Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 66 Musim 2 Tutor Cinta Dadakan Untuk Hilda


__ADS_3

Rasa kecewa dan sedih kini menyesaki dada Zila, ternyata suaminya ke Surabaya bukan hanya urusan pekerjaan, melainkan urusan birahi. Jelas sudah seorang wanita masuk kamar yang sama saat Naga masuk duluan. Cukup memberi kesimpulan bahwa mereka setidaknya melakukan perbuatan yang tidak baik di dalam kamar.



"Kak Naga," desisnya kecewa sembari mengepalkan tangan. Zila mematikan Hpnya setelah puas melihat vidio kiriman dari seseorang yang tidak dikenalnya itu. Biar saja sekalian Naga tidak bisa menghubunginya.



Tiba-tiba tanpa permisi dan dipersilahkan masuk, Hilda sang adik ipar nyelonong seraya duduk di tepi ranjang mengagetkan Zila yang tengah dirundung kecewa oleh Naga.



"Zi, gue mau ngomong sama lu," ujar Hilda sok akrab, aksen Jakartanya keluar dan ini membuat Zila kesal.



"Bisa tidak bicara sama yang lebih tua itu sopanan dikit, ini bukan di Jakarta, tapi Bandung? Gua, elu jangan dipakai kalau kamu tidak ingin aku bilangan ke Mama Hilsa atau ke Papa Hasri bahwa kelakuanmu mirip perempuan yang mangkal di pengkolan **UDABAPU**," tegur Zila seraya menekankan kata udabapu. Hilda sontak mengerutkan kening tidak paham.



"Pengkolan udabapu adalah usaha dagang bawah pusar," terang Zila lagi saat sadar Hilda merasa bingung dengan kata udabapu.



"Setan, memangnya gue ini pelacurrr jalanan! Elu udah makin kurang ajar, ya, sama gue," sergah Hilda tidak suka.



"Sekali lagi stop bicara elu gue di depan aku! Aku ini kakak ipar kamu, usia aku juga lebih tua empat tahun dari kamu, bisa tidak sih kamu pakai norma kesopanan sama orang yang lebih tua? Kalau tidak bisa, kamu keluar dari kamar ini, aku mual bicara dengan ABG labil kaya kamu," usir Zila tidak suka dengan Hilda yang masih bicara tidak sopan padanya.



"Ok, ok, gue, eh aku nggak akan lagi bicara kurang sopan lagi sama kamu."



"Lantas apa yang mau kamu bicarakan sama aku, sepertinya penting amat?" tanya Zila penasaran.



"Aku mau tanya sama kamu, kamu beri pengaruh apa sama Kak Nagi sore itu di ruang keluarga, sebab setelah dia berbicara sama kamu, Kak Nagi sedikit lain sikapnya sama aku? Aku jadi sedih, sebab aku mencintai Kak Nagi," ungkap Hilda mendadak dramatis.


__ADS_1


Zila menoleh ke arah Hilda yang terlihat sangat sedih saat menceritakan sikap Nagi yang kini seakan jaga jarak darinya sejak Zila memberikan peringatan pada Nagi supaya menghindari Hilda jika Hilda mengekspresikan rasa cintanya kepada Nagi dengan cara yang salah.



"Aku tidak memberi pengaruh apa-apa, aku hanya bicara supaya Kak Nagi bisa lebih menghargai kamu dan memperlakukan kamu sebagai saudara sepupu," jawab Zila.



"Kamu bohong, sebab Kak Nagi kini sudah tidak mau lagi aku ajak berduaan, dia menghindar terus. Semua ini gara-gara kamu," tudingnya menatap balik wajah Zila dengan marah.



"Aku tidak mempengaruhinya jelek, aku hanya memperingatkan supaya Kak Nagi menghindari kamu yang ingin mengekspresikan perasaan cinta kamu yang langsung kamu tunjukkan dengan aksi nyata. Coba kalau aku tidak pergoki kamu, maka aksi nyata kamu bisa jadi memberikan tubuh kamu langsung pada Kak Nagi saking kamu antusias mencintai Kak Nagi," jelas Zilal membuat Hilda memanas.



"Gue nggak sampai begitu juga kali," sangkal Hilda tidak terima.



"Tapi kalau aku tidak datang dan pergoki kalian, maka kancing atas kamu bakal terlepas dua biji dari kaitannya, kamu bakal jamin itu tidak bakal terjadi?" ujar Zila semakin memojokkan Hilda.



"Heh, tidak ada yang larang aku mencintai Kak Nagi, dalam agamapun kita boleh menikah. Kamu jangan cegah aku untuk mencintai laki-laki yang aku cinta, sebab sudah lama aku memendam cinta ini pada Kak Nagi dan baru kali ini aku ungkapin langsung sama Kak Nagi, tapi kamu datang dan menghancurkan segalanya," ungkap Hilda sedih.




"Tapi aku mencintainya dan aku akan perjuangkan cinta aku pada Kak Nagi. Jadi, siapapun tidak ada yang berhak melarang rasa cinta aku padanya, termasuk kamu," tegasnya. Zila membalikkan badan dan memegang bahu Hilda.



"Aku tidak melarang kamu untuk mencintai Kak Nagi, aku hanya takut kamu kebablasan dan rusak oleh sikap kamu yang terlalu berlebihan mengekspresikan rasa cinta kamu pada Kak Nagi. Kamu boleh mencintai Kak Nagi tapi tidak dengan cara yang murahan begitu, justru jika kamu terlalu ekspresif maka yang aku takutkan Kak Nagi justru tidak suka. Awal-awal mungkin suka, tapi lama-lama sikap kamu bakal membuat laki-laki bosan karena kamu terlalu agresif. Jadi pakailah cara yang elegan untuk mencintainya, jangan terlalu merendahkan harga diri kamu. Kamu harus jual mahal sedikit dong," tutur Zila persis seorang Tutor cinta dadakan bagi Hilda.



"Cuih, sok tutor! Kamu tahu apa tentang jatuh cinta? Cinta itu buta, jadi kalau kamu ada di posisi aku, maka aku yakin kamu pasti melakukan apa yang aku lakukan," yakin Hilda menganggap remeh.



"Tidak, aku tidak akan melakukan apa yang kamu lakukan. Justru cinta itu buta, dia bisa melakukan apa saja termasuk UDABAPU. Oleh karena itu sebelum cinta membutakan kamu, aku mengingatkan supaya kamu tidak hilang kevirginitasan kamu sebelum menikah, sebab kevirginitasan adalah harga mati bagi perempuan bermartabat. Apakah kamu mau semua itu hilang dan terenggut sebelum kamu menikah?" ucap Zila di depan muka Hilda yang memerah.

__ADS_1



"Aku tidak begitu juga kali, aku juga mau memberikan kesucian aku pada Kak Nagi saat malam pertama setelah menikah. Kamu jangan terlalu menganggap aku murahan hanya karena melihat aku ekpresif dan agresif," sangkal Hilda kesal.



"Nah itu kamu tahu? Jadi, jangan sampai rasa cinta kamu yang ekspresif itu merubah jadi hilang kendali dan menyebabkan kamu hilang segalanya. Paham maksudku?"



"Huhhh, menyebalkan. Terpaksa aku harus mendengarkan ocehanmu yang tidak lebih hanya sebuah omelan Emak-emak rempong di komplek. Dosen bukan, Rektor bukan, tapi sok mengajarinya selangit," ledeknya sambil menghela nafas berat.



"Lantas apa yang harus aku lakukan? Kamu tahu, aku hanya mencintai Kak Nagi, aku tidak ingin ketampanan Kak Nagi diberikan pada perempuan lain."



Zila menatap Hilda yang seakan punya harapan satu-satunya cuma pada Nagi seorang menggantungkan hidup dan memasrahkan hidupnya. Lantas dia tersenyum penuh arti pada Hilda.



"Cintai dia dengan elegan dan mahalan dikit. Buat Kak Nagi selalu jatuh cinta tapi tidak dengan kemesuman kamu. Kamu boleh mencintai Kak Nagi, tapi kamu harus fokus belajar sampai S1 dan berusaha membanggakan Papa dan Mama kamu. Setelah kamu lulus kuliah dengan prestasi cumlaude, maka cepat-cepat ajak nikah Kak Nagi. Setelah nikah, kamu boleh mengurung dia seharian dalam pelukanmu pun tidak masalah." Zila membalikkan badan dengan gaya persis seorang mahaguru cinta yang menjelma di hadapan Hilda.



"Huhhh, laganya sok mahaguru. Padahal dari kampung," ejek Hilda seraya melangkah menuju pintu keluar kamar Zila. Zila terbelalak mendengar ejekan Hilda baru saja.



"Hei, Hilda! Ingat semua kata-kataku tadi, jangan kamu hilang perawan sebelum waktunya. Ingat itu!" teriak Zila yang mendapat pelototan dan juluran lidah panjang Hilda.



Sementara dari balik pintu kamar Zila, Nagi yang sejak tadi menguping pembicaraan antara kedua ipar itu, segera beranjak dan masuk ke dalam kamarnya menyembunyikan dirinya dari penglihatan Hilda.



"Maafkan kakak, Hilda. Benar kata Zila, kakak harus berusaha menghindari kamu supaya kamu tidak kebablasan, dan kakak juga tidak kejebak oleh rasa cintamu yang ekspresif dan agresif itu, sehingga membuat kita hilang arah. Jika kita ada jodoh, pasti kita akan dipertemukan di pelaminan," harap Nagi dari balik tembok kamarnya sedih.



Setelah Hilda keluar dari kamarnya, Zila mendadak ingin ke kamar mandi dan rasa mual itu kembali menyerang, sehingga Zila harus memuntahkannya. Di depan kaca kamar mandi Zila menatap dirinya yang pucat. Tadi saat di depan Hilda dia nampak garang dan baik-baik saja, tapi setelah ingat Naga dan kembali ingat dengan vidio kiriman dari seseorang yang tidak dikenalnya, Zila mendadak mual dan rasa kesal itu muncul kembali. Zila segera memanggil Bi Rani lewat Hpnya supaya membawakan buah-buahan dan asinan yang masih ada di kulkas supaya rasa mualnya hilang.

__ADS_1



Sementara itu, saat Zila menyudahi panggilan telepon pada Bi Rani, suara bel berbunyi tanda seseorang datang. Zila bertanya-tanya siapakah gerangan, suaminya kah?


__ADS_2