Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 30


__ADS_3

"Tidak ada yang boleh keluar dari rumah ini, terutama kamu. Kamu sudah jadi milikku. Jadi, jangan harap kamu bisa keluar dari sini!" tegas Naga tidak bisa dibantah. Zila hanya diam, dia sudah sangat lelah dengan hinaan yang diberikan oleh Ibu mertuanya dan adik iparnya.



"Lantas, aku harus ngapain di rumah ini terus? Aku ingin bekerja dan menghasilkan uang. Aku harus membantu Paman Kobar, terlebih sekarang Paman Kobar mendapat musibah, otomatis nyawanya terancam. Kalau sudah seperti ini otomatis paman tidak akan bisa buka usaha kafenya," protes Zila.



"Kamu tidak perlu memikirkan nasib Pamanmu. Aku sudah pastikan keselamatan Pamanmu. Selain Paman Darga dan Dargi yang mengawasi, aku juga sudah mengutus beberapa orangku untuk melindungi Pamanmu. Untuk saat ini Pamanmu akan aman dari gangguan orang-orang Om Haidar yang telah mengeroyoknya,'" yakin Naga. Zila terlihat lega meskipun masih sedikit sedih.



"Mengenai tuntutan satu milyar itu bagaimana, apakah Kak Naga akan memberikannya padaku?" Zila mengungkit kembali uang satu milyar yang dia tuntut, kali ini dia harus mendapatkannya. Untuk membuat Kobar kembali tenang dan pulih pasca sakit akibat pengeroyokan itu, minimal hutang pada Juragan Desta harus sudah dibayar. Itu yang kini menjadi obsesi Naga.



"Sayang, buat apa kamu menuntut uang satu milyar itu terus? Buat membayar hutang Paman Kobar pada rentenir? Sabarlah dulu, aku akan menyelidiki dulu siapa sebenarnya Juragan Desta dan apa pekerjaan dan pemasukan yang dia dapat, apakah pekerjaan dia hasil malak warga dengan menjeratnya dengan hutang? Jika memang itu benar, maka aku yang akan menghentikannya sampai dia mau berhenti menjerat warga dan membiarkan si pengutang tidak membayar bunganya." Naga memberi keyakinan pada Zila.



"Kak Naga memang pelit. Menyesal aku memberikan keperawanan aku pada Kakak," dengusnya seraya keluar dari kamar dan membanting pintu dengan keras sehingga terdengar dentumannya. Naga cukup terkejut dengan sikap Zila.

__ADS_1



"Sikapnya keras kepala, padahal aku hanya tidak ingin dia terjebak permainan si rentenir itu. Aku tidak bermaksud pelit padamu, Zi," guman Naga geleng\_geleng kepala. Setelah Zila keluar kamar, dia merencanakan pergi ke perusahaannya beberapa jam untuk menandatangani perjanjian kontrak dengan beberapa klien, setelah itu dia akan bertolak ke kota Lembang untuk memantau progres pembangunan pabrik pengolahan rempah-rempah berskala kecil di kota itu di tanah yang baru saja dia beli tempo hari.



Naga pergi ke kantornya tanpa menyadari Zila pun berniat pergi untuk ke rumah Pamannya, sebab menurut Zuli, Kobar sudah kembali pulang dari RS.



Naga pergi dengan Rubiconnya, sementara setengah jam kemudian Zila diam-diam pergi tanpa pamit pada siapapun di rumah.




"Apa urusannya dengan kamu, Hilda? Bukankah kalian akan senang jika aku pergi dari rumah ini?" Zila menatap Hilda dan juga ibu mertuanya yang juga ada di sana.



"Aku senang, sih. Namun, aku rasa seorang perempuan yang benar-benar hamil muda, tidak mungkin banyak melakukan bepergian seperti kamu," tukas Hilda diliputi rasa curiga yang belum juga sirna. Zila menatap sebal.

__ADS_1



"Tidak ada yang larang seorang Ibu hamil bepergian jauh selama dia kuat, contohnya aku. Sedang hamil tapi aku kuat," jawab Zila membuat Hilda semakin geram. Beda dengan Bu Hilsa, kini dia diam tidak mau menyela. Entah kenapa?



Sementara itu di perusahaan berskala besar di bidang pengolahan rempah-rempah terbesar se Indonesia milik Naga di kota Bandung ini. Naga baru saja menyudahi penandatanganan kerja sama dengan beberapa orang dari perusahaan lain. Kerjasama itu kini sudah terjalin sehingga Naga merasa sangat lega.



Tanpa Naga sadari setelah kliennya pergi dari ruangannya, Sila yang tanpa diundang tiba-tiba masuk langsung nyosor dan memeluk Naga dan memberikan selamat sambil cium pipi kiri dan kanan. Naga tersentak dan tidak bisa menghindari serangan mendadak dari Sila.



"Sila, apa-apaan? Kenapa kamu masuk begitu saja tanpa permisi?" marah Naga tidak suk.



"Aku sengaja memberimu surprise dan ingin mengucapkan selamat atas penandatanganan kerja sama perusahaanmu dengan perusahaan klien-klienmu barusan."


__ADS_1


Naga beringsut dari hadapan Sila, namun dengan cepat Sila menahan kaki Naga sehingga tidak terduga Naga hampir jatuh karena kakinya tersangkut kaki Sila. Sila kali ini benar-benar nekad, sehingga tubuh Naga terjatuh dalam pelukan Sila. Pada saat begini seseorang masuk dan melihatnya.


__ADS_2