri pelan dengan rasa tidak percaya. Namun gumanan itu masih bisa didengar Naga.



"Iya, dia istriku. Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan dengan wajah cantik istriku? Apa kamu iri dengan kecantikkannya?" tanya Naga seraya menghempas tubuh Nauri ke samping.



"Sebentar, sepertinya aku mengenal dirimu. Kamu yang di warung ç Kobar itu tempo hari, kan?" Naga mengamati wajah Nauri yang sama persis dengan perempuan muda yang dia jumpai di warung sebrang kafe Kobar tempo hari. Nauri tidak menjawab, di dalam hatinya mengakui bahwa dia memang melakukan hal itu sebagai bentuk bencinya pada Zila.



Zila menatap haru pada Naga yang membelanya dan menyebutnya istri di depan Nauri yang telah menghinanya tadi. Lalu Zila menjauh dan menepi.



"Sya, tangani perempuan ini. Segera hubungi pihak yang berwajib untuk diproses," ujarnya seraya melepaskan dengan kasar tubuh Nauri.



Hasya yang sudah berhasil melumpuhkan pergerakan Ridu, kini menghampiri Nauri dan meraihnya serta mengikat kedua tangan Nauri dan Ridu menjadi satu.



"Tinggal dibawa ke kantor Polisi," ucap Naga seraya menghampiri Zila. Hasya melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin.

__ADS_1



Naga menghampiri Zila yang sedang menenangkan diri, sepertinya dia masih shock atas kejadian tadi yang memaksanya untuk menerima sebuah botol yang entah berisi apa dari Nauri.



"Jangannn! Jangan bawa kami ke kantor Polisi," teriak Nauri setengah memohon. Hasya tidak peduli, dia menyerahkan Nauri dan Ridu pada anak buahnya untuk diserahkan pada pihak Kepolisian.



"Jangan Om, jangan bawa kami ke kantor Polisi," kini giliran Ridu yang memohon. Dia khawatir kena marah oleh kedua orang tua Nauri. Seperti yang sudah orang sekampung tahu, Bapaknya Nauri adalah seorang Lurah di kampung itu dan merupakan orang terpandang. Bagaimana jadinya jika dirinya kedapatan dibawa ke kantor Polisi, pasti kedua orang tuanya maupun kedua orang tua Nauri malu dan tentunya akan marah.



"Bawa cepat!" perintah Naga pada beberapa anak buahnya yang tadi sudah dihubungi Hasya untuk membawa Ridu dan Nauri ke kantor Polisi. Anak buahnya Naga bergerak cepat membawa Ridu dan Nauri ke dalam sebuab jeep dan membawanya ke kantor Polosi.



Naga kembali fokus dengan Zila dan meraih tangan Zila, kemudian membawanya menuju mobil. Tidak ada ucapan apa-apa yang keluar dari mulut Naga saat dirinya membawa Zila masuk mobil, Naga sedikit kecewa kenapa Zila bisa berada di luaran, sedangkan tadi saat dia pergi ke kantor, Zila masih berada di rumah.



"Sya, antar kami ke villa. Pembangunan pabrik biarlah besok atau kapan-kapan bisa kita lihat lagi. Aku sudah kehilangan mood untuk ke sana," ujar Naga memutuskan ke villa dan membawa Zila ikut serta.




Hasya kembali melajukan mobilnya keluar villa setelah dia mengantar Bosnya dan Zila.



Naga menggiring Zila masuk ke dalam villa dan ke dalam sebuah kamar.



"Kenapa Kakak membawaku ke dalam kamar, aku sedang tidak ingin bercinta dengan Kakak?" serobot Zila, pikirannya sudah ke arah yang tidak-tidak.



"Memangnya aku giring kamu ke dalam kamar ini untuk sekedar bercinta saja? Jangan salah paham dulu. Aku mengajak kamu ke kamar hanya ingin menghindari pendengaran para pekerja di villa ini," sanggah Naga. Sebenarnya Naga hanya ingin mempertanyakan kenapa Zila berada diluaran tanpa meminta ijin padanya.

__ADS_1



"Lantas Kak Naga mau apa membawaku ke dalam kamar ini?"


"Ada dua kemungkinan antara ingin bersenang-senang sama diluar bersenang-senang. Dan sekarang aku hanya ingin bicara dan bertanya sama kamu. Kenapa kamu saat ini berada di sini dan bukan di rumah?" tanya Naga penasaran.



Zila diam, sebenarnya dia bingung memberikan jawaban. Dia memang salah pergi dari rumah tanpa seijin Naga dan tidak minta ijin. Naga menatap wajah Zila yang sendang berpikir.



"Apa yang sedang kamu pikirkan, mau memberi alasan yang kiranya masuk akal?" tebak Naga.



"Aku suntuk di rumah, juga kesal sama Kak Naga yang tidak memberi aku uang satu milyar. Katanya saja kaya, tapi dituntut satu milyar saja tidak bisa memberikan. Padahal selama ini Kakak dan keluarga Kakak telah menghina aku dengan tudingan yang tidak benar. Wajar saja aku menuntut karena aku merasa itu sebuah penghinaan dan pencemaran nama baik," tutur Zila dengan wajah kesal.



"Ya, ampun, Sayang. Masalah uang itu? Kalau cuma satu milyar saja aku bisa memberikan lebih dari itu. Tapi, aku punya alasan kenapa aku tidak berikan," jelas Naga membuat Zila tidak paham kemana arah pembicaraan Naga.



"Omong kosong! Alasan pelit tentunya," ejeknya seraya berdiri dan menuju jendela kamar di villa itu yang depannya balkon. Di depan balkon disodorkan view yang indah sebuah tanaman teh terhampar luas, membuat siapa saja yang melihat serasa dimanjakan matanya dengan hamparan tanaman teh yang luas.



Tanpa disadarinya Naga sudah berada di belakang Zila dan menangkap pinggangnya erat seraya mencium pipi Zila dengan cepat. Zila terkejut dan berusaha melepaskan tangan kekar Naga. Namun tangan kekar Naga sukar dilepaskan. Naga malah menenggelamkan wajahnya di leher Zila membuat Zila kegelian.



"Lepaskan!" pinta Zila. Naga tidak menghiraukan. Naga malah semakin tertantang dengan sikap judes Zila seperti ini. Diciumnya kembali pipi Zila, kali ini dengan penuh perasaan. Rasanya hasrat itu tiba-tiba muncul dan ingin disalurkan di siang bolong begini.



"Sayang, sekali saja," rayunya membuat Zila bergidik. Namun Naga tidak berhenti, dia terus melancarkan aksinya dan berhasil membawa Zila ke atas kasur. Walaupun berontak, Zila tidak bisa menghindari serangan Naga yang bergerilya.



Sebelum memulai, Naga menatap wajah cantik Zila yang nampak malu. Naga membalas dengan sebuah ciuman panas di bibir Zila membuat Zila terbuai. Dan adegan 21 tahun ke ataspun sedang dimainkan mereka dengan perasaan suka sama suka. Walaupun awalannya Zila sedikit menolak.

__ADS_1



Naga bersorak dalam hati, pertautan ini diharapkan bisa membuahkan hasil. Sebab sebelum main, Zila tidak meminum dulu pil KB yang dia beli tempo hari di apotek. Sehingga pertautan kali ini diharapkan membuahkan hasil yang menggembirakan baginya. Terlebih sekarang Zila sedang berpura-pura hamil di hadapan kedua orang tuanya Naga. Dengan pertautan di siang bolong seperti ini, Naga berharap Zila akan segera hamil.


__ADS_2