Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 127 Musim 2 Trah Regana


__ADS_3

    Tiba di rumah Papa dan Mamanya Naga, mobil Naga sudah berada di depan halaman rumah besar itu. Sementara Zila sejak mual muntah tadi, memejamkan mata sepanjang perjalanan ke rumah mertuanya, setelah tadi dibalur dan dipijit punuknya oleh Naga.


     "Zi, bangun, kita sudah sampai," ujar Naga menggoyang tubuh Zila dengan hati-hati. Zila bergerak dan membuka matanya perlahan.


     "Kita sudah sampai mana Kak?" tanyanya bingung.


     "Kita baru sampai rumah Papa dan Mama. Bangunlah, kita mampir dulu, kita beritakan kabar bahwa janin dalam kandungan kamu dalam keadaan sehat dan perkembangannya baik." Naga antusias. Zila masih mengumpulkan jiwanya yang masih tercecer ke alam mimpi yang tadi sempat dijalani setelah mendapat pijatan dan baluran dari sentuhan tangan Naga.


     Zila menggeliatkan tangannya ke sana kemari melenturkan otot-otot tangannya yang terasa kaku akibat menekuk saat menopang tubuhnya tadi tidur.


     "Ayo, turunlah," ajak Naga seraya turun duluan kemudian dia memutari mobilnya menuju pintu kiri membukakan pintu untuk Zila. Zila keluar dengan dipapah Naga. Sejenak Zila menatap rumah besar di hadapannya yang dulu pernah ditinggalinya saat beru nikah. Zila terlihat mendesah, sebetulnya saat ini yang paling ia takutkan di rumah mertuanya adalah pertanyaan Hilda tentang Nagi. Dia tidak mau bohong lagi karena saat ini dia sedang hamil, kalau bohong terus takut ada efek negatifnya ke bayi, begitu pikir Zila.


     Kedatangan Naga dan Zila disambut kedua orang ua Naga, mereka senang bukan kepalang. Bu Hilsa yang menginginkan Zila tinggal di sini, sangat antusias dan menyambut Zila. Sangat kebetulan tadinya mereka memang mau ke apartemen Naga untuk mengirimkan asinan buah dan salak buatan tangan Bu Hilsa sendiri.


     "Sayanggg, kalian datang rupanya. Padahal Mama sama Hilda tadinya merencanakan akan ke sana untuk menengok kalian dan sekalian memberikan asinan ini, tapi kalian keburu ke sini." Bu Hilsa menyambut dengan sangat gembira sembari memanggil Bi Rana dan Bi Rani untuk menyuguhkan asinan buatannya tadi.


     "Wahhh, Non Zila dan Den Naga. Lama tidak datang tahu-tahu kami dapat kabar baik yaitu kehamilan Non Zila. Kebetulan Nyonya Besar kemarin membuat asinan banyak, sengaja bikin untuk Non Zila," berita Bi Rani senang lalu segera ke dapur membawakan suguhan untuk Zila dan Naga.


     "Sayang, sepertinya kamu sangat pucat, apakah kamu mual muntah lagi?" tanya Bu Hilsa khawatir.


     "Zila habis dari Dokter, Ma. Saat perjalanan pulang, tiba-tiba istriku mual muntah lagi sampai lemas. Dan sekarang masih lemas dan mual."


     "Ya ampun, Sayang, pantesan kamu sangat pias. Istirahatlah ke kamar, ayo." Bu Hilsa berniat membawa Zila ke kamar, tapi keburu dicegat Bi Rana.


     "Mari Nona, biar Bi Rana antar Nona ke kamar. Nona harus istirahat, biar Bibi pijat dan urut supaya mual dan sakit kepalanya reda," serobot Bi Rana meraih tangan Zila menuju kamarnya di lantai atas.


     Bu Hilsa geleng-geleng kepala melihat tingkah antusias ARTnya itu sembari ngeloyor ke dapur ikut membantu Bi Rani di dapur menyiapkan asinan untuk dibawa ke kamar yang Zila tempati sekarang.


     "Wah, Nyonya, selamat, sebentar lagi Nyonya dan Tuan Besar akan menjadi Opa dan Oma. Alangkah senangnya. Sekian lama menantikan seorang cucu, rupanya dari Non Zilalah cucu itu akan hadir. Saya bersyukur sekali, nasib baik Nyonya dan Tuan punya cucu dari Non Zila, sudah baik, sederhana, tidak gila harta, masih muda, cantik lagi. Pokoknya cocok deh kalau Non Zila melahirkan darah daging dari trah Regana," celtuk Bi Rani diakhiri kalimat pujian yang membuat Bu Hilsa tersentak.

__ADS_1


     Bu Hilsa tersentak, sejenak dia memikirkan omongan Bi Rani yang nyeletuk begitu saja tapi ada benarnya. Baru kali ini dia dan suaminya memiliki cucu dan itu dari Zila, sedangkan dari mantan menantu pertama dan keduanya tidak pernah sekalipun hamil karena mantan-mantan menantunya itu memang menunda dulu untuk memiliki anak dengan berbagai alasan. Namun dengan Zila yang hanya perempuan biasa tidak sekalipun terdengar ingin menunda punya anak.


     "Betul sekali, saya dan suami saya baru kali ini akan memiliki cucu dari istri Naga yang ketiga kali ini, saya berharap ini pernikahan Naga yang terakhir. Dan saya berharap cucu saya kali ini sehat dan bisa lahir dengan selamat nanti," harap Bu Hilsa berkaca-kaca. Dia menyadari semua yang dikatakan Bi Rani tentang Zila benar adanya.


Bu Hilsa menyesali sikapnya yang awal-awal sempat tidak suka dengan Zila karena salah menilai. Zila yang diketahuinya bekerja di sebuah kafe yang menurut laporan dari orang-orang adalah kafe remang-remang, menjadikan Bu Hilsa yang mendengar kabar itu tidak suka dan tidak setuju Naga menikahi gadis kampung pelayan kafe remang-remang.



Namun semua itu dibantah Zila, meskipun dia bekerja di kafe remang-remang menurut orang-orang, tapi Zila tidak seburuk penilaian orang-orang dari luar. Bantahan Zila tidak behasil juga membuat Bu Hilsa dan Pak Hasri menerima kehadiran Zila sebagai menantu kala itu. Namun seiring berjalannya waktu, bantahan Zila terbukti, Zila bukan perempuan tidak benar dan Naga membuktikannya sebab Zila masih suci saat dia menjamahnya. Bu Hilsa dan Pak Hasri pun lama kelamaan dapat menerima Zila jadi menantunya. Dan kini perasaan mereka sudah terbuka dan menyayangi Zila seperti mereka menyayangi anak sendiri.



"Kami sekarang sudah menyesali perbuatan kami dahulu yang sempat tidak mau menerimanya. Kami sekarang menyayanginya," ungkap Bu Hilsa sungguh-sungguh.



Bi Rani merasa bersalah karena telah mengungkit masa lalu Bu Hilsa yang sempat bersikap tidak baik pada menantunya, ketika melihat mata Bu Hilsa berkaca-kaca.




"Tidak apa-apa Bi Rani. Sekarang baiknya kita antar saja asinan ini untuk menantu saya, siapa tahu Zila sudah mendingan setelah dipijat sama Bi Rana." Bu Hilsa mengajak Bi Rana ke kamar menghampiri Zila yang tadi dibawa Bi Rana ke kamar.



Sedangkan di kamar, Zila masih diurut dan dibalur minyak angin oleh Bi Rana. Tentu saja Bi Rana tahu celahnya dan tidak asal urut atau pijat, terlebih sekaran Zila sedang hamil muda. Bi Rana punya pengalaman ngurut juga ulu saat muda dan sampai kini masih dipakainya untuk ngurut orang-orang yang meminta diurut padanya. Urutan dan pijatan Bi Rana pun terasa enak saat menyentuh sekujur tubuh Zila. Sehingga Zila sampai terngantuk-ngantuk. Rasa mual dan sakit kepala yang tadi dirasakan, kini berkurang dan kepala menjadi ringan.


__ADS_1


"Enak banget Bi Rana, pijatan dan urut tangan Bi Rana benar-benar, sakit kepala, mual dan pegal-pegal di sekujur badan saya terutama betis hilang dan berkurang. Bi Rana memang punya bakat ngurut dan mijat sepertinya," puji Zila diimbuhi kalimat tebakan.



Bi Rana hanya tersenyum mendengar pujian Zila yang menurutnya berlebihan itu. "Bibi memang punya sedikit keahlian mengurut, Non. Saat masih muda selain bekerja di orang sebagai babu, bi Rana sering dipanggil kerumah-rumah untuk memijat. Uangnya lumayan untuk nambah-nambah dapur ngebul," ujar Bi Rana sambil tersenyum.



"Bi Rana sangat keren, saya salut dengan kerja keras Bi Rana," puji Zila seraya memberikan tangannya untuk dipijit Bi Rana.



"Non, kenapa Nona tidak tinggal saja di rumah Nyonya besar, minimal selama Non Zila masih mual muntah begini?" Tiba-tiba Bi Rana bertanya tentang masalah yang diminta Bu Hilsa beberapa waktu yang lalu, tapi ditolak Zila secara halus.



"Saya tidak mau merepotkan banyak orang Bi dengan kehamilan saya yang cukup menjijikkan, sebab saya mual dan muntah parah di kehamilan ini, dan itu hal paling saya hindari menyusahkan orang lain. Kecuali kalau saya sama sekali sudah tidak berdaya, maka saya akan terpaksa menerima bantuan dari orang lain." Zila menuturkan dengan serius.



"Dan saat ini saya juga tidak mau sebenarnya merepotkan Mama Hilsa atau Bi Rana, itulah alasan kenapa saya tidak mau diajak tinggal lagi di sini diusia kehamilan saya yang masih muda ini. Saya minta maaf karena sudah merepotkan Bi Rana," ucap Zila meminta maaf sambil merasakan pijatan enak di tangannya.



Bersamaan dengan itu, rupanya sudah lima menit yang lalu Bu Hilsa dan Bi Rani mendengar dengan jelas perbincangan antara Zila dan Bi Rana. Bu Hilsa kini tahu alasan kenapa Zila tidak mau tinggal kembali ke rumahnya.



Bu Hilsa dan Bi Rani kemudian mengetuk pintu yang setengah terbuka itu, ketika Zila dan Bi Rana menyudahi obrolannya.

__ADS_1



Zila dan Bi Rana terkejut ketika melihat Bu Hilsa dan Bi Rani masuk beriringan ke dalam kamar seraya membawa asinan di sebuah nampan. Sepertinya Zila sudah tidak sabar ingin segera mencicipi asinan buatan mertuanya.


__ADS_2