Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 81 Musim 2 Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Perubahan sikap Hilda membuat Nagi menjadi heran. Nagi mengingat-ingat lagi apakah perkataannya tadi ada yang salah? Malah saat dia bertanya tentang apakah Hilda masih suci, Hilda tidak marah dan kesannya santai dan datar saja.



Akhirnya mobil Nagi tiba di sebuah kedai es krim yang sekarang sedang trending topic dan viral di media sosial. Nagi menuruni mobilnya lalu berputar dan membukakan pintu mobil untuk Hilda. Hilda seperti enggan, kemurungannya kini malah bertambah.



"De, ayo turun. Ini sudah sampai di kedai es krim yang lagi viral itu, lho," bujuk Nagi seraya meraih tangan Hilda. Hilda menahan tubuhnya di dalam mobil, dia benar-benar seperti merajuk dan marah. "Kamu kenapa, tiba-tiba marah begini? Apakah tadi ada kata-kata Kak Nagi yang menyakiti kamu?" tanya Nagi penasaran. Namun tidak ada jawaban dari Hilda.



"Ok, kamu tidak usah turun. Aku yang beli es krim dan dimakan di dalam mobil saja, ya. Kamu tunggu di sini, dan jangan kemana-mana." Akhirnya Nagi memutuskan membeli es krim untuk dimakan di dalam mobil saja daripada Hilda diam saja tidak menjawab.



Tidak berapa lama Nagi kembali lagi ke mobil, dia masih melihat Hilda murung. Nagi menjadi khawatir dan heran ada apa dengan Hilda.



"De, ini es krim kesukaan kamu. Aku bukakan, ya?" ujar Nagi perhatian seperhatian dia yang sejak dulu sering antar jemput Hilda pulang sekolah, kemudian pulangnya selalu mampir ke warung langganan yang di depannya teronggok gerobak es krim.



Sikap perhatian Nagi seperti itu membuat Hilda kembali menghangat, tiba-tiba Hilda memeluk Nagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan sikap yang sedih.



"Kak Nagi, jangan tinggalin aku, aku mencintai Kakak. Aku takut Kak Nagi berubah pikiran setelah empat tahun kemudian. Lalu aku harus menikah dengan siapa, sementara aku hanya mencintai Kakak?" ungkap Hilda seraya tersedu. Nagi terbelalak, rupanya sikap murung Hilda tadi adalah berkaitan dengan rasa khawatir jika setelah empat tahun Nagi tiba-tiba berubah pikiran.



"Ya ampun, De, kamu jangan mikir terlalu jauh. Kita harus tetap optimis, tapi tidak lupa dengan realita yang akan kita hadapi nanti. Mana tahu setelah empat tahun justru kamu yang berubah pikiran dan menikah dengan orang lain," ucap Nagi mencoba membalik dugaan Hilda empat tahun kemudian.

__ADS_1



Nagi harus banyak-banyak ngucap rupanya jika menghadapi Hilda yang benar-benar masih labil, oleh karena itu demi kesehatan mentalnya, dengan kesadaran hati, Nagi menyatakan di depan Hilda bahwa dia berjanji akan melamar Hilda setelah Hilda lulus menjadi sarjana nanti.



Hilda yang mendengar janji Nagi sejenak tertegun dan berpikir apakah ini semua mimpi, tapi pas dia mencoba mencubit kulitnya yang ternyata sakit, rupanya dia tidak sedang bermimpi. Malah kalau boleh menawarkan diri, Hilda inginnya sekarang saja dinikahi Nagi supaya Nagi terikat dan tidak dimiliki orang lain.



"Untuk itu Kak Nagi minta sama kamu, semoga setelah empat tahun kemudian kamu sudah lebih dewasa dari ini pikirannya," harap Nagi seraya mengusap rambut panjang Hilda yang hitam legam. Nagi bersyukur tadi dirinya dan Hilda tidak sampai melakukan hal yang akan mempermalukan keluarga besar. Dia dan Hilda masih selamat.


**


Malam telah tiba, Bu Hilsa dan Pak Hasri juga sudah berada di rumah. Mereka berdua tiba dari Jakarta tadi sore setelah Maghrib. Hilda yang tahu Nagi akan kembali ke Jakarta besok, sengaja menghampiri kamar Nagi. Dia akan membantu Nagi untuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa besok. Sejenak Nagi merasa kaget dengan kedatangan Hilda yang memasuki kamarnya. Nagi takut kejadian yang hampir saja terjadi siang tadi akan terjadi.



"Kak Nagi, mana barang-barang yang akan Kakak bawa besok?" tanya Hilda perhatian. Nagi menggeleng sebab semua barangnya sudah dia paking di dalam tas.




"Sayang," serunya dan tiba-tiba Nagi membawa tubuh Hilda ke dalam pelukannya. Hilda sedikit terkejut, tapi tidak berontak. Hatinya justru senang diperlakukan romantis seperti ini oleh Nagi. Nagi menatap dalam mata indah tapi tajam Hilda, lalu tangannya menyelipkan rambut Hilda yang menutupi wajahnya ke sela telinga.



Nagi sesungguhnya tidak kuasa berpisah dengan gadis agresif di hadapannya ini, rasa sayang dan cintanya pada sosok saudara perempuan, entah kenapa kini merubah hati Nagi dengan cepat, perasaan itu berubah menjadi rasa cinta.



Entah bagaimana awalnya, mereka kini sudah saling menautkan bibir dengan hasrat yang menggebu-gebu.

__ADS_1



Nagi melepaskan tautan bibirnya setelah langkah kaki seseorang terdengar mendekati kamarnya. "Sudah, menjauhlah. Ada orang yang mendekati kamar ini," beritahu Nagi seraya melepaskan tubuh Hilda. Dan mereka kini berada pada jarak yang aman.



Pintu kamar Nagi yang memang tidak tertutup rapat dengan mudah dibuka seseorang. Pak Hasri muncul dan masuk ke dalam kamar yang ditempati Nagi. "Sayang, ngapain di kamar Nagi, kamu pasti mau mengganggunya, kan? Besok Nagi mau pulang Jakarta, Papa harap kamu tidak mengganggunya karena Nagi harus beristirahat," peringat Pak Hasri tanpa mencurigai kelakuan anak dan keponakannya beberapa menit yang lalu.



"Ih, Papa. Biar saja, dong. Lagian besok aku dan Kak Nagi sudah berjauhan, kami tidak bisa jajan es krim bersama lagi. Jadi malam ini aku akan kangen-kangenan dengan Kak Nagi," tukasnya sembari mendekati Nagi dan menggandeng lengannya. Pak Hasri tidak mencurigai adanya hubungan khusus yang kini terjalin antara anak gadisnya dengan Nagi sang keponakan. Pak Hasri melihatnya biasa, karena selama ini dia selalu melihat Hilda sangat manja pada Nagi.



"Ok, Gi. Persiapkan keperluan kamu besok. Jangan sampai ada yang tertinggal ya. Dan untuk besok dan seterusnya kamu harus tetap bersemangat dalam bekerja." Setelah memberikan pesan pada Nagi, Pak Hasri kembali keluar kamar meninggalkan anak gadis dan keponakannya yang sedang kasmaran.



"Sudah, kamu harus kembali ke kamar, ya. Besok kita vidio callan jika Kakak sudah di Jakarta," ucapnya sembari menautkan kembali kedua bibirnya.



"Aku akan selalu merindukan Kak Nagi," ucap Hilda seraya melepaskan rangkulannya dan kini Hilda benar-benar keluar kamar Nagi lalu mengucapkan selamat tidur.



Besok tiba, pagi hari setelah sarapan pagi, Nagi bersiap akan kembali ke Jakarta. Hilda yang akan ditinggalkan Nagi nampak benar-benar menangis di hadapan kedua orang tuanya. Sebelum beranjak masuk ke dalam mobil, keduanya berangkulan menumpahkan rasa rindu yang akan lama bisa dicurahkan.



Beberapa menit kemudian mobil Nagi keluar dari gerbang rumah dan meninggalkan rumah kediaman Papa dan Mamanya Hilda. Tiada henti Hilda melambaikan tangan saat mobil Nagi masih di depan rumah.


__ADS_1


"*Selamat jalan Kak Nagi, semoga selamat. Tunggu aku jadi Sarjana, dan kita nanti akan segera menikah*," batinnya sembari membayangkan bayangan indah saat bersanding bersama Nagi nanti.


**


__ADS_2